Tentang Kolonialisme, Ia Memilih untuk Diam

Penulis

Matahari terbit dengan lembut. Pendar biru memacar tipis, diselimuti bias kabut. Kota perlahan terbangun dari tidurnya, membawa serta Hirayama. 

Ia bangun, melipat futon, turun ke bawah untuk menggosok gigi, merapikan kumis, mencukur habis jenggot yang baru tumbuh sehari. Setelah membilas muka dan mengeringkan muka dengan handuk, ia mengambil semprotan dan naik kembali ke atas untuk menyiram tanamannya.

Hirayama lalu mengenakan baju terusan seragam kerjanya, memakai sepatu, dan melangkah keluar. Sejenak ia mendongak menatap langit, dan membeli kopi kaleng di vending machine sebelum menaiki mobilnya. Di kei car, Hirayama memilih The Animals dari koleksinya untuk disetel sepanjang perjalaan. Pekerjaannya adalah tukang bersih-bersih toilet umum. Di seragamnya tertulis “The Tokyo Toilet”.

Hari itu ia membersihkan tiga lokasi toilet, lalu beristirahat makan siang di taman rimbun di dekat lokasi toilet terakhir. Di sana ia menikmati keteduhan dan ketenangan sambil menyantap sebuah roti isi. Di sekitarnya, cahaya bergerak ringan di antara dedaunan yang dimainkan angin.

Di sela-sela mengunyah roti, ia merogoh saku di dada kirinya, mengeluarkan kamera analog, lalu mengarahkan lensanya ke langit yang ditutupi dedaunan lalu memotretnya. Kamera dikembalikan ke tempatnya, dan pandangannya menerawang ke depan, tanpa berharap apa pun. 

Namun sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah tunas kecil—mungkin bakal pohon, mungkin juga bukan—tumbuh di sana. Hirayama berdiri, menghampirinya, lalu dengan hati-hati memindahkan tunas itu ke dalam pot plastik kecil yang tersimpan di sakunya. Ia berniat merawatnya. 

Matahari masih tinggi ketika ia tiba di rumah. Ia berganti baju, lalu keluar kembali dengan sepeda. Tujuan pertamanya adalah pemandian air panas bukan alami, melainkan pemandian umum biasa. Selepas mandi, ia melanjutkan perjalanannya ke kedai di stasiun bawah tanah untuk menikmati segelas air es, entah air putih entah alkohol, dan kudapan. Ketika matahari telah tenggelam, ia pulang, bersiap tidur dan menunggu kantuk dengan membaca buku.

Pada hari libur, ia memulai paginya tak jauh berbeda dengan hari kerja. Hanya saja kali ini bukan untuk bekerja, melainkan untuk sembahyang di kuil, mencuci baju di binatu, mengambil foto analog yang telah dicuci dan membeli film baru. Sesampainya di rumah, ia akan bersih-bersih, rewinding manual kaset pita, serta memilah hasil foto analog yang layak disimpan dan dibuang. Setelah urusan rumah telah rampung, Hirayama akan keluar kembali untuk membeli buku dan menghabiskan malam di sebuah bar rumahan.

Apa Artinya Ketenangan Itu di Hari-Hari Ini?

Rutinitas tenang inilah yang disuguhkan sepanjang durasi Perfect Days. Namun, ia tidak dihadirkan dengan membosankan sebab visual disuguhkan dengan damai, seolah-olah Hirayama selalu dapat menemukan keindahan di sekitarnya. Terdapat pula beberapa perubahan kecil: rekan kerja yang mengundurkan diri hingga Hirayama mesti lembur, keponakan yang datang menginap, hingga bar langganan yang tutup. Dalam dunia yang monoton, perubahan sekecil itu justru terasa sangat berkesan. Itulah yang membuatku tetap terjaga hingga film berakhir.

Namun masalahnya, rasa senang karena ketenangan sepanjang film justru pudar ketika ia berakhir dan muncul dalam renungan.

Aku jadi berpikir tentang dunia yang tenang tanpa perubahan yang berarti. Dalam kondisi serba tak pasti, dunia semacam itu jelas mengagumkan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari hari esok sebab hidup akan begini-begini saja: jam kerja yang tak memakan lebih dari setengah hari, gaji yang cukup untuk membeli buku dan rol film setiap minggu, pergi ke bar untuk bergaul setiap akhir pekan. Sederhana. Namun, justru kesederhanaan itulah yang mustahil terwujud.

Sebagai orang yang hidup di tempat yang kini disebut negara-kolonial Indonesia, kita bisa saja mengganti hobi Hirayama dengan kesenangan yang lebih murah. Namun, berapa banyak orang di sini yang masih punya uang sisa setelah bekerja untuk sekadar bersenang-senang? Berapa banyak yang punya waktu luang setelah seharian bekerja? Waktu luang pun sering kali berarti waktu tambahan untuk bekerja lagi. Ini bukan soal mereka yang mengejar akumulasi kapital, melainkan soal orang-orang yang memang harus menukar seluruh waktunya hanya untuk bertahan hidup.

Kita hidup di bawah rezim otoriter dan korup. Dana publik yang lebih bermakna dipotong demi program MBG yang sejatinya hanya mengenyangkan pendukung rezim melalui bagi-bagi jatah dapur—menghabiskan sekitar satu triliun per hari, padahal data dari BPS menunjukkan bahwa hanya sekitar 15 persen masyarakat yang khawatir kekurangan makan, dan hanya 7 persen yang khawatir tidak mampu memperoleh makanan bergizi.

Rezim ini pula yang melancarkan kekerasan dan penangkapan terhadap ribuan orang dalam demo Agustus lalu. Affan Kurniawan dilindas hingga mati oleh rantis Brimob. Laras Faizati dituduh menghasut pembakaran gedung Mabes Polri. Ribuan orang dipukuli, dan 703 orang ditangkap. Alih-alih merespons substansi aksi, presiden lagi-lagi menunjuk antek asing sebagai dalang kerusuhan.

Belum cukup sampai di sana. Setelah Komisi Pencari Fakta bentukan KontraS, YLBHI, dan LBH Jakarta merilis laporan bertajuk Operasi Pembungkaman Kaum Muda Terbesar Sejak Reformasi—yang di dalamnya mengindikasikan keterlibatan BAIS—militer menyiram air keras kepada Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS. Indikasi keterlibatan militer itu juga diperkuat oleh liputan Project Multatuli.

Dalam kondisi ini, kesederhanaan milik Hirayama terasa seperti utopia. Ia bukan sesuatu yang jauh dan muluk, melainkan sesuatu yang seharusnya biasa, tapi kini tak terjangkau. Khawatir dipukul oleh aparat, ditangkap oleh negara, disiram air keras oleh kekuasaan: itulah yang mengisi hari-hari ini. Kalau saja kita bisa tak peduli pada semua itu, mungkinkah kita benar-benar akan diam, bersusah payah menikmati hidup dalam kesederhanaan, sementara setiap hari cara untuk bertahan hidup terus dihisap oleh negara?

Retorika Berbelit

Kondisi-kondisi yang terjadi dalam lingkup negara kolonial ini saja sudah begitu pelik untuk sebuah ketenangan. Masih ada kondisi geopolitik dunia yang tak kalah bajingan. Paling baru, Israel dan Amerika menyerang Iran untuk menguasai kawasan Asia Barat. Iran merespons dengan serangan balasan dan menutup Selat Hormuz, mengganggu pasokan minyak dunia yang akan berpengaruh ke berbagai harga kebutuhan hidup. Dan aku yakin, rezim ini tak memikirkan, atau memang tak mau ambil pusing, tindakan preventif untuk ini selama perut mereka masih aman.

Di kawasan yang sama, Palestina masih terjajah oleh Israel dan sekutunya, terutama Amerika. Cara kerja kolonialisme semakin kentara ketika pihak yang menjajah justru ingin menentukan nasib yang terjajah melalui Board of Peace, tanpa mengikutsertakan Palestina di dalamnya. Indonesia sendiri malah bergabung dengan komitmen finansial yang besar, memperlihatkan wajah aslinya sebagai bagian dari jajaran negara-kolonial.

Peristiwa-peristiwa belakangan ini memang kerap membuka topeng yang selama ini coba disembunyikan. Dan soal penjajahan Palestina oleh Israel, ia menyibak banyak sekali problem di antaranya.

Dua bulan lalu, Berlinale, festival film internasional tahunan, resmi dibuka. Pada hari yang sama, festival mengadakan konferensi pers untuk memperkenalkan dewan juri tahun ini: Wim Wenders (sutradara Perfect Days) sebagai jury president, bersama Min Bahadur Bham, Bae Doona, Shivendra Singh Dungarpur, Reinaldo Marcus Green, Hikari, dan Ewa Puszczynska.

Dalam konferensi itu, Tilo Jung, seorang jurnalis asal Jerman, mengajukan sebuah pertanyaan tentang posisi dewan juri dan Berlinale terhadap kondisi Palestina saat ini.

Jung merujuk pada komentar Puszczynska tentang kekuatan film untuk mengubah dunia, lalu menekankan bahwa festival ini tidak hadir dalam ruang kosong. Ia juga mengingatkan bahwa Berlinale sebagai institusi pernah secara terbuka menunjukkan solidaritas terhadap Iran dan Ukraina, tetapi tidak pernah terhadap Palestina, bahkan hingga hari ini.

Jung bertanya, “Mengingat dukungan pemerintah Jerman terhadap genosida di Gaza dan perannya sebagai pemberi dana utama Berlinale, apakah kalian sebagai anggota juri mendukung perlakuan selektif terhadap hak asasi manusia ini?”

Puszczynska menjawab bahwa pertanyaan itu terasa tidak adil jika dialamatkan kepada dewan juri. Merespons rujukan Jung, ia mengelak, “Tentu, kami berusaha berbicara kepada setiap penonton, membuat mereka berpikir,  tapi kami tidak bertanggung jawab atas keputusan apa pun, berpihak untuk Israel atau Palestina, yang akan diambil oleh penonton.”

Yang paling konyol, ia meneruskan, “Tapi ada banyak perang dan genosida terjadi dan kita tidak membicarakan itu. Jadi, pertanyaan ini sangat rumit dan saya pikir agak tidak adil jika kita ditanya pendapat kita, apakah kita mendukung atau tidak mendukung, atau apakah kita akan berbicara dengan pemerintah atau tidak.”

Konyol, karena pertanyaan sesederhana “kepada siapa kamu berpihak?” saja dibuat serumit itu. Pilihannya hanya dua: kepada yang menjajah atau kepada yang terjajah. Sesederhana itu. Namun tampaknya Puszczynska lebih memilih mengamankan kariernya sambil terus beretorika. Klise.

Wenders kemudian menutup diskusi, “Kita harus menghindari politik. Karena jika kita membuat film yang secara khusus bermuatan politik, kita terjun ke ranah politik. Justru kitalah yang menjadi penyeimbang bagi politik.”

Ia melanjutkan, “Film memiliki kekuatan luar biasa, rasa belas kasih dan empati. Berita tidak penuh empati. Politik tidak penuh empati. Tapi film penuh empati, dan itulah tugas kita.”

Lagi-lagi, retorika berbelit-belit sebagai pengganti jawaban atas pertanyaan yang sesungguhnya sangat mudah.

Tak Ada yang Istimewa

Penjajahan atas Palestina ikut membuka topeng si pembuat Perfect Days. Dari sana, kita bisa tahu bahwa ucapan Wenders di Berlinale bukan kebingungan, melainkan usaha untuk diam, bersembunyi di balik retorika palsu. Ia bukan orang bodoh. Dalam bukunya yang terbit pada 1991, ia pernah menulis::

“Every film is political. Most political of all are those that pretend not to be: ‘entertainment’ movies. They are the most political films there are because they dismiss the possibility of change. In every frame they tell you everything’s fine the way it is. They are a continual advertisement for things as they are. (The Logic of Images: Essays and Conversations, hlm. 19).”

Kita bisa saja membaca Perfect Days sebagai film tentang kebahagiaan sebagai keterampilan, sesuatu yang perlu dilatih dalam hidup sederhana, dengan tidak mengkhawatirkan hal yang tak perlu dan menemukan keindahan dalam setiap momen. Mungkin juga dibaca sebagai film tentang ketelatenan: bahwa ketekunan perlu dijaga meski pekerjaanmu hanya membersihkan toilet. Semua itu berpadu menjadi sebuah kehidupan yang damai.

Di bagian menuju akhir, kita tahu Hirayama masih memiliki keluarga yang relasinya masih terjangkau. Dengan samar-samar, kita tahu pula ia punya masalah dengan ayahnya, masalah yang membuatnya kabur dari kehidupan mewah, atau setidaknya kehidupan yang lebih baik. Ia memilih menjalani kehidupan baru yang sederhana dan tanpa konflik berarti. Ini mungkin saja membuat kita berempati pada Hirayama, bahkan pada film secara keseluruhan: bahwa trauma adalah hal yang nyata.

Namun, aku menolak semua tafsir itu. Aku lebih memilih percaya bahwa Perfect Days justru menjadi contoh sempurna atas apa yang Wenders sendiri sebut sebagai film paling politis, bukan karena apa yang ada di dalamnya, melainkan karena film ini adalah bukti bahwa si pembuatnya sedang mempromosikan kesadaran palsu: bahwa dunia sedang baik-baik saja.

Tanpa film ini pun, kita sudah tahu bahwa trauma adalah hal yang nyata dan berdampak berbeda pada tiap orang. Wenders yang tidak berani berdiri bersama orang-orang terjajah tak pantas mengingatkanku soal itu, bahkan dengan cara paling subtil sekalipun. Dan karena itu, ia tak pantas pula mendapatkan empati kita atas filmnya.

Ada juga yang mungkin menganggap Perfect Days sebagai film eksperimental yang berani: durasi panjang, minim konflik, namun mampu menahan penonton hingga akhir dan menciptakan rasa nyaman sepanjang film. Tapi tontonan semacam ini bukan barang baru. Banyak anime iyashikei yang mampu membuatku menuntaskan satu musim dalam sekali duduk.

Pada akhirnya, bagiku, film ini tidak lebih dari anime slice-of-life berbalut isekai yang diobral setiap musim: menawarkan pelarian dari dunia sehari-hari sambil menikmati kehidupan baru di dunia yang selalu memihak karakter utama. Tak ada yang istimewa.


Editor: Febrian Adinata Hasibuan


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *