Sebagian orang sangat akrab dengan Tetralogi Buru sebagai karya monumental dari Pramoedya Ananta Toer. Sayangnya, banyak dari pembaca Pram kurang akrab dengan Tetralogi Arok Dedes. Sebuah tetralogi yang juga ditulis saat ia diasingkan oleh pemerintahan Orde Baru di Pulau Buru.
Terdapat karya lainnya seperti Arus Balik, drama Mangir, dan Mata Pusaran yang naskahnya hilang saat dirampas oleh Angkatan Darat. Novel Arok Dedes sekilas menceritakan tentang pemberontakan Ken Arok merebut Tumapel, melawan Kediri, kemudian mendirikan Kerajaan Singasari melalui intrik politik yang kompleks.
Sebagaimana ciri khas dari seorang Pram, Tetralogi Arok Dedes melukiskan tentang perlawanan terhadap kekuasaan yang represif melalui konstruksi sejarah. Dalam Novel Arok Dedes, Pram sekilas seperti sedang “menelanjangi” Serat Pararaton. Ia bukan hanya reinterpretasi terhadap peristiwa pemberontakan Ken Arok, tetapi melakukan pembongkaran terhadap makna kudeta kekuasaan Tunggul Ametung di Tumapel.
Dalam Serat Pararaton, Ken Arok digambarkan sebagai seorang pemberontak yang menggulingkan rezim Ametung dengan keris sakti buatan Mpu Gandring. Keris sakti inilah yang pada akhirnya mengutuk Ken Arok dan tujuh keturunannya. Dari kutukan keris Mpu Gandring, Anusapati, anak Ken Dedes dari seorang Tunggul Ametung membalaskan dendam kesumat ayahnya.
Lain cerita penggambaran pemberontakan Ken Arok terhadap Tumapel dalam buku pelajaran formal di sekolah. Lazim dijumpai, narasi pemberontakan Ken Arok selalu dikonstruksi dengan citra negatif. Pemberontakan terhadap Tumapel oleh seorang berandalan kasta paria, lalu membunuh Sang Akuwu untuk meminang Ken Dedes menjadi permaisurinya. Sekilas terdapat ambiguitas dalam model penceritaan Ken Arok sebagai subjek dan konteks berdirinya Kerajaan Singasari.
Novel Arok Dedes yang selesai ditulis Pram tahun 1976 saat di Pulau Buru akan mencerabut, mencerai-berai, dan kembali menanamkan perspektif sejarah yang segar. Kompleksitas Arok Dedes seakan terlihat seperti cermin refleksi terhadap apa yang selama ini kita anggap sebagai sejarah. Pram seakan ingin mempertentangkan naskah Serat Pararaton dengan sebuah hipotesa tata cara memahami sejarah yang baru, bukan dengan menafsirkan mitos sebagai perspektif tunggal kebenaran teks.
Antara Faktualitas dan Fiksionalitas
Sebetulnya Pram tidak hanya menitikberatkan dekonstruksi pada keris buatan Mpu Gandring yang terkenal mitosnya, melainkan juga pada awal penceritaan dari seorang Ken Arok itu sendiri. Dalam Serat Pararaton misalnya, Ken Arok merupakan penjelmaan kembali terhadap seseorang yang semasa hidupnya kurang baik alias sering melakukan tindak kejahatan.
Arok lahir di desa Pangkur, sebelah Timur Gunung Kawi. Ibunya bernama Ken Endok dan ayahnya bernama Gajah Para. Suatu waktu Ken Endok hendak membawakan makanan kepada Gajah Para yang sedang bekerja di sawah.
Dewa Brahmana datang menghadang Endok di Tegal Lalateng sehingga ia mengandung. Sebelum pergi, Sang Dewa berkata pada Endok jikalau bayi yang dikandungnya kelak akan menjadi Raja dan melahirkan raja-raja untuk Pulau Jawa.
Kakawin Nagarakartagama karya Mpu Prapanca menceritakan Ken Arok sedikit berbeda dengan Serat Pararaton. Pada tahun 1182, anak dari Sri Girinatha yang konon dilahirkan tanpa melalui kandungan yakni Sri Ranggah Rajasah merupakan representasi dari Ken Arok. Ia juga lahir di sebelah timur Gunung Kawi. Tahun 1222, Ranggah Rajasah memberontak melawan Kediri dan mendirikan Kerajaan Singasari.
Dalam karya Arok-Dedes, Pram justru menceritakan hal yang berbeda. Arok sebetulnya pemberian nama ‘spiritual’ dari Dang Hyang Lohgawe. Sebelum menyandang gelar Arok, Pram menyematkan ‘Temu’ sebagai nama masa kecilnya dan ‘Borang’ ketika ia mulai bergerilya untuk merampas upeti yang dikirim oleh Tumapel kepada Kediri.
Dahulu, Arok ditemukan oleh Ki Lembung di dekat gerbang kerajaan. Memasuki usia remaja, Arok diadopsi oleh seseorang bernama Ki Bango Samparan. Bermula ketika Arok dan teman-temannya sedang dikejar oleh bala tentara Tumapel, kemudian melarikan diri ke ladang milik Ki Bango Samparan untuk bersembunyi.
Kedatangannya menimbulkan iri hati karena Ki Bango Samparan selalu mengistimewakan dan menganggap Arok sebagai titisan Hyang Wisynu. Satu-satunya saudara yang tak iri hati padanya adalah Umang, kelak akan menjadi istri pertamanya sebelum Ken Dedes. Akibat hal tersebut, Arok memutuskan untuk berguru pada Tantripala, seorang brahmana.
Tantripala kagum padanya sejak pertama kali ia mengajarkan darana dengan pandangan matanya, pratyahara dengan kebebasan, sekaligus pramayana melalui pernafasan untuk mencapai ekagrata pandang, semacam rangkaian meditasi tingkat lanjut dalam spiritual Buddha
Pram terlihat merekonstruksi cerita yang berbeda dari Kakawin Nagarakartagama dan Serat Pararaton. Kedua literatur itu seakan fokus pada penceritaan tentang siapa Arok dan sisi mitologisnya. Dalam Arok-Dedes, Pram seakan menentang dan membangun ideologi Arok sebagai pribadi luhur yang konsisten melawan kezaliman Tumapel. Pram memperlihatkan kontradiksi-kontradiksi untuk memerangi cerita sejarah bahwa Arok bukanlah seorang berandalan bodoh yang memberontak terhadap Tumapel untuk menjadi raja.
Serat Pararaton atau model penceritaan perebutan kekuasaan politik Tumapel juga memosisikan keris buatan Mpu Gandring sebagai sebuah mitos. Sayangnya, hal itu dianggap bukan sebagai sesuatu yang metafor, melainkan ada keris yang betul-betul digunakan oleh Arok untuk membunuh Tunggul Ametung. Setelahnya Arok merebut Ken Dedes dan melegitimasi dirinya sebagai penguasa mutlak Tumapel.
Keris Mpu Gandring seakan menjadi kutukan bagi Arok hingga tujuh turunan, anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung, Anusapati akhirnya membalaskan dendam kesumat ayahnya menggunakan keris tersebut untuk merampas kembali hak kekuasaannya dari tangan Tohjaya maupun Mahisa Wong Ateleng.
Bagi Pram, mitos keris sebagai gerakan militer yang dinisiasi oleh Mpu Gandring itu sendiri untuk merebut Tumapel dari tangan Tunggul Ametung. Mitos yang selama ini ditulis dalam Serat Pararaton tentang kutukan keris Mpu Gandring hanyalah pembalutan bahasa. Setelah mendapatkan legitimasi dari kaum brahmana, modal politik Arok menguat karena didukung oleh gurunya sendiri Dang Hyang Lohgawe untuk melakukan rangkaian pemberontakan.
Setelah mendapatkan legitimasi kaum brahmana, atas saran Dang Hyang Lohgawe Arok bersama pasukannya diangkat sebagai balatentara resmi Tumapel untuk menumpas pemberontakan yang ia ciptakan sendiri. Arok kemudian mendapatkan kabar dari seorang mata-matanya di pabrik senjata milik Mpu Gandring bahwa ada seorang tamtama yang menjadi perpanjangan tangan Gandring bernama Kebo Ijo untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Kabar inilah yang kemudian dijadikan Arok sebagai senjata terakhir guna menggulingkan Orde Tunggul Ametung tanpa keterlibatan dirinya.
Pram melihat siasat pemberontakan inilah sejatinya maksud dari mitos keris Mpu Gandring yang di kemudian hari kerap digunakan oleh Anusapati untuk membunuh Ken Arok, merampas hak kekuasaanya dari Tohjaya dan Mahisa Wong Ateleng, hingga terbunuhnya Anusapati oleh Raden Wijaya yang kelak mendirikan Kerajaan Majapahit.
Menggugat Logosentrisme Melalui Novel Arok Dedes
Pembacaan ulang Pram atas naskah-naskah sastra klasik bukan untuk mendestruksi sejarah, melainkan mencari makna kebenaran lain dari cerita Ken Arok. Serat Pararaton bagi Pram ialah semacam teks yang berdiri di atas sentralisasi kebenaran. Uraian Pram mengenai sejarah Ken Arok bukan bagian dari kategori penyimpangan, melainkan membuka interpretasi baru yang lebih luas.
Permasalahan yang sering ditemui, entah dalam filsafat maupun sastra ialah klaim makna tunggal dari teks seperti penggambaran Arok dalam Serat Pararaton. Dalam naskah tersebut, Ken Arok digambarkan sebagai anak haram dari seorang brahmana yang menghamili ibunya, Ken Endok. Penggunaan istilah ‘brahmana’ dalam stratifikasi sosial agama Hindu ialah seseorang yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat.
‘Brahmana’ bukanlah semata-mata dewa yang turun dari langit, melainkan kata untuk merepresentasikan seorang penguasa. Dahulu, seorang raja memiliki hak prerogatif untuk mencari permaisuri dari kalangan gadis-gadis kampung untuk diperistri. Kasus serupa dialami oleh Ken Endok, ibu dari Ken Arok yang direbut oleh seorang raja dari sang suami bernama Gajah Para.
Dalam Arok Dedes, Pram lebih menggambarkan Arok sebagai seseorang yang tak jelas asal usulnya. Ia mencoba untuk mengaburkan masa lalu Arok kemudian merekonstruksi cerita bahwa ia tak semata-mata keturunan Hyang Wisynu seperti dalam penceritaan Serat Pararaton. Arok berasal dari golongan paria yang melakukan pengembaraan spiritual untuk mencapai brahmana, yaitu gelar untuk seorang intelektual dan moralis.
Pram terlihat seakan sedang mempermainkan Serat Pararaton sebagaimana yang dilakukan Jacques Derrida terhadap teks-teks filsafat. Bagi Derrida teks seringkali tersusun atas kebenaran univok dan tidak menyertakan sedikitpun ambiguitas.
Dalam koteks ini, Serat Pararaton dibangun atas logika permainan (logic of play) yakni mitos-mitos dalam penceritaan sebagaimana yang pernah ditulis oleh Muhammad Al-Fayyadl dalam bukunya yang berjudul Derrida. Hal itu senada dengan argumentasi Derrida dalam buku yang juga ditulis oleh Al-Fayyadl,
“Pembacaan mesti senantiasa diarahkan pada hubungan tertentu, antara apa yang dituntut dan apa yang tidak dituntut dari pola-pola bahasa yang digunakannya. Hubungan itu bukanlah pembagian kuantitatif tertentu seperti bayangan dan cahaya, kelemahan dan kekuatan, melainkan sebuah struktur penandaan yang dihasilkan oleh pembacaan kritis.” (hlm. 81).
Pram sadar betul akan logika permainan Serat Pararaton melalui ambiguitas yang terkandung dalam mitos-mitos. Kecenderungan telaah kritis Pram terhadap mitos Ken Arok, tatkala mengurai mitos keris Mpu Gandring sebagai gerakan militer untuk menyukseskan pemberontakan Arok. Tak ada justifikasi moral bahwa Arok sebagai mesin politik yang licik namun cerdas adalah bentuk kejahatan.
Pram seakan mencoba untuk mendefinisikan atau bahkan menggambarkan sisi lain dari manusia yang sama sekali berbeda, manusia yang melampaui kebaikan dan keburukan ketika Arok memanfaatkan Dang Hyang Loggawe beserta kaum brahmana untuk melegitimasi pemberontakan terhadap Orde Tunggul Ametung di Tumapel.
Pram tidak menawarkan makna baru atas pembacaannya terhadap Serat Pararaton dalam bentuk karyanya yang berjudul Arok Dedes, ia menciptakan tanda-tanda baru yang kompleks untuk kembali ditafsirkan guna menunjukkan tidak adanya kebenaran tunggal dalam sebuah teks.
Pram dan Peristiwa Politik 1965
Koh Young Hun dalam bukunya berjudul “Pramoedya Menggugat, Melacak Jejak Indonesia” memiliki hipotesis yang menarik tentang hubungan antara kudeta Arok dengan kondisi politik tahun 1965. Tokoh-tokoh dalam Arok Dedes baik fiksi maupun non-fiksi seperti Dang Hyang Lohgawe, Ki Belakangka, Mpu Gandring, Kebo Ijo, Ken Dedes, dan yang lainnya tak dapat lepas dari kondisi pengarangnya.
Pram memang menceritakan kudeta Arok terhadap Kerajaan Tumapel untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Meskipun konteksnya adalah penceritaan masa lalu, ia tetap ingin memberikan cerminan dari gejala-gejala yang dihadapinya waktu itu. Pram jelas mempersoalkan keabsahan peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto setelah peristiwa 30 September 1965.
Penceritaannya terhadap kudeta Arok yang berbelit-belit terhadap Akuwu Tumapel hingga Tunggul Ametung dibunuh oleh Kebo Ijo. Arok memengaruhi Dang Hyang Lohgawe agar kaum brahmana memberikan legitimasi politik untuk mengkudeta Akuwu Tumapel dan menggunakan segala termasuk memerintahkan Ken Dedes untuk membius Tunggul Ametung. Empu Gandring, Kebo Ijo, dan Ki Belakangka yang terjalin dalam intrik politik juga turut dimanfaatkan Arok sebagai biang keladi terbunuhnya Tunggul Ametung.
Kebo Ijo dalam Novel Arok Dedes tidak lain ialah perpanjangan tangan dari Mpu Gandring. Pram melukiskannya sebagai seorang tamtama yang membelot dari Tumapel dan bekerjasama dengan Mpu Gandring untuk mengkudeta Tunggul Ametung dari kekuasaan Tumapel.
Dalam konteks yang sama, Pram melihat bahwa peralihan rezim Orde Lama ke Orde Baru tidak sah dari persepsi kekuasaan. Baginya tragedi penggulingan Tumapel bukan kejadian tunggal. Begitu pula dengan tragedi Gerakan 30 September 1965 bukanlah tragedi tunggal, melainkan tarik-menarik kepentingan politik. Pram seakan ingin memperlihatkan bahwa Kebo Ijo representasi dari PKI yang terprovokasi oleh gerakan militer Ken Arok. Artinya dengan kata lain Pram sendiri ikut mempertanyakan keabsahan peralihan kekuasaan dari Tunggul Ametung kepada Ken Arok sebagai representasi dari Soeharto.
*Ulasan novel berjudul Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer (Lentera Dipantara, 2015)
Editor: Citra Jasmin Pertiwi
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








