Alkimia Modern: Mengubah Kepercayaan menjadi Legitimasi

Penulis

Alkisah dalam sejarah abad-abad lampau, para alkemis mencari cara guna menyulap logam biasa menjadi emas. Sebagian kecil mengaku berhasil, sisanya tak sempat membuktikan. Mereka mewariskan tungku, retort, risalah-risalah rumit, dan suatu fantasi yang daya tariknya melampaui emas itu sendiri: bahwa nilai dapat dipindahkan dari satu benda ke benda lain melalui proses transformasi yang misterius. Bahwa sesuatu yang rendah dapat kemudian diusung mulia cukup dengan melewati serangkaian prosedur rahasia. 

Mereka tiada sempat menemukan Batu Bertuah. Kendati demikian, masyarakat modern malah menemukan bentuk alkimia yang lebih bertuah ketimbang apa pun yang pernah mereka bayangkan. 

Tiadalah alkimia modern ini menyulap timah menjadi emas. Malahan, ia mencipta teknik yang lebih muskil: menukar kekuasaan menjadi citra kepedulian, mengganti korporasi menjadi mitra kebudayaan, mengubah uang menjadi legitimasi. Dan tungku tempat transformasi itu berlangsung, salah satunya ialah dunia seni. 

Kita hidup semasa nyaris segenap hal boleh dibeli secara langsung. Perusahaan yang menghendaki dirinya dikenal publik boleh membeli ruang iklan. Perusahaan yang berminat menjangkau konsumen boleh membeli waktu tayang televisi. Perusahaan yang menginginkan namanya terlihat boleh membeli billboard raksasa di jalan-jalan utama kota. Pasar menyediakan berbagai instrumen guna memenuhi tujuan-tujuan semacam itu. Tiada yang rumit, tiada yang misterius. Semua itu terang saja: Anda membayar, Anda bersinar. 

Kendati demikian, terdapat satu yang jauh lebih sukar diperoleh. Mustahil rasanya satu ini dapat dibeli dengan uang belaka. Sebab tampaknya ia cuma mau kalau dikumpulkan selama bertahun-tahun. Dan namanya ialah “kepercayaan”. 

Kepercayaan atas produk bisa dibangun via kampanye pemasaran. Kepercayaan terhadap kualitas layanan bisa dibangun lewat garansi. Kendati demikian, ada kepercayaan jenis lain yang lebih niskala dan amatlah nadir hadirnya: kepercayaan bahwa seseorang, atau suatu institusi, memegang wewenang moral guna bercakap seputar dunia. Kepercayaan bahwa tiadalah ia melulu digerakkan oleh kepentingannya sendiri. Kepercayaan bahwa ujaran-ujarannya memiliki bobot melampaui kepentingan ekonominya. 

Tiadalah kepercayaan semacam ini muncul dalam semalam. Niscaya ia tercipta dengan sabar, diendapkan sejarah, reputasi, dan ragam keyakinan yang dipegang bersama oleh masyarakat. Mustahil ia diproduksi dengan anggaran pemasaran. Dan mustahil pula ia dipatenkan. Lebih-lebih via menulis cek belaka. 

Lantaran ia tak gampang diperoleh, maka amatlah berharga ia jadinya. Yakni sebagai bahan baku yang paling diburu dalam alkimia modern ini. 

Seni, saya menduga, ialah semacam institusi yang, selama berabad-abad, sanggup menghimpun kepercayaan semacam itu. Tidak sepenuhnya, tentu saja. Niscayalah kepercayaan itu tak merata. Namun cukup guna membuatnya unik ketimbang kebanyakan wilayah sosial lainnya. 

Seni membangun citra dirinya sebagai ruang khusus tersendiri dibanding nalar kekuasaan sehari-hari. Ia dipahami sebagai wilayah bagi imajinasi, kebebasan, eksperimen, serta kritik. Tentunya ia tak melulu sukses memenuhi cita-citanya itu. Ia pula kerap gagal, biasa berkompromi. Kendati bahkan para pengkritiknya mengiyakan bahwa dunia seni senantiasa menerima wibawa dari klaim tersebut. 

Publik barangkali tak melulu percaya pada tiap-tiap seniman. Bisa jadi pula mereka tak senantiasa menyukai saban karya. Tetapi masihlah ada kiranya, suatu keyakinan yang bekerja cukup luas bahwa seni, sebagai medan kebudayaan, memiliki kaitan yang berlainan dengan kekuasaan dibanding korporasi atau negara. Ia masih dipautkan dengan keberanian mengajukan pertanyaan yang kurang nyaman didengar. Ia masih diandaikan dengan kemungkinan mengatakan “tidak”. 

Barangkali lantaran keyakinan itu, seni memiliki nilai. Baik bagi dirinya sendiri, baik bagi publik yang menyenangi, pula bagi mereka yang kurang memiliki cukup kepercayaan semacam itu, tetapi amat memerlukannya. 

Saya merasa bahwa perdebatan seputar ArtJog belakangan ini kerap mengarah kepada hal-hal ganjil. Di media sosial, orang-orang saling sanggah dengan ragam argumen. Ada yang bercakap mengenai area abu-abu. Ada yang berujar terkait kemunafikan para pengkritik. Ada pula yang bertutur bahwa segenap uang dalam kapitalisme ujung-ujungnya sama kotornya, sehingga tiadalah guna memperkarakan sponsor tertentu. 

Barangkali semua itu memang memikat kalau didiskusikan. Tetapi ada satu pertanyaan yang menurut saya lebih sederhana dan sekaligus lebih mendasar: mengapakah korporasi-korporasi besar senantiasa datang kepada seni? 

Mengapakah Pertamina, yang bisnisnya menjual BBM, merasa perlu mensponsori pameran bertema antroposen dan krisis ekologis? Mengapakah Bank BRI, yang kerap memberi kredit, perlu menempelkan mereknya di area-area yang bercakap seputar keadilan lintas generasi? Mengapakah rokok Djarum, yang bisnisnya tentu saja menjual rokok, perlu membiayai seni, film, olahraga, dan beasiswa selama puluhan tahun? 

Mengapakah tak legawa dengan billboard saja? Mengapakah tak merasa cukup lewat iklan televisi saja? Mengapakah masih merasa kurang kalau cuma menjual produk saja?

Saya kira pertanyaan-pertanyaan ini penting lantaran jawabannya kelewat lekat di depan mata sehingga kerap luput dari perhatian. 

Datangnya korporasi kepada seni lantaran seni masih memegang sesuatu yang tiada mereka punya. Kekuatan politik? Bisa jadi. Wibawa moral? Besar kemungkinannya. Kendati begitu, ada yang lebih mendasar. Yakni bahwa seni mempunyai cadangan kepercayaan publik yang telah dikumpulkannya selama berabad-abad. Dan kepercayaan itulah bahan baku yang mereka cari.

Manakala Pertamina mendanai ArtJog, apa yang dicarinya bukanlah perhatian publik. Perhatian publik telah lama mereka punya: sebagai perusahaan migas, sebagai perusahaan yang namanya terkait skandal korupsi tata kelola minyak mentah yang ditaksir menimbulkan kerugian negara hingga Rp 968,5 triliun, sebagai perusahaan yang berada di pusat pemberitaan mengenai apa yang oleh Kompas ditunjuk sebagai Liga Korupsi.

Tiadalah Pertamina kekurangan eksposur. Namun apa yang tak dimilikinya ialah kepercayaan bahwa dirinya bisa bercakap seputar dunia tanpa semata-mata didorong oleh kepentingan ekonominya sendiri. Dan di dalam tungku seni, kepercayaan semacam itu bisa diraih. Tidak lewat membelinya, melainkan lewat menempatkan diri di samping sesuatu yang telah memilikinya. 

Begitu pula BRI. Bank itu tak perlu festival seni supaya dikenal publik. Namanya sudah tenar sebagai bank BUMN terbesar, pula sebagai salah satu penyedia pembiayaan utama bagi sektor sawit, pulp, dan kehutanan yang selama bertahun-tahun dikaitkan dengan laju deforestasi di Indonesia. Seturut data Forests & Finance dan TuK Indonesia, BRI punya eksposur di kisar Rp 96 triliun ke sektor-sektor tersebut. Namun apa yang tak dimiliki BRI ialah kemampuan mengucapkan kata-kata semacam “ars longa” dan “generatio” tanpa perlu terdengar kikuk. Dan dengan mikrofon seni, kosakata yang semula terdengar layakanya slogan, menjalani proses metamorfosis. Syahdan ia keluar dari sana sebagai suara kreativitas lagi kepedulian. 

Begitu pula Djarum. Melalui Bakti Budaya Djarum Foundation, konglomerasi kretek ini telah puluhan tahun membiayai seni, film, olahraga, dan beasiswa. Djarum tak perlu membangun merek, siapapun orang tahu Djarum. Tetapi Djarum perlu membangun sesuatu yang lain: kesan bahwa kekayaan yang diakumulasi dari industri tembakau, industri yang mengisap petani dan meracuni konsumen, dapat menjalani transformasi menjadi sesuatu yang mulia. Seni menyediakan tungku guna mewujudkan transformasi itu. 

Inilah operasi yang coba diperbincangkan oleh mereka yang mengkritik ArtJog. Perkaranya bukanlah uang Pertamina lebih kotor dari uang yang lain. Bukan pula perkara itu seputar si pengkritik memiliki rekening yang suci dari dosa struktural. Perkaranya ialah proses yang amat spesifik, yakni sesuatu yang di luar ruang seni dibaca sebagai korporasi, sebagai pihak yang terkait skandal korupsi, sebagai pembiaya sektor-sektor yang membabat hutan, dimasukkan ke dalam tungku kebudayaan dan keluar sebagai kepedulian, sebagai keberanian, sebagai dialog, sebagai tanggung jawab sosial. 

Tiadalah kritik terhadap apa yang disebut artwashing bertanya dari mana bahan baku itu berasal. Ia sejatinya bertanya: menjadi apa bahan baku itu setelah melewati tungku kebudayaan? Tiadalah ia memperkarakan asal-usul. Ia memperkarakan transformasi. 

Bahan baku yang sama boleh dipakai membeli mesin bor. Bahan baku yang sama boleh dipakai membeli ruang pamer. Di kasus pertama, ia tetap menjadi apa adanya, alat tukar guna memperoleh barang modal. Di kasus kedua, ia mulai berubah menjadi sesuatu yang lain. Menjadi kepedulian, menjadi keberanian, menjadi dialog, menjadi tanggung jawab sosial. 

Penyebabnya bukan bahan baku yang berlainan, melainkan tungku yang dimasukinya. Tungku itu memiliki kemampuan guna mengubah makna. Seni ialah tungku dengan kemampuan itu. Seni ialah mesin transformasi simbolik. 

Sedang billboard tak memiliki kemampuan semacam ini. Ia cuma bisa menyampaikan pesan. Ia tak bisa meminjamkan wibawa moral. Ia tak bisa membuat korporasi tampak sebagaimana layaknya pelindung kebudayaan. Seni bisa. Dan justru lantaran seni bisa, datanglah korporasi. Mereka cermat mengetahui bahwa ada jenis legitimasi yang hanya dapat diperoleh via ruang-ruang yang memiliki akumulasi kepercayaan publik. 

Andai benar seni tak menyediakan akses pada legitimasi, mengapakah korporasi terus mengeluarkan uang guna masuk ke dalamnya? 

Lazimnya para pengkritik artwashing dipaksa menjelaskan mengapa sponsor bermasalah. Padahal akan lebih menarik manakala pertanyaan ditujukan ke pihak seberang: andai sponsorship seni tiada memiliki fungsi pencitraan atau legitimasi, lantas bagaimana menerangkan keputusan bisnis ini secara nalar sehat? 

Pertamina ialah perusahaan migas. Bisnisnya menjual bahan bakar. BRI ialah bank. Bisnisnya memberi kredit dan menghimpun dana. Djarum ialah produsen rokok. Bisnisnya menjual kretek. Tiada satu pun dari mereka bergerak di bidang seni. Tiada satu pun dari mereka menjual produk yang membutuhkan festival seni sebagai saluran distribusi. Lantas mengapa mereka di sana? Andai kata tujuannya membangun merek, bukankah iklan televisi lebih efisien? Andai tujuannya menjangkau publik, bukankah billboard di jalan tol lebih murah dan lebih luas? 

Jawaban yang paling masuk nalar, dan lantaran itu paling muskil dielakkan: mereka memasukkan modal ekonomi ke dalam tungku kebudayaan dan mengeluarkannya sebagai sesuatu yang sepenuhnya baru. Mereka mengonversinya menjadi legitimasi. Mengonversinya menjadi kemampuan guna berdiri sejajar dengan sesuatu yang oleh publik dinilai jujur, merdeka, dan berani, lantas mereka turut terlihat jujur, merdeka, dan berani. Tiadalah ini kiranya suatu tuduhan. Ini hanyalah suatu deskripsi seputar cara kerja alkimia modern. 

Ada sebuah keberatan yang kerap dilontarkan terhadap kritik semacam ini. Keberatan itu berbunyi: seluruh uang dalam kapitalisme sama-sama kotor, lantas kritik terhadap sponsor seni tiadalah memiliki arti. Para pengkritik, demikian keberatan itu berlanjut, pula hidup dari uang yang memiliki sejarah eksploitasi yang panjang, sehingga mereka tak memiliki pijakan moral guna memperkarakan pendanaan ArtJog.

Keberatan ini tampaknya terpeleset dari lantai perkara yang memang licin. Kritik terhadap artwashing tiada bertanya dari mana bahan baku berasal, melainkan apa yang terjadi pada bahan baku itu manakala ia memasuki tungku kebudayaan. Katakanlah semua uang di dunia memang sama-sama kotor. Katakanlah para pengkritik ArtJog pula hidup dari uang yang menyimpan sejarah eksploitasi panjang. Lantas apa? Kritik terhadap artwashing tetap berdiri utuh. Sebab perkaranya bukanlah asal-usul bahan baku, melainkan proses transformasi yang terjadi tatkala bahan baku itu memasuki ruang simbolik. Pertanyaannya tetap: mengapa korporasi merasa perlu memasukkan uang ke dalam tungku seni dan mengeluarkannya sebagai legitimasi? 

Dan selama pertanyaan itu belum dijawab, menunjuk pada kontradiksi si pengkritik bukanlah sanggahan. Ia hanyalah pengalihan. 

Sejauh ini kita bercakap seputar apa yang diperoleh korporasi dari seni. Mengenai bagaimana uang dikonversi menjadi legitimasi. Terkait bagaimana kekuasaan memperoleh akses pada wibawa moral yang tak dimilikinya. 

Kendati demikian, ada sisi lain dari transaksi ini yang kerap luput dari perhatian. Apabila korporasi memperoleh legitimasi dari seni, lantas yang sebenarnya dipertaruhkan dalam proses yang sama itu apa? 

Kaitan antara sponsor dan institusi seni bukanlah kaitan satu arah. Ia merupakan pertukaran. Kendati yang dipertukarkan bukanlah dua benda yang setara. Korporasi memberikan uang, sesuatu yang dimilikinya dalam jumlah besar dan dapat diperbarui. Seni memberikan akses pada sesuatu yang tak dimiliki korporasi, tetapi juga sesuatu yang tak dapat diproduksi seni sesuka hati. 

Apa yang sesungguhnya dicari korporasi dari seni? Karya? Perhatian publik? Mungkin keduanya ada. Tetapi yang terutama dicari, bahan baku paling berharga dalam seluruh proses alkimia ini, ialah kepercayaan publik terhadap seni. Kepercayaan bahwa seni merupakan ruang yang jujur. Kepercayaan bahwa seni masih menjaga jarak terhadap kekuasaan. Kepercayaan bahwa suara yang keluar dari ruang seni ialah suara yang merdeka. 

Dan lantaran disangka memiliki otonomi itulah seni bernilai di mata korporasi. Lantaran dianggap tak tunduk itulah ia dicari. Nilai seni dalam transaksi ini tak tertaruh pada apa yang dimilikinya, melainkan pada apa yang dipercayai publik mengenai dirinya. 

Kepercayaan inilah yang terus-menerus dimasukkan ke dalam tungku dan dikonversi menjadi modal bagi kekuasaan. Acap kali nama korporasi ditempelkan di dinding festival, acap kali logo sponsor disandingkan dengan tema-tema progresif, acap kali bank pembiaya sektor kehutanan tampil sebagai pelindung generasi, di situlah kepercayaan publik kepada wewenang seni menjalani transformasi menjadi legitimasi yang bisa dipakai oleh pihak yang tak memilikinya. 

Tiadalah proses ini dapat dijelaskan via retorika “semua uang kotor.” Ia merupakan proses yang spesifik, dengan aktor yang spesifik, dan dengan sumber daya yang spesifik. Sumber daya itu bukan uang. Sumber daya itu ialah kepercayaan. 

Maka di sinilah kritik terhadap artwashing mencapai lapisannya yang paling dalam. Ia kerap dipahami sebagai upaya memburu sponsor yang bersih, atau sebagai kemarahan terhadap korporasi yang diduga tak layak memasuki ruang seni. Padahal persoalannya mungkin berada di tempat lain. 

Persoalannya ialah bagaimana kepercayaan publik terhadap wewenang seni diubah menjadi sumber daya yang dapat dipakai oleh kekuasaan. Bagaimana sesuatu yang diharapkan menjadi syarat bagi seni guna bercakap secara kritis malah menjadi barang dagangan yang ditawar-tawarkan. Bagaimana kualitas yang membuat seni berharga, yakni jaraknya dari kekuasaan, kemerdekaannya guna berpekik “tidak”, ialah persis kualitas yang diubah menjadi legitimasi tiap kali sponsor meresap ke ruang pameran. 

Kritik terhadap artwashing, dalam pengertian ini, ialah upaya memahami apa yang tengah terjadi pada kepercayaan itu sendiri. Sebab seluruh proses alkimia ini bergantung padanya. Korporasi membutuhkannya sebagai bahan baku. Institusi seni mengandalkannya sebagai sumber dayanya yang paling berharga. Publik menyediakannya, kerap kali tanpa sadar bahwa ia tengah menyediakan apa-apa. Dan kian sering kepercayaan itu dipakai sebagai sumber legitimasi, kian muskil mengetahui apakah ia masih lahir dari keyakinan, atau sekadar bertahan lantaran kebiasaan. 

Tiadalah seni kehilangan sesuatu yang ajeg dan bisa dihitung. Seni kehilangan sesuatu yang hanya ada sejauh ia tak digunakan, sesuatu yang kian sukar ditemui manakala ia kerap ditransaksikan.

Selagi proses itu berlangsung, tiadalah perkaranya semata apa yang diperoleh korporasi dari seni. Perkaranya ialah apa yang tengah terjadi pada kepercayaan itu sendiri. Dan apakah mungkin sebuah institusi terus mengklaim otonomi manakala kemerdekaan itulah yang secara rutin dimasukkan ke dalam tungku dan dikonversi menjadi nilai bagi pihak yang paling berkepentingan terhadap legitimasi. 

Akankah pertanyaan ini sempat meraih jawaban yang tuntas di luar ruangnya sendiri, sekiranya saya usah menginsafi hal ini. Kendati demikian, satu hal tampak berulang acap kali korporasi hadir kembali di dunia seni: proses yang disebut alkimia itu tiada berhenti, pula tiada melambat. Ia bekerja dalam kesenyapan yang kelihatannya wajar saja, lantaran terlanjur kerap terjadi. 

Dalam ruang itu, kepercayaan tak pernah tampil sebagai sesuatu yang disita secara kasar. Ia tampil sebagai sesuatu yang dirawat, dipelihara, bahkan dirayakan. Kendati di saat yang sama, ia juga dipindahkan dari tempat asalnya, dipakai sebagai bahan baku, dan diputar ulang sebagai sesuatu yang lain, yakni sesuatu yang tak lagi sepenuhnya berada di sisi seni. 

Manakala itu terjadi, keberlangsungan masih tampak di permukaan: festival tetap berlangsung, wacana tetap diproduksi, logo-logo sponsor tetap terpasang tanpa keganjilan. Kendati di bawah kesinambungan itu, satu hal bergerak tanpa suara: status kepercayaan. Tiadalah ia hilang, tiada pula ia rusak. Ia berpindah fungsi.

Dan pada pergeseran itu, alkimia modern mementaskan dirinya dengan sedemikian terampil, yakni manakala sesuatu yang menyebabkan seni mungkin untuk dipercaya, malah jadi medium yang menyebabkan kekuasaan akhirnya mungkin untuk dipercaya.


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *