Mendidik Sato Reang dan Sapirin

Penulis

Tak semua murid mendapatkan kesempatan bertualang ke Labuan Bajo seperti Mata (serial Mata, Okky Madasari). Jarang murid dinaungi sosok ibu setangguh Nyai Ontosoroh mendampingi Minke (Bumi Manusia, Pram). Hanya segelintir sekolah punya kisah sukses seheroik Ikal dan Lintang (Laskar Pelangi, Andrea Hirata). Ada kalanya kelas diisi murid selembut Sato Reang (Anjing Mengeong Kucing Menggonggong, Eka Kurniawan) dan setenang Sapirin (Sapirin Mancelat, Elyda K. Rara)

Sastra menceritakan kondisi sosial lebih jujur. Ia ditulis sebagai karya fiksi, tetapi kisahnya acapkali merefleksikan fakta dengan lebih faktual. Karya sastra dibentuk dengan kerja imajinasi dan intelektual melebihi 5W1H dalam berita. Apa yang tidak bisa ditangkap-kabarkan dengan lugas oleh berita diceritakan lebih bernas oleh karya sastra. Karenanya, jika ingin mengetahui apa yang diributkan orang, bacalah berita. Jika ingin mengetahui mengapa hal itu membuat orang ribut, bacalah sastra. 

Nah, supaya tidak fomo pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, saya mencoba mengulik bagaimana sastra menceritakan anak-anak bergulat mendapatkan pendidikan sebagai pengalaman meracik pertanyaan-pertanyaan. Juga bagaimana orang dewasa dan struktur sosial melihat-memahami energi positif anak-anak ‘nakal’. 

Dua dari sekian banyak karya sastra yang layak dibedah pada perayaan Hardiknas adalah Sato Reang dan Sapirin. Sato Reang lahir sebagai anak sastra Eka Kurniawan. Ia dikisahkan sebagai bocah yang dipaksa mengikuti kesalehan orang dewasa yang tak masuk akal anak-anak. Juga dalam kondisi sosial yang memperagakan praktik bermasyarakat tanpa mengakomodasi kebutuhan anak kecil mencari tahu bagaimana dunia bekerja. Padahal, di situ ada kegembiraan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. 

Kalau boleh jujur, aku lebih senang pergi ke belakang pasar dan melihat orang-orang mengadu ayam, atau ke lapangan bola dan melihat orang bertaruh adu balap merpati. (Anjing Mengeong Kucing Menggonggong, Eka Kurniawan, hal 4)

Kenapa aku tak bisa seperti Ridwan, yang ayah maupun ibunya tak pernah repot mengajaknya ke masjid, tak pernah mengingatkannya untuk sembahyang. Ia tetap jadi anak baik. Ia memberi jajan teman-temannya, jika ia punya uang. Tak ada kata-kata buruk keluar dari mulutnya. (Anjing Mengeong Kucing Menggonggong, Eka Kurniawan, hal 46)

Sementara Sapirin lahir di kandang sapi. Anak sastra Elyda K. Rara ini tumbuh dalam keluarga yang menanamkan disiplin pada anak dengan sudut pandang orang dewasa. Relasi kuasa dibentuk dengan template ‘Orang tua berteriak, anak-anak mendengarkan’. Kerja keras diturunkan sebagai doktrin. Pendidikan dipaksakan tanpa percakapan. Guru pun tak memberi ruang imajinasi. Pertanyaan ditertawakan layaknya barang tak berguna. 

“Sekolah, Pak? Kan saya sudah mengaji…”

… .

“Pokoknya kamu harus sekolah biar tidak bodoh seperti Bapak dan Emak!” bentak bapaknya

(Sapirin Mancelat, Elyda K. Rara, hal 40)

Pernah ia bertanya pada bapaknya bagaimana kalaa cari sekolah lain yang ada pelajaran membuat Tamiya, dan bapaknya tidak pernah mendengarkan.

Pernah ia nekat bertanya ke Bu Pahrea apakah ada pelajaran membuat tamiya dan mendapatkan uang banyak, tapi Bu Pahrea hanya tertawa terbahak-bahak.

(Sapirin Mancelat, Elyda K. Rara, hal 59)

Sato Reang dan Sapirin merepresentasikan bocah-bocah hari ini. Mereka tumbuh dalam keluarga di tengah masyarakat yang sedang sakit. Penyakit itu belum bernama, tapi gejalanya jelas: telinga tidak bisa mendengarkan pertanyaan dan mata bengkak ketika melihat kenakalan. Dua gejala ini tentu saja berdampak buruk pada nasib pendidikan anak-anak. 

Sato Reang dan Sapirin setipe dengan ‘anak bodoh’ yang dijumpai Montessori ketika berkunjung ke rumah sakit jiwa. Kala itu, medio 1897 ia baru saja ditahbiskan sebagai dokter. Ia mendapati banyak anak yang oleh masyarakat dianggap tidak dapat dididik, tingkat kecerdasannya di bawah rerata. Namun, Montessori mengamati sesuatu yang berbeda. Mereka, anak-anak itu, bergerak tanpa tujuan, tanpa bimbingan.

Kondisi itu menggerakkan hati Montessori untuk menjadi guru bagi mereka. Ia mengajari anak-anak mengikat tali sepatu, menggunakan sendok, membuka kancing baju, dan pekerjaan sederhana lainnya. Fakta bahwa mereka kemudian menjadi mandiri meneguhkan fondasi pemikiran Montessori bahwa anak bodoh tak pernah ada. Maka, pendidikan mesti dikerjakan untuk memerdekakan jiwa-jiwa. Murid tidak bertumbuh hanya dengan mendengarkan, tapi dari pertanyaan terbuka dan pengalaman merdeka. 

Tentu bukan kebetulan jika di Museum Ki Hajar Dewantara Yogyakarta ada jejak Montessori dan Tagore. Ketiga ideolog pendidikan itu memuliakan anak-anak sebagai pemilik pertanyaan, aktor terpenting dalam kontruksi pengetahuan. Karenanya, anak-anak mesti dibebaskan meracik pertanyaan, mengalami pembelajaran, dan mengonstruksi pengetahuan dalam proses yang membebaskan. 

Salah satu indikator pendidikan yang membebaskan adalah akomodasi terhadap hak anak untuk bertanya. Tak mengapa jika proses menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut membuat anak-anak merasakan gagal dan jatuh, atau bahkan menyandang gelar nakal. Seluruh ekosistem—sekolah, keluarga, masyarakat—mesti punya perspektif yang selaras untuk membedakan kebebasan bertanya dan kepatuhan semu. Juga membedakan mana nakal yang mesti dirayakan dan mana pelanggaran aturan yang mesti diarahkan. 

Kurikulum boleh berganti, tapi kebutuhan hakiki anak-anak tak bisa terganti. Pengembangan kurikulum mesti dikerjakan seturut perkembangan kontekstual tanpa kehilangan rohnya sebagai perangkat untuk memanusiakan murid. Ki Hajar Dewantara tegas menyampaikan bahwa murid punya hak untuk bertumbuh dalam ekosistem asah-asih-asuh. 

Mengasah kecerdasan diawali dari keterbukaan pada pertanyaan dimana intelektualitas berpadu dengan kuriositas. Mengasihi murid seluruhnya dan seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mengasuh murid dengan keteladanan adalah cara terbaik menumbuhkan karakter-karakter positif. 

Ekosistem ini perlu segera ditumbuhkan kembali di sekolah agar kebutuhan murid untuk nakal dan bertanya mendapatkan ruang leluasa. Diksi nakal sengaja tak diberi tanda kutip untuk menebalkan makna bahwa murid memang seharusnya diberi ruang untuk nakal. Alih-alih mengikuti kamus yang mengartikan nakal sebagai perilaku menyimpang ataupun tidak taat aturan, kita perlu meletakkan nakal sebagai bentuk lain kuriositas. Di balik nakal ada kelebihan energi positif berupa banyak akal yang kerap berwajah jenaka—Sato Reang dan Sapirin banyak berkisah tentang ini. 

Kecuali itu, nakal merupakan cara anak-anak mewujudkan imajinasi. Kita tahu, anak-anak sedang bertumbuh bersama ledakan imajinasi di kepala. Itu adalah bagian dari kodrat sering bertanya dan serba ingin mencoba banyak hal baru. Sekali lagi, hal baru di sini adalah hal baru versi anak-anak. Jiwa mereka penuh gairah ekplorasi. Pemikiran mereka sering belok ke jalan-jalan alternatif. Celakanya, gairah bereksplorasi ini ditumpulkan, jika tidak dimatikan, oleh orang dewasa hanya karena menganggap hal baru-nya anak-anak berbeda dengan hal barunya orang dewasa. Cara alternatif pun dianggap nyleneh. Padahal, cara alternatif merupakan bibit lateral thinking yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan kompleks. 

Sato Reang dan Sapirin adalah contoh bagaimana anak-anak melepaskan hormon dopamin ketika bertanya akan fenomena, meragukan fakta, dan menemukan jawaban dengan cara uniknya sendiri. Sayangnya, kebutuhan ini justru dikebiri oleh (kebanyakan) keluarga dan sekolah yang seharusnya menjadi support system terdekat. Orang tua enggan membangun ruang komunikasi yang terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan. Sekolah lebih suka memaksa murid menghafalkan definisi ketimbang mengritisi. 

Bisa jadi, murid kita iri dengan seorang anak kecil Iran yang meminta militer meluncurkan rudal pink. Ini bukan anak kecil yang dilibatkan dalam perang. Ini tentang negara yang memandang anak kecil sebagai warga negara. Respon positif ini layak diapresiasi karena negara menghargai gagasan-perasaan-pertanyaan anak kecil kendati perang belum usai. Begitulah semestinya (anggaran) pendidikan memprioritaskan pertanyaan dan kenakalan murid.  

Referensi

Harsoyo, Yohanes.  Juli 2015. Maria Montessori: Guru yang Memerdekakan. Majalah Basis No 07-08, halaman 44. 

Mangunwijaya, Y.B. 2003. Impian dari Yogyakarta. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Rahardjo, Toto. 2019. Sekolah Biasa Saja. Yogyakarta: InsistPress


Editor: Febrian Adinata Hasibuan


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *