YOGYAKARTA — Diskusi buku berjudul Hegemoni Tentara menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam acara Jogja Art Book Festival yang digelar di The Ratan, Panggungharjo pada Jumat (2/10/26). Muhammad Najib Azca sebagai penulis sekaligus narasumber dan Made Supriatma diberikan kesempatan untuk mengupas lebih lanjut terkait buku Hegemoni Tentara yang membahas tentang sejarah dwifungsi ABRI serta militerisme pada masa kekuasaan Orde Baru.
Hegemoni Tentara pada mulanya merupakan skripsi Muhammad Najib Azca tahun 1996 yang lantas diterbitkan oleh penerbit Semut Api. Pengalaman otoritarianisme yang dilakukan oleh militer pada masa Orde Baru serta ingatan tentang dwifungsi ABRI yang tidak diwariskan oleh pemerintah kepada generasi masa kini menjadi alasan mengapa buku ini pada akhirnya ditulis.
“Buku ini sebenarnya adalah skripsi saya yang saya tulis pada tahun 1996. Pengalaman terkait otoritarianisme yang dilakukan oleh militer pada masa generasi kami atau Orde Baru adalah hal yang menginspirasi saya dalam menulis ini. Selain itu, ingatan tentang dwifungsi ABRI hampir tidak pernah diwariskan kepada generasi masa kini, baik melalui kurikulum sejarah maupun arsip kekerasan yang jarang muncul di ruang publik,” jelas Muhammad Najib Azca sebagai penulis buku Hegemoni Tentara pada diskusi malam itu.
Sementara itu, Made Supriatma sebagai narasumber memberikan pendapatnya terkait sejarah maupun konsep dwifungsi ABRI yang terbentuk pada masa kepemimpinan Orde Baru. Made membeberkan bahwa sebagian besar sejarah tentara yang dituliskan pada masa Orde Baru mengatakan bahwa Republik Indonesia dapat terbentuk karena kekuatan tentara, hal ini membuat militer merasa menjadi sebuah lembaga yang otonom.
“Jika kita lihat, banyak sejarah tentara pada masa Orde Baru yang menjelaskan bahwa Republik Indonesia ini terbentuk karena kehadiran tentaranya. Hal ini yang membuat tentara merasa menjadi sebuah lembaga yang otonom atau dapat berdiri sendiri,” ungkapnya malam itu menjawab pertanyaan dari moderator.
Menjelang akhir diskusi, Muhammad Najib menambahkan sebuah pesan yang penting untuk generasi masa kini dalam melawan doktrinasi sejarah militer bahwa selalu ada kemungkinan untuk melawan atau memberikan narasi tandingan yang bersifat kultural yang dapat dihadirkan melalui produk-produk yang relevan dengan generasi masa kini.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








