Merobohkan Dinding Kelas, Membangun Nalar Kewargaan

Penulis

Trump menangkap Maduro. Amerika dan Israel merudal Iran. Penerima LPDP viral dengan ‘aku saja yang WNI, anakku jangan’. Ketiga berita ini ramai berseliweran di beranda media sosial ketika saya mempersiapkan pembelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan tentang kedaulatan. Praktik kedaulatan seperti apakah yang mesti saya diskusikan di kelas? 

Mudah bagi saya sebagai guru mengajak murid membaca teori kedaulatan di buku paket. Penjelasan teori kedaulatan hingga kelemahan setiap teori sudah tertulis lengkap. Ringkasan materi dan soal latihan pun tersedia. Saya yakin, murid-murid tak akan protes andai saya memberikan instruksi buka buku paket, baca, catat, dan kerjakan! Namun, pengalaman belajar seperti apakah yang didapatkan murid?

Buku paket pegangan murid ditulis lebih dari dua belas tahun lalu, sementara perkembangan dunia berlipat eksponensial setiap detik. Maka, betapa berdosanya saya jika tak mengajak murid memahami apa yang hari ini terjadi di luar kelas, mulai dari yang viral di beranda media sosial hingga yang di benua seberang.

Murid tidak mendapatkan apa-apa jika hanya belajar dari buku paket berbatas empat dinding kelas. Murid mesti menyelami jagat maya sekaligus dunia nyata untuk mengalami pembelajaran. Mengalami bukan sekadar mengetahui, tapi bisa menganalisis dan menyampaikan pandangan kritis terhadap peristiwa di luar sana. Di situlah peran guru sangat dibutuhkan.

Guru mesti berani merobohkan dinding-dinding kelas menjadi kelas tanpa batas. Akselerasi teknologi informasi memudahkan guru mengakses berita dunia. Pilah, pilih sesuai topik, lalu bawa peristiwa dunia ke kelas. Biarkan murid kesempatan melihat peristiwa di benua seberang dengan mata kritis. Beri kesempatan murid membedah fakta dengan pisau kritis. Bedah berita, tanya jawab, studi kasus, atau bentuk-bentuk tanya jawab lain layak diwujudkan demi menyediakan pengalaman belajar bermakna. 

Sesederhana apapun, mengajak murid mengkritisi isu di luar kelas adalah cara efektif mendekatkan murid pada kehidupan nyata. Murid akan mendapatkan pengalaman membandingkan isi buku dengan isu terbaru. Juga belajar connecting the dots, merangkai gejala-gejala yang tampak acak tapi sejatinya saling terkait. Poin ini merupakan bahan baku membangun kesadaran kewargaan. Murid kita perlu diajak untuk menyadari keberadaannya sebagai warga dunia. Kita tak bisa lagi mengabaikan apa yang terjadi di luar sana. Setiap kita, sebagaimana peristiwa, ibarat satu titik yang terkoneksi dengan semua titik di seluruh sudut bumi. 

Aspek lain yang bisa dipetik dari diskusi kritis adalah melatih penalaran logis. Boleh berbeda pendapat asal disertai argumen logis. Perkembangan murid menalar bisa dilihat dari bangunan kalimat sebab akibat yang dihasilkannya. Pembelajaran di kelas pun bisa menjadi momen saling menghargai, menerima perbedaan sudut pandang, dan merayakan kekayaan gagasan. 

Saya mencoba mewujudkan pemikiran di atas dengan sederhana. Pembelajaran PKN saya awali dengan satu pernyataan: Presiden negara A menangkap presiden negara B. 

Jawaban murid cukup beragam. Tentu saja ada yang setuju dan tidak setuju. Mereka yang setuju kebanyakan memberikan argumen bahwa semua orang yang bersalah dan melanggar hukum layak ditangkap. Presiden pun mesti ditangkap jika bersalah. Mereka yang tidak setuju melandasi pendapatnya dengan argumen bahwa presiden tidak boleh mengurusi persoalan negara lain. 

Saya tidak menyalahkan ataupun membenarkan karena di balik setiap pendapat ada argumen yang perlu digali. Dari rangkaian argumen itulah saya memahami cara murid berpikir. Kemudian saya mulai mengajak murid mengelaborasi ciri-ciri kedaulatan, terutama pada poin kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi yang tak bisa diserahkan kepada lembaga lain. Juga tentang dua arah kedaulatan, terutama kedaulatan ke luar untuk bekerja sama antarnegara dan mempertahankan diri dari ancaman negara lain. Poin ini menarik setelah murid membaca berita penangkapan Maduro. Saya mengerucutkan pernyataan: Presiden Amerika menangkap presiden Venezuela. 

Pro-kontra tentu saja masih terjadi. Ada dua argumen dasar. Pro karena presiden Venezuela melanggar hukum. Kontra karena Amerika melanggar batas negara. Namun, yang menurut saya menarik adalah pertanyaan kritis seorang murid: mengapa tentara Venezuela tak melindungi presidennya? 

Pertanyaan ini mengandung benih kesadaran tentang kecerdasan kewargaan (civic intelligence), sesuatu yang hari ini makin langka kita temukan di negeri ini. Berbeda dengan spiritual quotient, emotional quotient, dan macam-macam quotient lain yang mengarah kepada kepentingan privat, kecerdasan kewargaan mengarah ke luar, ke ranah lebih luas bernama ruang publik. Ruang publik pun bisa diperluas lagi hingga melampaui batas-batas negara. Yudi Latif dalam buku Pendidikan yang Berkebudayaan (2020:307) mengurai kecerdasan kewargaan menjadi dua elemen utama, yakni civic duty dan civic joy. Civic duty berkaitan dengan pemahaman warga negara akan hak dan kewajibannya serta meletakkan keunggulan pribadi untuk mendukung kemajuan bersama. Civic joy memandu warga negara menemukan titik-jumpa di tengah keberagaman, mengutamakan keselarasan,  dan memenuhi panggilan kewargaan dengan gembira. 

Kewargaan dalam konteks hari ini mesti dibaca sebagai kewargaan global karena apa yang terjadi di depan kita dan di belahan bumi sana saling berkaitan. Kesadaran kewargaan global tak bisa tumbuh dengan sendirinya. Ia perlu ditumbuhkan dengan sengaja, dikembangkan dalam proses yang direncanakan. Nah, di titik inilah sekolah mesti berani mengubah diri menjadi pembenih kesadaran kewargaan global. Ruang kelas terlalu mulia untuk direduksi menjadi sekadar penghafal buku paket yang ditulis belasan tahun silam. Ruang kelas bukanlah sekumpulan orang dewasa berukuran kecil, melainkan sehimpun benih kecerdasan kewargaan yang siap disemai, siap dialiri air dialektika agar tumbuh dengan gembira. 

Pembelajaran PKN, tanpa mengecilkan mata pelajaran lain, adalah ruang leluasa membenih kesadaran kewargaan (global). Berita pelanggaran batas negara di benua seberang sama pentingnya dengan penyalahgunaan wewenang di kelurahan setempat. Toh, tiap detik teknologi informasi melimpahkan aneka rupa berita tanpa diminta. Di balik berita selalu ada fakta-fenomena yang bisa disuling menjadi air segar untuk menyuburkan kecerdasan kewargaan.

Guru punya peran penting menyemai kesadaran kewargaan melalui adu gagasan ataupun tukar argumen. Berilah kesempatan pada murid memberikan pandangan kritis atas fenomena dan menawarkan solusi. Sekadar komentar pun layak diapresiasi sebagai pemantik awal. Alih-alih beban, ini adalah kesempatan bagi guru mengerjakan civic joy sebagai layanan pekerjaan sekaligus panggilan teladan. Menumbuhkan kecerdasan kewargaan pada murid merupakan wujud nyata kecerdasan kewargaan seorang guru. Ikhtiar mulia ini tak memerlukan dukungan kurikulum yang kerap berganti sebagai proyek lima tahunan. 

Di manapun nantinya murid berkarya, apapun bidang pekerjaan murid pada masa depan, kecerdasan kewargaan adalah mata uang yang tetap berlaku di mana saja kapan saja. Namun, kewargaan global perlu diterjemahkan secara proporsional supaya tidak kebablasan seperti penerima beasiswa LPDP yang membanggakan anaknya menjadi WNA ketimbang WNI. 

Ketika saya sodorkan berita ini ke ruang kelas, kebanyakan komentar murid masih  berkutat pada kesombongan yang membanggakan kesuksesan diri. Belum menyentuh kesadaran kewargaan. Belum sampai pada identitas kebangsaan. Belum menyinggung tata kelola pajak rakyat, apalagi keuangan negara. Murid tidak salah karena mereka masih tingkat SMP. Namun, guru punya tanggung jawab moral untuk memantik kesadaran murid akan ketidakberesan sosial-global. 

Guru tak boleh berhenti pada penuntasan tugas yang tercantum dalam SK mengajar. Guru adalah pemimpin pembelajaran yang menyiapkan murid agar siap menjadi pemimpin dengan kecerdasan kewargaan mumpuni. Itu sebabnya, guru mesti menyadari sepenuhnya bahwa pengalaman belajar murid hari ini menentukan bagaimana mereka memahami persoalan dan menyelesaikan akar terdalamnya. Era akal imitasi (AI) membutuhkan guru-guru yang mampu merancang pembelajaran dengan akal sejati, yakni seperangkat daya cipta-rasa-karsa untuk memberdayakan pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar sejati. 

Kecuali memberdayakan pembelajaran, sebagaimana diulas Haryatmoko (2020:103) dalam buku Jalan Baru Kepemimpinan dan Pendidikan,  guru juga mesti bersedia hadir di kelas sebagai narasumber terbatas sekaligus sebagai model selalu mau belajar. Prinsip narasumber terbatas bukan sekadar pengurangan menit berceramah, melainkan pemberian kesempatan bagi murid untuk inside-out. Ini untuk melengkapi pengalaman outside-in, elaborasi beragam pengetahuan dari sekolah maupun masyarakat. 

Semester lalu saya melaksanakan asesmen PKN dengan monolog 3 menit. Mereka boleh mengkritisi ketidakberesan di sekitar rumah dengan sudut pandang nilai-nilai Pancasila. Hasilnya sungguh mengejutkan sekaligus menggembirakan. Ada murid tegas memberikan kritik ketua RT yang mengutamakan teman dekat dalam pembagian bunga bantuan kelurahan. Ada murid mempertanyakan sikap pemuka agama yang menyebut mabuk di acara perkawinan sebagai kearifan lokal. Ada juga murid geram dengan keputusan panitia HUT RI mendahulukan renovasi gapura daripada perbaikan selokan. 

Nilai ketuhanan dan keadilan sosial menjadi sila yang paling banyak dijadikan senjata kritis. Ekspresi mereka menyampaikan pendapat lewat monolog sungguh berapi-api. Sebagai guru saya sangat gembira—semoga murid saya juga gembira. Di akhir asesmen saya meminta komentar murid. Jawabannya beragam, tapi  hampir semua murid menyukai asesmen praktik monolog daripada asesmen tulis. Mengapa? Semua murid menjawab: karena tidak perlu belajar! Benarkah? Mungkin mereka memang tidak menghafal definisi di buku paket, tapi sejatinya mereka belajar mengkritisi ketidakberesan sosial sebagai benih kecerdasan kewargaan. 

Referensi 

Haryatmoko. (2020). Jalan Baru Kepemimpinan dan Pendidikan. Kompas Gramedia

Latif, Yudi. (2020). Pendidikan yang Berkebudayaan. Kompas Gramedia


Editor: Febrian Adinata Hasibuan


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *