Ada sebuah generasi yang lahir di suatu kampung, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan urban. Dipaksa jadi moderen hanya karena tanah kampung halamannya telah habis dirampas kebijakan kolonial lama dan kolonial baru (negara). Di tanah yang hilang inilah, seluruh warisan kebudayaan nenek moyangnya terkubur di bawah tiang pancang pembangunan, aspal hitam jalanan, dan gedung-gedung industri ekstraktif. Lalu, kita sama tahu dari mana kebijakan itu bermula. Perkawinan para peng-peng.
Ada sebuah generasi yang lahir di suatu kota, lebur dalam hiruk-pikuk kehidupan kosmopolit, dipaksa hibrid hanya karena tak lagi memiliki akar identitas pada leluhur. Kota yang panas dan menyesakkan, memaksa dahi berkerut lantaran kerja yang tak pasti meski ijazah demi ijazah telah dikantongi. Sedangkan hari demi hari, tagihan menjelma rupa seperti bunga semak belukar di sepanjang trotoar lintasan pulang-pergi. Lalu, kita sama tahu dari mana kepelikan itu bermula. Lagi, perkawinan para peng-peng.
Ada sebuah generasi yang lahir di negeri ini. Generasi yang merangkak untuk memahami apa yang terjadi di sekitarnya: di nasibnya, di nasib ibu-bapaknya, di nasib saudara-saudarinya, di nasib tetangga kiri-kanannya, di nasib ribuan-jutaan manusia di negerinya yang terseok-seok hanya untuk bisa bertahan sedikit lebih lama.
Sebuah generasi itu, adalah mereka yang secara sadar memilih turun ke jalan membawa tuntutan. Berjam-jam di bawah terik panas, menahan dahaga sambil tetap teriak lantang, lalu pulang mendapati diri telah dihina-hina jutaan akun palsu dari para buzzer yang telah dibayar para peng-peng yang gemetar.
Sebuah generasi itu, adalah mereka yang tak sempat pulang karena telah lebih dulu dijemput paksa aparat negara. Dituduh pengkhianat hanya karena marah pada harga pendidikan yang mencekik leher ibu-bapak di rumah.
Sebuah generasi itu, adalah mereka yang tak sempat tiba di pintu rumah lantaran teror yang terencana telah berhasil menyasari mereka secara telak. Tubuh mereka dibuat tak lagi sama, meski api pembebasan di jiwa akan selalu membara dan merembet ke tubuh-tubuh lain yang masih bugar untuk menentang kekuasaan zalim.
Sebuah generasi itu, adalah mereka yang tak cukup bernyali untuk vis a vis dengan aparat saat ingin meneriaki betapa jahatnya kebijakan yang membuat uang bulanan tak pernah pas tiap bulannya. Namun, diam-diam amarah itu berkobar di dinding-dinding media sosial yang membuat negara turut berpatroli di linimasa.
Sebuah generasi itu, adalah mereka yang tak lagi miliki rumah, sekolah, dan harapan karena kebijakan yang menggusur semua itu dan dianggap selesai dengan relokasi dan ganti untung. Kadang mereka terpaksa diam, kadang pula mereka memilih angkat wajah dan mengepalkan semangat juang ke udara.
Kami adalah satu dari jutaan generasi yang lahir dan tumbuh itu. Kami adalah saksi bagaimana ibu-bapak kami ditindas oleh kekuasaan. Kami adalah generasi itu! Kami adalah generasi yang
setiap ruang di hidup kami telah dirampas dan setelahnya, ketika kami meminta hak itu dikembalikan, kami pula yang dianggap sebagai penjahat.
Ruang demi ruang yang hilang dari hidup kami, kadang kala membuat kami berpikir bahwa hanya tersisa sedikit saja celah untuk kami bisa tetap tertawa, merawat harapan itu tetap menyala, dan memastikan sesuatu yang lebih berharga untuk dirayakan di kemudian hari.
Seni, adalah ruang yang membuat kami masih ingin tetap hidup dan membagikan harapan itu pada sesama.
* * *
“Vita brevis, ars longa.”
Demikian aforisme Hippocrates itu dikutip dalam tema kuratorial ARTJOG 2026, Ars Longa: Generatio. Ya, sebuah generasi. Sesuatu yang sama, di mana kita semua termasuk di dalamnya. Namun, pada akhirnya kita perlu untuk sungguh-sungguh bertanya: generasi yang manakah yang hendak dibicarakan dalam pameran ini?
Apakah Generatio itu adalah sebuah generasi yang hari ini sedang berupaya setengah mampus untuk bertahan hidup di tengah pemangkasan ruang-ruang demokrasi? Apakah Generatio itu adalah sebuah generasi yang hari ini menghadapi intimidasi, kriminalisasi, dan berbagai rupa
kekerasan negara? Atau justru, jangan-jangan, Generatio itu adalah sebuah generasi yang hari ini berhasil dijejali tiap rupa hegemoni kekuasaan dan tanpa sadar dipaksa merayakan masa depannya sambil menyaksikan hak-haknya dirampas sedikit demi sedikit, hari demi hari? Menerimanya, mengikhlaskannya, dan kemudian mengucap betapa negara telah sangat peduli pada kehidupannya.
ARTJOG 2026 nyaris dua dekade ini membius jutaan pasang mata dari berbagai belahan dunia. Ia adalah panggung kesenian yang prestisius. Namun, di dinding dan ruang pameran itu jugalah penderitaan dan kenyataan hidup kita semua disulap sebagai komoditas yang bernilai fantastis di mata para kolektor dan peng-peng. Di sinilah, seni berubah menjadi komoditi semata dan ruang pamer kesenian menjelma sebagai pasar paling mewah.
Sebagai sebuah brand, ARTJOG berhasil menyilaukan banyak mata generasi hari ini. Mereka berlomba untuk masuk dan tercatat sebagai bagian dari perjalanan ARTJOG. Popularitas yang ditawarkan, membutakan banyak mata dari generasi kami bahwa ARTJOG bukan lagi ruang kebudayaan yang netral, alih-alih mengharapkan adanya pasar yang memiliki keberpihakan pada generasi yang nasibnya terkatung-katung bak layang-layang zaman. Tak mengherankan memang ketika kita melihat kaki-tangan rezim kekuasaan bercokol di atas dan belakang pasar semacam ini.
Sebab, memang begitulah relasi kuasa yang sedang beroperasi di ruang kebudayaan kita saat ini. Sekalipun konon tak ada penyensoran dan para seniman tetap diberi ruang kebebasan dalam memvisualisasikan pemikiran mereka, tetapi kebebasan semacam apakah yang dimaksud ketika representasi wajah rezim ada di balik proses kerja-kerja tersebut?
Maka dari itu, kembali kami ingin mempertanyakan: Generatio semacam apakah yang dimaksud di sini?
Di saat jutaan generasi sedang memprotes berbagai kebijakan rezim yang dianggap
memperkuat konsolidasi kekuasaan, ARTJOG justru kehilangan empati dan memilih jalan menjalin kedekatan dengan lingkar kekuasaan. Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang mensponsori dan lain sebagainya. Persoalannya adalah di mana sikap kita semua ketika ruang bernapas makin menyempit dan kesenian yang kita cintai justru secara telanjang bercumbu dengan rezim kekuasaan yang selama ini mengungkung ruang gerak kita?
Artinya, kami adalah generasi yang tidak sedang memperdebatkan hak seseorang untuk mendukung kesenian sebagai satu dari banyak lajur perlawanan atau tidak. Kami hanya sedang mempertanyakan apa yang akan terjadi ketika seni kehilangan kemampuan untuk menjaga jarak dari patron-patron politik rezim yang zalim?
Kami meyakini bahwa kekuasaan tidak selalu membungkam seni dan seniman lewat penyensoran maupun pengontrolan langsung. Sebab, sering kali rezim kekuasaan justru merangkulnya lewat berbagai instrumen yang dimiliki.
Untuk itulah, kepada para pekerja seni dan rekan-rekan seniman yang pernah dan sedang terjebak dalam hubungan tidak transparan, manipulatif, dan eksploitatif yang ditawarkan oleh sebuah ruang kongkalikong antara elite kesenian dan para peng-peng. Juga untuk kalian semua yang sikap politiknya telah ditukar dan dikubur dalam ruang hegemoni kekuasaan, kami ingin bertanya:
Tikar plastik tikar pandan
Tikar plastik bikinan pabrik
Tikar pandan bikinan tangan
Kalian duduk di mana?
Ars brevis: Resistentia longa!
Yogyakarta, 19 Juni 2026
ARTJOKES
Editor: Ivo Trias Julianno
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








