“Who doesn’t understand thunder? The fire? A child’s smile? A good harvest?” adalah petikan dialog antara Athena dan Odysseus dalam The Odyssey, film terbaru besutan sutradara Christopher Nolan. Film ini mulai dihadirkan di bioskop Indonesia pada Rabu, 15 Juli 2026.
Film yang berkisah tentang kepulangan Odysseus, sang raja Ithaca, dari Perang Troya ini merupakan adaptasi dari salah satu karya Homer yang terkenal: Odýsseia. Sebelumnya, karya Homer yang lain, Iliás, juga diadaptasi oleh Wolfgang Petersen pada 2004 dengan judul Troy.
Kedua film tersebut sama-sama membawa penonton ke dunia epos Yunani yang penuh peperangan dan kepahlawanan. Namun, jika kita keluar sejenak dari gegap gempita perang yang begitu maskulin, ada aspek feminin yang justru memiliki daya besar untuk memutarbalikkan nasib para tokohnya.
Berlatar perang Troya yang sama, Troy karya Petersen memang memiliki sejumlah ketidaksinkronan dengan The Odyssey, seperti kematian Menelaus atau pelarian Helen bersama Paris untuk kedua kalinya. Namun, perbedaan adaptasi ini justru menjadi ciri khas masing-masing sutradara.
Berbeda dari Petersen, Nolan tampak memberi ruang lebih besar bagi mistisisme. Ia tidak hanya menghadirkan entitas spiritual, tetapi juga memberi subjektivitas pada karakter-karakter dewi dan perempuan sakti. Karakter-karakter feminin atau femme dalam The Odyssey mendapatkan peran yang lebih substansial. Mereka memikul tanggung jawab yang lebih nyata melalui wujud fisik dan kekuatan yang dampaknya bahkan lebih terasa dibandingkan dengan dewa-dewa maskulin.
Dewa-dewa maskulin justru tidak banyak diberi ruang untuk berbicara dan cenderung diobjektifikasi sebagai kekuatan alam yang sekaligus merayu dan membinasakan. Sebaliknya, karakter seperti Athena (diperankan Zendaya), Circe (Morton), Calypso (Theron), serta Clytemnestra dan Helen (keduanya diperankan Nyong’o) memiliki pengaruh kuat terhadap nasib tokoh-tokoh di sekitar mereka.
Mengutip Shoard, film ini memang memiliki kecenderungan maskulin, baik dari dominasi laki-laki dalam kritik film, minimnya daya tarik film bagi penonton non-maskulin, maupun ceritanya yang berpusat pada kepahlawanan maskulin. Karena itu, dengan menggunakan pendekatan Aristoteles dalam Poetics, terutama konsep hubris, pleonexia, peripeteia, dan nemesis, kita bisa membuka selubung maskulin tersebut dan melihat aspek-aspek feminin dalam plot The Odyssey dari sudut pandang yang lebih kontra-phallosentris.
Eror dalam Karakter The Odyssey
Eror pada bagian awal film dapat dilihat dalam perjumpaan antara tentara Ithaca dan Polyphemus. Pada bagian ini, belum tampak eror yang secara khusus berkaitan dengan femme.
Rombongan Odysseus tiba di sebuah pulau dan menemukan gua yang dipenuhi kawanan domba beserta olahan hasil ternaknya. Mereka semula hendak memburu domba-domba tersebut. Namun, ternyata domba itu adalah ternak milik Polyphemus, anak Poseidon. Rombongan pun terperangkap di dalam gua bersama sang Cyclops.
Kemalangan segera menyusul. Satu per satu tentara Ithaca yang masuk ke gua berakhir menjadi santapan Polyphemus. Untuk menyelamatkan diri, Odysseus dan tentaranya memutuskan untuk melawan sang Cyclops dengan cara membutakannya. Polyphemus yang murka kemudian berdoa kepada ayahnya, Poseidon, agar mendatangkan kemalangan bagi rombongan tersebut. Eror kolektif Odysseus dan tentaranya ini berkaitan dengan ketamakan atau kerakusan, yang dalam Poetics disebut sebagai pleonexia.
Circe menjadi karakter lain yang terkena dampak pleonexia kolektif rombongan Odysseus. Setelah mengubah mereka menjadi babi karena ketamakan tersebut, Circe akhirnya memulihkan mereka setelah Odysseus mengancam akan membunuh seekor burung gagak yang merupakan saudari Circe. Rombongan kemudian mendapat wejangan dari sang penyihir agar tak menyantap ternak milik Helios. Namun, pleonexia mereka belum juga surut.
Selain Polyphemus dan Circe, film ini menghadirkan Athena, seorang dewi yang memiliki posisi penting dalam hierarki Olympus. Athena digambarkan dalam dua wujud: sebagai pin pemberian Penelope kepada suaminya, yang menjadi pengingat akan rumah, dan sebagai figur perempuan yang muncul dalam halusinasi Odysseus.
Athena juga menerima dampak dari eror karakter Odysseus dalam bentuk hubris, atau kesombongan. Hal ini terlihat ketika Odysseus memimpin invasi ke sebuah kuil Athena. Ia membiarkan tentaranya memenggal seorang pendeta Athena sekaligus menghancurkan patung sang dewi.
Hubris Odysseus kali ini bersifat personal. Ia secara frontal menentang figur Athena. Padahal, Athena dan segala aspek yang melekat padanya merupakan simbol harapan Penelope atas keselamatan suaminya. Karena itu, tindakan Odysseus terhadap Athena dapat dibaca sebagai bentuk pelecehan sekaligus penghancuran terhadap sesuatu yang justru menjadi harapan bagi keluarganya.
Lebih lanjut, perempuan dalam halusinasi Odysseus mengambil rupa seorang pendeta Athena. Resonansi figur Athena dalam halusinasi tersebut seakan menjadi pengingat bagi Odysseus atas hubris dan fatal flaw-nya. Sementara itu, karakter mistik yang tidak menjadi korban eror para tokoh The Odyssey adalah Calypso, yang juga merupakan entitas mistik, meskipun posisi “kedewaannya” lebih rendah dibandingkan entitas spiritual seperti Athena.
Konsekuensi yang Mengikuti
Hubris dan pleonexia dalam film ini dapat dibaca dalam dua bentuk: kolektif dan personal.
Eror kolektif tentara Ithaca membawa mereka pada kematian, bahkan kebinasaan total. Kemalangan yang menimpa mereka merupakan konsekuensi dari pleonexia setelah mereka membutakan Polyphemus dan melecehkan otoritas Circe.
Alam kemudian menjadi perpanjangan tangan para dewa dalam membinasakan mereka. Pulau Helios yang dipenuhi ternak menarik perhatian para tentara Ithaca, sementara ombak besar Poseidon pada akhirnya menggugurkan ratusan dari mereka. Namun, konsekuensi itu tidak hanya berkaitan dengan tindakan mereka terhadap karakter-karakter mistik. Kematian para pengikut Odysseus juga dapat dibaca sebagai ganjaran atas kebuasan mereka ketika menginvasi Troya, terutama karena manusia yang tidak bersalah turut menjadi korban.
Di sisi lain, terdapat eror personal. Hubris Odysseus di hadapan Athena mendatangkan nemesis, yakni ganjaran atas hubris dalam istilah Poetics. Ganjaran tersebut hadir melalui Calypso yang secara tidak langsung menciptakan jarak dan rentang waktu antara Odysseus dan keluarganya. Calypso seakan-akan mengemban tugas sebagai pembawa nemesis bagi Odysseus secara personal.
Peran Clytemnestra dan Helen memang tidak banyak dalam film ini. Namun, kedua perempuan tersebut tetap menggambarkan bagaimana eror karakter lain berdampak langsung pada kehidupan mereka. Clytemnestra mengalami siksaan batin, sementara Helen mengalami siksaan fisik.
Agamemnon, suami Clytemnestra, mengorbankan anak perempuan mereka. Tindakan itu mendorong Clytemnestra menghadirkan peripeteia melalui kematian Agamemnon. Sementara itu, luka-luka di wajah Helen memperlihatkan siksaan fisik yang ia alami dari Menelaus setelah melarikan diri bersama Paris. Sayangnya, Menelaus tidak mendapatkan konsekuensi yang setara karena ia masih menjadi hegemon di wilayahnya. Penderitaan kedua perempuan ini melengkapi gambaran tentang derita kolektif perempuan dalam film sekaligus mengingatkan bahwa ketidakadilan masih kerap dialami perempuan.
Selain menjadi sajian visual yang penuh aksi, The Odyssey garapan Nolan juga dapat menjadi pengingat bahwa karakter-karakter perempuan di dalamnya mengajak penonton untuk merefleksikan eror dan konsekuensi yang tercermin dalam tindakan manusia (mimesis). Dan yang lebih penting, besarnya hasrat phallosentris dapat dilihat sebagai bentuk eror yang pada akhirnya mendatangkan konsekuensi. Film ini menganalogikan ganjaran atas eror tersebut melalui kekuatan feminin.
Karena itu, kisah The Odyssey masih terbuka untuk dikembangkan melalui perspektif lain, termasuk hubungan manusia dengan alam. Jika drama, sebagaimana dikatakan Aristoteles, merupakan mimesis dari kehidupan manusia, maka refleksi tentang eror dan konsekuensinya tidak harus berhenti pada satu perspektif saja.
Referensi
- Shoard, C. (2026). Chastity, nodding and enormous pores: Will women also love Nolan’s Odyssey? The Guardian. https://www.theguardian.com/film/2026/jul/17/will-women-love-christopher-nolan-the-odyssey
- Aristotle. (1997). Aristotle’s Poetics (G. Whalley, Trans.; J. Baxter & P. Atherton, Eds.). McGill-Queen’s University Press. (Original work published ca. 350 B.C. E.)
Editor: Ferdinando Septy Yokit
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








