Ini sudah puntung rokok kelima yang menempel di bibir Rambra dan ia belum bisa menemukan bagaimana caranya ia harus bekerja. Rokok yang ia hisap kemudian dijentikan ke dalam asbak di atas meja. Di sebelah asbak, ada sebuah amplop coklat yang terparkir. Di dalamnya, segepok uang rupiah berwarna merah terlihat dari bibir amplop.
Amplop itu awalnya bukan berada di tangannya, melainkan dari tangan seorang pria berpakaian loreng-loreng tentara di tengah keramaian orang yang berduka. Kedukaan itu begitu wajar sebab ada pemakaman.
“Pria itu berjuang melindungi keluarganya dari para tukang protes tak tahu adab,” kata si Baju Loreng. Perkataan itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang Rambra yang sedang ikut ke pemakaman. Pundaknya ditepuk kemudian ia menoleh ke belakang dan pria yang bertubuh kekar itu muncul di hadapannya.
Amplop yang berada di tangan kanan si Baju Loreng berpindah ke tangan Rambra dengan satu permintaan: “Masukkan dia ke Surga. Terima atau akan ada konsekuensi yang harus diterima.” Tangan kanan Baju Loreng menepuk-nepuk pistol dalam sarung di sabuk pakaiannya. “Kutunggu sampai petang ini. Jangan ke mana-mana. Kalau kau pergi, aku akan mengejarmu.”
Seiring Si Baju Loreng itu pergi dari pemakaman dan orang-orang yang berduka, Rambra dirundung rasa bimbang. Bagaimana ceritanya orang itu layak masuk Surga? Pertanyaan itu dibawa pulang ke rumahnya. Sebatang rokok menemaninya berpikir. Namun, sekalipun ia berniat berpikir, ia malah terbawa ingatannya ke masa lalu. Masa-masa ketika bakatnya, yang awalnya terpendam, akhirnya menjadi pekerjaan utama.
Tak pernah ia berpikir kalau seseorang bisa mempraktikkan sihir dari dalam tubuh. Yang ia pikirkan saat itu hanyalah satu: di mana ia bisa tidur. Saat menemukan ayahnya meninggal di rumah, ia langsung melarikan diri dari rumah bersama bekas-bekas luka yang melekat di tubuhnya. Memar. Luka beset. Pipi yang seringkali merah karena tamparan. Semua ia bawa ke jalanan. Ia tidur di mana saja tubuhnya dapat direnggangkan. Teras ruko sampai tanah kuburan sudah pernah dicoba. Sampai ia tertidur lelap di depan pagar sebuah rumah kosong yang terletak di boulevard.
Seekor demit yang menghuni rumah kosong memanggil teman-temannya. “Lihat!” jari telunjuk si demit mengarah keluar jendela pada seorang pemuda yang tertidur di depan rumah kosong. “Ayo kita kerjain dia sampai mampus!” Lima demit lainnya yang mendengar perkataan itu tertawa terbahak-bahak dan langsung terbang dengan cakar yang keluar dari jari-jarinya, menghampiri tubuh si gelandangan itu.
Belum ujung cakar mencapai kulit si gelandangan, wajah kelima demit itu merasakan tinju keras yang memukul mundur mereka. “Sialan! Siapa itu?!”
“Aku.” Suara itu muncul dari sesosok roh yang terbang di hadapan mereka. Roh itu berpakaian compang-camping. Persis pemuda yang ingin mereka kerjain. Mereka sontak bergidik ngeri.
“Dia bukan sembarangan orang,” kata demit yang mengajak kawanannya. “Dia orang dengan bakat itu. Serang…” Belum selesai bicara, si demit itu langsung dihajar dengan keras sampai terpental ke dalam rumah. Kelima demit lainnya tidak terima.
“Kau menghajar saudaraku. Terima ini!” Si demit langsung memberikan gerakan mencakar dengan kelima jarinya. Serangan itu ditangkis dengan tangan. Rambra meninju si demit. Makhluk itu terlempar seperti baru dilontarkan dari meriam. Si demit yang masih terhuyung-huyung di langit langsung dikejar, dipegang lehernya lalu dicekik keras-keras sampai tubuhnya lenyap.
Demit yang masih tersisa mundur. Rasa takut menjalari mereka. Si demit yang terpental langsung berseru, “Saudara-saudaraku! Ayo kita kembali ke neraka. Pemuda itu bukan orang sembarangan!” Mereka semua terbang ke langit. Rumah itu kini benar-benar kosong tanpa penghuni.
Roh Rambra kembali ke dalam tubuhnya yang masih dalam posisi tidur. Ia terbangun dan terkejut. “Mimpi apa barusan?”
“Itu bukan mimpi.” Suara serak itu terdengar dari sebelah kanannya. Seorang pria kurus berambut gondrong yang mulai beruban berdiri di sebelahnya. “Aku melihat semua kejadian itu sedari tadi. Kau melepas rohmu dan melawan para demit. Itu nyata adanya.”
Rambra melihat ke arah rumah kosong sambil mengernyitkan kening. Pria itu tersenyum. “Tidak apa kalau masih bingung. Aku akan mengajari orang-orang berbakat sepertimu. Namaku Karza.” Pria tua itu mengulurkan tangan.
“Bagaimana aku tahu kalau kau bisa kupercaya?” tanya Rambra.
Karza masih mempertahankan senyumnya. Rohnya keluar dari tubuhnya. Rambra, yang baru tahu dia bisa melihat roh itu keluar, terkejut. “Tenang saja,” kata Karza, “aku hanya membuktikan kalau kita itu sama.” Roh itu masuk ke dalam tubuh lagi. Kemudian ia bangkit dari duduknya.
“Namaku Rambra.”
“Rambra? Baiklah, akan kutolong kau supaya bisa memaksimalkan bakatmu itu.”
Semenjak pertemuan itu mereka berdua saling bahu membahu soal kehidupan dan sihir. Berkat Karza, Rambra ikut memulung sampah sebagai pekerjaannya di pagi hingga jelang petang. Malam sampai pagi berikutnya kedua orang itu memburu hantu di rumah-rumah kosong. Kalau tidak, Karza akan membantu Rambra untuk menggunakan kekuatan sihirnya. Kedua orang itu akan saling bertemu dalam rumah kosong, tempat yang mempertemukan mereka berdua untuk saling serang dengan kekuatan yang mereka miliki masing-masing.
“Terima ini!” Karza berseru sambil meluruskan tangan kanannya. Telapak tangannya kemudian mengeluarkan bola cahaya berwarna ungu menembak ke arah Rambra. Lawannya itu langsung menangkis bola bercahaya ungu itu. Ia memberikan serangan balik dengan tangan kirinya yang kemudian menembakkan bola api.
Karza menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang saling menyilang. Serangan itu mendorong tubuhnya mundur selangkah. Silangan tangan itu terbuka, kemudian ia tersenyum, mengagumi kemampuan anak didiknya yang memang berbakat. Ia membuat sebuah bola bercahaya ungu dengan dua telapak tangan, tepat di depan dadanya. Melihat Karza mulai mengumpulkan kekuatan, dengan sekumpulan tenaga untuk memberi serangan pamungkas, Rambra juga membuat bola api dengan kedua telapak tangannya.
Kedua orang itu, dengan cahaya ungu dan cahaya merah api yang menyala dari kedua tangan masing-masing, kemudian dilontarkan ke depan, saling berhadapan. Kedua bola itu bertemu di tengah, pemilik kedua cahaya itu kemudian saling menguatkan bola apinya. Telapak tangan mereka terbuka dan dengan energi yang masih tersisa dalam tubuh, mereka mendorong bola tenaga masing-masing.
Bola api melahap bola bercahaya ungu itu. Bola api menembus bola tenaga lawannya dan mengenai tubuh Karza hingga dirinya terpental ke belakang rumah kosong itu. Bola api itu berhasil mendebug tubuh gosongnya. Namun, tawa terdengar dari tubuh yang gosong itu. Rambra, yang tanpa ia sadari memiliki kekuatan sebesar itu, kemudian berlari ke arah sang mentor yang terjatuh. Rasa bersalah segera menjalar ke seluruh perasaannya.
“Rambra,” kata Karza yang kemudian terbatuk-batuk, lalu bangkit dengan bertumpu pada kedua tangannya, lantas mengibaskan lengannya yang menghitam karena serangan api, “kau memang berbakat. Aku akui itu. Tapi, aku memberimu sebuah tantangan.”
Rambra terdiam. Rasa bersalah itu surut, kemudian berganti dengan kebingungan. “Tantangan? Apa?”
“Pergilah ke kuburan. Gunakan kemampuan rohmu untuk menembus alam kubur. Saksikan apa yang terjadi setelah pemakaman berakhir.” Karza terbatuk. “Ketika kau berhasil melakukan itu, kekuatanmu melampaui apa yang sudah kau perbuat.”
“Maafkan aku. Aku berlebihan.”
“Jangan pernah meminta maaf untuk kemampuan yang sudah kau kerahkan sepenuhnya.” Setelah mengatakan itu, Karza mengajak murid satu satunya itu ke kuburan yang tak jauh dari boulevard. Di sana, tempat orang-orang yang dulu menghuni perumahan, dikubur dan beberapa kali dilayat orang. Di antara batu nisan yang berderet-deret, bahkan hampir memenuhi seluruh tanah yang dulunya lapang itu, ada tanah yang telah digali sampai bagian dalamnya setinggi tubuh orang dewasa.
Esok paginya, sekerumun orang-orang datang dan membawa mayat yang sudah dikafani, menguburnya, memberinya do’a dalam keadaan berkabung. Tanah yang kemudian ditutup itu didatangi oleh dua orang. Kedua orang itu berdiri di paling belakang kerumunan.
Rambra dan Karza berdiri, beberapa meter dari depan kuburan itu. “Duduk,” kata Karza, “kita pertemukan kedua telapak tangan, kemudian pejamkan mata. Fokus pada pernapasanmu. Tubuh kita akan dengan sangat mudah menjadi roh.”
Instruksi itu kemudian dipenuhi. Tubuh mereka berubah menjadi transparan, kemudian dapat menembus ke dalam tanah. Awalnya pandangan mereka gelap belaka, namun seiring berjalan, cahaya pelan-pelan mulai muncul. Jelaslah pandangan mereka: dua orang dengan sebuah pakaian bertudung putih dengan tubuh yang berotot dan seorang pria yang terduduk dengan mata terbelalak. Pemandangan itu membuat Rambra dan Karza terdiam. Inilah yang orang-orang beragama sebut dengan alam kubur.
“Kalian siapa?”
“Kami adalah Penjaga Alam Kubur. Kenapa kau membunuh orang itu dengan sebilah parang?”
“Orang itu menyebut saya yatim miskin dan saya tidak terima.”
“Kalau begitu, terima hukuman dariku!”
Salah satu malaikat kemudian mengayun sebuah pedang ke arah si pria. Mata si mayat terbelalak. Rambra yang melihat kejadian itu langsung mengeluarkan bola api dari tangannya, lantas melemparnya ke wajah malaikat itu. Malaikat itu terlempar mundur.
“Jangan macam-macam dengan orang ini!” seru Rambra. Si mayat langsung bersembunyi di belakang tubuhnya.
“Hei!” seru salah satu malaikat lain yang belum diserang, “ini urusan kami! Kau jangan macam-macam. Kami punya tugas untuk memberi hukuman untuk orang itu!”
“Persetan!” Rambra membalas, “orang ini mendapat tempat yang lebih layak dari sini. Dia membela apa yang benar demi harga dirinya dan itu hal terbaik yang bisa dia lakukan.”
“Makhluk fana! Pergilah dari alam ini, hanya malaikat dan Zat Yang Maha Kuasa yang mengerti persoalan ini.”
“Kalian-lah yang tidak mengerti. Itulah alasan kenapa aku di sini. Akan kubebaskan orang ini dari kalian berdua!”
“Rambra!” teriak Karza, “jangan macam-macam dengan malaikat! Mereka bisa memusnahkanmu tulang-tulangmu sekali serang.”
“Terima ini!” Bola cahaya putih dari keluar dari tangan malaikat dan saat menembakkan ke arah Rambra. Dengan sihirnya, pria dengan kekuatan api itu segera membawa terbang si mayat keluar dari kuburan. Gundukan tanah itu langsung berlubang dan mengeluarkan cahaya putih terang yang menyilaukan orang-orang yang sedang berduka. Rambra sudah bersama pria itu di atas kuburan. Pemandangan itu membuat terkejut semua orang yang tengah berduka.
“Jangan khawatir semuanya! Aku akan membawa orang ini ke Surga,” ujar Rambra, meninggalkan orang-orang di pemakaman dengan terpana, sekaligus kebingungan. Langit yang tinggi ditembus Rambra bersama orang yang sudah meninggal itu. Orang itu kemudian dilemparkannya ke dalam Surga. Saat ingin kembali, ia dicegat oleh sesosok malaikat dengan jubah dan tudung berwarna hitam. Ia adalah Malaikat Maut.
“Manusia fana!” seru Maut, “kau mencampuri urusan kami para malaikat. Kembalikan orang itu atau nyawamu akan kucabut!”
“Siapa takut?” mendengar jawaban dari Rambra, Maut segera mengeluarkan tongkat sabitnya untuk menyerang. Ia menebas kepala Rambra dan berhasil dielakkan. Satu tebasan ke arah perut, berhasil dicegah dengan tembakan bola api. Manusia macam apa ini? batin Maut. Kedua telapak tangan Rambra saling mendekat dan terciptalah bola api, yang membesar seukuran kepalanya sendiri. Bola itu kemudian dilempar dan mengenai wajah Malaikat Maut. Ia terlempar dari ke belakang, namun masih bisa menjaga keseimbangannya saat melayang. Belum ia seimbang, bola api lain sudah mengenai tangan dan tubuhnya. Tongkat sabitnya itu terlempar lalu menghilang.
Ketika bola api raksasa hendak dilemparkan, Maut kemudian meminta Rambra untuk menghentikan serangan itu. Bola api yang terbit dari tangan Rambra kemudian langsung padam. “Kau mau apa, Maut?”
“Kau cuma manusia, tapi jangan macam-macam dengan kami. Kami malaikat!”
“Nyatanya bola apiku tak bisa kau tahan,” kata itu begitu membuat Maut kesal. “Itulah kenyataannya. Kau mau apa, Maut. Katakan dan aku akan pergi.”
“Setiap kau membawa orang ke Surga. Aku akan mengambil usiamu setahun.”
“Itu saja? Berapa lama aku akan hidup?”
“Usia adalah rahasia bagi para makhluk fana. Kau harus tahu bahwa itu adalah bentuk keadilan Tuhan kepada seluruh makhluk-Nya.”
Rambra tersenyum, “Terima kasih pertarungannya, Maut. Aku harus kembali lagi ke bumi.” Lelaki itu kemudian turun kembali ke bumi. Tanpa disangkanya, ia mendapatkan sambutan meriah.
“Inilah pria yang menyelamatkan saudaraku ke Surga!”
“Benar, berkat dia saudaramu sudah pasti bisa hidup dengan tenang.”
“Tindakannya benar-benar keren!”
“Apa yang bisa kita beri buat dia?”
“Beri dia uang!”
Mendengar kata uang terucap, Rambra menoleh ke arah sosok perempuan yang memberi ide itu. “Aku butuh uang satu juta.” Uang itu langsung diberikan. Tunai. Lembaran segepok itu mendarat dengan mulus di telapak tangannya. Rambra kemudian berseru, “bagi yang ingin masuk Surga—siapapun itu—akan kumasukkan, tapi jangan lupa untuk membayar!”
Orang-orang kegirangan mendengar perkataan itu. Terkecuali sang mentor. Kenapa ia malah membuka jasa? Pertanyaan itu melintas dalam kepalanya. Ia mengernyitkan kening, seolah pertanyaaan itu ingin dikeluarkan dari kepalanya. Setelahnya sang mentor pergi meninggalkan anak muridnya dengan muka yang masam.
Semenjak hari itu, setiap ada pemakaman. Rambra selalu hadir. Kehadirannya kemudian disambut dengan uang. Tak jarang segepok uang hadir di tangannya. Bahkan sekoper berisi jutaan lembar Rupiah berwarna merah. Dengan uang-uang yang ia hasilkan, utang ayahnya lunas. Rumah kecil di sebuah perumahan bisa ia beli.
Di teras rumah itu, ia sering duduk dan menghitung penghasilannya setiap hari. Rona muka gembira sering muncul di sana. Terlebih ketika ia tenar di tengah masyarakat dengan sebutan “penyelundup surga”.
Tapi berbeda dengan senja saat ini; satu pertanyaan membuat isi kepalanya kalut. Dia senang menerima uang hasil kerjanya ke Surga, tetapi ada hal-hal yang tidak ia duga terjadi setelahnya.
Kejahatan semakin sering terjadi. Bahkan keluarga pernah meminta anaknya, yang merupakan pelaku pembacokan seorang ibu-ibu di pasar, untuk masuk Surga. Perampokan sering terjadi. Pembunuhan sering terjadi. Nyawa banyak melayang. Bahkan ada yang datang ke rumah Rambra dengan berseru, “hei, aku habis bunuh orang. Masukkan aku ke Surga ya!”
Seruan itu membuat dirinya bergidik. Kekuatannya memang bisa melawan orang-orang dengan ilmu sihir yang tinggi, bahkan malaikat sekalipun, tapi tidak dengan orang-orang yang memberinya uang dan pekerjaan. Karza sempat menghampirinya dan memberinya peringatan.
“Aku peringatkan kau, untuk tidak mengambil uang dari kekuatan kita. Kita hadir untuk menolong. Bukan mencari uang.”
“Kalau kekuatan kita bisa dipakai untuk menghasilkan uang, kenapa tidak, Karza? Dengan itu pula kita akan bertahan hidup.”
“Memulung sampah itu sudah cukup untuk—”
“Tidak akan cukup, Karza! Tidak akan cukup! Aku memegang utang dari ayahku. Berkat pekerjaan ini, utang ayahku lunas. Aku bisa hidup lebih baik daripada menggelandang atau memulung sampah sepertimu.”
“Kekuatan kita tidak dimaksudkan untuk menjadi ladang bisnis. Kekuatan harus diberikan secara ikhlas.”
“Keikhlasan tidak memberiku apa-apa. Hanya dengan menjadikannya pekerjaanlah sesuatu dapat kuperoleh.”
“Kau harus dihentikan!” Karza menembakkan bola cahaya ungu dari tangannya. Rambra membalas dengan bola api yang menumpaskan cahaya ungu itu.
“Kita tidak perlu berkelahi, Karza. Kita tahu siapa pemenangnya.”
Karza menggertakkan giginya, menerima kenyataan pahit bahwa orang yang ia ajari telah melampaui dirinya. Tapi dia pulang bukan tanpa pesan. “Rambra, sekalipun kekuatanmu membawa uang, pegang kata-kataku: kekuatan di tangan orang yang salah akan membawa petaka bagi sekitarnya.”
Kata-kata yang diucapkan oleh Karza nyata adanya. Dan sekarang permasalahan sesungguhnya terjadi. Ia bukan cuma tahu bagaimana almarhum, orang yang dikebumikan beberapa jam sebelumnya, berperilaku selagi masih hidup. Tetapi juga ia mengenalnya.
Rambra membuka smartphone-nya, lalu melihat ke file arsip postingan. Ada dua video yang ia simpan. Salah satu video ditekan dan berputarlah video pendek yang direkam secara amatiran.
“Kamu ini jualan bakso ko’ pakai daging ikan sapu-sapu?!” ujar seorang pria berpakaian militer kepada seorang pria yanhg mukanya sudah berkeriput.
“Pak, saya nggak bohong, pak. Demi Tuhan saya…”
“Apa-apaan kamu bawa-bawa Tuhan?! Mending kamu makan bakso ini!” Si pria tersebut dicekoki bakso ke mulutnya.
Video kedua berisi rekaman CCTV dengan tulisan besar dalam videonya: SEORANG ANGGOTA MILITER MENEMBAK ORANG YANG MEMBELA DIRI DARI JAMBRET. Sepanjang video itu berjalan, ada seorang perempuan yang sedang berdiri di pinggir jalan. Perempuan itu dipepet oleh sepeda motor yang dibawa dua orang. Orang yang duduk di belakang kemudian menarik tas si perempuan yang kemudian ditarik paksa. Tepat saat aksi rebut-rebutan tas, seorang pria berbaju loreng muncul dan langsung mengacungkan pistol dan menembak. Perempuan itu jatuh dan jambret itu lepas.
“Kau masih ingin menyelamatkan orang itu ke Surga?” Suara itu datang dari Maut yang mendadak muncul di depan Rambra.
“Kali ini tidak ada lagi penyelundupan ke Surga.”
“Umurmu sudah tinggal sedikit. Pilihan yang bagus.”
“Ini bukan masalah umur,” kata Rambra. Ia terdiam, kemudian melanjutkan, “Aku sadar bahwa jika kekuatanku buat membawa petaka, mati terasa jauh lebih layak daripada apapun di dunia ini. Aku hanyalah kesalahan di alam semesta, tidak seharusnya aku menggunakan kekuatanku untuk membawa seseorang pada tempat yang salah.”
Maut tertawa. “Akhirnya kau mengakui kesalahanmu, makhluk fana. Itu yang seharusnya kau sadari sejak awal.”
“Seharusnya aku mendengarkan Karza. Bila kau mau seluruh nyawaku diambil, ambil saja.”
Maut terkejut dengan perkataan itu.
Di tengah-tengah obrolan itu, terdengar suara sepatu lars yang datang mendekat. “Rambra,” suara itu terdengar, “sudah kau selamatkan orang itu?”
“Kali ini tidak,” Rambra menjawab lalu berdiri menghadap si Baju Loreng. “Aku tidak akan menyelundupkan orang ke Surga lagi.”
“Setiap pilihan ada resikonya, Rambra.” Baju Loreng mengambil pistol, mengokangnya, mengarahkannya ke kepala pria yang enggan bekerja sama dengannya.
Maut kemudian berkata, “Hanya satu peluru dan Surga akan diisi dengan orang-orang yang tepat.”
Editor: Ariel Anwar
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








