Diskusi Trubus Dimana Engkau?: Melihat Geliat Berkesenian Trubus Soedarsono yang Berpihak pada Rakyat

Penulis

YOGYAKARTA — Sesi Berbincang dengan tema Trubus Dimana Engkau? menjadi bagian dari agenda Jogja Art Book Fest yang diselenggarakan di The Ratan. Diskusi yang dilangsungkan pada Selasa (6/10/26) ini menghadirkan dua narasumber yaitu Ita Fatia Nadia dan Rumekso Setyadi. Dalam diskusi tersebut para narasumber menceritakan bagaimana kerja-kerja Trubus dalam berkesenian yang selalu berpihak dan menyuarakan persoalan-persoalan masyarakat kecil. 

Ita Fatia Nadia membagikan kisah perjalanan Trubus Soedarsono dalam berkesenian melalui penuturan Hersri Setiawan. Hersri Setiawan merupakan salah satu sastrawan Lembaga Kebudajaan Rakjat yang cukup dekat dengan pribadi Trubus. Perempuan itu mengisahkan bagaimana Trubus selalu aktif dan kritis dalam menuangkan persoalan-persoalan yang dialami masyarakat kecil ke medium lukisan. 

“Pada waktu turun ke bawah (Turba) di Tambak Lara, Trubus aktif berbincang dengan para petani dan nelayan di sana. Setelah itu, ia selalu melaporkan isu-isu atau persoalan rakyat kepada Hersri dan Sugiarti yang nantinya dituangkan pada kanvas. Trubus selalu mengamati problem kehidupan rakyat yang nantinya akan dikonseptualisasikan menjadi sebuah gambar,” tuturnya panjang pada sesi berbincang sore itu. 

Rumekso Setyadi, sebagai narasumber kedua turut memberikan pendapatnya terkait Trubus pada masa Revolusi Indonesia. Ia memaparkan bahwa peran atau eksistensi Trubus hampir tidak terlihat karena menangnya ideologi Soekarno. Selain itu, Soekarno selalu mengatakan bahwa Revolusi Indonesia belum sepenuhnya selesai dan Trubus bersama seniman-seniman lain lah yang dapat merealisasikan revolusi tersebut menjadi suatu bentuk visual.

“Trubus Soedarsono itu berhasil dikecilkan perannya karena menangnya ideologi Bung Karno. Bung Karno selalu bilang bahwa Revolusi Indonesia itu belum selesai dan inilah tugas Trubus bersama seniman-seniman yang lain yang bisa menerjemahkan revolusi tersebut ke bentuk visual,” jelasnya mengimbuhi pemaparan narasumber pertama.

Setelah itu, Ita Fatia melengkapi pernyataannya perihal kerja-kerja Trubus yang aktif. Menurutnya Trubus Soedarsono dianggap berbahaya karena dia memiliki banyak massa yang mengikuti. Lanjutnya dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat, seniman atau sastrawan yang memiliki banyak pengikut menjadi berbahaya. 

“Trubus itu dianggap berbahaya karena memiliki massa dan selalu banyak yang mengikuti dia. Di dalam Lekra, menurut Hersri sendiri, seniman yang sudah memiliki banyak massa itu tergolong berbahaya.”

Trubus Soedarsono merupakan salah satu seniman Indonesia yang lahir di Wates pada 23 April 1923. Ia aktif tergabung dalam Sanggar Pelukis Rakyat dan Seniman Indonesia Muda pada masa pergerakan nasional di Yogyakarta. Keseniannya mempunyai keterkaitan yang kuat dengan Lembaga Kebudajaan Rakjat. Dalam karya-karya seninya, ia menerapkan landasan atau ideologi yaitu seni untuk rakyat atau realisme sosialis.


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *