Puan Maharani mengetok palu. Sah sudah RUU TNI di meja itu. DPR benar-benar main gila. Sidak Koalisi Masyarakat Sipil menggerebek rapat rahasia di sebuah hotel bintang lima di Jalan Asia Afrika, Jakarta, tengah Maret lalu, seolah tidak berarti apa-apa. Agaknya dinding Senayan memang dirancang dengan sistem ‘kedap suara rakyat’.
Kejahatan legislasi ini akan semakin merugikan posisi warga sipil. Perubahan pasal-pasal tersebut berpotensi membangkitkan Orde Baru dari lubang kuburnya. Ancaman kebebasan pers, impunitas aparat, degradasi penegakan hukum dan HAM, inkompetensi birokrasi, hilangnya meritokrasi, dan beragam dekadensi lainnya siap menyiksa di depan mata.
Harga Berunjuk Rasa
Demonstrasi lantas pecah di berbagai kota. Baik di kota-kota besar maupun di kabupaten-kabupaten pinggiran, rakyat tumpah ruah berunjuk rasa. Meski langit bermandi pentung garnisun dan jalanan merona merah sungai darah, massa aksi kompak menuntut satu pinta: kembalikan tentara ke baraknya!
Di Surabaya, 25 demonstran ditahan semalaman dan dua orang jurnalis diintimidasi hingga dipaksa menghapus dokumentasi peliputannya. Di Kupang, seorang mahasiswa pelipisnya lecet karena dipukul dan ditonjok oleh seorang pegawai DRPD. Sementara di Malang, polisi menyita 80 kendaraan pribadi pendemo, melontarkan kata-kata kasar yang melecehkan perempuan, dan melakukan kekerasan fisik secara brutal. Bahkan, tak hanya demonstran, ibu-ibu pemulung pun turut dipentung.
Tak selesai di itu, aparat juga menyerang regu medis dan menghancurkan posko beserta logistik medisnya. Hal ini tentu sudah melanggar Peraturan Kepala Kepolisian RI No. 8 Tahun 2010 tentang Tata Cara Lintas Ganti dan Cara Bertindak dalam Penanggulangan Huru-Hara, dan Pasal 12 dalam Konvensi Jenewa 1949 yang sudah diratifikasi oleh Indonesia.
Ya, pemukulan oleh aparat terjadi di mana-mana. Para jurnalis bekerja bertaruh nyawa demi mengabarkan fakta. Dari wartawan profesional sampai awak pers mahasiswa tak luput dari ancaman. Terbaru, kantor berita Tempo diteror dengan kiriman kepala babi dan bangkai tikus. Teror ditujukan spesifik kepada jurnalis perempuan Tempo, Francisca Christy Rosana. Lebih parahnya lagi, ibu dari sang jurnalis juga mendapatkan ancaman melalui peretasan akun WhatsApp pribadinya.
Situasi ini benar-benar mengkhawatirkan. Kabar gelombang aksi protes di berbagai titik di Indonesia ini sudah menyebar secara global. Dari The Straits Times di Singapura, ABC News di Australia, South China Morning Post di Hong Kong, The Guardian di Inggris, Deutsche Welle di Jerman, RFI di Prancis, Trouw di Belanda, La Libre di Belgia, Al Jazeera di Qatar, sampai Presna Latina di Kuba, semua mengabarkan. Pemerintah harusnya malu dan sadar tengah ditelanjangi di muka dunia internasional.
Baca Juga:
– Tenda di Depan DPR: Simbol Perlawanan atas RUU TNI dan Kemunduran Reformasi
– Hari HAM Sedunia: Pesan dari Volker Türk dan Pelanggaran yang Tak Pernah Diselesaikan di Indonesia
Harga berunjuk rasa adalah integrasi negara di mata dunia. Itulah mengapa setiap suara yang berusaha mengkritisi rezim senantiasa dikecam sumbang: tak nasionalis dan tak tahu bersyukur. Namun, itu semata karena mereka takut kemapanannya terusik. Sebab, seperti kata Munir, mereka gagal untuk gagah. Mereka hanya ada di baju!
Dirundung Junta
Sederet kekacauan ini mengarah pada karakteristik rezim junta. Junta militer tidak melulu lahir melalui ‘kudeta formal’, tetapi formula dasarnya nyaris selalu sama: orkestrasi kekuasaan dan budaya kekerasan. Sejarah sudah mencatat kerapuhan Suu Kyi dan demokrasi Myanmar, bagaimana Videla menghantui Argentina, dan betapa bengisnya Narendra Modi bersama golongan Hindutva di India. Junta bukan perkara identitas personalia belaka, tetapi lebih menyoal totaliterisme, watak fasistis, dan sikap antidemokrasi yang melekatinya.
Jauh sebelum kabinet Merah Putih terbentuk, Allan Nairn sudah sejak lama menubuatkan bahwa Prabowo punya obsesi untuk menjadi diktator fasis. Karakter utama fasisme ada pada ultranasionalisme dan otoritarianisme. Dalam hal ini, militer merupakan instrumen paling ideal untuk mewujudkannya.
Ciri paling menonjol dari awan mendung junta adalah pemrioritasan anggaran ke sektor militer dan pertahanan. Jika perlu, abaikan lini kesehatan dan pendidikan, meski vital. Toh, rakyat yang sejahtera dan pandai menggunakan otaknya hanya akan merepotkan negara. Mali di bawah ketiak Kolonel Assimi Goïta, Myanmar sejak kudeta Jenderal Min Aung Hlaing, dan Guinea dalam kendali Mamady Doumbouya adalah buktinya. Indonesia menunjukkan indikasi serupa jika kita melihat instansi militer dan kepolisian yang dimanja tak ikut kena imbas efisiensi anggaran.
Efisiensi ndasmu!
Pemangkasan anggaran bukan bukti ketegasan tindakan seorang presiden, tapi tak lebih rengekan bocah tantrum. Langkah saviorisme Prabowo ini sejatinya gagal total. Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terkesan dipaksakan dan pemotongan anggaran pada sektor-sektor krusial seperti kesehatan dan pendidikan adalah penghinaan kepada kemanusiaan. Philippe Escande, kolumnis Le Monde, bahkan menyebut bahwa program MBG turut memengaruhi instabilitas politik dan fiskal hari ini—yang sama mengerikannya dengan krisis moneter 1998.
Fasisme gaya baru tidak pernah mendaku diri secara terang-terangan. Ia menyublim bersama hegemoni sosial dan populisme politik elektoral. Membajak demokrasi melalui rekayasa kotak suara dan manipulasi prinsip kebebasan berpendapat dan berserikat. Seolah-olah saja kita memiliki kemerdekaan sipil, tapi sebetulnya kita dirundung junta. Dikontrol dan dipermainkan oleh catur politik para pemangku senjata—dalam pemaknaan literal maupun simbolik.
Demokrasi semata moda transportasi politik, identitas mereka tetap otoritarian. Supremasi sipil dimitoskan dan misi membela negara—betapa bobroknya itu—dilanggengkan sebagai misi abadi melawan kiamat. Tak heran jika setiap gerakan rakyat kerap direndahkan dengan isu afiliasi tangan-tangan kotor demagog di balik layar.
Padahal, ‘kembali ke barak’ bukanlah kemunduran reputasi, tetapi alarm cinta dari rakyat agar tentara tak lupa akan jati dirinya sebagai seorang prajurit. Sebab ketika para tentara kebelet melempar dadu dalam permainan ular tangga politik, detik itu pula mereka lupa cara menjadi ksatria. Tergoda melacurkan diri dengan berdagang teror dan mengobral patronasi. Lupa bahwa bedil yang ditentengnya adalah untuk melindungi warga negara, bukan alat pemerkaya harta-kuasa apalagi pistol mainan pencabut nyawa tak berdosa.
Tak Ada Lagi Cinta
Rezim otoriter tak butuh warga negara yang cerdas dan pemberani. Orang-orang pintar dan bijak akan segera dieksilkan agar para gembala lebih gampang mengontrol ‘ternak’ yang hanya tahu makan gratis dan bersyukur. Benar, hewan ternak tidak butuh sekolah. Cukup beri makan sampai kekenyangan, mereka akan diam, patuh, dan bangga berbodoh diri.
Dan di bawah mendung junta, kemanusiaan tidak lagi utama. Cinta dan kasih sesama manusia tak lagi berharga. Sebab, yang pokok adalah tentang mempertahankan kuasa dan harta—bagaimanapun caranya. Sikap kritis berarti subversi, menagih hak sebagai warga sipil artinya menantang kokang senjata, dan menuntut hidup sejahtera berarti ‘sayonara, ibunda’.
Dalam Socialism and Man in Cuba, Che Guevara pernah bilang bahwa seorang revolusioner sejati senantiasa dituntun oleh rasa cinta yang kuat dan mendalam terhadap kemanusiaan. Mustahil seseorang mengakui revolusioner tulen jika tak punya cinta dalam hatinya. Cinta adalah satu-satunya yang tersisa dari sisi kemanusiaan seseorang. Ketika itu hilang atau coba dinafikan, manusia tak ada beda dengan monster butakala.
Dan kita, di bawah mendung junta, tak akan sempat saling mengasihi karena sibuk menyelamatkan diri dari despotisme rezim para babi—sebagaimana wanti-wanti Orwell dalam novelnya. Dinding rumah kita tak lagi mampu menjadi payung atas hujan peluru para sersan dan briptu, sedang raga kita sudah letih menjadi oli bagi mesin kapitalisme yang hanya peduli pada radian cuan. Kita bagai mayat hidup yang berjalan terhuyung di tengah dunia distopia.
Kelak, rahim dan sperma yang kita punya bukan lagi puncak keintiman romansa, melainkan tak lebih sekadar dapur fotokopi tentara gratisan bagi negara. Dan kisah rindu seorang Mbah Sipon kepada kekasihnya yang diculik tentara hanya akan menguap sebagai bualan metafora di sudut-sudut kantin fakultas sastra.
Namun, itu hanya jika kita berhenti mengingat dan mencatat bagaimana sejarah bekerja.
Jika dan hanya jika.
Referensi:
Al Jazeera. (25 Maret 2025). “Protesters against Indonesia military law clash with police.” Al Jazeera. Diakses dari https://aje.io/8gh3wb
André, A. (20 Maret 2025). “Indonesiërs protesteren tegen militaire wet die grens tussen leger en overheid vervaagt.” Trouw. Diakses dari https://www.trouw.nl/cs-b1d8c45d/
Arianto, P. E. (2024). Tangan Kotor di Balik Layar. Yogyakarta: Shira Media.
BBC News Indonesia. (25 Maret 2025). “Demo mahasiswa menolak UU TNI menjalar ke berbagai kota.” BBC. Diakses dari https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn4yk9r8ye3o
Counter, N. (20 Maret 2025). “Indonesia passes bill allowing military in more govt roles.” dw.com. https://www.dw.com/en/indonesia-passes-bill-allowing-military-in-more-govt-roles/a-71980395
Dahlan, M. D. (2024). Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998. Yogyakarta: RadioBuku.
Escande, P. (26 Maret 2025). “En Indonésie, le climat actuel marqué par une incertitude politique et fiscale rappelle la crise de 1998.” Le Monde. Diakses dari https://www.lemonde.fr/economie/article/2025/03/26/en-indonesie-le-climat-actuel-marque-par-une-incertitude-politique-et-fiscale-rappelle-la-crise-de-1998_6586419_3234.html
Gerassi, J. (16 Desember 2001). “The True Revolutionary Is Guided by Strong Feelings of Love.” Los Angeles Times. Diakses dari https://www.latimes.com/archives/la-xpm-2001-dec-16-bk-johngerassi16-story.html
Guevara, E. (2005). Socialism and Man in Cuba. Ocean Press.
Haryanto, A. (2 Februari 2021). “Bagaimana Kisah Junta Militer Myanmar Kuasai Negara Melalui Kudeta? Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/bagaimana-kisah-junta-militer-myanmar-kuasai-negara-melalui-kudeta-f9Tm
Irfani, F. (23 Maret 2022). “Isabel Peron Dikudeta dan Kekejaman Rezim Videla di Argentina.” Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/isabel-peron-dikudeta-dan-kekejaman-rezim-videla-di-argentina-cyEP
Izzuddin, H. (20 Maret 2025). “Breaking News: DPR Sahkan RUU TNI.” Tempo. Diakses dari https://www.tempo.co/politik/breaking-news-dpr-sahkan-ruu-tni-1221991
KontraS. (15 Maret 2025). “Kebut Pembahasan RUU TNI di Hotel Mewah Bintang 5: Pemerintah dan DPR Menyakiti Hati Rakyat.” Kontras. Diakses dari https://kontras.org/artikel/kebut-pembahasan-ruu-tni-di-hotel-mewah-bintang-5-pemerintah-dan-dpr-menyakiti-hati-rakyat
Kresna, M. (24 Februari 2025). “Pak Prabowo, Efisiensi Ndasmu.” Project Multatuli. Diakses dari https://projectmultatuli.org/pak-prabowo-efisiensi-ndasmu/
Kusumaningrum, D. (15 Januari 2020). “Gelombang Baru Fasisme: Sejarah Berulang?” Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/gelombang-baru-fasisme-sejarah-berulang-esMu
Kusumaningrum, D. (20 Januari 2020). “Fasisme Gaya Lama dan Gaya Baru.” Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/fasisme-gaya-lama-dan-gaya-baru-etQj
Marwah, H. (21 Maret 2025). “Sejumlah Alasan Mengapa UU TNI Perlu Dibatalkan.” Tempo. Diakses dari https://www.tempo.co/politik/sejumlah-alasan-mengapa-uu-tni-perlu-dibatalkan-1222371
La Libre. (25 Maret 2025). Indonésie: heurts violents lors d’une manifestation contre une réforme de loi [Video]. Diakses dari https://www.lalibre.be/videos/2025/03/25/indonesie-heurts-violents-lors-d-une-manifestation-contre-une-reforme-de-loi-xz8vlq5/
Lamb, K. (20 Maret 2025). “Indonesia passes controversial law allowing greater military role in government.” The Guardian. Diakses dari https://www.theguardian.com/world/2025/mar/20/indonesia-passes-controversial-law-allowing-greater-military-role-in-government
LPM Shoutul Qur’an. (24 Maret 2025). “Rilis Kronologi Pencekalan Siaran Langsung LPM Shoutul Qur’an: Gawai Dibanting dan Dilempar, Tentara Menuduh Kawan Kami Bawa Pisau.” LPMSQ. Diakses dari https://lpmsq.com/03/2025/rilis-kronologi-pencekalan-siaran-langsung-lpm-shoutul-quran-gawai-dibanting-dan-dilempar-tentara-menuduh-kawan-kami-bawa-pisau/
Narasi Newsroom. (25 Maret 2025). Aparat Serang Petugas Medis Saat Demo Tolak UU TNI di Malang | Narasi Explains [Video]. YouTube. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=_aFzW_-N3f0
Nugroho, N. P. (22 Februari 2025). “Revisi UU TNI Masuk Prolegnas, Koalisi Masyarakat Sipil Soroti Pasal Bermasalah.” Tempo. Diakses dari https://www.tempo.co/politik/revisi-uu-tni-masuk-prolegnas-koalisi-masyarakat-sipil-soroti-pasal-bermasalah–1210682
Orwell, G. (2021). Animal Farm. Yogyakarta: Immortal Publishing.
Pratama, R. K. (24 Maret 2025). “Polisi Sita 80 Motor Pendemo Tolak UU TNI di Malang.” TIMES Indonesia. Diakses dari https://timesindonesia.co.id/peristiwa-daerah/533026/polisi-sita-80-motor-pendemo-tolak-uu-tni-di-malang
Presna Latina. (25 Maret 2025). “Protestan en Indonesia contra reforma de ley a favor de militares.” Presna Latina. Diakses dari https://www.prensa-latina.cu/2025/03/25/protestan-en-indonesia-contra-reforma-de-ley-a-favor-de-militares/
Putri, S. Q. D. (26 Maret 2025). “Aksi di Balai Kota Malang: Tim Medis Mengalami Pelecehan Saat Menolong Demonstran.” LPM Kavling10. Diakses dari https://lpmkavling10.com/2025/03/aksi-di-balai-kota-malang-tim-medis-mengalami-pelecehan-saat-menolong-demonstran/
Roy, M. I. (2022). The Politics of Hindutva Extremism in India during Modi Regimes (2014-2022). Journal of Indian Studies, 8(01), 103-112.
Safitri, R. D. (26 Maret 2025). “KKJ: Teror Wartawan Tempo Juga Sasar Keluarga, Akun WA Diretas.” Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/kkj-teror-wartawan-tempo-juga-sasar-keluarga-akun-wa-diretas-g9YJ
Schmidt, H. (21 Maret 2025). “En Indonésie, le grand retour de l’armée dans le secteur civil.” RFI. Diakses dari https://rfi.my/BVw3
Shahira, N. (14 November 2024). “Rima Ababil: Suara Amarah Rakyat yang Tak Pernah Padam.” Omong-Omong Media. Diakses dari https://omong-omong.com/rima-ababil-suara-amarah-rakyat-yang-tak-pernah-padam/
Souisa, H. (20 Maret 2025). “Legislative amendments spark fears of a return to military supremacy in Indonesia as hundreds of protesters descend on parliament.” ABC News. Diakses dari https://www.abc.net.au/news/2025-03-20/indonesia-national-army-law-fears-military-supremacy/105069602
South China Morning Post. (20 Maret 2025). “Indonesia passes contentious changes to military law amid protests.” South China Morning Post. https://www.scmp.com/news/asia/southeast-asia/article/3303198/indonesia-passes-contentious-changes-military-law-amid-protests
Subandi, O. (22 Maret 2025). “8 Negara di Bawah Kekuasaan Junta Militer di Dunia.” Tempo. Diakses dari https://www.tempo.co/internasional/8-negara-di-bawah-kekuasaan-junta-militer-di-dunia-1222702
The Straits Times. (25 Maret 2025). “Protesters against Indonesia military law clash with police in Surabaya.” The Straits Times. Diakses dari https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/protesters-against-indonesia-military-law-clash-with-police-in-surabaya
Yayasan LBH Indonesia. (3 Februari 2024). Allan Nairn Kembali Bongkar Siapa Capres Prabowo yang Sebenarnya! [Video]. YouTube. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=yEm781lLC94
Zaidan, M. (25 Juli 2024). “Telaah Surat Cinta Seorang Demonstran.” Whiteboard Journal. Diakses dari https://www.whiteboardjournal.com/column/telaah-surat-cinta-seorang-demonstran/
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








