Diskusi Buku Mereka Hilang Tak Kembali: Mengungkap Rentetan Kekerasan Pada Masa Orde Baru

Penulis

YOGYAKARTA — Diskusi buku kembali menjadi rangkaian acara dalam Jogja Art Book Fest pada Minggu (4/10/26). Diskusi yang membahas buku Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998 ini digelar di The Ratan dengan mengundang AS Rimbawana sebagai penulis buku serta narasumber dan Khoirul Atfi sebagai narasumber. Dalam diskusi tersebut, mereka memperbincangkan lagi rentetan panjang peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru sejak tahun 1966 hingga akhir 1998.

Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998 merupakan buku sejarah yang mengisahkan rangkaian kasus-kasus pembunuhan dan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh rezim Orde Baru selama kurang lebih 32 tahun berkuasa. Daftar panjang peristiwa-peristiwa seperti G30S, Malari, penerapan DOM Aceh, Santa Cruz di Timor Leste, Petrus, Tanjung Priok, pembunuhan Marsinah, Kudatuli, penculikan aktivis 1998 dan masih banyak lagi diungkap secara menyeluruh dalam buku ini.

AS Rimbawana sebagai narasumber dalam diskusi itu memulai paparannya dengan mengisahkan beberapa peristiwa kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitarnya pada masa kekuasaan rezim Orde Baru. Menurut alumnus Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, setelah beranjak dewasa Ia membaca jejak-jejak tragedi seperti pembantaian massal pasca peristiwa G30S dan penembakan misterius (Petrus) yang menyasar para Gali yang kerap kali ia jumpai di lingkungan sekitarnya. 

“Konteks tahun 65 perlu dipahami sebagai legitimasi oleh Soeharto untuk mendirikan pondasi kekuasaannya. Selain memiliki kedekatan dengan literatur atau tema yang diangkat dalam buku ini, saya juga memiliki pengalaman emosional terhadap peristiwa-peristiwa kekerasan tersebut,” jelasnya kepada para peserta diskusi sore itu. 

Sebagai narasumber yang tumbuh di generasi masa kini, Atfi turut memberikan pendapatnya terkait kasus-kasus pelanggaran HAM atau genosida yang dilakukan oleh Orde Baru selama 32 tahun. Ia mengungkapkan kegelisahannya bahwa kekerasan-kekerasan yang dilakukan pada masa Orde Baru berkuasa tidak pernah diusut tuntas hingga kini. Aksi Kamisan dijadikan contoh ketidaktuntasan tersebut. Atfi juga menambahkan terkait reformasi yang saat itu hanya terasa seperti bualan dan bukan reformasi secara menyeluruh.

“Kekerasan-kekerasan yang telah dilakukan pada masa Orde Baru tidak pernah diusut secara tuntas, seperti contohnya aksi kamisan yang masih berlangsung hingga saat ini. Reformasi kita hanya seperti jargon semata, dan belum benar-benar reformasi,” ujarnya menanggapi pertanyaan moderator.

Pada akhir diskusi, Rimbawana memberikan kesimpulannya terkait buku ini bahwa buku sejarah ini menjadi upaya untuk menata seluruh referensi ke dalam suatu bentuk pengetahuan untuk menunjukkan kondisi atau situasi yang terjadi di sekitar kita sekarang.


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *