YOGYAKARTA — Bakudapan Food Study Group bersama seniman-seniman lain seperti Gilang Propagila, Pangestumu, dan Ruang MES 56 berkesempatan menghadirkan karya-karya mereka dalam pameran yang digelar oleh Krack! berjudul Pressing Pressure: Tertekan, Tercetak, Tersebar yang mengajak para pengunjung untuk melihat kondisi sehari-hari yang selalu berkaitan dengan politik dan kekuasaan. Pameran ini berlokasi di Krack! Printmaking Studio and Gallery, Nitiprayan pada Jumat, 4 September 2026.
Salah satu karya yang meramaikan pameran tersebut adalah board game berjudul Hunger Tales dari tangan-tangan seniman Bakudapan Food Study Group. Melalui karya board game ini, Bakudapan ingin membicarakan terkait persoalan pangan di sekitar kita yang tidak pernah lepas dari pengaruh politik dan kebijakan. Bakudapan mengajak para pengunjung untuk mengetahui bagaimana sistem produksi, distribusi, dan konsumsi pangan dengan cara mengambil berbagai peran dalam papan permainan. Seperti petani, tengkulak, dan walikota sebagai pemangku kekuasaan yang akan selalu berhadapan dengan berbagai fenomena harga, distribusi, kebijakan, serta ketimpangan struktural di sekitarnya.
“Bakudapan menghadirkan board game yang mengajak para pengunjung untuk mengetahui persoalan pangan di kehidupan sehari-hari yang selalu berkorelasi dengan kebijakan ekonomi dan politik. Para pengunjung galeri dapat mencoba bermain peran sebagai petani A yang merupakan petani besar, petani B yang mempunyai dua lahan, tengkulak yang membeli hasil panen petani dan memiliki beberapa toko, dan walikota sebagai pemangku kebijakan yang berusaha memperoleh suara,” jelas Bakudapan Food Study Group menerangkan alur permainan board game Hunger Tales.
Pameran yang diinisiasi oleh Krack dan Bakudapan berjudul Pressing Pressure: Tertekan, Tercetak, Tersebar ini melangsungkan beberapa rangkaian kegiatan hingga Minggu, 13 September seperti pertunjukkan live music, live sablon, seniman wicara, mabar board game, workshop Merekam Citra yang (Pernah) Hidup di Kampung Nitiprayan, dan workshop Multi layers Stencil oleh Pangestumu.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








