Ars L̶o̶n̶g̶a̶ Nomisma Vita Brevis!

Penulis

Kalimat uang lebih manis dari madu yang sering didengungkan oleh Tuan Krab sepertinya tepat untuk melihat situasi pergunjingan mengenai Artjog akhir-akhir. Pergunjingan ini ditandai dengan hadirnya Didit Hediprasetyo Foundation dan sejumlah pendukung lainnya yang disinyalir melakukan artwashing. Artwashing dalam arti bebasnya adalah upaya memperbaiki citra buruk menggunakan seni dan/atau seniman. Dalam konteks yang lain artwashing adalah pembersihan uang yang kotor menjadi uang yang bersih agar sah ketika digunakan. Dua dugaan ini yang mendasari kritikan terhadap Artjog. Namun yang tidak dijelaskan dalam artikel Balqis dan Corong Api adalah mengenai uang itu “pasti kotor”, karena tercipta dari hasil interaksi sosial yang panjang. 

Tulisan ini membedakan diri dari tulisan Balqis mengenai etika seni dan Corong Api yang menjelaskan motif ekonomi kapital dalam gerak festival seni. Tentu tulisan ini hanya berkutat pada uang dan akibatnya pada hidup seniman dan keseniannya. Bahwa benar dan salah yang dilakukan oleh Artjog, seniman dengan seninya, dan para korporasi yang menopang acara festival seni tersebut bukanlah wewenang dari tulisan ini. Namun tulisan ini berangkat dari dua tulisan yang telah disebutkan sebelumnya, untuk melihat bahwa uang memang lebih manis daripada madu. 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa uang tercipta dari hasil interaksi sosial manusia yang panjang. Anasir ini didapat dari Simmel melihat uang di dalam bukunya yang berjudul The Philosophy of Money. Perlu diperhatikan, bahwa dalam interaksi sosial hanya ada dua model. Pertama setara, dan kedua timpang. Jika setara maka mendapatkan “tepuk tangan, sementara jika timpang seperti Artjog ini, menghasilkan polemik gunjingan. 

Uang, menurut Simmel, bukanlah hanya sekadar alat transaksi. Uang melampau itu karena ia sebagai wujud ekspresi relasi sosial. Relasi sosial yang telah tercipta dalam konteks kapitalisme hari ini, agak sulit untuk mengucapkan, ada uang yang bersih atau hampir semua uang bersumber dari ekspresi yang kotor. Dalam suatu siklus yang kotor bahkan dalam uang atau konsumsi bermuara dari yang “kotor”. 

Mari coba kita runut uang dan penggunaan kita di era kapitalisme ini. Kita dapat upah, dibelikan kebutuhan pokok, di situ muncul pencurian nilai lebih dari hasil kerja tani atau kerja buruh di pabrik. Selama mana ada konsumen yang peduli rantai nilai dari suatu komoditas dan bersolidaritas atasnya. 

Uang sisanya ditabung, dan bank himbara juga turut membiayai pengrusakan lingkungan, KPR, dan utang lunak usaha. Dari situ mendapatkan bunga untuk deposito maupun giro. Bagi mereka yang cukup membeli emas untuk mempertahankan nilai atau lembar saham demi dividen, hal itu juga semakin memperjelas bahwa kenaifan kita terhadap uang yang kotor itu diabaikan. Ini juga berlaku pada dompet negara melalui APBN ataupun Danantara sekaligus. Maka dalam setiap dompet pasti dihasilkan dari uang yang kotor. Akhirnya tempatmu bekerja pun juga begitu, yang kamu terima adalah hasil dari uang kotor yang didapatkan dengan cara bersih, yaitu bekerja. Lantas bagaimana dengan Artjog?

Artjog tentu sebagai bejana korporasi hampir mirip dengan siklus tersebut. Bahkan ada ekspresi relasi sosial yang bervariasi, tunduk pada feodalisme melalui Danais dan dana Indonesiana yang sudah menjadi langganan pendonor. Ditambah lagi uang pembeli karcis dan karya seni. Dalam hal ini Artjog membuat jarak yang akhirnya membuat uang semakin bernilai di hadapan seni. Sebab seni sebagai kriya menciptakan kelangkaan yang membuat nilai uang dan seni tampak. Belum lagi di dalam Artjog panitianya direkrut dalam kerangka sukarelawan. Di sinilah uang tidak memiliki kualitas, dalam hal ini, uang hanya bisa mereduksi kualitas. 

Di hadapan seniman, uang sangat diperlukan. Meski sedang digunjing, dua seniman yang saya temui dalam unggahan story Instagram–nya hanya sekedar mengecewakan dan tetap teguh memasang karyanya di Artjog sebagai bentuk integritas dan profesionalitas seniman. Ini memperlihatkan uang telah menginjak-injak nilai kemanusiaan tanpa pandang bulu. Begitupula pengunjung, tetap saja membeli tiket masuk Artjog. Penjelasan reduksional dari uang ini dan juga statement beberapa seniman mengartikulasikan bahwa sikap beberapa seniman ini membutuhkan uang dengan mengesampingkan nilai dan moral abstrak lainnya. Artinya seniman di hadapan uang hanya sebatas tukang yang sedang melakukan aktualisasi diri. 

Lebih lanjut lagi, seperti yang disebutkan sebelumnya relasional menciptakan nilai pada uang. Berbeda dengan cara pandang marxian yang berdasarkan pada produksi agar kapital dapat tervalorisasi. Valorisasi merupakan syarat utama seperti yang disampaikan oleh Corong Api dalam konteks ruang yang dipinjam dari Harvey. Simmel melihat bahwa justru jaraklah yang menciptakan nilai atau keberhargaan uang. Bahwa Artjog adalah jarak itu sendiri, seperti umumnya galeri-galeri seni yang lainnya. 

Artjog sebagai festival adalah jarak itu sendiri. Jarak ini yang membuatnya Artjog menjadi bernilai sekian nominal. Sebab hasrat untuk menikmati seni harus sepadan dengan pengorbanan yang diciptakan. Mari kita bayangkan jika seni tidak menciptakan jarak, tentu dia tidak akan bernilai. Ini konsekuensi sepadan, agar para seniman karya seninya bernilai makan perlu mengorbankan sedemikian nilai-nilai keberpihakan. Tutup mata terhadap apa yang telah Balqis sampaikan pada eseinya. Jadi wajar saja, selama seniman masih membutuhkan sedemikian kebutuhan, maka festival semacam ini tidak perlu diributkan. Tinggal bikin saja festival yang tidak menganut kebernilaian uang. 

Kita bisa melihat bahwa uang memberikan kebebasan yang paradoks terhadap Artjog dan seniman. Seniman bisa dapat uang dari hasil jarak antara hasrat pengunjung dengan pengorbanannnya. Uang itu kemudian bisa untuk bayar BPJS, tagihan bulanan, sekaligus kebutuhan lainnya. Sementara di sisi lain seniman terikat pada aturan dan nilai pendananya. Artjog pun begitu, berharap Artjog berubah? Dia saja bentuknya korporasi yang berselingkuh dengan feodalisme Jogja. Apa mau dikata?Artinya bukan kebebasan substansial, melainkan kebebasan formal. 

Selain itu uang juga dapat membentuk demarkasi antara individu dengan masyarakat di luar dirinya. Ini merupakan konsep alienasi tetapi berbeda dari alienasi yang dibangun oleh Marx. Dalam konteks Marx alienasi ditandai dengan dua hal; alienasi dari sosial, dan alienasi dari hasil produksi. 

Alienasi pertama Marx diakibatkan intensitas manusia terhadap alat produksinya. Semakin fokus dalam proses kerja produksi akan menciptakan minimalisasi interaksi sesama buruh. Sebab buruh dikontrol dengan line produksi, waktu kerja, dan target produksi. Alienasi kedua muncul saat waktu kerja tidak sebanding dengan curahan kerja yang dikeluarkan oleh buruh. Akibatnya buruh tidak sanggup menikmati hasil produksinya. 

Sementara Simmel berbeda dengan Marx. Simmel menekankan alienasi pada sifat individu yang unik sekaligus dianggap bebas. Individu terisolasi secara kompleks di hadapan uang. Dalam konteks ini para seniman dan kurator Artjog. 

Para seniman dan kurator tidak peduli dengan isu uang kotor ini. Mereka lebih doyan dengan sikap profesionalitas sebagai jabatan di dunia kesenian. Sambil memegang teguh profesionalitas tersebut, mereka beranggapan lebih berpihak pada karya seni yang mereka garap bersama kerja kuratorial dengan bahasa langitan-nya. Mereka lebih taat dengan nilai-nilai abstrak yang mengatur merek melalui uang. Mereka mengalami ketergantungan sekaligus mengabaikan nilai-nilai di luar yang dirangkai tanpa uang. Jangan tanya soal Artjog. 

Meski dikritik, itu hanya sebagai gunjingan. Art must go on mereka tidak peduli. Karena bagi mereka festival seni yang berhasil adalah festival yang mendatangkan uang dan engage dari media. Selebihnya, feodalisme Jogja, dana kotor APBN, media yang membayar kontributor dengan tidak layak, hotel yang tidak peduli dengan nasib buruhnya, dan nilai lainnya terhadap kemanusiaan, I don’t give a fuck! “Selama cuan, mereka adalah agen strategis kami” begitulah kurang lebih nilai yang ada pada kolom partners situs Artjog jika bisa ngomong. Simmel merangkainya dengan istilah Blasé Attitude (Gleichgültigkeit). 

Dari penjelasan tersebut, alih-alih kebudayaan menjadi berkualitas atau menghasilkan seperti tagline Artjog; Ars Longa Generatio yang muncul sebaliknya. Simmel menyebutnya sebagai Tragedi Kebudayaan. Tragedi yang dimaksud bukan wujud dari benturan, melainkan pembentukan kebudayaan yang bersifat akumulatif dan terkuantifikasi. 

Jauh sebelum mengenal uang, kebudayaan ditempatkan sebagai sesuatu yang personal, penuh penghayatan, perkembangan kapasitas batiniah manusia, dan mengedepankan kreativitas (kultur subjektif). Kini, uang mentransformasikan hal yang abstrak dalam diri kebudayaan menjadi bentuk menguntungkan (kultur objektif). Artjog, seniman, kurator, dan para kru tidak peduli dengan nilai dan moral. Sebab uang yang masuk harus menjadi uang baru, uang yang secara nominal bertambah. Sebutannya mutualisme kebudayaan yang dilandaskan pada uang, bukan kerjasama antarsubjek demi pengembangan kebudayaan. 

Kultur objektif ini tumbuh subur serupa jamur di musim hujan. Artjog diakui adalah subjek hukum produsen keuntungan. Seniman berupaya karyanya laku atau seminimalnya karyanya prestise karena berhasil mejeng di festival yang bergengsi. Itu membuat karyanya berkali-kali lipat lebih tinggi harganya. Para kru, karena sifatnya voluntary, mereka mendapatkan bukti pernah bekerja di acara prestisius yang nantinya bisa dijual ketika melamar pekerjaan. Pengunjung? Tentu memamerkan kesertaannya hadir dalam acara tahunan ini kepada khalayak. Mungkin bisa dapat gelar baru pula, penikmat seni adiluhung. Kultur objektif yang semakin melesat ini, lambat laun, akan mengurangi nilai kultur subjektif. Uang penyebabnya, dengan begitu, wajah asli Artjog adalah bab uang. Terlepas uang kotor atau bersih, dihapusnya Didit Hediprasetyo dalam daftar pembuka, dan tunduk pada kultur feodal Jogja. Feodal Jogja dalam bentuk Danais ini yang mengontrol sebuah acara seni boleh atau tidak mendapatkan uang atau sepetak ruang untuk muncul ke permukaan. 

Wajah uang memiliki dua bentuk, dari penjelasan-penjelasan sebelumnya. Ia vis a vis antara sarana dan tujuan akhir. Keduanya saling berkaitan, bercampur hingga tidak bisa lagi dibedakan. Ekosistem seni telah mengalami itu, sejak masyarakat kita mengenal ada nilai dalam suatu barang karena hasrat tak terbendung harus dipertukarkan dengan pengorbanan. Artjog sebagai subjek hukum sekaligus ruang pameran sudah tidak lagi murni sebagai ruang kultur subjektif. Namun kali ini tendensi dapat dikatakan bahwa ekosistem kesenian Artjog hanya sebatas tujuan akhir berbentuk uang. Jika tidak disebut demikian, maka ekosistem Artjog masih tunduk pada kontrol feodal Jogja melalui uang. Tanpa perlu harus diakui atau membuat satu klarifikasi khusus ke muka publik. Uang dapat menjadi alat tukar dari nilai-nilai yang tereduksi. Ujungnya uang menjadi simbol kekuasaan dan cara mengamankan diri. Ini yang terjadi di dalam ekosistem kesenian Artjog. Karakter kesenian berubah menjadi wajah prostitusi. Tidak ada lagi intimasi, melainkan durasi untuk mencapai titik klimaks subjek di dalamnya. Bisa short ataupun long-time. 

Seni akhirnya bersifat relatif karena uang. Sebab uang adalah relativisme itu sendiri. Tidak ada nilai absolut pada uang. Uang dapat mengacak-acak relasional antarmanusia, bahkan manusia dengan nilai kemanusiaannya. Uang tidak menghilangkan atau menghancurkan makna seni. Ia justru berusaha untuk mendistribusikan pada pelaku Artjog. Terlepas dari interaksi sosial yang timpang maupun setara. Bagi sebagian individu atau kelompok dapat disebut timpang, sehingga muncul kritik. Bagi sebagian lainnya, yang menikmati uang, adalah wujud kesetaraan karena seni adalah sarananya mencapai tujuan akhirnya, apapun itu. 

Maka ungkapan “uang lebih manis dari madu” dikarenakan sifat uang tersebut di tengah masyarakat kita. Kalau tidak percaya coba saja cek saat boom art, cek kelakuan Budiman yang bersetubuh dengan negara, dan NGO-NGO yang dapat uang dari donornya. Ini juga yang membuat Stalin dulu lebih merampok bank untuk Revolusi Bolshevik. Tidak bisa dibayangkan jika Stalin mengajukan proposal ke Tsar Nicholas untuk revolusi. Atau mengajukan kredit untuk membiayai revolusi Soviet. Jika mungkin, geraknya pasti ala-ala NGO. Ini menjadi sesuatu yang lucu, tapi normal-normal saja. Sebab hidup mencari uang, perjuangan kelas adalah soal uang, mempertahankan kapitalisme sendiri juga sebenarnya soal uang. Artinya jika tanpa uang mungkinkah kerja-kerja kognitif itu menjanjikan dengan seminimal-minimalnya bisa membuat orang yang menekuninya bertahan hidup? Hanya Übermensch yang mampu melakukan penciptaan nilai dari dirinya sendiri. 

Artinya dalam situasi Artjog, Balqis dan Corong Api memang tidak diajak. Ini soal bagi-bagi uang di ekosistem seni, karena itu tugas uang seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Karena relasi Balqis dan Corong Api terkait uang, dalam hal seni, berbeda. Namun seni yang ditunjukkan Balqis dan Corong Api adalah soal hasrat dan pengorbanan. Ini satu anomali tersendiri, lantas bagaimana mereka membiayai hidup dan kehidupan seninya? Apakah mungkin seninya non-nominal? Atau berencana menempuh cara-cara yang dilakukan Stalin? Jika iya, tentu seninya adalah seni yang adiluhung tanpa dicampuri uang yang kotor. Sebaliknya jika masih malu-malu, buatlah NGO untuk mengkritik ekosistem seni yang kotor ini. Sah-sah saja, seperti kampus dapat uang dari Ford Foundation atau Pertamina Foundation untuk membuat suatu riset. Atau seperti NGO yang berpura-pura baik tapi sebenarnya mengeksploitasi hingga bahkan mengkomodifikasi isu tertentu. 

Sebab dunia gerakan itu tidak ada uangnya. Pun kalau ada, berpotensi mengalami perpecahan. Bagi yang relasi dengan uangnya seperti penjelasan di atas, cepat atau lambat gerakan itu akan hilang dengan sendirinya. Namun kembali lagi pada pertanyaan, mungkinkah gerakan seni atau sosial yang kritis ini menghidupi dirinya sendiri? Tanpa uang yang jelas sifat relasionalnya kotor itu? Coba hitung berapa jumlah kasus penggelapan atau pencurian uang di gerakan? Mari kita refleksikan siapa yang lebih kaya dan aman di NGO. Sebutkan lebih kaya mana antara petugas lapangan dengan mereka yang duduk menjadi direktur atau dewan di suatu NGO? Jadi sebenarnya masalahnya bukan ada pada sosok, melainkan uang itu sendiri. Sekali lagi, uang mengubah relasi kesenian lebih santun, mudah dikontrol, dan merasa bebas diketidakbebasannya. Dengan penuh keyakinan uang-uang kotor itu tetap ada di rekening Artjog dan Artjog tetap berjalan karena tidak ada hambatan. Semua seniman riang karena bisa makan, tidak seperti di gerakan ala Balqis dan Corong Api itu. Ars Longa Nomisma Vita Brevis!

Ini adalah contoh tulisan menjadi pendengung yang baik, terdidik, dan bermartabat. Dit, bagi duit, Dit! GKR Bendara nyuwun arthanipun?!


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *