From Sheets to Javelin: Perlawanan Terhadap Retorika Politik Menggunakan Perpaduan Kecerdasan Buatan dan Jazz

Penulis

“From Sheets to Javelin: A Foreign Policy Fantasia”  merupakan sebuah karya dari komponis Stevie J. Sutanto dan Sri Hanuraga—selanjutnya akan dipanggil Aga— yang menggunakan kecerdasan buatan dan tradisi jazz untuk mengkritik kebangkitan global gerakan populis sayap kanan yang berlandaskan neo-imperialisme. Melalui sintesa antara idiom jazz dengan eksperimentasi bunyi yang dimediasi kecerdasan buatan, karya mereka tak sekadar mengembangkan kemungkinan-kemungkinan performatif dari kedua disiplin tersebut, tetapi juga memposisikannya sebagai alat kritik sosial-politik.

Karya yang dipentaskan pertama kali pada April 2025 ini berawal dari kegelisahan kedua komponis ketika menyaksikan liputan mengenai perseteruan antara Presiden A.S. Donald Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, di mana Presiden Trump membingkai ulang perang Rusia-Ukraina—yang merupakan perlawanan Ukraina terhadap agresi militer Rusia yang menganeksasi Crimea  pada tahun 2014, dan kemudian melakukan invasi berskala besar—dengan pendekatan revisionis gerakan sayap kanan terhadap konflik geopolitik. 

Penegasan Trump bahwa Ukraina, alih-alih Rusia, bertanggung jawab terhadap perang yang berkepanjangan. Dengan mengantagonisir penolakan Zelenskyy untuk tunduk kepada permintaan Rusia untuk mengadakan gencatan senjata, Trump tak hanya melemahkan solidaritas Barat dengan Ukraina, tetapi juga memberikan legitimasi implisit terhadap Rusia. Manuver diskursif ini seakan mengkalibrasi ulang poros moral perang: jika Ukraina dilucuti dari posisinya sebagai korban, imperatif untuk membelanya pun memudar; jika agresi Rusia disamarkan, maka rasionalitas untuk membendung Rusia runtuh; dan jika A.S. diposisikan sebagai pihak yang tak ingin terlibat, maka isolasionasime akan menjadi sebuah preseden dan memperoleh momentum.

Lilie Chouliriaki—professor media dan komunikasi dari London School of Economics and Political Science—membaca bahwa retorika semacam itu bukanlah sebuah anomali, melainkan simtom dari strategi populisme sayap kanan pada umumnya. Dari Viktor Orbán yang menggambarkan Hungaria sebagai benteng yang dikepung oleh teknokrasi Uni Eropa, hingga Marine Le Pen yang menjadikan elit globalis sebagai kambing hitam atas kemerosotan ekonomi Prancis, memiliki pola konsisten, sebuah viktimisasi yang dikonstruksi sebagai sarana konsolidasi kekuasaan. Kampanye Brexit oleh Nigel Farage, yang bertumpu pada narasi kedaulatan Inggris yang mengalami ancaman eksistensial, semakin menguatkan diagnosa Chouliriaki. Dalam konteks ini, viktimisasi  bukanlah sekadar perangkat retoris, melainkan instrumen alkimia politik yang menyulap narasi korban menjadi mandat otoritarian.

Refleksi para komponis atas pembacaan Chouliriaki menimbulkan kegelisahan mendalam hingga mereka merasa perlu merespon kebangkitan global sayap kanan melalui tradisinya masing-masing, Stevie dengan latar belakang eksperimentasi bunyi dengan kecerdasan buatan dan Aga dengan tradisi jazz-nya.

Di samping tradisi praktik kesenian, para komponis juga menggunakan dua konsep dari filsuf Theodor W. Adorno:

  1. Potensi karya musik untuk mengartikulasikan ulang materi musik yang tersedia untuk menyingkap kebobrokan relasi manusia dalam masyarakat kapitalisme lanjut.
  2. Potensi seni modern dalam memediasi realitas empiris melalui teknologi dalam mendefamiliarisasi hal-hal yang familiar.

Gagasan alienasi Adorno terejawantahkan dalam praktik improvisasi musisi jazz yang berinteraksi dengan notasi musik bukan sebagai suatu instruksi yang ajeg, melainkan sebagai titik tolak bagi rekonstruksi musikal yang spontan. Pada “Jazz as Critique,” Fumi Okiji memaparkan bagaimana improvisasi pada musik jazz memediasi dan mengasingkan hal-hal yang familiar dengan mendekonstruksi dan menginterpretasi ulang melodi yang tertulis, dan dengan demikian menjadi suatu kendara kritik. Dalam pandangan ini, laku improisasi tak hanya ekspresif tetapi juga kritis, ia menjadi sebuah metode untuk menyingkap tegangan sosial.

Kerangka konseptual ini beresonansi dengan uraian Ted Gioa dalam “The History if Jazz,” di mana ia mencatat bagaimana orang Afrika-Amerika yang meski secara paksa dicerabut dari tradisinya, berhasil mempertahankan dan mentransformasi elemen budaya mereka, yakni musik dan tradisi lisan. Alih-alih mengadopsi struktur musik Eropa mentah-mentah, mereka mengindigenisasinya melalui improvisasi, lalu darinya lahir genre-genre baru yang turut membentuk sebagian besar musik modern. 

Transformasi improvisatoris ini mencerminkan suatu bentuk resistensi budaya sekaligus kemampuan adaptasi mendarah daging yang mampu menyerap sekaligus mendefinisikan ulang kosabunyi sang penjajah. Ia bukan sekadar eklektisisme tetapi suatu proses internalisasi  kosabunyi asing yang memungkinkan kefasihan dan spontanitas bertutur lintas bahasa musik.

Karena keakraban pada kosabunyi yang sering digunakan kerap menumpulkan daya kritis dan alienasi dari laku improvisasi, maka musisi jazz kerap menggali inspirasi dari musik di luar jazz demi memperluas kosabunyi improvisasinya. Dalam sejarah jazz kita bisa melihat daftar panjang dari praktik ini: Art Tatum yang menyusun ulang tradisi piano jazz menggunakan musik klasik Eropa, asimilasi Bach oleh Charlie Parker, eksperimentasi Herbie Hancock dengan Messiaen, interaksi John Coltrane dengan “Thesaurus of Scales and Melodic Patttern” Nicholas Slonimsky, Brad Mehldau yang memadukan Brahms, Wagner dan alternatif Rock, dan masih banyak lagi. 

Metode absorpsi tersebut terdokumentasikan dengan baik.  Sebuah artikel “Jazz Times” memuat bagaimana basis Garrhy Peacock menyaksikan  Herbie Hancock yang mentransposisi kosabunyi harmoni Messiaen ke dalam lagu jazz standar. Pengalaman salah satu komponis ketika menempuh studi di Conservatorium van Amsterdam merefleksikan narasi tersebut:  para mahasiswa didorong untuk belajar melalui mendengar, meniru, dan bermain bersama rekaman, dan lalu—dan setelah keterbenaman yang mendalam—mengabstraksikan dan mengonsepkan materi dengan melakukan analisis formal. Proses siklik ini—penubuhan, abstraksi, dan penubuhan kembali—merupakan inti dari pedagogi jazz.

Berkaca pada tradisi ini, penggunaan kecerdasan buatan dapat muncul sebagai metode untuk memperoleh kosabunyi eksternal. Jika musisi jazz dalam sejarah kerap berinteraksi dengan musik klasik Eropa dan musik-musik lainnya untuk memperoleh kosabunyi eksternal yang dapat diinternalisasi dan ditransformasi, maka masuk akal jika di zaman ini mereka berinteraksi dengan kecerdasan buatan yang menjadi sumber disrupsi utama masa kini. Maka penggunaan kecerdasan buatan pada karya ini bukanlah penolakan akan tradisi melainkan perpanjangan logisnya.

Penggunaan kecerdasan buatan pada karya berlangsung dalam tiga tahap:

  1. Konversi tuturan ke notasi musik: ujaran Trump di Oval Office ditranskripsi menjadi deret melodi (melodic row), lalu dipetakan ke dalam harmoni jazz. Kemudian Aga merajut ulang deret melodi berdasarkan idiom bebop. Disonansi rajutan melodi  ini memaksanya menavigasi struktur yang asing dan menolak resolusi. Ia seolah merefleksikan keretakan logika sayap kanan.
  2. Eksplorasi ruang laten (Latent Space): Ruang laten adalah peta pembelajaran mesin yang merepresentasikan kumpulan data media berskala besar, seperti gambar dan bunyi. Melalui ruang laten rakitannya, Stevie dapat dengan segera menelusuri titik-titik menarik dalam kumpulan potongan-potongan bunyi tersebut, lalu menghasilkan susunan artefak baru melalui jalur dua dimensi yang berbeda dengan susunan data aslinya. Dalam hal ini, dataset yang digunakan adalah rekaman improvisasi Aga yang secara ketat menggunakan deret melodi Trump yang disusupi idiom bebop. Kecerdasan buatan kemudian menganalisis rekaman tersebut untuk menghasilkan permutasi gestural dan struktural. Selanjutnya, Aga menginternalisasi permutasi tersebut, lalu menggunakannya untuk improvisasi. Saat momen improvisasi, muncul keterpelesetan—yang hanya dimungkinkan saat seseorang dapat bertutur dengan fasih dengan suatu kosabunyi—yang kemudian diumpankan kembali ke dalam sistem hingga menciptakan lingkaran kritis sibernetik yang mencerminkan pergumulan improvisator melawan ideologi yang mengungkung.
  3. Sistem interaksi sibernetik: Stevie merakit sistem yang memungkinkan kecerdasan buatan melakukan sonifikasi terhadap ekspresi-mikro Trump dan merespon improvisasi Aga secara spontan. Sistem ini memungkinkan terjadinya dialektika antara intuisi manusia dan logika mesin, sebuah analogi dari erosi atas demokrasi di bawah otoritarianisme teknokratis.

Untuk merangkai keseluruhan materi yang ada, para komponis, dengan interpretasi bebas, menggunakan struktur sonata. Karya dibuka dengan petikan video perseteruan Oval Office yang dilengkapi dengan teks yang memunculkan analisis ekspresi-mikro Trump oleh kecerdasan buatan. Bagian ini mewakili bagian eksposisi dari struktur sonata, sekaligus menetapkan “Ceasefire” dan “Sheets-Javelin” sebagai tema utama yang mewakili ujaran militeristik Trump dan menjadi objek defamiliarisasi oleh laku improvisasi.

Selanjutnya, muncul dua bagian solo piano yang berfungsi sebagai bagian pengembangan dari struktur sonata. Solo ini didasari oleh apa yang kedua komponis identifikasi sebagai dua tema utama dari petikan video: tema “Ceasefire” dan  tema “Sheets-Javelin.” Kedua tema yang dihasilkan dari  konversi ujaran Trump menjadi notasi musik tersebut dapat dilihat pada gambar 1 dan 2.

Gambar 1.  Tema “Ceasefire”
Gambar 2. Tema “Sheets and Javelin”

Aga memulai masing-masing bagian solo dengan memainkan masing-masing tema secara berdampingan dengan tiap petikan ujaran. Improvisasinya berawal dengan mengorbiti materi tematik, perlahan—seiring dengan memudarnya ujaran Trump yang kemudian digantikan oleh bebunyian ekspresi-mikro—ia bergerak menjauh dari orbit, mengeluarkan bebunyian yang semakin asing. Meski sekilas terdengar asing, improvisasi ini secara ketat bertumpu pada deret nada yang dihasilkan dari dua tema utama (gambar 3 dan 4). Di saat yang bersamaan, Aga menyimak bebunyian ekspresi-mikro dengan seksama dan kerap melakukan pertukaran gestural dengannya, terkadang menyahut dengan ujaran yang kontras, kadang mengimitasi gestur secara simultan, dan kadang mentransformasinya dengan kontrapung yang geometris. Ragam moda interaksi ini mencerminkan perlawanan terhadap pengungkungan ideologis.

Gambar 3: Materi improvisasi berdasarkan tema “Ceasefire”
Gambar 4: Materi improvisasi berdasarkan tema “Sheets and Javelin Improvisation”

Sebagai penutup, sebuah kimera yang lahir dari eksplorasi ruang laten dari perpaduan transkripsi MIDI kedua tema utama hadir. Kimera yang lebih mirip lanskap bunyi ini berfungsi sebagai rekapitulasi dari karya. Ia seolah sebuah bastardisasi atas diskursus Trump.

Dengan ini “From Sheets to Javelin: A Foreign Policy Fantasia” dapat dilihat sebagai sebuah karya yang bukan sekadar eksperimentasi musik, ia merepresentasikan reimajinasi radikal atas improvisasi jazz yang dapat berfungsi sebagai moda perlawanan algoritmis dan politis. Dengan memadukan potensi defamiliarisasi kecerdasan buatan dengan tradisi reinterpretasi subversif musik jazz, kedua komponis telah membuat karya yang tak hanya mengkritik penggunaan viktimisasi sebagai   senjata oleh gerakan sayap kanan, tetapi juga mempertanyakan struktur dari praktik disensus artistik itu sendiri.

Pada akhirnya, kolaborasi kedua komponis ini menawarkan pergeseran paradigma. Saat kecerdasan buatan mendefinisikan ulang kreativitas manusia, From Sheets to Javelin menawarkan masa depan di mana teknologi berperan tak hanya sebagai alat kontrol dan laku proletarisasi yang merenggut kecerdasan dan agensi penggunanya, tetapi sebagai kolaborator emansipatoris dalam suatu upaya kritik—di mana improvisasi jazz yang diperluas oleh kecerdasan buatan menjadi praktik yang krusial dalam meretas patologi zaman. Karya ini merupakan sebuah peringatan dan provokasi: di hadapan rekayasa viktimisasi, politik pasca-kebenaran dan proletarisasi oleh teknologi, musik sejatinya tak hanya mencerminkan realitas, tetapi menginterogasinya melalui disonansi bunyi.


Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *