Diskusi Merawat Jagat: Dari Keadilan Gender hingga Tanggung Jawab Kolektif Merawat Bumi

Penulis

YOGYAKARTA – Diskusi bertajuk Merawat Jagat: Ulama Perempuan dan Keadilan Ekologis digelar di The Ratan, Yogyakarta, pada Sabtu (10/10/2026) sebagai bagian dari rangkaian Jogja Art Book Festival. Menghadirkan dua pembicara utama yaitu Alimatul Qibtiyah dan Zaimatus Sa’diyah, serta Sarjoko S. sebagai moderator, untuk membedah peran krusial perempuan serta dampak krisis ekologi yang seringkali tidak netral gender.

Diskusi ini menyoroti bagaimana krisis ekologi memberikan beban lebih berat kepada perempuan dan kelompok rentan lainnya, seperti lansia, balita, dan penyandang disabilitas. Diskusi juga menekankan pentingnya membangun kesadaran ekologis melalui perspektif keagamaan dan teologi, serta mengakomodasi pengalaman perempuan dalam pengambilan kebijakan. 

“Krisis ekologi itu tidak pernah netral gender dan kita perempuan adalah bagian dari komunitas yang paling terdampak. Salah satu tugas ulama perempuan adalah mengakomodir pengalaman-pengalaman perempuan ini, bagaimana pengalaman mereka itu diakomodir dalam pengambilan kebijakan,” ujar Zaimatus Sa’diyah.

Selain itu, Zaimatus Sa’diyah juga menambahkan bahwa konsep mother earth bukan untuk melegitimasi bahwa perempuan mempunyai tanggung jawab untuk melindungi bumi. 

“Konsep mother earth itu sebagai landasan etis dan bukan untuk melegitimasi bahwa perempuan itu punya tanggung jawab untuk melindungi bumi, enggak, justru dengan itu kita ingin menyadarkan bahwa kita, sebagai manusia, mempunyai tanggung jawab yang sama untuk membangun keterikatan kita dengan bumi dan merawat bersama-sama,” tambahnya. 

Sementara itu, Alimatul Qibtiyah menjelaskan bahwa perempuan menanggung dampak lebih berat akibat kerusakan ekologis karena peran gender di masyarakat belum banyak berubah. Menurutnya, perempuan masih diposisikan sebagai penanggung jawab urusan sehari-hari yang berkaitan langsung dengan sumber daya alam. 

“Kalau terjadi kerusakan ekologi, dampak yang terburuk adalah perempuan atau kelompok rentan yang lain. Peran gender yang masih ada di masyarakat itu masih menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab urusan-urusan hidup, dalam arti mencari air, memasak. Kita tidak bisa langsung mengubah masyarakat semuanya punya kesadaran gender, kan ngga bisa, karena itu ketika masyarakat ini belum betul-betul paham mengenai kesadaran gender, maka ketika terjadi dampak ekologi, ya itu perempuan jadi susah nyari air, jadi susah masak, misalnya gitu,” ujarnya. 

Diskusi kemudian ditutup dengan ajakan untuk mulai memperbaiki dan melindungi bumi melalui gerakan sederhana seperti menanam dan merawat pohon, serta mengurangi budaya konsumtif. 


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *