Pengetahuan kerap disadari sebagai landasan berpikir, berinteraksi, dan membentuk suatu karya. Ia tidak terlihat dalam kasat mata, tetapi secara alami menjadi jembatan dalam membentuk arah dan peradaban manusia.
Dalam arus sejarah, pengetahuan menjadi tolak ukur kemajuan sebuah peradaban. Ketika sebuah peradaban yang sangat maju hancur oleh invasi atau bencana alam, lalu muncul kembali setelah beberapa dekade selanjutnya, mengindikasikan bahwa pengetahuan tidak hancur sepenuhnya. Ia hanya tereduksi sesaat sebelum dihidupkan kembali oleh kelompok masyarakat lain.
Analogi inilah yang diajarkan oleh Sang Guru–seorang cendekiawan asal Yunani–sebagai tokoh utama pada Novel Manuskrip Yang Ditemukan Di Accra, karya Paulo Coelho.
Dalam tulisan ini Coelho hendak mengingatkan, bagaimana tradisi pengetahuan dari kitab, khotbah orang berpengetahuan, dan ahli agama untuk terus dipertahankan. Melalui renungan dengan Sang Guru dan tiga tokoh agama, Coelho menunjukkan kekuatan tradisi masyarakat dalam mempertahankan catatan, ucapan tokoh, dan keyakinan tradisi menjadi modal dalam membangun kehidupan baru pasca pengepungan.
Menghibur Jiwa yang Kalut
Coelho hendak membawa pembaca menyusuri malam-malam terakhir dari sebuah kota, yang akan mengalami insiden besar di hari-hari mendatang. Berlatar belakang di abad ke-11 M di sebuah kota Yerusalem, Coelho mengundang pembaca untuk menikmati malam renungan yang dijabarkan oleh Sang Guru.
Pengepungan pasukan Salib yang hendak menguasai Yerusalem telah menyibukkan sebagian pihak untuk mempertahankan kota dan mengamankan harta benda yang dimiliki.
Kekalutan dan rasa cemas yang mengerubungi hati penduduk, lantas dituangkan dalam aliran pertanyaan kepada Sang Guru. Mereka mempertanyakan cara meredakan rasa takut dan apa yang harus dilakukan setelah kota mereka dikepung oleh pasukan Salib.
Sang Guru yang duduk bersama tiga pemuka agama menjawab satu demi satu pertanyaan yang terlontar. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai seorang Mesias, tetapi hanya berusaha menjadi penerjemah–dalam mengartikan kegundahan hati penduduk.
Salah seorang pemuda bertanya: “Aku tak pernah yakin, jalan mana yang mesti kuambil.”
Guru pun menjawab: “Seperti matahari, kehidupan menebarkan cahaya ke segala penjuru. Tetapi bila hendak membuat api, seluruh cahaya matahari harus dipusatkan pada satu titik,” jawabnya, sembari melihat sosok pemuda itu.
Ia hendak meneguhkan hati sang pemuda, kala menghadapi tantangan di waktu yang akan datang. Ia menegaskan bahwa musuh akan selalu mengejarmu saat berhadapan di medan perang. Ia datang dipenuhi hasrat untuk melumpuhkan dan mengejarnya.
Guru itu seolah mengingatkan untuk fokus menyelesaikan masalah bukan melarikan diri tak henti-henti. Saat individu bertemu dengan sebuah masalah dan ia kabur dari tanggung jawabnya. Maka, masalah itu pun akan terus membuntutinya–bak sebuah hantu yang terus bersemayam di balik bayangan diri.
Setelah pertanyaan itu terjawab, Sang Guru terus dihujani berbagai pertanyaan sebelum waktu perang mendera. Mereka mengajukan pertanyaan menyambung pertanyaan sebelumnya. Seperti seorang perempuan tua yang bertanya: “Tetapi cinta selalu melewatiku begitu saja,” usai Sang Guru mengungkapkan kata cinta atas pertanyaan seorang pemuda.
Sebelumnya, Sang Guru menegaskan untuk menghadapi sebuah masalah, individu harus menemukan arti dari sebuah tekad dan konsistensi. Ia menganalogikan, untuk membuat api, seluruh energi perlu dipusatkan pada satu titik.
Ketika orang lain melihatnya terus melakukan hal yang sama sebelum api itu menyala, orang akan menyangka ia tidak waras karena melakukan sebuah pekerjaan yang sia-sia. Tetapi sebenarnya, orang itu telah mengawinkan diri dan hasratnya untuk membuat sebuah api.
Ia terus berusaha seperti seseorang mengejar pujaan hati karena sebuah cinta. Ia tidak akan berhenti, sebelum pujaan hatinya luluh di rangkulannya.
Mendengar pertanyaan mengenai arti cinta, guru itu menjawab: “Cinta sejati adalah cinta yang menarik kita kepadanya namun tak membiarkan kita menarik dirinya. Artinya individu yang menetapkan rasa cinta, ia telah percaya pada orang lain atau suasana dan nasib yang diterima.”
Guru menegaskan, cinta kerap kali tidak terlihat secara kasat mata namun ia menuntun individu merasakan kesenangan dan kesedihan. Saat menikmati kesenangan atau ditimpa kesedihan, cinta akan selalu hadir dan mendorong individu untuk menemukan tujuan yang baru. Ketika berhadapan di medan perang, cinta pula yang merenungi cerita sebelum menemukan cerita baru pasca perang.
Mengamankan Pengetahuan Lebih Utama Ketimbang Bangunan Fisik
Tingginya gelombang pertanyaan, tidak terasa telah memakan banyak waktu dan para penduduk telah larut oleh untaian kata Sang Guru. Mereka bertanya atas kegundahan di dalam hati hingga merespon jawaban dari Guru.
Mereka terenyuh dan terhipnotis atas tiap jawaban pria Athena itu. Pertanyaan terakhir sekaligus krusial pun tiba, salah seorang pendengar bertanya: “Bagaimana dengan musuh?”
Guru pun menjawab: “Bertempurlah tanpa menunjukkan sisi lemahnya diri, hadapi musuh dengan segala kemampuan. Sebab peperangan yang sesungguhnya bukan diperlihatkan oleh rasa angkuh atau pasrah atas kenyataan. Akan tetapi ditunjukkan oleh keberanian Dalam perang, pihak yang menang maupun yang kalah adalah juaranya. Mereka tidak dilihat atas siapa yang mampu mengalahkan kubu lain dalam perang, melainkan mereka dilihat atas keberhasilan melewati batasan diri dalam arena perang. Pihak yang menang ataupun yang kalah akan bergandeng tangan dan menempuh jalan yang sama, meskipun membutuhkan waktu panjang untuk mewujudkannya.”
Melalui jawaban itu, Sang Guru menegaskan bahwa kehancuran fisik sebuah kota bukanlah akhir dari segalanya. Ia pun mengingatkan, dalam perang yang terpenting adalah melampaui batas kemampuan yang dimiliki. Melalui pengetahuan dan kebijaksanaan, kekuatan terkuat akan muncul tanpa disadari.
“Janganlah menganggap aku hadir sebagai juru kedamaian. Peperangan yang akan hadir nanti harus dilawan dengan pedang tak kasat mata (pengetahuan)–dalam memerangi para iblis yang intoleransi dan kurangnya pengertian,” ucapnya, sebagai pesan terakhir.
Setelah menyampaikan jawaban terakhir, Sang Guru mengingatkan untuk menuliskan catatan penting atas renungan di malam itu. Bagi yang tidak mampu menulis, ia meminta untuk mengingat baik-baik dialog pada malam itu. Serta memberikan renungan itu kepada masyarakat yang mau menerima, dan pergi bagi mereka yang menolak.
Anjuran untuk mencatat dan mengingatkan renungan khotbah dari Sang Guru, menunjukkan bahwa pengetahuan dan gagasan saat itu menjadi memori kolektif dalam menjawab tiap persoalan di masa depan.
Sebagaimana yang diutarakan oleh Jan Assmann, melalui konsep ingatan budaya. Assmann berpendapat, melalui memori kolektif pengetahuan dan pemahaman dasar manusia dapat bertahan meskipun berbasis budaya.
Oleh karena itu, Sang Guru mengingatkan pada khotbah terakhir untuk mencatat tiap pengetahuan dari renungan yang dianggap penting. Sebab memori pengetahuan telah teruji oleh waktu. Salah satunya media tradisional dalam mengenali Tuhan.
Sang Guru tidak mengkhawatirkan kondisi kota. Tembok-tembok Yerusalem dan benteng pertahanan mungkin akan runtuh oleh pasukan Salib. Akan tetapi pengetahuan, keberanian, dan kebijaksanaan akan selalu bersemayam dalam diri manusia. Tidak akan ada pedang yang dapat menembus zirah tak kasat mata ini.
Di sinilah Paulo Coelho menyampaikan pesan utamanya dengan sangat elegan: harta terbaik adalah pengetahuan dan gagasan yang diwariskan.
Ketika kota akhirnya jatuh dan penduduknya terpecah belah, untaian dialog pada malam sunyi itu menjelma menjadi manuskrip yang hidup. Ia melampaui sekat ruang dan waktu, serta membawa pesan ketenangan bagi siapapun yang berada dalam kekalutan.
Pada akhirnya, Manuskrip Yang Ditemukan Di Accra bukan sekadar narasi tentang persiapan menghadapi perang, melainkan sebuah refleksi abadi tentang cara manusia bertahan hidup di tengah badai kehidupan.
Pengetahuan yang disampaikan Sang Guru membuktikan meski sebuah zaman bisa runtuh dan tereduksi oleh waktu, kebenaran dan kebijaksanaan akan selalu menemukan jalannya untuk bangkit kembali—menjadi suluh yang menerangi kegelapan jiwa manusia.
*Ulasan buku berjudul Manuskrip Yang Ditemukan di Accra karya Paulo Coelho dan diterjemahkan oleh Tanti Lesmana (PT Gramedia Pustaka Utama, 2014)
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








