Mengasuh Anak, Menggugat Negara: Menanam Keberanian dari Tubuh Keluarga

Penulis
“Sering kali, sebagai orang tua kita menganggap politik formal sebagai sesuatu yang jauh dari pintu-pintu rumah.”

Begitulah kalimat yang muncul pada halaman prolog buku Parenting di Negara Gagal karya Kalis Mardiasih. Kalimat di atas bukan sebatas ucapan tanpa makna atau kalimat yang dilayangkan untuk basa-basi saja. Lebih dari itu, kalimat tersebut menjelma seperti mantra untuk membangkitkan kesadaran politik yang telah tertidur lama dalam tubuh keluarga.

Buku ini seperti memberi navigasi bagi para orang tua tatkala kebingungan dalam menerapkan pola asuh pada anak. Pola asuh yang ditawarkan oleh Kalis sedikit berbeda. Ia tidak hanya berfokus pada bagaimana agar komunikasi anak dan orang tua dapat terjalin sempurna, melainkan juga membantu agar obrolan politik dapat menjadi “hidangan pembuka” sebelum menu makan utama mendarat di meja makan.

Mengajarkan Kejujuran, Menumbuhkan Keberanian

Navigasi pertama yang termaktub dalam buku ini serupa ajakan bagi para pembaca untuk belajar menjadi orang tua yang jujur. Jujur di sini bukan hanya terbatas pada obrolan “biasa”, melainkan juga jujur kepada anak bahwa kondisi negara sedang tidak baik-baik saja.

Tak jarang ada anak yang memandang orang tua bukan hanya sebagai anggota keluarga, melainkan juga sebagai sosok guru. Dengan begitu, orang tua menjadi figur kunci dalam tumbuh kembang anak kelak. Sebab, pada usia dini, anak akan lebih banyak merekam sebelum kemudian meniru apa yang mereka dengar dan lihat.

Salah satu hal yang menyulitkan bagi orang tua ialah tatkala memberikan contoh kepada anak agar berlaku jujur. Setidak-tidaknya pada diri sendiri. Meski begitu, nilai-nilai hidup yang ditanamkan sejak dini saja tak cukup. Sebab anak kelak bertumbuh dan menjumpai sistem nilai yang lebih besar dan kompleks di luar sana. Di sinilah seharusnya negara memainkan peran krusial dalam proses pendidikan tersebut. Sayangnya, dalam konteks Indonesia, kita justru sering kali dibuat ragu oleh sistem yang kian rapuh dan nyaris tak bisa berharap banyak.

“Sialnya, rezim belakangan ini betul-betul hobi bikin orang tua repot. Saat kita mengajarkan kejujuran, para pengelola memamerkan korupsi dan kebohongan (hlm. 4).”

Selain kejujuran, Kalis juga mengajak orang tua untuk menjadi sosok yang pemberani, bukan hanya bagi dirinya, melainkan juga untuk menumbuhkan keberanian pada anaknya. Sosok Aeshnina adalah sebuah contoh menarik yang coba dibawa Kalis ke dalam Parenting di Negara Gagal tentang bagaimana peran orang tua terhadap tumbuh kembang anak dalam keluarga.

Aeshnina (yang akrab disapa Nina) adalah seorang aktivis muda asal Gresik, Jawa Timur, yang dikenal luas melalui aksi penyelamatan lingkungannya. Langkah yang diusung Aeshnina berangkat dari kegusarannya terhadap sampah plastik yang menjadi salah satu penyebab masalah ekologi di sekitar tempat ia dan keluarganya hidup. 

“Pada saat masih SD, Aeshnina pernah mengirim surat kepada bupati daerahnya untuk melaporkan sungai Brantas sekitar sekolah yang tercemar limbah industri (hlm. 35).”

Menariknya, sebagaimana ditunjukkan Kalis, paradigma politis yang telah melekat pada diri Aeshnina tidak ujuk-ujuk muncul begitu saja, melainkan dibentuk. Artinya, kedekatan Aeshnina dengan kesadaran politik ini merupakan buah manis dari pola asuh kedua orang tuanya.

“Orang tua Aeshnina juga beberapa kali mengajaknya turun ke jalan untuk menyuarakan protes tentang pencemaran lingkungan (hlm. 36).”

Dengan melihat sikap Aeshnina, kita barangkali tak butuh waktu lama untuk merasa terkesan secara berlebihan jika semua orang tua bisa menerapkan hal yang sama pada anak sejak dini. Bagaimana tidak? Di saat sebagian orang tua memilih anaknya agar tetap di rumah untuk menonton kartun atau membiarkan anaknya bermain layang-layang di lapangan, gerakan yang dilakukan oleh orang tua Aeshnina merupakan langkah yang berani.

Aeshnina tak hanya diajarkan untuk menjadi sosok yang jujur ketika melihat lingkungan sekitar yang terancam oleh perilaku merusak, tetapi juga diberi modal keberanian agar kelak ia tetap bisa berani menyuarakan ketidakadilan. 

Merawat Kebersamaan, Membongkar Ketimpangan

Tak berhenti pada keberanian. Melalui Parenting di Negara Gagal Kalis juga menunjukkan bagaimana orang tua perlu membagi dan menjaga kehidupan kolektif pada anak. 

Lantas, apa yang dimaksud dengan kehidupan kolektif itu? Kehidupan kolektif tersebut merujuk pada anggapan bahwa baik orang tua maupun anak tidak dapat hidup dalam dimensi individual saja, melainkan juga merajut asa dan kerja sama di tengah para warga.

Bukan hanya pengalaman Aeshnina, Kalis pun menunjukkan betapa pengalaman personal dan keseharian yang kerap dianggap biasa atau normal justru bisa menjadi ruang bertumbuh dan belajar bagi sang anak. Itulah yang ia lakukan ketika mengajak anaknya menyusuri persawahan milik warga. 

Melalui perjalanan tersebut, Kalis sebetulnya secara tak langsung ingin memberitahu anaknya bahwa makanan yang mereka konsumsi berasal dari petani sekitar. Selain itu, perjalanan itu menjadi satu metode sederhana untuk mengetahui apakah kualitas pertanian tersebut memang layak atau tidak. Karena itu, perjalanan yang mereka lakukan bukan perjalanan biasa, tetapi perjalanan dalam membangun pengalaman intelektual sang anak. 

“Saya dengan bangga bisa mengajarkan kepada Raras, bahwa di desa ini ada banyak petani hebat yang membantu keluarga kami tetap sehat setiap hari (hlm. 22).”

Kemiskinan Bukan Sekadar Soal Kemalasan

Melalui Parenting di Negara Gagal, Kalis mengajak para orang tua untuk membicarakan persoalan ketimpangan pada anak sejak dini. 

Ia menunjukkan bagaimana kebijakan rezim ini terhadap kesejahteraan para pendidik yang hidupnya sering kali masih jauh dari kata layak. Ketimpangan semacam ini, menurutnya, menjadi penting untuk diajarkan kepada anak sebab tidak semua orang memiliki kondisi ekonomi yang mapan. Dan kondisi tersebut sering kali bukan disebabkan oleh ‘kemalasan’ individu, melainkan karena negara tak mau mendengar masukan (kritik) dari warganya. 

Kondisi ini, menurut Kalis, mengharuskan orang tua untuk bisa memberitahu anak agar ia bisa memahami bahwa kemiskinan itu bukan sekadar karena sikap malas belaka, melainkan juga karena sistem yang buruk. Kemiskinan akut akibat sistem yang buruk itulah yang disebut “kemiskinan struktural”; kondisi di mana seseorang berada pada garis kemiskinan bukan karena masalah individual, melainkan karena terjebak dalam sistem sosial, politik, dan ekonomi yang jauh dari kata adil.

“Anak harus punya pengetahuan bahwa negara ini tidak memberikan apresiasi yang setara untuk tiap pekerjaan yang diemban orang-orang dewasa. Orang tua bisa saja memiliki profesi yang memberikan dampak besar bagi kehidupan, seperti menjadi pendidik, tenaga kesehatan, tapi tetap saja tidak sejahtera karena hak jaminan yang seharusnya diberikan oleh negara malah absen (hlm. 49).”

Mendidik Tanpa Sekat, Mengasuh dengan Tekad

Hal lain yang tak kalah menarik dari buku Parenting di Negara Gagal adalah pembahasan mengenai bagaimana membangun keluarga yang setara.

Lantas, apa sih yang dimaksud dengan “setara” dalam buku ini? Kalis menunjukkan bahwa kesetaraan tak boleh dipandang sebelah mata. Kesetaraan perlu dijadikan landasan untuk membangun masyarakat yang sarat akan keharmonisan dan tak menuai ketimpangan. Dalam hal ini, keluarga menjadi salah satu elemen penting karena keluarga merupakan ruang pendidikan pertama yang dijumpai oleh anak.

Dalam tubuh keluarga, peran orang tua menjadi penting untuk mengenalkan kesetaraan kepada anak. Kalis memberikan contoh bahwa anak laki-laki jangan sampai terasing dari kerja-kerja perawatan. Kerja perawatan di sini tidak hanya mencakup perawatan diri, tetapi juga merawat pengetahuan.

“Secara umum, anak laki-laki kurang akrab dengan kerja perawatan karena masyarakat patriarki hanya menuntut anak laki-laki untuk fokus pada keberhasilan yang bersifat materi (hlm. 74).”

Kalis menambahkan, salah satu kerja perawatan pengetahuan yang perlu dilakukan keluarga adalah membangun paradigma anak agar jauh dari bias gender. Bias tersebut dapat terlihat dari kategorisasi pekerjaan yang telah terinternalisasi dalam pola pikir sebagian masyarakat, misalnya anggapan bahwa kerja-kerja domestik selalu melekat pada tubuh perempuan.

Di sinilah letak pentingnya merawat pengetahuan. Orang tua perlu mengajarkan kepada anak bahwa kebiasaan tersebut bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul, melainkan bentuk warisan pengetahuan yang tak berpihak pada perempuan. Karena itu, orang tua memiliki peran untuk mengajarkan kepada anak laki-laki tentang kesetaraan, salah satunya dengan mendekatkan mereka pada pekerjaan rumah.

“Orang tua bisa mengenalkan pekerjaan menyapu sebagai pekerjaan yang wajib dilakukan agar lantai rumah tidak banyak debu yang mendatangkan penyakit—alih-alih menyebut aktivitas menyapu sebagai kerjaan perempuan (hlm. 76).”

Jika anak laki-laki sudah terbiasa melakukan pekerjaan domestik, pekerjaan berikutnya ialah memastikan agar pengetahuan tersebut terus dirawat sehingga klasifikasi pekerjaan tidak lagi bias gender. Kalis ingin mengajak pembaca sampai pada pemahaman bahwa akrabnya anak laki-laki dengan kerja domestik setidaknya dapat membuat pekerjaan di rumah terasa lebih ringan dan cepat terselesaikan.

“Laki-laki tidak bisa hanya bergantung pada perempuan untuk memasak. Sebab, kelak, perempuan akan lebih bahagia jika peran laki-laki membuat memasak selesai lebih cepat (hlm. 76).”

Membaca buku Parenting di Negara Gagal membuatku sadar bahwa peran orang tua begitu penting dalam membantu anak membentuk pola pikir yang sarat empati sekaligus mampu membangun jejaring kolektif dengan warga. Buku ini tak hanya berbicara tentang bagaimana orang tua membesarkan anak, tetapi juga tentang nilai-nilai apa yang hendak diwariskan kepada mereka.

Buku ini ditulis dengan kalimat yang menurutku sederhana dan amat mudah dipahami. Tatkala membaca, aku serasa diajak untuk larut ke dalam cerita. Kalimat demi kalimat. Paragraf demi paragraf. Semua dirajut dengan begitu menohok dan mampu “menyengat” pikiran pembaca. 

Tak lupa, salah satu hal yang patut diapresiasi dari Kalis ialah ia memberikan beragam tips dalam buku ini. Kalis tak hanya fafifu soal kondisi negara, melainkan juga memberikan tips menarik yang dapat diikuti oleh para orang tua, seperti tips mengajarkan hidup bersolidaritas dan mengenalkan anak tentang konsep kekayaan.

Meski belum banyak buku yang aku baca, buku ini amat unik karena memberikan panduan bagi orang tua sekaligus beberapa langkah alternatif agar obrolan politik tidak menjadi agenda setiap lima tahun sekali.

Pada akhirnya, Parenting di Negara Gagal membawa pembaca pada satu kesadaran bahwa mengasuh anak tak pernah benar-benar berlangsung di ruang yang steril dari politik. Keluarga memang menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang kejujuran, keberanian, kepedulian, kesetaraan, dan keadilan. Namun, nilai-nilai tersebut akan berhadapan dengan kenyataan yang lebih luas ketika anak mulai mengenal kehidupan di luar rumah.

Akhir kata, salam solidaritas. Hidup rakyat yang tertindas!


*Ulasan buku Parenting di Negara Gagal yang ditulis oleh Kalis Mardiasih (Buku Mojok: 2026)


Editor: Ferdinando Septy Yokit


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *