Ke Mana Perginya Gaji Kita? Perspektif Pekerja atas Gaji

Penulis

Februari lalu saya menandatangani kontrak dari sebuah perusahaan. Halamannya banyak, dan sejujurnya sebagian besar isinya saya lupa. Yang saya ingat betul hanya intinya: untuk beberapa waktu ke depan, hidup saya terikat pada setiap klausul yang tertulis di sana, dan sebagai balasannya, setiap akhir bulan perusahaan berkewajiban mentransfer sejumlah uang ke rekening saya. Uang itu, dalam bahasa yang lazim dipakai masyarakat hari ini, disebut Gaji.

Tanda tangan saya di atas kontrak tersebut adalah bukti persetujuan saya untuk menjalankan seluruh kewajiban, sekaligus menjauhi berbagai larangan, yang ditetapkan perusahaan. Namun kewajiban-kewajiban itu tidak dipenuhi secara cuma-cuma. Ada biaya-biaya tertentu yang mesti saya keluarkan agar sanggup memenuhinya. Biaya-biaya yang, agar tulisan ini tidak menjadi rincian belanja, akan saya bagi secara garis besar menjadi tiga macam saja.

Biaya Hidup

Biaya pertama adalah biaya agar saya tetap bisa berangkat kerja esok hari dalam keadaan sehat dan bertenaga. Sebelum siapa pun mulai bekerja, ia harus lebih dulu bisa makan, punya tempat tinggal, dan memiliki pakaian kerja. Tiga hal itu adalah syarat paling dasar untuk bekerja. Syarat-syarat ini, apabila kita perhatikan, identik dengan kondisi paling dasar bagi manusia untuk bertahan hidup. Untuk hidup, seminimal mungkin manusia juga mesti memenuhi sandang, pangan, dan papannya. Untuk itu, ke depannya saya akan menyebut biaya pertama ini sebagai biaya hidup saja.

Dapat diingat, mungkin, bahwa dalam pengertian ekonomi yang paling umum, biaya hidup ialah seluruh pengeluaran bagi seseorang untuk mempertahankan standar kehidupannya dalam suatu periode tertentu. Di dalamnya terdapat kebutuhan untuk makan, tempat tinggal, pakaian, transportasi, kesehatan, pendidikan, komunikasi, hingga kebutuhan sosial dan rekreasi. Besarnya biaya hidup dikatakan berbeda-beda menurut tempat seseorang tinggal, tingkat pendapatan, jumlah anggota keluarga, harga barang dan jasa, serta standar kehidupan yang berlaku di masyarakat.

Pengertian semacam di atas, menurut saya, mesti diproblematisir. Bagi seorang pekerja, makanan yang dimakan, tempat tinggal yang ditempati, transportasi yang digunakan, bahkan waktu yang digunakan untuk beristirahat memang merupakan kebutuhan hidup bagi dirinya sebagai manusia. Namun, kebutuhan-kebutuhan yang sama sekaligus memiliki fungsi lain.

Orang perlu makan sebelum bekerja, perlu tidur sebelum bekerja, perlu tempat tinggal agar dapat datang bekerja, dan perlu kesehatan agar mampu menjalankan pekerjaannya. Dengan demikian, biaya hidup, yang dalam kelas-kelas pengantar  ekonomi, diajarkan sebagai biaya konsumsi, dalam perspektif relasi pengupahan sekaligus merupakan biaya reproduksi tenaga kerja.

Mendudukkan biaya hidup dalam konteks relasi pengupahan ini menjadi penting sebab ia memiliki muatan politis. Jika biaya hidup semata-mata dipandang sebagai konsumsi pribadi, maka persoalannya berhenti pada pertanyaan apakah pendapatan seseorang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam kata lain, upah itu individual. Kalau mau upah cukup, ya turunkan standar hidup, atau bekerja lebih keras.

Akan tetapi, bilamana biaya hidup  dipahami sebagai syarat reproduksi tenaga kerja, maka kita dapat bertanya lebih jauh, bahwa sejauh apa garis batas antara ongkos hidup dan ongkos reproduksi nilai di dalam “biaya hidup” dalam zaman di mana relasi pengupahan berlaku.

Biaya Kapasitas Kerja

Sayangnya, sekadar hidup dan bernapas ternyata belum cukup bagi kita untuk bekerja. Dalam bekerja, seseorang butuh seperangkat kemampuan fisik, mental, ataupun keterampilan tertentu. Misalnya, kekuatan otot, konsentrasi, kesabaran, ketelitian, keterampilan teknis tertentu, kemampuan berpikir, dan semacamnya. Tanpa itu semua, orang bisa saja hidup, tetapi kesulitan menjalankan pekerjaan tertentu. Semakin paripurna unsur-unsur ini tertanam pada diri seseorang, semakin ia dibutuhkan oleh pemberi kerja. Karena berkaitan dengan kesanggupan seseorang untuk bekerja, unsur-unsur ini ke depannya akan saya tulis sebagai kapasitas kerja, atau dalam istilah lain tenaga kerja (labour power), dengan biaya yang digelontorkan sebagai biaya tenaga kerja.

Kapasitas kerja bukan sesuatu yang datang begitu saja sejak lahir. Sesederhana fakta bahwa tidak ada bayi yang lahir langsung sanggup menggarap Excel. Kapasitas kerja dibentuk secara sosial, oleh dunia tempat bayi -bayi hidup dan bertumbuh. Kesabaran, ketelitian, dan keterampilan mengoperasikan rumus-rumus Excel, misalnya, semua itu hasil belajar yang makan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Dengan kata lain, kapasitas kerja lahir dari pengalaman hidup manusia. Dan semua pengalaman itu, sayangnya, tidak gratis. Bahkan kemampuan untuk bersosialisasi dan bergaul agar lebih disukai kolega dan atasan pun kita peroleh dari pengalaman hidup yang memerlukan ongkos.

Ada satu hal lagi soal kapasitas kerja ini, yaitu hubungannya dengan kerja itu sendiri justru negatif. Semakin panjang durasi kerja, semakin berat, atau semakin repetitif porsi kerja yang kita jalani, semakin ia menguras kapasitas kerja kita. Pernahkah kita sesekali bertanya pada diri sendiri, kenapa kita butuh liburan? Jawabnya tentu karena kita perlu mengisi ulang kapasitas kerja yang terkuras sepanjang pekan.

Seperti halnya mesin, kapasitas kerja yang aus membuat kerja tersendat. Dan tidak ada perusahaan yang mau pekerjanya lamban dan tersendat-sendat. Demi hal tersebut, kita perlu memoles ulang ketebalan muka untuk bermanis-manis di depan kolega dan atasan. Kita juga perlu memperbarui otot dan saraf otak, agar pada hari Senin di pekan mendatang kita kembali bekerja dengan kapasitas kerja yang sudah pulih. Dan semua pengisian ulang tenaga kerja ini — sebut saja liburan, refreshing, self-reward, apa pun namanya — tentu memakan biaya.

Biaya Tabungan dan Investasi

Terakhir, biaya ketiga, adalah sebagian kecil dari gaji yang, di sejumlah kasus, sengaja tidak dipakai sama sekali. Kebanyakan orang mengambil salah satu dari dua cara di sini. Bagi yang sekadar menyisihkannya, biaya ini disebut tabungan. Bagi yang menyisihkannya dengan harapan memperoleh nilai lebih besar di masa depan, biaya ini disebut investasi. Akan tetapi, logika yang bekerja di baliknya sama saja, yaitu menunda keluarnya biaya hidup maupun biaya tenaga kerja di hari ini, untuk dipakai di hari-hari mendatang.

Biaya apa saja yang dimaksud dengan biaya di hari mendatang ini? Tentu, biaya hidup ketika kehilangan pekerjaan, biaya berobat ketika sakit, biaya belajar untuk menambah kapasitas kerja, sampai biaya masa tua ketika tenaga fisik dan mental tidak memungkinkan lagi untuk bekerja. Tabungan maupun investasi, dengan demikian, pada dasarnya adalah cara mengamankan keberlangsungan hidup dan kapasitas kerja dalam jangka panjang. Ia lahir dari kenyataan sederhana bahwa manusia tidak cuma harus bekerja hari ini, tapi juga harus tetap bisa hidup dan bekerja esok, lusa, dan selama napasnya.

Akan tetapi, perlu saya tekankan, tidak jarang pada titik tertentu investasi berhenti menjadi sekadar jaminan hidup jangka panjang dan berubah menjadi sarana memperbesar kekayaan itu sendiri. Pada titik tersebut, biaya-biaya ini tidak lagi disimpan untuk membiayai hidup di masa depan, melainkan ditanam ke dalam aset-aset tertentu dengan harapan berkembang biak menghasilkan nilai yang lebih banyak lagi. Namun, pengecualian ini tidak akan mengubah apa pun, dengan alasan yang akan saya kemukakan di bawah.

Gaji sebagai Medan Tarik-Menarik

Saya kira kita sekalian sudah paham bahwa ketiga biaya ini bukan tiga jenis pengeluaran yang berbeda. Ketiganya merupakan pengeluaran yang harus dipenuhi oleh satu sumber yang sama, yaitu gaji pekerja.

Di sini timbul persoalan karena di dalam gaji pekerja, batas antara ongkos hidup manusia dan ongkos produksi perusahaan menjadi samar. Dari sudut pandang pekerja, gaji merupakan syarat agar ia tetap dapat hidup, makan, belajar, beristirahat, membesarkan anak, hingga menyiapkan hari tuanya. Akan tetapi, dari sudut pandang perusahaan, seluruh biaya itu tidak lain merupakan bagian dari ongkos agar proses produksi nilai dapat terus berlangsung.

Perusahaan tentu tidak memberi kita ongkos makan karena kepeduliannya terhadap rasa lapar kita, melainkan karena pekerja yang lapar tidak dapat bekerja secara produktif. Perusahaan tidak memberi pelatihan cuma-cuma agar pekerjanya menjadi manusia yang lebih berpengetahuan dan kritis, melainkan agar kapasitas kerja yang dimiliki pekerja terus meningkat dan menghasilkan nilai yang lebih besar. Di dalam gaji, kehidupan manusia dan akumulasi nilai seolah-olah berada dalam satu domain yang sama. Akibatnya, antara reproduksi kehidupan dan akumulasi nilai perusahaan terus berada dalam hubungan tarik-menarik.

Meskipun gaji tampak sebagai titik temu antara kepentingan pekerja untuk mereproduksi kehidupannya dan kepentingan perusahaan untuk mempertahankan proses produksinya, keduanya tidak pernah berada dalam posisi tawar yang seimbang. Dalam praktiknya, reproduksi kehidupan pekerja justru sering kali dipaksa menyesuaikan diri dengan kebutuhan produksi nilai perusahaan, bukan sebaliknya. Akibatnya, ruang yang tersedia bagi pekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, mengembangkan kapasitas kerja, dan menyiapkan masa depannya terus menyempit. Bentuk paling nyata dari ketimpangan ini dapat kita lihat dari cara mayoritas pekerja mendistribusikan gajinya di tiga domain.

Domain Pertama: Biaya Hidup

Hampir setiap kenaikan ongkos reproduksi kehidupan pada akhirnya harus ditanggung oleh pekerja sendiri. Misalnya, ketika harga kebutuhan pokok meningkat, biaya hidup pekerja tentu ikut bertambah. Memang, dalam situasi tertentu kenaikan biaya hidup tersebut dapat diikuti oleh penyesuaian gaji. Namun hubungan keduanya tidak pernah bersifat otomatis. Penyesuaian upah bukan konsekuensi alamiah dari meningkatnya kebutuhan hidup pekerja, melainkan hasil dari proses negosiasi, perjuangan serikat pekerja, maupun kebijakan negara guna mendorong tingkat konsumsi agregat dalam rangka menghindari krisis overproduksi.

Selama penyesuaian tersebut belum terjadi, atau ketika kenaikan gajinya tidak mencukupi, pekerjalah yang terlebih dahulu dipaksa menanggung selisihnya. Mungkin dengan cara menurunkan kualitas konsumsi, menunda berobat, memperpanjang waktu tempuh demi tempat tinggal yang lebih murah, bahkan mencari pekerjaan tambahan dengan mengorbankan waktu istirahat, agar kehidupannya tetap muat di dalam batas gaji yang diterimanya.

Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata apakah gaji ikut naik atau tidak, melainkan bahwa reproduksi kehidupan pekerja tidak pernah menjadi variabel yang secara otomatis menentukan besaran gaji. Justru sebaliknya, reproduksi kehidupan itulah yang terus dipaksa menyesuaikan diri terhadap batas-batas yang ditetapkan oleh kebutuhan produksi nilai lebih.

Domain Kedua: Kapasitas Kerja

Untuk mempertahankan nilai jual dirinya, pekerja mesti senantiasa meningkatkan kapasitas kerjanya. Misalnya dengan cara mengikuti pelatihan, mengambil sertifikasi, membeli perangkat kerja yang lebih baik, melanjutkan pendidikan, dan sebagainya. Semua itu memang meningkatkan kapasitas kerja hari ini, tetapi sekaligus menggerus ruang yang seharusnya dapat digunakan untuk menyiapkan kehidupannya di masa depan.

Dana yang semestinya menjadi tabungan ketika kehilangan pekerjaan, tabungan pernikahan, atau bantalan ketika terjadi krisis ekonomi, justru terpakai agar pekerja tetap mampu bersaing dan relevan dengan pasar kerja saat ini. Di sini, reproduksi kapasitas kerja dan reproduksi kehidupan jangka panjang saling memperebutkan satu sumber biaya yang sama, yakni gaji. Akibatnya, pekerja dipaksa memilih antara mempertahankan nilai jual tenaga kerjanya hari ini atau mengamankan keberlangsungan hidupnya di kemudian hari. Dan sebagaimana pada domain pertama, dapat terlihat bahwa sering kali beban penyesuaian itu kembali dipikul oleh pekerja sendiri.

Pada titik ini terlihat bahwa bukan tuntutan pasar kerja yang menyesuaikan diri dengan keterbatasan hidup pekerja. Justru pekerjalah yang dipaksa untuk terus membiayai reproduksi kapasitas kerjanya dengan cara mengorbankan dana darurat, tabungan hari tua, bahkan kebutuhan hidup lainnya, agar tetap dianggap layak untuk bekerja. 

Domain Ketiga: Tabungan dan Investasi

Domain ini, saya rasa, agak unik. Bagi segelintir orang yang memiliki kemewahan untuk menabung, bahkan berinvestasi untuk masa depan, selalu ada kemungkinan untuk perlahan keluar dari jebakan biaya-biaya ini. Khususnya bagi pekerja yang memiliki privilese gaji lebih untuk diinvestasikan — mereka mungkin berhasil mengumpulkan kekayaan dalam jumlah yang cukup sehingga kehidupannya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada gaji bulanan. Akan tetapi, keberhasilan-keberhasilan semacam ini tidak lantas membatalkan persoalan yang sedang kita bicarakan.

Mengapa demikian? Sebab relasi kerja ini sendiri hanya dapat berlangsung apabila selalu tersedia orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada gaji. Jika setiap orang mampu mempertahankan hidupnya tanpa lagi menjual tenaga kerjanya untuk memperoleh gaji, maka hubungan kerja ini akan kehilangan syarat keberadaannya. Dari sini dapat dilihat bahwa keberhasilan sebagian orang untuk keluar dari ketergantungan pada gaji justru terjadi karena, pada saat yang sama, terdapat mayoritas yang tetap harus menggantungkan kehidupannya pada relasi ini. Maka keberhasilan sebagian pekerja untuk membebaskan diri dari jebakan gaji justru bertumpu pada ketidakberhasilan pekerja lain.

Dengan kata lain, ketika seorang pekerja berhasil hidup tanpa lagi bertumpu sepenuhnya pada gaji, yang sejatinya terjadi hanyalah perpindahan, dari ketergantungan pada hasil kerja sendiri, menjadi ketergantungan pada hasil kerja pekerja lain yang lebih rentan. Biaya-biaya yang semula berasal dari penjualan tenaga kerja sendiri kini tertutupi oleh aset yang nilainya hanya dapat terus bertumbuh selama masih ada orang lain yang bekerja.

Ambil contoh seorang pekerja yang berhasil membangun rumah kontrakan dari hasil tabungannya. Sekilas, tampak bahwa pekerja ini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada gaji bulanan, sebab setiap bulan kontrakannya menghasilkan uang sewa. Namun, dari mana uang sewa tersebut berasal? Tidak lain berasal dari penyewa yang setiap pagi tetap berangkat bekerja agar mampu membayar biaya tempat tinggalnya. Ketika penyewa kehilangan pekerjaan, aliran pendapatan dari rumah kontrakan itu pun ikut terancam. Artinya, sumber penghidupan pemilik kontrakan tidak pernah benar-benar lepas dari kerja. Ia hanya tidak lagi bergantung pada kerjanya sendiri, melainkan pada kerja orang lain.

Hubungan di atas bahkan dapat berkembang lebih jauh. Ketika jumlah rumah kontrakan semakin banyak, misalnya, pemilik kontrakan mungkin mulai mempekerjakan orang lain. Pekerja-pekerja inilah yang tetap harus menjual tenaga kerjanya demi memperoleh gaji. Dengan demikian, ruang gerak yang lebih longgar yang dinikmati pemilik kontrakan tidak lahir karena relasi ketergantungan terhadap gaji telah lenyap, melainkan karena relasi tersebut dialihkan kepada pekerja lain yang menempati posisi lebih rentan. Kebebasan relatif yang dinikmati si pemilik kontrakan bertumpu pada kenyataan bahwa masih ada orang lain yang harus terus menggantungkan hidupnya pada penjualan tenaga kerja.

Dua Tingkat Kontradiksi

Ketiga domain di atas memperlihatkan bahwa kontradiksi yang dihadapi pekerja sesungguhnya berlangsung pada dua tingkat sekaligus. Di satu sisi, reproduksi kehidupan pekerja yang terus ditundukkan oleh ongkos produksi nilai lebih. Di sisi lain, berbagai kebutuhan untuk mereproduksi kehidupannya sendiri saling memperebutkan sumber biaya yang sama, yakni gaji.

Misalnya, tidak semua pekerja mampu mengembangkan kapasitas kerjanya sebab gajinya hanya memungkinkan dia untuk sekadar mempertahankan hidup. Begitu pula, tidak semua pekerja bisa menabung dan berinvestasi, sebab besaran gajinya hanya memungkinkan untuk mempertahankan hidup dan mengembangkan kapasitas kerja. Bahkan ketika seorang pekerja berhasil hidup dari investasinya, investasi tersebut tetap hanya dapat bekerja selama masih ada pekerja lain yang menjual tenaga kerjanya. Semua kontradiksi ini bermula pada satu hal, yakni relasi produksi yang bertumpu pada sistem pengupahan.

Karena itu, persoalannya tidak pernah terletak pada ada atau tidaknya segelintir pekerja yang berhasil keluar dari ketergantungan pada gaji. Persoalannya terletak pada bentuk relasi sosial yang melandasi gaji itu sendiri. Selama kehidupan manusia hanya dapat direproduksi melalui penjualan tenaga kerjanya, selama itu pula reproduksi kehidupan akan selalu berada dalam posisi subordinat terhadap produksi nilai lebih.

Bukankah peningkatan kapasitas kerja justru membuat pekerja lebih sejahtera?

Tidak dapat dipungkiri bahwa benar pendidikan, pelatihan, maupun sertifikasi dapat membuka peluang bagi pekerja untuk memperoleh pekerjaan dengan jenjang karier dan gaji yang lebih tinggi. Akan tetapi, sebelum manfaat itu benar-benar diperoleh, pekerja terlebih dahulu harus mengalokasikan sebagian dari gajinya untuk membiayai reproduksi kapasitas kerjanya sendiri.

Dengan demikian, kenaikan penghasilan di masa depan tidak menghapus kenyataan bahwa peningkatan kapasitas kerja akan terus-menerus menuntut pengorbanan biaya dari pekerja sendiri. Adapun persoalan mengenai bagaimana gaji yang lebih tinggi tidak serta-merta menghapuskan relasi ini telah terbahas pada bagian mengenai Tabungan dan Investasi.

Bukankah perusahaan juga menanggung sebagian biaya reproduksi tenaga kerja, seperti BPJS atau pelatihan?

Keberadaan BPJS, pelatihan, maupun berbagai fasilitas kerja memang menunjukkan bahwa perusahaan turut mengeluarkan biaya untuk mempertahankan tenaga kerja. Namun, biaya tersebut tidak mengubah watak relasi yang sedang dibahas. Pengeluaran itu bukanlah semata-mata demi kesejahteraan pekerja sebagai manusia, melainkan karena tenaga kerja yang sehat, terampil, dan produktif merupakan syarat agar proses produksi dapat terus berlangsung. Dengan kata lain, ketika perusahaan menanggung sebagian biaya reproduksi tenaga kerja, yang dibiayai bukanlah kehidupan pekerja sebagai tujuan akhir, melainkan keberlangsungan kapasitas kerjanya sebagai prasyarat bagi akumulasi modal. Justru keberadaan biaya-biaya tersebut semakin menunjukkan bahwa reproduksi tenaga kerja merupakan kebutuhan objektif dari proses produksi itu sendiri.

Bukankah makan, berobat, atau beristirahat adalah kebutuhan manusia? Lalu di mana batas-batas biaya hidup dengan biaya produksi?

Adalah benar makan, berobat, beristirahat, maupun kebutuhan hidup lainnya pada dasarnya merupakan kebutuhan manusia untuk mempertahankan kehidupannya. Tulisan ini tidak bermaksud menegasikan hal tersebut. Yang hendak ditunjukkan, dalam relasi pengupahan, kebutuhan-kebutuhan itu sekaligus memperoleh fungsi ekonomi sebagai biaya reproduksi tenaga kerja. 

Artinya, satu pengeluaran menjalankan dua fungsi sekaligus. Di satu sisi sebagai biaya hidup bagi manusia dan sebagai syarat agar tenaga kerja tetap tersedia untuk kembali memasuki proses produksi. Karena itu, yang menjadi persoalan bukanlah bahwa manusia hidup demi perusahaan, melainkan bahwa sistem pengupahan menjadikan keberlangsungan hidup manusia sebagai syarat yang harus terus dipenuhi agar proses akumulasi modal dapat berlangsung tanpa henti sehingga batas antara hidup manusia dan kapital menjadi samar.

Bukankah semakin besar gaji, semakin besar pula biaya hidup?

Sering kali dikatakan kalau semakin tinggi gaji seseorang, semakin besar pula biaya hidupnya. Pernyataan ini tampak benar apabila yang dimaksud adalah besarnya pengeluaran. Namun, pengeluaran yang meningkat tidak selalu berarti kebutuhan hidup manusia ikut bertambah. Sejak dahulu, manusia tetap membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dan waktu beristirahat untuk mempertahankan hidupnya. Yang berkembang justru adalah ragam komoditas, gaya hidup, serta bentuk-bentuk konsumsi yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Berbagai variasi rasa makanan, merek pakaian, desain tempat tinggal, metode pembayaran, hingga citra yang melekat pada suatu barang terus diproduksi agar konsumsi tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan, melainkan berkembang menjadi pengejaran hasrat yang tidak pernah selesai. 

Melalui iklan, media sosial, algoritma platform digital, influencer, tren yang berganti dalam hitungan minggu, hingga berbagai skema pembayaran seperti buy now, pay later, seseorang terus didorong untuk merasa bahwa apa yang dimilikinya belum cukup dan apa yang dimilikinya kemarin telah kehilangan nilainya hari ini. Pakaian yang masih layak dipakai dianggap ketinggalan zaman karena siklus fast fashion yang sengaja dipercepat. Telepon genggam yang masih berfungsi dianggap usang karena peluncuran model terbaru. Minuman tidak lagi dibeli sekadar untuk menghilangkan dahaga, melainkan membeli citra, identitas, dan gaya hidup yang melekat pada mereknya. Bahkan proses pembayaran sendiri dikomodifikasi sedemikian rupa sehingga rasa sakit saat mengeluarkan uang dibuat semakin samar melalui pembayaran digital, cicilan tanpa kartu kredit, atau potongan harga yang dibungkus sebagai “kemudahan”.

Oleh karena itu, meningkatnya pengeluaran seseorang tidak serta-merta menunjukkan biaya untuk mempertahankan hidupnya benar-benar meningkat. Yang sering kali meningkat justru adalah biaya untuk mempertahankan posisi sosial, mengikuti ritme konsumsi, dan memenuhi hasrat-hasrat baru yang secara sistematis diproduksi oleh pasar. Dengan demikian, ketika seseorang berkata “biaya hidup saya naik karena gaji saya naik”, yang sesungguhnya bertambah sering kali bukan kebutuhan hidupnya sebagai manusia, melainkan pengeluaran untuk memenuhi berbagai bentuk konsumsi yang terus diproduksi dan diperluas oleh logika akumulasi kapital.

Berbeda halnya dengan reproduksi kapasitas kerja. Seiring meningkatnya kompleksitas pekerjaan, pekerja memang dituntut memiliki keterampilan, pengetahuan, sertifikasi, perangkat kerja, maupun jaringan profesional yang semakin kompleks pula. Karena itu, biaya reproduksi tenaga kerja dapat meningkat seiring meningkatnya posisi dan tanggung jawab seseorang. Dan pembicaraan tentang ini hanya akan membawa kita kembali pada pembahasan domain kedua.

Jadi, Apa Itu Gaji?

Dari uraian di atas, mari kita kembali bertanya: sebenarnya, apa itu Gaji? Sampai pada titik ini, adalah sebuah kenaifan apabila kita, para pekerja, masih mengira gaji adalah imbalan atas jasa dan kerja yang kita berikan. Saya kira tidak. Gaji bukanlah harga atas kerja yang telah dilakukan. Gaji adalah biaya yang harus dikeluarkan agar tenaga kerja dapat terus direproduksi dan tersedia kembali bagi proses produksi berikutnya. Dalam perspektif inilah menjadi terang bagi kelas pekerja bahwa gaji sejatinya adalah jerat.

Maka, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Berapa besaran gaji yang layak kita terima?” dan mulai bertanya, “Mengapa hidup kita harus bergantung pada gaji sejak awal?” Sebab, sepanjang tulisan ini kita telah melihat persoalannya tidak pernah semata-mata terletak pada besar atau kecilnya nominal transferan yang diterima pekerja. Persoalannya terletak pada kenyataan bahwa seluruh reproduksi kehidupan manusia—mulai dari makan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, hingga hari tuanya—harus terlebih dahulu memperoleh izin dari gaji.

Karena itu, persoalan mengenai gaji mestinya keluar dari cakrawala legal-formal. Seolah-olah, skema relasi pengupahan merupakan standar absolut yang menopang kehidupan manusia. Mari memahami gaji melalui pembacaan atas situasi materiil tertentu yang melandasi keberadaannya, yang di dalamnya melekat fitur wajib seperti apropriasi nilai produksi dan fetisisme komoditas. Mari mempertanyakan, dalam struktur sosial yang melahirkan rezim pengupahan ini, siapa yang selalu diuntungkan dan siapa yang selalu direntankan, dan apa yang mesti dilakukan terhadapnya? Saya kira itu.

Akhirul kalam…

Referensi

Indoprogress. (2026, August). Sekali lagi tentang kapitalisme menurut Marx. IndoPROGRESS. https://indoprogress.com/2026/08/sekali-lagi-tentang-kapitalisme-menurut-marx/

Indoprogress. (2013, January). Bentuk nilai (value-form) atau form of value: Bagian 1. IndoPROGRESS. https://indoprogress.com/2013/01/bentuk-nilai-value-form-atau-form-of-value-bagian-1/


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *