YOGYAKARTA – Kompleksitas dampak sosial dan ekologis di balik industri ekstraktif di Morowali, Sulawesi Tengah, dibedah dalam diskusi bertajuk Debu Morowali yang berlokasi di The Ratan, Yogyakarta, Minggu (11/10/2026). Diskusi yang dikemas dalam program Ngobrolin Buku #10 ini menghadirkan penulis buku Bhima Yudhistira dan filmmaker Wucha Wulandari, serta dimoderatori oleh Aria Koesoemah, guna menyoroti realitas kehidupan masyarakat di sekitar kawasan industri nikel.
Melalui pendekatan karya sastra dan riset lapangan, kedua pembicara memaparkan bahwa hilirisasi nikel meninggalkan persoalan yang tidak sederhana. Penulis buku Debu Morowali, Bhima Yudhistira, menilai kawasan industri nikel Morowali menyisakan penderitaan masyarakat yang nyaris tak tercatat. Selama kurang lebih satu bulan, ia menyaksikan langsung kehidupan yang kian sulit, sementara dampak kesehatan di sekitar kawasan industri tidak terdata sebagai akibat aktivitas industri.
“Saya bisa bilang saya saksi bahwa kehidupan masyarakat makin susah, beli air makin mahal, dan ibu-ibu di sana menjadi korban penyebaran HIV/AIDS karena suaminya bekerja di tambang ataupun smelter, bahkan ada kejadian visa tenaga kerja disalahgunakan untuk prostitusi,” ujar Bhima.
Selain itu, Bhima juga menyoroti kesiapan pemerintah daerah jika terjadi masalah kesehatan di kawasan tersebut.
“Semua kasus penyakit menular seksual dan kecelakaan kerja di pabrik itu ada kliniknya, tapi karena mereka takut tercatat sebagai permasalahan di dalam pabrik, semua dirujuk langsung ke kabupaten atau provinsi. Jadi seperti membuang data, sehingga dampak kawasan industri tidak tercatat,” tambahnya.
Sementara itu, peneliti sekaligus filmmaker, Wucha Wulandari, memaparkan temuan serupa ketika melakukan riset di Morowali Utara untuk keperluan pembuatan film Dero Disko Morowali. Ia mengatakan sebagian penghuni area tambang adalah masyarakat pendatang. Sementara masyarakat asli Morowali, yang semula bekerja di perusahaan kini mengubah mata pencaharian dengan berjualan.
“Orang Morowali yang tadinya bekerja sebagai petani dan nelayan, mereka masuk ke perusahaan, tapi kemudian ada pemecatan massal, akhirnya bergeser jadi jualan karena lahannya udah banyak tenggelam, udah kekeringan, karena air sungai disedot langsung ke dalam ke tambang,” ujar Wucha di akhir diskusi.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








