Membawa Punk ke Ruang Sidang: Tetap Garang atau Penjinakan?

Penulis

SURAKARTA — Udara di sekitar Studio Lokananta, Surakarta, terasa sedikit berbeda pada pekan terakhir bulan September 2026. Gedung bersejarah milik negara yang pada era lampau difungsikan sebagai pabrik piringan hitam pencetak pidato-pidato propaganda rezim tersebut, tiba-tiba diinvasi oleh puluhan pemikir muda dengan ragam atribut yang mendobrak pakem formalitas akademik. 

Memang tidak seluruhnya meramaikan venue dengan merchandise musik, namun balutan kaus hitam bertuliskan Misfits hingga Grimlock, rona tato, hingga padu padan busana independen yang kasual tampak mendominasi pelataran gedung. Keragaman gaya mereka terasa sangat segar dan merdeka untuk ukuran sebuah forum presentasi makalah ilmiah yang biasanya diidentikkan dengan kemeja kaku dan dasi. Di satu momen panel, mata bahkan dengan mudah tertuju pada gaya goks seorang peserta perempuan dengan potongan rambut bob cut berwarna biru tua. Sangat garang!

Namun, mereka datang ke Lokananta bukan sekadar untuk moshing atau berpesta pora di bawah panggung musik. Mereka datang untuk duduk rapi, membuka laptop, dan berdebat mengenai teori sosiologi, hegemoni, hingga kajian budaya untuk membaca fenomena Skena Punk.

Selamat datang di Konferensi Punk Scholars Network (PSN) Indonesia 2026. Selama empat hari berturut-turut, dari tanggal 22 hingga 25 September, Lokananta berubah wujud menjadi ruang kelas raksasa. Skena punk—yang secara historis lahir dari aspal jalanan, keringat kelas pekerja, dan ludah perlawanan terhadap kemapanan—kini dibedah, ditelaah, dan dibingkai menggunakan metodologi riset akademik yang ketat.

Di titik inilah sebuah pertanyaan besar yang menggelitik (sekaligus meresahkan) muncul mengapung di udara: Ketika kultur punk yang anti-kemapanan ini dibawa masuk ke dalam mimbar akademik, dipresentasikan dalam jurnal, dan disidangkan oleh para sarjana… apakah punk sedang dinaikkan derajatnya, atau justru roh pemberontakannya sedang dijinakkan dan dibunuh secara perlahan oleh institusi?

Reporter Semut Api Media berkeliling menyusuri sudut-sudut coffee break di Lokananta, mengobrol dengan sejumlah aktor dengan latar belakang berbeda—mulai dari panitia, akademisi, hingga peneliti asing—untuk menodongkan satu pertanyaan tunggal tersebut. Jawaban yang kami dapatkan nyatanya saling berbenturan, membuka dialektika panjang mengenai relasi kuasa, pendidikan, dan ruang aman.

Bukan “Naik Kelas”, Tapi Merebut Ruang Baru

Jajaran panitia, pemakalah, dan peserta Konferensi Punk Scholars Network (PSN) Indonesia 2026 menyempatkan diri berfoto bersama di area Pendopo Lokananta, Surakarta, seusai penutupan hari kedua rangkaian acara luring, Rabu (23/9/2026) petang. Momentum keakraban lintas generasi dan latar belakang ini menutup dinamika perdebatan akademik yang cukup padat sepanjang hari, sekaligus mengukuhkan solidaritas di antara para pengkaji subkultur. Dok. Panitia PSN Indonesia.

Asumsi paling awam yang kerap muncul ketika sebuah subkultur jalanan masuk ke ranah kampus adalah anggapan bahwa subkultur tersebut sedang “naik kelas” atau mengalami gentrifikasi intelektual. Namun, asumsi hierarkis semacam itu langsung ditepis mentah-mentah oleh Akhmad Zakky, seorang akademisi dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang turut menjadi pemakalah dalam konferensi ini.

Bagi Zakky, menggunakan kacamata “naik level” untuk melihat fenomena PSN adalah sebuah kesesatan berpikir. Punk tidak pernah berada di bawah, sehingga ia tidak perlu dinaikkan ke atas.

“Sebenarnya, ini bukan soal membunuh roh rebel-nya. Justru semangat punk itu yang dibawa ke ruang-ruang akademis. Punk awalnya dikenal sebagai sub-genre musik dengan semangat anti-kemapanan dan kritik. Nah, semangat itu masih ada, dan di PSN ini, semangat itu dibawa masuk ke ruang baru.” Ujar Zakky saat kami temui di sela-sela waktu istirahat

Zakky menyoroti bahwa di kancah global, kajian akademik mengenai subkultur ini bukanlah hal yang aneh. Jurnal-jurnal bergengsi berskala internasional seperti Punk & Post-Punk telah lama eksis sebagai wadah diskursus. Bagi Zakky, yang terjadi di Lokananta hari ini bukanlah proses penjinakan, melainkan invasi wilayah.

“Mungkin istilahnya bukan naik level, tapi lebih ke masuk ke ruangan baru. Tadinya punk selalu diidentikkan dengan musik jalanan. Nah, sekarang kita bawa ke ruang akademis, di mana yang berkumpul di sini adalah mahasiswa pascasarjana, sarjana, dosen, hingga peneliti independen,” paparnya tenang. Di mata Zakky, punk sekadar berganti medium perlawanan: dari distorsi gitar menjadi distorsi literatur.

Menggugat Hegemoni Isu Kampus

Jika Zakky melihatnya sebagai perluasan ruang, I Gusti Agung Ayu Brenda Yanti—seorang sosiolog lulusan Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga bertugas sebagai pemakalah di acara ini—memiliki pisau analisis yang lebih menukik ke dalam institusi pendidikan itu sendiri.

Bagi Brenda, wacana bahwa “kampus sedang menjinakkan punk” adalah narasi yang terbalik. Justru, kehadiran PSN adalah bentuk resistensi para akademisi otonom terhadap kaku dan birokratisnya sistem pendidikan tinggi di Indonesia hari ini.

“Menurutku, konferensi ini justru menjadi fasilitas bagi akademisi yang sebenarnya punya ide atau concern yang mereka tarik dari bawah,” tutur Brenda.

Ia membongkar realitas pahit di balik dinding menara gading universitas. Di kampus-kampus formal, para dosen dan peneliti sering kali didikte oleh birokrasi mengenai topik apa yang “layak” diteliti. Tuntutan untuk mengejar ranking internasional, akreditasi, hingga pendanaan sering kali memaksa akademisi meneliti isu-isu strategis yang kaku dan mengabdi pada kepentingan industri atau pemerintah. Topik subkultur pinggiran sering kali dianaktirikan atau dianggap tidak memiliki value komersial.

“Di konferensi-konferensi lain, biasanya ada isu-isu strategis makro yang lebih diutamakan oleh institusi. Jadi, PSN ini sendiri adalah salah satu bentuk resistensi bagi akademisi otonom yang ingin tetap berkarya sesuai passion dan kegelisahan mereka sendiri,” tegas Brenda.

Melalui kacamata Brenda, kita disadarkan bahwa punk tidak sedang dilumpuhkan oleh kampus. Sebaliknya, spirit punk justru sedang digunakan oleh para akademisi muda ini sebagai alat gedor untuk membebaskan diri dari belenggu kapitalisme pendidikan dan hegemoni tema riset yang membosankan.

Ancaman Museumisasi dan Otentisitas yang Tersisa

Akademisi asal University of Innsbruck, Austria, Bernhard Steinbrecher, tampak memaparkan materinya di bawah pendaran cahaya proyektor dalam panel bertajuk “Music, Spirituality, and Religiousity in Subculture” pada hari keempat Konferensi Punk Scholars Network (PSN) Indonesia 2026 di Studio Lokananta, Surakarta, Jumat (25/9/2026). Lewat presentasi bertajuk “Music as Tool for Negotiating a (Punk) State of Mind”, Bernhard membedah bagaimana kultur punk menggunakan musik sebagai instrumen diskursif untuk menegosiasikan sikap dan perlawanan mereka terhadap kemapanan. SAM/Rere.

Namun, optimisme dari para sarjana lokal tersebut nyatanya mendapat catatan kritis dari kacamata internasional. Bernhard Steinbrecher, akademisi asal University of Innsbruck, Austria, memberikan peringatan keras mengenai bahaya pengakademika sebuah subkultur.

Bernhard, yang hadir mempresentasikan makalahnya jauh-jauh dari Eropa, mengakui bahwa pertanyaan mengenai “matinya roh punk di tangan jurnal” ini adalah pertanyaan yang sangat menjebak (tricky).

“It’s tricky to make a scholarship on punk music because it kind of gets into museum stuff,” ujar Bernhard. (Sangat menjebak membuat kajian akademis tentang musik punk karena pada akhirnya itu akan mengubah punk menjadi barang pameran museum).

Peringatan Bernhard sangat beralasan. Ketika sebuah perlawanan jalanan dibekukan ke dalam teks-teks sejarah dan metodologi yang kaku (historiography of popular music), perlawanan tersebut berisiko kehilangan denyut nadinya. Ia berhenti menjadi sesuatu yang berbahaya dan berubah menjadi artefak mati yang hanya bisa ditatap dari balik kaca etalase akademik.

Meski demikian, Bernhard menemukan sebuah anomali yang indah di Indonesia. Dibandingkan dengan Eropa, ia melihat bahwa skena di Indonesia masih memancarkan aura bahaya dan otentisitas yang organik.

“I think the scenes here are still quite ‘do it yourself’ in a way. Way more authentic than it is in Vienna, because it’s not risky anymore in Vienna to do punk rock,” jelasnya. Ia menceritakan sebuah ironi di negaranya, di mana para politikus atau bahkan bankir investasi (investment banker) dengan santainya menyebut diri mereka sebagai “punk rocker” tanpa memiliki sedikit pun kedekatan dengan akar perlawanannya.

Bagi Bernhard, selama kajian akademik ini (seperti PSN) masih diisi oleh orang-orang yang secara nyata hidup dan berdarah-darah di dalam skenanya, forum ini akan tetap menjadi tempat pertukaran gagasan yang esensial untuk menjelaskan kondisi sosial yang sedang sakit, alih-alih sekadar menjadi kuburan massal bagi ideologi punk.

Baterai Sosial di Tengah Keputusasaan

Ketua Penyelenggara PSN Indonesia 2026, Muhammad Fakhran al Ramadhan, memegang mikrofon saat melontarkan tanggapan kritis dari bangku audiens di tengah berlangsungnya sesi panel diskusi di Studio Lokananta, Surakarta. Interaksi dua arah yang cair, egaliter, dan tanpa sekat hierarki antara pemakalah di atas mimbar dan audiens di bangku penonton ini menjadi salah satu ciri khas yang menghidupkan roh konferensi subkultur tersebut. SAM/Rere.

Lalu, apa sebenarnya tujuan utama mengumpulkan puluhan pemikir independen ini di satu tempat? Muhammad Fakhran al Ramadhan, selaku Chair atau Ketua Penyelenggara PSN Indonesia 2026, memberikan jawaban yang paling membumi.

Di tengah kondisi negara yang semakin acak-acakan—mulai dari represi aparat, hukum yang dibajak oligarki, hingga ruang sipil yang menyempit—gerakan perlawanan sering kali dihinggapi rasa lelah dan burnout. Di sinilah, menurut Fakhran, punk mengambil peran bukan sekadar sebagai genre, melainkan sebagai mekanisme pertahanan jiwa.

“Punk itu bukan hanya tentang musik atau gaya hidup. Buat saya pribadi, punk adalah semangat yang harusnya bisa diterapkan oleh semua orang, bahkan oleh mereka yang bukan ‘anak punk’ sekalipun. Yaitu semangat rebel dalam konotasi yang menginisiasi perubahan positif,” papar Fakhran.

Ketika ditanya kembali soal apakah masuknya punk ke ruang kelas ini membunuh keliarannya, Fakhran tersenyum sambil berkata; “Dibilang naik kelas, ya enggak juga. Tapi menebarkan semangat kritis di kondisi (negara) yang kayak begini itu kan hal yang sangat sulit. Bagaimana caranya social battery (baterai sosial) kita itu terus ada? Caranya ya lewat forum ini. Untuk men-charge ulang baterai orang-orang yang sedang resah dan gelisah melihat kondisi.”

Lokananta, dengan segala diskusi beratnya, nyatanya berfungsi sebagai “colokan listrik” raksasa. Tempat di mana kawan-kawan pergerakan saling mengisi daya kewarasan sebelum kembali bertarung di jalanan atau di ruang kerjanya masing-masing.

Mengembalikan Perlawanan ke Jalanan

Pada akhirnya, diskursus mengenai punk di menara gading ini menemukan konklusinya yang paling tajam dari celetukan salah satu presenter. Ni Made Ayu Susanthi Pradnya Paramitha, atau yang akrab disapa Santhi, seorang peserta yang jauh-jauh terbang dari Bali, merangkum seluruh perdebatan ini melalui interaksi pesan singkat (WhatsApp) bersama kami seusai acara.

Sama seperti Zakky, Santhi menolak keras penggunaan diksi hierarkis. “Aku pribadi enggak sepakat kalau pakai diksi ‘naik level’. Karena itu sama aja kayak ngelihat punk ada di level bawah,” tulisnya lugas.

Bagi Santhi, punk adalah soal penciptaan ruang merdeka, sesuatu yang sering kali gagal diwujudkan oleh institusi formal negara maupun kampus. 

“Enggak semua ruang di dunia ini memberi ruang aman untuk berekspresi dengan apa adanya kamu. Tapi punk berhasil memberi rasa aman itu. Lu mau jadi gimana elu yang lu mau, monggo. Itu mampu diberikan oleh punk.” jelasnya

Ia mematahkan stigma bahwa duduk di konferensi akademik berarti melunturkan militansi. Kuncinya ada pada cara dan metodologi pendekatannya.

“Acara konferensi tadi menurutku enggak ngerusak ke-rebel-an punk. Yang kita semua lakukan tadi adalah membicarakan punk dengan gaya punk. Bukan memindahkan punk ke ruang tidak rebel,” tegas Santhi. Sebuah quote yang secara telak merangkum esensi dari PSN 2026 itu sendiri: Membajak metodologi akademik, untuk menertawakan kemapanan akademik itu sendiri.

Namun, layaknya seorang punker sejati yang pantang merasa puas dengan kondisi mapan, Santhi menutup perbincangannya dengan Semut Api Media melalui sebuah provokasi liar yang mungkin harus didengar oleh Fakhran dan jajaran panitia untuk perhelatan tahun depan.

“Eh tapi ya, keren pertanyaanmu soal roh rebel punk itu,” tambahnya sesaat sebelum kami mengakhiri obrolan. “Jadi mikir, harusnya asyik juga ya kalau venue PSN itu diadakannya di jalanan. Keren itu kayaknya.”

Melalui imajinasi liarnya tersebut, Santhi seolah melempar tantangan nyata bagi panitia. Baginya, meski tahun ini punk telah berhasil merebut mimbar di dalam gedung bersejarah Lokananta secara elegan, ia memimpikan agar tahun depan sidang pemaparan jurnal akademik benar-benar digelar di atas aspal panas, berbaur dengan debu jalanan dan kepulan asap. Sebab dalam prinsip yang diyakini Santhi, sehebat apa pun wacana ditata di atas kertas jurnal, kebenaran tertinggi selalu menuntut untuk diuji di jalanan. 


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *