Agensi Politik Pekerja Digital

Penulis

Di tengah dominasi algoritma dan kekuasaan platform, pekerja digital tidak lagi sekadar bertahan. Mereka belajar berorganisasi serta membangun solidaritas lintas kota dan negara. Mereka perlahan menciptakan bentuk-bentuk agency yang tidak pernah dibayangkan oleh hukum ataupun serikat kerja tradisional. Apa yang tampak sebagai obrolan remeh di aplikasi pesan, platform diskusi, dan media sosial sebenarnya adalah embrio politik pekerja digital.

Di sini kita akan menelusuri bagaimana sebentuk kesadaran telah berkembang menjadi solidaritas. Bagaimana solidaritas itu berubah menjadi aksi. Dan aksi itu mulai membentuk arsitektur politik yang tak lagi bergantung pada struktur lama.

Solidaritas yang Lahir dari Layar

Awalnya sulit membayangkan bahwa solidaritas pekerja bisa tumbuh dari ruang yang bahkan tidak memiliki dinding. Solidaritas itu tidak mengenal tekanan workstation pada lini produksi, tidak ada kehebohan ruang rapat yang merekam fluktuasi dan juga tanpa perjumpaan dan gosip di pantry. Para pekerja gig memang sering digambarkan demikian. Mereka adalah individu-individu yang bergerak sendirian, bertumpu pada aplikasi, dan bekerja dalam kesunyian yang nyaris matematis.

Namun di ruang sunyi itulah tumbuh sesuatu yang berbeda. Justru karena tidak ada dinding, ia bergerak lebih leluasa. Di dunia kerja digital yang retak dan tidak utuh, para pekerja menemukan cara untuk saling menyapa. Sebuah kesadaran samar, namun kian tebal: bahwa meski bekerja sendirian, mereka tidak benar-benar sendiri.

Kesadaran itu lahir dari pengalaman bersama yang berulang. Di titik tertentu, pengalaman itulah yang membentuk semacam grammar of injustice, tata bahasa ketidakadilan yang dirasakan bersama, bahkan sebelum dirumuskan dalam kata-kata.

Ketika ruang kerja bergeser ke dashboard dan notifikasi, solidaritas tidak lagi muncul dari ruang istirahat pabrik atau warung dekat kantor. Satu rasa dan kepedulian bergerak dari grup WhatsApp yang berisi ratusan nama tanpa wajah, dari thread Telegram yang tidak pernah tidur, atau dari grup Facebook yang dipenuhi tanda seru dan emoji marah.

Di Indonesia, fenomena ini terlihat paling gamblang pada pekerja platform transportasi dan logistik. Ketika tarif ojol turun atau ketika sistem penjatahan order terasa tidak masuk akal, ruang-ruang digital itu berubah menjadi pusat koordinasi spontan. Driver dari Bekasi mengabarkan “zona merah” tempat order tidak masuk. Pengemudi di Tangerang menyarankan strategi menghindari suspend. Dalam hitungan menit, puluhan orang ikut menimpali, membandingkan tangkapan layar, mencari pola yang tak benar-benar dipahami tetapi mereka rasakan. Pola yang seolah menunjukkan bahwa ada kekuatan tertentu yang menentukan hidup mereka tanpa pernah menyebut namanya.

Fenomena ini sejalan dengan temuan Tassinari dan Maccarrone (2020) yang mencatat bahwa solidaritas pekerja gig lahir bukan dari ruang kedekatan fisik, melainkan dari ketidakpastian yang dialami bersama. Ketika ketidakpastian itu menjadi pola, ia berubah menjadi kesadaran. Kesadaran berubah menjadi keluhan kolektif. Dan dari keluhan kolektif, lahirlah kemungkinan aksi bersama.

Ini bukan hanya terjadi pada ojol atau kurir. Para pekerja data annotators, pekerja yanga menandai gambar, mengoreksi label, atau mengarahkan model kecerdasan buatan, juga mengalami hal serupa. Ketika platform global seperti Appen atau Remo Tasks menurunkan tarif, para pekerja Indonesia dengan cepat mengetahuinya dari sesama pekerja di Filipina dan India melalui kanal Discord atau Reddit, bukan dari perusahaan itu sendiri. “Rate dropped again. Let’s avoid this project for now,” tulis seseorang dari Metro Manila. Tidak lama kemudian, chat itu diteruskan oleh pekerja dari Canggu, Bali, “Kita ikut. Jangan ambil task untuk sementara.”

Inilah solidaritas yang tidak mungkin terjadi dua dekade lalu. Jaringan ini bekerja seperti radar emosional: mendeteksi ketidakadilan lebih cepat daripada institusi formal, meresponsnya melalui tindakan kecil yang terkoordinasi. Fenomena ini disebut oleh Gray dan Suri (2019) sebagai “ghost networks of ghost workers”, sebuah jaringan pekerja tak terlihat yang saling menemukan di balik tirai sistem yang sama.

Pola serupa muncul pada pekerja moderasi konten. Banyak dari mereka bekerja untuk perusahaan outsourcing yang menjadi vendor bagi platform besar seperti Meta atau TikTok. Dalam percakapan daring, seorang moderator Indonesia bertukar cerita dengan moderator di Filipina dan Malaysia tentang kondisi kerja dan strategi bertahan dari trauma psikologis yang dihasilkan konten ekstrem. Walaupun mereka bekerja untuk perusahaan berbeda, pengalaman yang mereka bagi berasal dari sumber kekuasaan yang sama: algoritma yang menentukan kuota, kecepatan yang menentukan insentif, dan sistem penilaian otomatis yang bisa menghapus pendapatan mereka hanya karena satu klik yang terlambat.

Ford dan Honan (2022) mencatat bahwa pekerja platform Asia Tenggara membangun solidaritas lintas negara bukan karena ideologi, tetapi karena realitas algoritmik yang mereka hadapi serupa. Mereka tidak mengenal batas negara. Batas mereka adalah batas sistem.

Dan di sinilah letak inti perubahan itu. Solidaritas gig workers adalah solidaritas yang lahir dari arsitektur digital itu sendiri. Algoritma yang mengatur hidup mereka juga menyediakan medium untuk saling menemukan. Pengawasan yang serba otomatis menciptakan tekanan yang sama, sehingga keluhan satu orang dengan cepat menjadi keluhan seratus orang. Platform yang menjanjikan fleksibilitas justru menciptakan pola ketidakpastian kolektif. Dan ketidakpastian kolektif adalah tanah subur bagi rasa senasib.

Dalam penelitian mengenai otonomi dan kontrol algoritmik dalam gig economy global, Alex Wood dan kawan-kawan (2019) mengamati sebuah situasi di mana kontrol algoritmik paradoksal menciptakan ruang bagi solidaritas sesama pekerja (algorithmic collectivism). Bukan karena algoritma dirancang untuk itu, tapi karena ketidakpastian teknis mendorong pekerja mencari satu sama lain.

Maka solidaritas yang muncul di layar bukanlah sesuatu yang kebetulan. Ia adalah mekanisme bertahan hidup, sekaligus langkah pertama menuju atau membentuk agensi. Agensi ini mungkin kecil, tetapi cukup untuk mengusik narasi lama tentang pekerja gig sebagai individu yang tercerai-berai. Pada kenyataannya, mereka tidak lagi sendiri. Mereka berdiri di bawah langit algoritma yang sama, menatap pola yang sama, dan perlahan-lahan membentuk sesuatu yang tidak pernah dirancang oleh platform: komunitas.

Dari Resistensi Mikro hingga Jaringan Global

Ada kecenderungan menganggap pekerja gig sebagai individu yang pasrah terhadap sistem. Padahal jika kita memperhatikan lebih dekat, perlawanan dalam dunia platform justru bergerak secara subtil melalui tindakan kecil, nyaris tak terlihat, tetapi dilakukan oleh banyak orang. Dan perlawanan tersebut sangat mungkin berkembang dalam jumlah dan cakupan wilayah. 

Pertama, terjadi bentuk politik keseharian dalam wujud resistensi mikro. Resistensi dalam gig economy ini sering kali tidak spektakuler. Tidak ada barisan panjang atau orasi lantang. Ia muncul dalam bentuk yang kecil, terkadang nyaris tak terlihat. Seorang driver menemukan cara untuk mengakali sistem penjatahan order: mematikan GPS sesaat, berpindah ke zona tertentu yang dianggap “panas,” atau log-out bersamaan agar algoritma tidak mampu membaca pola. Teknik ini kemudian menyebar melalui video TikTok, Reels Instagram, atau pesan singkat di Whatsapp—tanpa ideologi, tanpa manifesto, hanya dari kebutuhan untuk bertahan hidup.

Resistensi mikro ini bukan sekadar bentuk protes. Ini adalah cara pekerja memulihkan sedikit kendali dalam struktur yang nyaris sepenuhnya otomatis. Resistensi semacam ini merupakan politik yang tidak lahir dari pemahaman teoretis, tetapi dari pengalaman bersama atas ketidakadilan (Cant, 2019).

Fenomena yang sama terlihat pada kurir Shopee Express dan J&T. Ketika target paket dinaikkan menjadi level yang bahkan mustahil bagi tubuh manusia, kurir membalasnya dengan cara yang tidak selalu eksplisit: menunda mengambil paket, mengoordinasikan waktu istirahat secara serentak, atau menyebarkan strategi “survival” untuk mengurangi tekanan kuota. Dalam istilah Tassinari dan Maccarrone (2020), gerakan-gerakan kecil ini adalah bentuk solidaritas situasional, yakni solidaritas yang muncul dari kebutuhan kolektif menghadapi tekanan algoritmik.

Bentuk kedua adalah mogok digital atau aksi kolektif tanpa massa fisik. Ketika ketidakpastian berubah menjadi pola dan dirasakan oleh banyak orang, muncullah sesuatu yang lebih besar. Mogok pengemudi ojek online, seperti yang terjadi  pada Agustus 2024 dan Mei 2025 di banyak daerah di Indonesia, melibatkan pengemudi dari berbagai aplikator. “Off-bid Nasional” merupakan salah satu bentuk aksi paling unik di Indonesia karena tidak memerlukan massa fisik. Mereka tidak berkumpul di satu titik, mereka hanya mengoordinasikan satu hal: Offline serentak.

Dalam dunia lama, mogok adalah soal ruang fisik. Dalam dunia platform, mogok adalah soal sinkronisasi. Dan sinkronisasi bisa dilakukan dari mana saja. Yang dibutuhkan hanyalah satu aba-aba yang viral di grup pesan ataupun media sosial. Aksi ini membuat platform tidak dapat memprediksi pasokan tenaga kerja. Itu adalah pesan politik yang jauh lebih kuat daripada spanduk apa pun.

Fenomena itu juga terjadi dan berulang pada komunitas pekerja data global. Ketika Appen menurunkan tarif tugas-tugas tertentu pada 2023, para annotators Indonesia tidak menunggu organisasi formal. Mereka mengikuti ajakan pekerja Kenya: “Then let’s boycott it. Just don’t pick up this task.”

Anwar dan Graham (2021) mencatat bahwa aksi berupa boikot kecil, penundaan, penolakan mengambil task adalah bentuk collective friction, gesekan kolektif yang sengaja diciptakan untuk mengganggu stabilitas sistem. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi bagi platform skala global yang mengandalkan prediksi stabil, friksi kecil antarpekerja bisa menjadi gangguan yang berarti.

Bentuk ketiga dari perlawanan dunia digital yang paling menarik adalah solidaritas lintas negara yang merupakan embrio politik transnasional. Aksi-aksi pekerja digital tidak berhenti di level lokal. Mereka melintasi batas negara dengan mudah—lebih mudah daripada organisasi buruh tradisional. 

Seorang moderator konten Indonesia yang bekerja untuk perusahaan outsourcing Meta mungkin menemukan dukungan dari moderator Kenya—yang di tahun 2023 menggugat Meta atas kondisi kerja yang tidak manusiawi. Melalui platform media sosial dan pertemuan virtual (Zoom) mereka berbagi strategi emosional, membahas cara menghindari burnout, dan kadang-kadang bertanya: “Bisakah kita juga menuntut?”

Ini adalah fenomena baru yang dapat menjadi cikal bakal transnational labor citizenship. Sebuah bentuk kewarganegaraan buruh yang tidak lagi dibatasi wilayah politik negara. Jika pekerja digital bekerja di ruang yang sama—server, sistem otomatis, algoritma—maka wajar bila politik mereka juga bergerak dalam ruang yang sama pula.

Gerakan pekerja global ini jelas terlihat pada protes pekerja freelancer di Upwork dan Fiverr. Ketika Upwork mengubah kebijakan harga connects (dalam rentang waktu 2024-2025), protes muncul secara serentak dari India, Filipina, Turki, dan Indonesia. Tidak ada serikat internasional, tetapi ada kesadaran transnasional. Ini pun merupakan gejala baru dalam lingkup hukum perburuhan. Gerakan lintas negara yang muncul tanpa adanya lembaga formal, tetapi mampu memberi tekanan global kepada platform.

Arsitektur Politik Bersahaja

Gerakan buruh tradisional bertumpu pada gedung organisasi, struktur hierarki, dan negosiasi tripartit. Namun pekerja gig beroperasi dalam ruang yang tidak stabil. Seringkali tidak ada tempat berkumpul, tanpa hubungan kerja formal, dan tidak membutuhkan kejelasan peran. Dalam kondisi itulah arsitektur politik baru muncul.

Dalam beberapa aksi di Indonesia, tampak beberapa nama forum atau organisasi yang mencoba memformalkan diri, seperti Asosiasi Pengemudi Online (APO) dan unit aksinya GARDA Indonesia, Forum Diskusi Transportasi Online Indonesia (FDTOI), dan Aliansi Pengemudi Online Bersatu (APOB). 

Di luar pekerja transportasi online itu, sebagian besar kolektivitas pekerja gig justru lahir dari komunitas cair, seperti grup WA Jabodetabek, kanal Telegram regional, atau forum daring Discord dan Reddit. Inilah kolektivitas yang tumbuh secara organik dari tekanan algoritmik, bukan dari institusi.

Namun justru karena tumbuh secara organik, kolektivitas semacam ini menghadapi tantangan yang berbeda dari organisasi buruh konvensional. Ia dapat muncul dengan cepat ketika ada persoalan yang dirasakan bersama, tetapi belum tentu mudah dipertahankan setelah persoalan itu mereda. Banyak komunitas digital hidup dari energi sukarela, bergantung pada beberapa orang yang aktif mengoordinasikan percakapan, menyebarkan informasi, atau menjaga ritme diskusi. Ketika energi itu melemah, solidaritas pun dapat ikut mengendur. Dalam arti tertentu, tantangan terbesar politik pekerja digital bukanlah bagaimana membangun jaringan, melainkan bagaimana membuat jaringan itu bertahan.

Komunitas cair berubah menjadi gerakan ketika tuntutan menemukan bahasanya. Ketika kurir logistik menolak target yang mustahil. Ketika driver ojol menuntut regulasi tarif. Ketika moderator konten Kenya menyeret Meta ke pengadilan. Dan ketika pekerja Amazon Mechanical Turk (MTurk) menuntut transparansi algoritma.

Gerakan pekerja digital tidak membutuhkan pusat komando. Ia bergerak seperti jaringan, kadang kusut, kadang cair, tetapi selalu responsif terhadap tekanan. Kekuatan mereka muncul dari jumlah, bukan hierarki. Dari sinkronisasi, bukan mobilisasi fisik. Dari pengalaman algoritmik yang sama, bukan ruang kerja bersama.

Kesadaran itu, walau masih rapuh, mulai membentuk pola yang lebih solid. Narasi pekerja digital secara perlahan keluar dari ruang tertutup para driver dan kurir, masuk ke diskusi publik, akademik, dan bahkan kebijakan negara. Pemerintah mulai meninjau ulang relasi kerja antara platform dan pekerja. Media arus utama mulai mengangkat dampak psikologis dan sosial dari sistem rating serta suspend otomatis. Itu semua terjadi dalam konteks Indonesia maupun lanskap global.

Selanjutnya, refleksi yang lebih dalam membawa kita pada pertanyaan yang lebih hening: apa yang sebenarnya sedang dibangun?

Mereka mungkin belum memiliki serikat formal atau manifesto ideologis. Gerakan mereka masih bergerak dalam ritme spontan. Tapi di bawah permukaan, sesuatu sedang tumbuh: sebuah infrastructure of solidarity. Infrastruktur solidaritas tersebut, meski rapuh, mempunyai daya untuk mengubah arah.

Solidaritas itu tidak lahir dari doktrin. Ia lahir dari kebutuhan. Dan kebutuhan, berbeda dengan ideologi, memiliki daya yang lebih senyap namun konsisten. Mereka tidak sedang membangun utopia; mereka sedang mencari cara agar hidup mereka tetap mungkin untuk dijalani. Jika pada akhirnya tindakan itu berbentuk politik, maka itu datang sebagai konsekuensi natural dari struktur yang menekan mereka bersama-sama.

Tetapi pengalaman digital juga membawa risiko yang tidak pernah sepenuhnya dihadapi gerakan buruh klasik. Solidaritas pekerja platform tumbuh melalui grup pesan, media sosial, dan berbagai ruang daring yang pada dasarnya dimiliki serta diatur oleh korporasi teknologi. Para pekerja menggunakan infrastruktur digital untuk membangun kekuatan kolektif, tetapi mereka tidak menguasai infrastruktur itu sendiri. Setiap koordinasi meninggalkan jejak data; setiap pola mobilisasi dapat dibaca sebagai pola perilaku. 

Di sinilah letak paradoksnya: teknologi yang memungkinkan solidaritas juga dapat menjadi medium pengawasan. Arsitektur politik digital, karena itu, tidak hanya menawarkan peluang baru bagi organisasi pekerja, tetapi juga menciptakan bentuk-bentuk kerentanan baru yang harus mereka hadapi. Selain itu, teknologi yang memungkinkan solidaritas juga dapat menjadi medium pengawasan. Arsitektur politik digital, karena itu, tidak hanya menawarkan peluang baru bagi organisasi pekerja, tetapi juga menciptakan bentuk-bentuk kerentanan baru yang harus mereka hadapi.

Politik pekerja digital, dengan demikian, bukanlah politik yang megah. Arsitekturnya mengikuti logika dunia kerja digital: fleksibel, adaptif, dan tidak pernah benar-benar diam. Dari luar, ia mungkin tampak rapuh. Tetapi di balik kerentanannya, ada energi yang terus tumbuh. Di dalam ketidakteraturannya ada pola yang perlahan-lahan mengeras: pekerja digital sedang belajar mengubah keluhan menjadi aksi, dan aksi menjadi struktur. 

Itu sebabnya politik pekerja digital sebetulnya bukan gaya politik yang benar-benar baru. Ia hanya menemukan medium yang berbeda. Sebuah bentuk multitude—kumpulan yang tampak tercerai-berai tetapi dipersatukan oleh struktur kekuasaan yang sama.

Mereka mungkin tidak menyebutnya demikian, tetapi apa yang mereka lakukan adalah politik. Politik yang bergerak di bawah radar, tetapi punya daya untuk mengubah lanskap kerja digital.

Nilai kerja sering hilang dalam relasi digital, dan hukum kerap tertinggal dari gerak kapitalisme algoritmik. Pada akhirnya, tulisan ini menunjukkan simpul berikutnya: bahwa di balik kerentanan itu, para pekerja gig—yang sering digambarkan sebagai individu yang terpecah—sebenarnya telah memulai sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Sesuatu yang masih belum selesai, tetapi terus bergerak: embrio politik pekerja digital, yang kelak mungkin menjadi salah satu bab penting dalam sejarah perburuhan di Indonesia dan dunia.

Referensi

Anwar, M. A., & Graham, M. (2021). Hidden transcripts of the gig economy: Labour agency, resistance, and collective mobilization in Asia. Environment and Planning A, 53(3), 464-482.

Cant, C. (2019). Riding for Deliveroo: Resistance in the new economy. Polity Press.

Ford, M., & Honan, V. (2022). Southeast Asia’s gig economy: Workers, platforms, and power. Journal of Contemporary Asia, 52(4), 635-655.

Gray, M. L., & Suri, S. (2019). Ghost Work. Houghton Mifflin Harcourt.

Tassinari, A., & Maccarrone, V. (2020). Riders on the storm: Workplace solidarity among gig workers in Italy and the UK. Work, Employment and Society, 34(1), 35-54.

Wood, A. J., Graham, M., Lehdonvirta, V., & Hjorth, I. (2019). Good gig, bad gig: Autonomy and algorithmic control in the global gig economy. Work, Employment and Society, 33(1), 56-75.


Editor: Febrian Adinata Hasibuan


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *