YOGYAKARTA — Pameran Pressing Pressure: Tertekan, Tercetak, Tersebar resmi dibuka oleh Krack!, pada Jumat, 4 Agustus 2026, yang berlokasi di Krack! Printmaking Studio and Gallery, Yogyakarta. Pameran ini menghadirkan karya Bakudapan Food Study Group, Gilang Propagila, Pangestumu, dan Ruang MES 56. Dikuratori oleh Krack! bersama Elia Nurvista, pameran yang berlangsung hingga 13 September 2026 ini menempatkan seni cetak bukan sekadar teknik visual, tetapi sebagai medium untuk merespons persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Isu-isu krusial seperti ketimpangan distribusi pangan, normalisasi kehadiran militer di ruang sipil, hingga pengarsipan potret masyarakat menjadi titik tekan utama karya yang dipamerkan. Melalui poster, foto, hingga board game, para seniman menguliti realitas struktural yang sering kali diabaikan dalam wacana publik. Seni cetak dalam pameran ini dikembalikan pada fungsi dasarnya yaitu sebagai alat penyebar gagasan dan perlawanan sosial yang bergerak langsung di tengah masyarakat.
Kurator pameran, Elia Nurvista, menjelaskan bahwa pameran ini lahir dari kegelisahan atas persoalan sehari-hari yang sesungguhnya sarat muatan politik. Pilihan menggunakan seni cetak ditujukan untuk mengemukakan narasi kritis secara langsung.
“Kami berpikir menggunakan seni cetak untuk lebih banyak menginspirasi dan mengemukakan bentuk-bentuk kritis dalam politik sehari-hari. Gilang Propagila, misalnya, menginisiasi Punk Pangan saat pandemi untuk mengkritisi bagaimana pemerintah gagal memastikan warga mengakses kebutuhan paling dasar, yaitu pangan,” ujar Elia saat pembukaan pameran.
Persoalan pangan turut diangkat dengan cara berbeda oleh Bakudapan Food Study Group melalui board game, Hunger Tales. Board game ini mengajak pengunjung mengambil berbagai posisi di dalam sistem pangan, mulai dari petani, distributor, hingga pembuat kebijakan. Selain itu, pengunjung juga dapat berhadapan langsung dengan persoalan harga, distribusi, dan ketimpangan struktural.
“Di papan ini kami membicarakan mengenai krisis pangan, karena Bakudapan sendiri banyak bergerak di politik pangan,” lanjut Elia.
Selain itu, dua seniman lain juga menyorot isu yang sama pentingnya. Melalui repetisi teknik stencil, Pangestumu menyoroti kian menjamurnya presensi militer di ruang sipil, sekaligus mempertanyakan kontrol aparat yang perlahan dianggap normal. Adapun Ruang MES 56 bersama masyarakat setempat mendokumentasikan arsip keseharian Kampung Nitiprayan menggunakan kamera analog.
Pameran ini juga dilengkapi serangkaian program publik seperti pertunjukan musik, bincang seniman, berbagai workshop seperti merekam kembali citra yang pernah hidup di Kampung Nitiprayan bersama Ruang MES 56 dan Uyel-Uyelan, serta multi layer stencil bersama Pangestumu.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








