Parah, Penuh Dusta, Dan Fitnah! (Bagian Pertama)

Penulis
Sekadar Tanggapan dari Sunlie Thomas Alexander
atas Dusta dan Fitnah Muhammad Subhan
 “Ada apa ribut-ribut, kowe, monyet Sastro Kassier?” 
(Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa, hlm.153)
“Jika benar engkau saya katakan kurang ajar, apa pikiranmu, anjing!” ujar Kacak dengan sangat marah. “Akan saya sembahkah engkau hendaknya, binatang!”
(Tulis Sutan Sati, Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 50)

Ketika mengunggah ulang dua buah tanggapan usangku atas tulisan si Muhammad Subhan bertahun-tahun yang lampau1, aku sudah yakin bahwa ia tidak akan mampu merespon tulisan-tulisanku tersebut dengan baik. Namun, aku tidak menyangka akan segawat ini tanggapannya. Silakan baca tanggapannya itu secara lengkap di: https://www.facebook.com/share/p/1DBi7Rcz3u/. 

Tanggapan baliknya itu bukan saja amat parah dari aspek bangunan logika maupun referensi, tetapi juga terang-terangan mengandung unsur fitnah, dusta, pemelintiran, dan pengalihan isu/topik pula! Hal semacam ini bisa terjadi entah karena kegagapannya dalam membaca teks atau karena memang disengaja olehnya! Tapi besar kemungkinan, sih, dua-duanya! Akibatnya, bukan tulisanku saja yang menjadi sasaran fitnahnya, tetapi juga sejumlah sumber teks dan karya sastra yang ia klaim menjadi rujukannya! Alhasil, di sebuah grup WhatsApp, ia pun menjadi bahan tertawaan. Kata seorang kawan: “Lain dibahas eliot, lain pula katanya”, “wkwkwkw pancen asu tenan. Dia baca ga sih esai eliot itu?”

Dan kawan yang lain berkomentar: “Masalah konteks diabaikannya, dianggap tak penting, padahal dg konteks itu orang bicara.” Disambung lagi oleh kawan berbeda: “Ini kayak mahasiswa kebanyakan skrg, comot sumber ngasal.”

Okelah, aku tidak mau menertawakannya berlebihan kali ini. Karena ia sudah berkenan melelahkan dirinya untuk menulis tanggapan balik atas tulisan lamaku itu, tentunya aku mesti menghargainya barang sedikit. Dan seperti tulisan usangku kemarin, dalam tanggapan ini aku juga akan merespon pernyataan-pernyataan alias klaim-klaimnya dalam tulisannya tersebut secara langsung. Kita mulai dari kutipan pembuka tulisannya yang mencoba meniru alias meng-epigon kebiasaanku membuka esai, yakni menggunakan petikan atas pendapat tokoh-tokoh tertentu terhadap suatu topik pembahasan. 

SUBHAN:

“Caci maki adalah bahasa mereka yang tidak memiliki argumen, dan ia bertindak seperti asam yang membakar habis rasa hormat manusia dalam sekejap.”—Jonathan Swift (1667-1745), penulis, penyair, dan rohaniwan Anglo-Irlandia”

SUNLIE:

Dari mana pula kau peroleh kutipan yang barangkali kau terjemahkan dengan jasa Google Translate atau AI ini untuk mendukung pendapat kau bahwa setiap caci maki pastilah buruk—tidak peduli apakah caci maki itu ditujukan kepada para koruptor, kyai cabul penjahat kelamin, maupun kaum penipu munafikun kayak dirimu ataupun dilontarkan oleh tokoh-tokoh fiksi dalam jagat pengisahan karya sastra, wahai Belah Tengah?

Aku bahkan khawatir kau takkan sanggup untuk menunjukkan di mana dan “dalam konteks seperti apa” Swift menulis demikian. Itu pun jika kata-kata yang kau kutip ini memang benar-benar berasal dari Swift! Kau kasih tahu, dong, versi asli kutipan itu dan dari mana kau peroleh biar orang bisa baca, sanggup nggak?! Kalau kau tidak sanggup menunjukkan teks aslinya dalam bahasa Inggris dan dalam konteks seperti apa kata-kata itu diucapkan, serta dari mana sumbernya, berarti kau berdusta!

Atau, jangan-jangan seperti kata Saut di grup WA: “Kayaknya kutipan Jonathan Swift di awal tulisannya ini salah tafsir dia [pada] maksudnya. Swift itu seorang satiris dan dia sangat anti kemunafikan kelas borjuis Inggris waktu itu, terutama dalam konteks caci maki. Kaum borju Inggris anggap caci maki mereka berbeda dari caci maki kelas bawah yang mereka nista itu! Jadi kutipan di atas, kalau benar dari Swift, ditujukan khusus ke caci maki kaum borjuis itu doang!”

Aku kutipkan untuk kau, deh, kata-kata Swift dari novelnya Gulliver’s Travels yang termasyhur itu:

“As for yourself (continued the King) who have spent the greatest part of your life in travelling, I am well disposed to hope you may hitherto have escaped many vices of your country. But, by what I have gathered from your own relation, and the answers I have with much pains wringed and extorted from you, I cannot but conclude the bulk of your natives to be the most pernicious race of little odious vermin that nature ever suffered to crawl upon the surface of the earth.”2

“Sedangkan mengenai dirimu sendiri (lanjut sang Raja) yang telah menghabiskan sebagian besar hidupmu untuk bepergian, aku cenderung berharap sejauh ini kau luput dari berbagai kebejatan moral di negerimu. Namun, dari apa yang telah aku kumpulkan lewat penuturanmu sendiri, serta jawaban-jawaban yang dengan susah payah aku cungkil dan aku peras darimu, aku tak bisa tidak menyimpulkan bahwa mayoritas penduduk negerimu adalah ras kutu kecil menjijikan yang paling merusak, yang pernah diizinkan alam untuk merayap di muka bumi.”

Sopan nggak kata-kata yang diucapkan oleh karakter Raja Brobdingnag kepada Gulliver itu menurut kau, Subhan? Sopan sekali, ya? Dan tahukah dirimu dalam konteks kayak apa sang raja itu mengucapkan kata-kata yang menganggap sebagian besar penduduk negeri asal Gulliver di Inggris—yang merasa diri mereka besar, beradab, dan mulia—sebenarnya tidak lebih dari sekumpulan kutu kecil menjijikan yang saling memangsa?

SUBHAN:

“Tidak perlu saya kutip kembali bualannya, sebab dapat sangat mudah ditemui di beranda media sosial.”

SUNLIE:

Tidak perlu atau memang sengaja tidak mau kutip?! Hahaha! Ini dua hal yang berbeda, lho? Kalau kau memang gentle, coba kau sertakan link tulisanku di Facebook tersebut pada tulisan tanggapan kau ini biar semua orang bisa langsung klik untuk membacanya dong! Jadi orang, kok, manipulatif betul kau!

Kau yakin betul kalau followers awam kau mau repot-repot membuka akun Facebook-ku untuk mencari dan membaca tulisanku? Dari komentar-komentar di postingan kau saja kelihatan, kok, kalau sebagian dari mereka tidak pernah membaca apapun yang kutulis namun langsung mengamini apa yang kau katakan! Hal ini tentu saja juga berlaku untuk tulisan-tulisan Doddi Ahmad Fauji dan Romyan Fauzan yang kau tanggapi itu. Bahkan Kang Doddi berulang kali mengajukan protes karena kau tidak menandai namanya sama sekali dalam tanggapan-tanggapan kau itu, sehingga ia pun merasa dirinya “jadi terdakwa in abcentia”!

SUBHAN:

“Sebenarnya saya tidak perlu lagi memberi tanggapan atas tulisannya itu, sebab pesan yang ingin saya sampaikan sudah tuntas pada esai saya beberapa tahun lampau berjudul “Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki”.2 Namun, karena Sunlie yang “pseudo-intelektual” ini sudah capek-capek menulis panjang, dan saya iba sekali, baiklah saya berikan juga respons setelah bertahun-tahun tulisannya itu tak saya anggap penting.”

SUNLIE:

Tidak kau anggap penting atau tidak mampu kau tanggapi, hayo? Sekarang ini, kan, terpaksa sekali kau tanggapi karena aku sudah menantang kau secara terbuka di Facebook. Malulah diri kalau kau diam saja tidak menanggapi, apalagi setelah kau dengan berapi-api menanggapi tulisan Kang Doddi dan Romyan! Emangnya mau ditaruh di mana muka kau di zoom dan medsos? Harusnya aku yang bilang bahwa, “sebenarnya saya tidak perlu lagi memberi tanggapan atas tulisannya itu, sebab pesan yang ingin saya sampaikan sudah tuntas pada esai saya beberapa tahun lampau berjudul “Bersihkan Sastra Indonesia dari Para Penipu Munafik Bertopeng (Pseudo-)Kesantunan!” dong. Kok kau malah macam maling mau teriak maling? Mau memelintir situasi secara amatiran, ya?! Itu sulit, Subhan! Sebab setiap orang yang punya nalar, pengetahuan, dan kemampuan membaca sudah tentu bisa menemukan hal yang “sudah tuntas” ini secara terang-benderang dalam tanggapanku ketika mereka juga membaca tulisan kau “Bersihkan Sastra Indonesia dari Politik Caci Maki” yang tautannya telah aku cantumkan dengan jelas dalam tanggapanku tersebut! Entahlah kalau orang-orang awam macam para follower kau itu.

Eh, sekarang sudah panjang betul kau tulis tanggapan balik, tapi, kok, tetap saja tak satupun bagian dari tulisan kau itu yang mampu menyangkal tulisan usangku? Sebaliknya, kau malah semakin ngawur saja! Mau kita buktikan? Ayo, lanjut.

SUBHAN:

“Sebagai pembuka esai ini, saya telisik judul tulisan Sunlie: “Bersihkan Sastra Indonesia dari Para Penipu Munafik Bertopeng (Pseudo-)Kesantunan!” Kalau dicerna lebih dalam, Sunlie justru terjebak dalam perangkap kepalsuan yang ingin dilawannya. Menuntut ‘pembersihan’ dengan bahasa yang menghantam seolah-olah menempatkan diri sebagai hakim moral paling suci. Ini adalah pseudo-kejujuran, sebuah topeng amukan yang dipakai untuk memanen tepuk tangan instan di media sosial. “Hebat, Toean Sunlie. Hebat, Toean!” Dan, orang-orang bertepuk tangan, tapi sebagian memunggungi sambil mencibir.”

SUNLIE:

Retorika kau ini buruk sekali. Bisa kau buktikan kata-kata “ini adalah pseudo-kejujuran, sebuah topeng amukan yang dipakai untuk memanen tepuk tangan instan di media sosial” kau itu? Jadi, menurut kau, setiap orang yang mengutuk korupsi, kejahatan seksual, kekerasan atas nama agama, kemunafikan, dll. itu memakai topeng amukan untuk memanen tepuk tangan instan di media sosial ya? Yang mau kau panen dari menanggapi tulisan-tulisan orang dengan cara kau yang tidak gentle itu apa? Tepuk tangan followers kau yang membahana atau duit Meta?!

Jadi kalau aku, Nuruddin, atau Saut mengamuk pada upaya memanipulasi sejarah sastra yang dilakukan oleh Denny JA, ngamuk kami itu tidak jujur alias ngamuk palsu untuk mencari tepuk tangan gitu, ya? Terus, untuk postingan-postingan puisi, esai, atau cerpen kami yang banyak ditepuk-tangani orang di media sosial, kau anggap apa pula? Sementara usaha kau mendukung Denny JA habis-habisan itu buat cari apa? Cari cuan doang atau cari panggung kelas kampung? Picik nian cara kau beretorika! Hahaha.

SUBHAN:

“Kesantunan, seburuk dan sesemu apa pun yang dituduhkan Sunlie terhadapnya, adalah infrastruktur peradaban yang menjaga agar manusia tidak saling menerkam saat berbeda pendapat. Ketika ruang sastra dibersihkan dari kesantunan dan digantikan oleh budaya caci maki yang telanjang, seperti gaya Sunlie, kita tidak sedang menyelamatkan akal sehat. Sebaliknya mengundang barbarisme masuk, di mana dialog mati, dan sastra berubah dari panggung estetika menjadi arena jagal karakter.”

SUNLIE:

Kapan dan di mana aku menganggap bahwa kesantunan itu sebagai sesuatu yang buruk dan semu? Siapa yang mau membersihkan kesantunan dari ruang sastra dan menggantikannya dengan budaya caci maki yang telanjang? Di mana dan kapan aku mengatakan atau menulis soal itu? Kau jangan fitnah kalau sudah kehabisan akal! 

Jelas sekali dalam dua tulisan usangku itu aku menulis bahwa yang kami lawan adalah Pseudo-Kesantunan alias Kesantunan Palsu/Semu kayak yang ditunjukkan oleh kau, Narpit, dan Sastri Bakry, bukan kesantunan adab yang mesti dipelihara, misalnya ketika berhadapan dengan orang tua atau guru! Contoh-contohnya pun sudah aku tunjukkan secara jelas dengan mengutip utuh kata-kata kalian sendiri! Tentu saja bisa aku tambahkan lagi dengan sederet contoh kasus lain jika mau, bahkan bisa aku contohkan pula apa yang disebut sebagai “pseudo-moral” dan “pseudo-relijiusitas”! 

Akan gampang sekali contoh-contoh ini kau temukan sendiri dalam berbagai kasus di balik bahasa birokrasi, kasus-kasus kyai cabul yang terus terungkap belakangan ini, hingga skandal penutupan kasus romo cabul di Gereja Katolik (kau bisa cek itu di postingan-postingan rutin Fransiskus dari Mlati). Orang yang berjubah agamawan tapi menggauli puluhan santriwati macem Kyai Ashari dari Pati itu mau disebut apa jika bukan kaum munafik bertopeng “pseudo-relijiusitas”? Lalu, pembohong macam Ratna Sarumpaet yang mengaku dipukuli tapi ternyata efek operasi serta Naniek Deyang yang ikut menyebarkan hoax tersebut demi menjilat Prabowo, kau sebut apa pula? Kau masih mau tetap ngotot bahwa kasus puisi-ngesai itu bukan usaha memanipulasi sejarah sastra Indonesia dengan cara kotor main duit, ya?

Wong Cino macam aku ini punya prinsip yang aku warisan dari orang tua dan nenek moyang kami, yakni bahwa manusia itu hanya boleh berlutut di hadapan Langit-Bumi (Tuhan), dan orang tua (跪天,跪地,跪父母!). Bukan macam kau dan kelompok kau yang rela menghamba pada kemunafikan demi cuan dan cari panggung!

SUBHAN:

“Namun baiklah, karena Sunlie adalah sastrawan agung yang karya-karyanya adiluhung dan dipuja-puja oleh pengikutnya, kita tetap menaruh hormat. Dan, karena dia menyebut kata “Penipu-Munafik” dengan gaya seperti berkhotbah itu—sekaligus menunjukkan secara terang kesuciannya—kita tambahkan saja satu sebutan lagi kepadanya: “soleha” (baca: saleha). Ya, Sunlie Thomas Alexander yang soleha.”

SUNLIE:

Dalam tulisan usang kau itu, kau kan mau bilang bahwa caci maki adalah suatu hal yang sangat tidak pantas, tercela, dan buruk, apalagi jika dilontarkan oleh mulut sastrawan macam aku dan kelompok-ku yang menolak puisi-esai si Denny JA ini, kok di sini kau ngomong lain pula secara sarkastik? Sungguh sarkastik yang dungu! Jadi, sekarang menurut kau, gaya memakiku terhadap kemunafikan kalian itu seperti berkhotbah ya? Bukannya yang justru mirip dengan gaya berkhotbah tapi nggak bermutu itu adalah gaya kau sendiri dalam menulis, yang berusaha berkata-kata sesantun mungkin (Tetapi penuh dusta, fitnah, dan kedunguan) untuk menunjukkan kesolehan dan kesucian kau yang anti-caci maki kepada publik?

Catatan: Sabar, ya, di bawah nanti akan aku perlihatkan dusta, fitnah, dan kedunguan kau secara bertahap.

SUBHAN:

“Seperti halnya Sunlie yang tidak menanggapi seluruh esai saya karena ia buta kebenaran dan miskin gagasan, sebab tulisannya lebih banyak mengutip pendapat orang lain daripada isi kepalanya sendiri, saya juga tidak menanggapi seluruh ocehannya yang panjang. Saya hanya menanggapi beberapa paragraf yang saya anggap perlu saja dan kekinian, terutama komentar-komentarnya yang merasa suci sebagai seorang sastrawan soleha, tapi sangat keliru besar dan tentu membahayakan bagi masyarakat awam.”

SUNLIE:

Hoi, munafikun dengan retorika buruk! Aku telah menyertakan link tulisan kau itu dalam tulisan tanggapanku agar semua orang yang baca tulisanku dapat juga membaca seluruh teks tulisan kau secara utuh! Sementara kau sama sekali tidak menyertakan apa pun! Aku menanggapi poin-poin penting dalam tulisan kau itu dan mengutip banyak sekali kata-kata kau tanpa menambah dan menguranginya sedikit pun, sementara kau justru berusaha keras menghindari poin-poin penting dalam tulisanku karena tidak sanggup kau jawab! Makanya orang bilang (seperti yang telah kukutip di atas): “Masalah konteks diabaikannya, dianggap tak penting, padahal dg konteks itu orang bicara.”

Bahkan ketika kau men-screenshoot unggahan tulisanku di Facebook saja, kau sengaja bermain licik dengan memotong bagian bawahnya sehingga satu paragraf pun tidak lengkap!

Di mana “gagasan” kau yang kaya dalam tulisan usang kau itu dan juga dalam tulisan ini?! Coba kau tunjukkan kepada semua orang! Dan aku “buta kebenaran” kayak apa ketika aku menunjukkan kepada kau dan semua orang berbagai contoh teks karya sastra (baik dari luar maupun dalam negeri) yang mengandung makian itu?!

Kok kau menghindari dari menjawab bukti-bukti konkret-ku bahwa karya sastra itu wajar mengandung caci maki yang kuberikan berupa kutipan-kutipan dari berbagai buku itu? tidak mampu jawab saja mau berkelit kau ini! Pantaslah Nuruddin Asyhadie bilang: Kau cuma bisa berputar-putar tak mau menjawab atau membuktikan pernyataan kau sendiri! Sebab kau sendiri tahu kalau kau menjawab maka akan ketahuan kalau kau salah, sehingga hal itu akan menampar wajah kau sendiri!

Coba kau baca ulang sekali lagi dan buktikan kalau tulisanku lebih banyak mengutip pendapat orang lain daripada isi kepalaku sendiri? Mampu, nggak, kau? Kalau kau tidak mampu membuktikan apa yang kau omongkan ini, berarti kau hendak memfitnahku lagi untuk mengarahkan opini followers kau sesuai dengan keinginan kau! Dasar tukang membalikkan fakta! 

Salah boleh, Subhan, tapi jangan berdusta! Apalagi berdusta dengan kata-kata santun. Tidak perlu kau mencari kemenangan berdebat dengan cara memfitnah! Aku tidak berdebat dengan kau untuk mencari kemenangan. Kalau pikiran kau itu memang lebih cemerlang dariku, akan aku akui itu secara jujur dan gentle, begitu juga halnya semua pembaca! Jangan khawatir soal ini. Fitnah itu hal tercela, Subhan. 

Tentu saja aku harus mengutip teks-teks karya sastra untuk menunjukkan contoh nyata secara jelas kepada kau dan semua orang bahwa sejatinya karya sastra (baik di luar negeri maupu di dalam negeri) itu tidaklah terlepas dari caci maki dan penggunaan bahasa kasar “sesuai dengan konteks kisahnya”, Subhan! 

“Ini lho, begini, lho contohnya, Subhan! Ini buktinya! Coba kau baca novel karya si ini, atau cerpen karya si itu, deh. Ini nih, di bagian ini ada caci maki dari tokohnya dengan alasan ini atau karena hal itu” Gimana, sih, kau ini? Kalau aku tidak mampu menunjukkan contoh-contoh karya sastra yang kumaksudkan itu padamu dan semua orang melalui kutipan, berarti aku ini cuma omong kosong doang kayak dirimu yang tidak mampu menunjukkan contoh apa pun itu dong!

Bahkan saking konyol dan dungunya diri kau itu, cara menggunakan referensi atau rujukan saja kau tidak tahu! Masa isi buku atau teks yang kau rujuk mengatakan A, kalau bilang C? Waktu kau kuliah, kau belajar menulis makalah dan belajar metodologi penelitian, nggak, sih?! 

Makanya, tidaklah heran jika Heru Joni Putra pun mengingatkan kau dengan jengkel: 

Catatan Kaki untuk Catatan Kaki 

Buat yang sedang “berpolemik” tentang keASUsastraan Indonesia, sekadar mengingatkan: Jangan asal kutip, apalagi ngawur, ketika membikin sumber referensi di catatan kaki. Kalau masih ada waktu, lebih baik dibaca lagi referensi yang dipakai, jangan diparafrase satu esai panjang lalu dioplos dengan komentar dalam “polemik”. Tuliskan kutipannya dan apa argumenmu terhadap kutipan itu, lalu apa relasinya dengan persoalan yang sedang dibahas. 
Demikian komentar saya. Tak ingin ikut-serta saya, karena saya lagi rempong, hanya memberi saran belaka. [Tautan: https://www.facebook.com/share/p/17Y4EKMcJh/]

Kalau aku tidak mampu mengutip pernyataan Heru ini beserta dengan link tautan postingannya tersebut, berarti aku memfitnahnya. Aku tidak mau memfitnahnya kayak kau fitnah diriku, fitnah Eliot, Swift, Marah Rusli, Pramoedya Ananta Toer, dll. Masa ngaku merujuk pada suatu teks referensi, tapi nggak sanggup kasih bukti dari mana rujukan itu berasal?!. 

SUBHAN:

Komentar Sunlie: “Bukannya justru lantaran sastrawan adalah seorang ahli sastra, maka mereka seyogianya tahu betul dalam konteks seperti apa seorang narator maupun para karakter dalam karya-karyanya mesti berkata-kata dengan sopan dan dalam konteks apa pula harus menggunakan kata-kata yang kasar atau caci maki/umpatan?”  

Justru karena seorang sastrawan dianggap sebagai ‘ahli bahasa dan sastra’, argumen Sunlie ini menjadi sangat ironis. Apakah predikat ‘ahli’ itu otomatis memberi Sunlie yang soleha ini lisensi moral untuk menentukan kapan caci maki menjadi sah? Logika Sunlie justru menelanjangi satu hal: ketika seorang sastrawan gagal menemukan diksi yang kuat, metafora yang presisi, atau kedalaman narasi untuk menggambarkan konflik, ia akan melarikan diri pada jalan pintas yang paling gampang, yaitu caci maki dan umpatan yang vulgar.

SUNLIE:

Ini tanggapan bloon macam apa, Subhan?! Hanya orang kurang akal macam kau yang tidak mampu menentukan kapan caci maki menjadi sah, Subhan! Itulah kedunguan kau. Memangnya setiap saat caci maki atau umpatan boleh dilontarkan kepada siapa pun, di mana pun, dan dalam situasi apapun?! Itu, sih, orang gila! Tidak perlu seorang sastrawan yang ‘ahli’ untuk menentukan kapan caci maki menjadi sah, wahai Belah Tengah! Siapa pun yang punya otak dan bisa berpikir logis pasti bisa menentukan kapan caci maki menjadi sah, Doengoe! Mungkin cuma kau saja yang tidak bisa menentukan, dan itu berarti kau sama saja dengan orang gila: diludahi pun cuma senyum-senyum saja sambil menyimak rambut belah tengah!

Jadi, lewat pernyataan kau di atas itu, kau mau bilang bahwa Mo Yan, J. D. Salinger, Salman Rushdie, Joni Ariadinata, Triyanto Triwikromo, Eka Kurniawan, Arafat Nur itu contoh dari sastrawan-sastrawan yang “gagal menemukan diksi yang kuat, metafora yang presisi, atau kedalaman narasi untuk menggambarkan konflik”, sehingga mereka pun “melarikan diri pada jalan pintas yang paling gampang, yaitu caci maki dan umpatan yang vulgar”?! What?! Kau harus mampu menjawab ini, Subhan! Jangan menghindar! Ini penting kau jawab kalau kau memang beritikad baik beradu argumen secara gentle denganku, bukannya mencoba mencari celah bagian mana dari tulisanku yang sanggup kau jawab (namun selalu gagal dan malah semakin menunjukkan keawamanmu)! 

Kalau kau luput membaca kutipan-kutipanku dalam kedua tulisan usangku itu atau memang sengaja untuk tidak mau menanggapinya lantaran tidak mampu, sekarang aku salin-tempelkan kembali kutipan-kutipan karya dalam kedua tulisan usangku tersebut di sini. Sekali ini, kuharap kau berkenan membacanya baik-baik dan menjawabnya, ya?

  1.  Kutipan dari novel The Garlic Ballads karya Mo Yan:

“Beat the bastard up!” Fourth Uncle cut him off. “He can’t come into our home and act like this!”
The two brothers tossed down the food in their hands, picked up their stools, and charged. “Using violence is against the law—it’s illegal!” Gao Ma protested as he tried to ward off the blows.
“No one would blame us if we beat you to death!” Fang Yijun countered.
“Gao Ma,” Jinju said tearfully, “get away from here!”
His head was bleeding. “Go ahead, beat me if you want. I wont even report you. But you can’t stop Jinju and me!”
From her seat across the table, Fourth Aunt picked up a rolling pin and struck Jinju a glancing blow on the forehead. “Doesn’t the word ‘shame’ mean anything to you? You’ll kill your own mother.”
“Fuck your ancestors, Gao Ma!” Fourth Uncle growled. “I’d kill my daughter before I’d let her marry you!”4

  1.  Kutipan cerpen “Lampor” karya Joni Ariadinata:

Rohanah cekikikan, “Ambil uangnya di Si Rois, katanya!”

“Anak jadah! Sampai kapan kowe mempermainkan orangtua heh? Awas kowe Rohanah! Awas!” Sumiah beringas. Tentu Rohanah tahu, makanya ia segera lari. Emaknya akan mengambil apa saja di dekatnya untuk dilemparkan. Rohanah masih sempat melirik ke arah Jumri yang tengah menurunkan pantatnya. Buang air. 
“Keparat! Kali ini kowe yang harus dinas mengerti? Hey, kowe yang harus ngemis!” Sumiah berteriak-teriak. Lantas berjingkat pulang. “Betul-betul keparat. Tak tahu diuntung.”5

  1.  Kutipan novel Lampuki karya Arafat Nur yang jadi Pemenang Unggulan Sayembara Menulis Novel DKJ 2010:

“Orang-orang Aceh pandai sekali  berpura-pura. Bangsat semuanya!” Dia memaki berang. Lalu Sukijan memukul sama rata, dia menuduh bahwa semua kaumku dan penduduk tanah ini adalah pemberontak, pembangkang yang suka menimbulkan kekacauan dan merongrong kedaulatan negara yang sah.6

  1.  Kutipan novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan:

[…] Matanya berbinar melihat Iteung di depannya. Ia senang melihat rambutnya yang beriak ketika menerjangnya, ketika mengiriminya pukulan. Ia senang melihat roman mukanya yang memerah menahan marah. Ia senang melihat matanya yang memancarkan kebencian.
“Ngomong, Tai!”
Ajo Kawir tak juga bicara. Ia hanya tersenyum. Senyum kecil saja.7

  1.  Kutipan novel Surga Sungsang karya Triyanto Triwikromo:

“Apakah eyangmu telah menjelma anjing busuk?”
Azwar, cucu terkasih Syekh Muso, tak menjawab. Namun, ia tahu persis Syekh Muso sesungguhnya telah muksa ke laut. Ia telah berjalan di dasar laut dan melihat ikan-ikan berzikir pada Allah di dinding-dinding laut yang terbelah oleh tongkat Syekh Muso.
Ia juga yakin sesaat kemudian Syekh Muso akan berada di perut hiu raksasa dan bercakap-cakap tentang keagungan Allah dengan makhluk-makhluk kecil yang pada suatu malam juga menjadi mangsa monster air itu.
“Ayolah jawab, Azwar, ternyata Syekh Muso Cuma anjing busuk bukan?”8

SUBHAN:

“Mengatasnamakan ‘konteks’ untuk melegitimasi kata-kata kasar tak ubahnya seperti menutupi miskinnya imajinasi dengan jubah realisme. Jika untuk menggambarkan kemarahan atau kebusukan karakter Sunlie harus selalu mengeja caci maki secara telanjang, di mana letak keahlian sastra Sunlie yang agung ini? Orang awam di pasar pun bisa melakukan itu tanpa perlu menjadi sastrawan.”

SUNLIE:

Kau bilang “harus selalu mengeja caci maki secara telanjang”?! Halooo… Di mana aku mengatakan seperti itu, Subhan?! Kenapa harus selalu?! Jago betul, ya, kau mau pelintir kata-kata dan kalimat orang? Ckckck!

Apakah kau bermaksud mengatakan bahwa:

“Mengatasnamakan ‘konteks’ untuk melegitimasi kata-kata kasar tak ubahnya seperti menutupi miskinnya imajinasi dengan jubah realisme. Jika untuk menggambarkan kemarahan atau kebusukan karakter Mo Yan, J. D. Salinger, Salman Rushdie, Joni Ariadinata, Triyanto Triwikromo, Eka Kurniawan, dan Arafat Nur harus selalu mengeja caci maki secara telanjang, di mana letak keahlian sastra mereka yang terkemuka itu? Orang awam di pasar pun bisa melakukan itu tanpa perlu menjadi sastrawan seperti Mo Yan, J. D. Salinger, Salman Rushdie, Joni Ariadinata, Triyanto Triwikromo, Eka Kurniawan, dan Arafat Nur.” 

Kau mau bermaksud bilang begitu?!

SUBHAN:

“Lebih jauh lagi, klaim ‘tahu konteks’ ini justru memperlihatkan kegagalan mendasar dalam memahami tugas tertinggi seorang sastrawan. Sastra lahir bukan untuk sekadar memindahkan (fotokopi) mentah-mentah bahasa jalanan atau umpatan pasar ke dalam lembar-lembar buku atas nama realisme, melainkan untuk melakukan sublimasi, yaitu mengolah, menyaring, dan mengangkat realitas yang kasar itu menjadi sesuatu yang bernilai estetika tinggi. 

Ketika seorang sastrawan dengan bangga melegitimasi caci maki telanjang sebagai representasi konteks, ia sebenarnya sedang mengalami kemalasan kreatif. Ia gagal menciptakan tegangan batin, mengonstruksi ironi, atau merajut dialog yang tajam tanpa perlu mengotori tangannya dengan kosakata yang banal (murahan). Menyerahkan ekspresi emosi sepenuhnya pada umpatan vulgar bukanlah tanda pemahaman konteks, melainkan bukti kepasrahan seorang penulis yang kehilangan daya magis bahasanya. Sastra yang agung justru diuji ketika ia mampu menggambarkan situasi yang paling busuk dan penuh amarah sekalipun, namun tetap menggunakan kekuatan jalinan kata yang membuat pembaca merenung, bukan malah merasa mual.”

SUNLIE:

Lebih jauh lagi, klaim ‘tahu konteks’ ini justru memperlihatkan kegagalan mendasar dalam memahami tugas tertinggi seorang sastrawan. What?!

Jadi, menurut kau ini para sastrawan seperti Mo Yan, J. D. Salinger, Salman Rushdie, Joni Ariadinata, Triyanto Triwikromo, Eka Kurniawan, dan Arafat Nur cuma “sekadar memindahkan (fotokopi) mentah-mentah bahasa jalanan atau umpatan pasar ke dalam lembar-lembar buku [mereka] atas nama realisme” ketika mereka menulis “anak jadah” “keparat”, “bangsat”, “tai”, “anjing busuk”, atau makian-makian dalam bahasa China yang diterjemahkan menjadi “bastard” dan “fuck your ancestors” dalam teks-teks yang aku kutip di atas itu?!

Catatan: Kalau saja kau bisa baca Hanzi dan ngerti bahasa Mandarin, bisa aku kutipkan pula makian-makian asli Mo Yan dalam novel The Garlic Ballads itu buat kau, karena aku punya versi Mandarin dari novel Mo Yan itu yang kubeli di Taiwan!)

Sehingga—menurut kau—ketika mereka menggunakan semua makian itu dalam narasi maupun dialog karya mereka, mereka itu tidak “melakukan sublimasi, yaitu mengolah, menyaring, dan mengangkat realitas yang kasar itu menjadi sesuatu yang bernilai estetika tinggi?!” Wow!

Kenapa seorang sastrawan bisa sampai merasa “bangga” ketika mereka “melegitimasi caci maki telanjang sebagai representasi konteks”? Apa hubungannya pemakaian caci maki dalam dialog maupun narasi novel dengan “kebanggaan”, wahai Belah Tengah??? 

Jadi, menurut kau, ketika seorang sastrawan besar China seperti Yu Hua menggunakan makian-makian kasar dalam narasi novelnya To Live (活著) seperti yang aku kutip di bawah ini, ia merasa “Bangga melegitimasi caci maki telanjang sebagai representasi konteks” dan karena itu ia “sebenarnya sedang mengalami kemalasan kreatif”?

Youqing had already given more than his body could take, but out came another doctor saying there still wasn’t enough blood. The fucking asshole doing the blood work extracted almost every drop of blood from my son’s body. Youqing’s lips turned blue, but the guy still didn’t stop. Only after Youqing’s head slumped and fell to one side did he finally begin to panic. He called a doctor over, who squatted down and listened with a stethoscope.
“I can’t get a heartbeat,” muttered the doctor.
The doctor didn’t seem to think it was a big deal. He just scolded the blood technician. “You’re really an idiot.”9

Jadi, menurut kau, seorang Idrus juga telah “gagal menciptakan tegangan batin, mengonstruksi ironi, atau merajut dialog yang tajam tanpa perlu mengotori tangannya dengan kosakata yang banal (murahan)” ketika ia menggunakan begitu banyak makian kasar dalam cerpen-cerpennya yang terhimpun dalam Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma10???

Berikut ini akan aku kutipkan buat kau, kata-kata makian kasar yang bertebaran di banyak cerpen Idrus dalam bukunya Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma terbitan Balai Pustaka cetakan kedua puluh tujuh tahun 2011: 

Orang-orang merasa lega sebentar. Akan tetapi, sebentar lagi trem penuh sesak kembali. Dari bawah kedengaran suara seorang Nippon.
“Kasi jarani. Bagero.”
Orang-orang tambah berdesak, memberi jalan kepada orang Nippon itu.
(“Kota-Harmoni”, hlm. 77)

Laki-laki itu terkejut dan marah katanya, “Apa katamu? Engkau jangan menghina Dai Nippon, ya. Engkau tahu siapa ini? Mata-mata ini. Ayo mari ke kantor polisi. Jahanam.” 
(“Sanyo”, hlm. 93)’’

“Kalau engkau hendak mendapat surat yang bertulisan Nippon, mengapa bekerja di kantorku? Haruskah aku belakar bahasa Nippon pula, membengkok-bengkokkan tanganku, hanya untuk menulis surat penghargaan? Kalian semuanya sakit demam, malaria tropikal. Engkau mimpi Kartono…. Pendek kata, apa gunanya aku marah kepada orang seperti engkau ini. Kalian semuanya monyet, pandai meniru saja. Kalau lihat temanmu mudah mendapat pekerjaan, karena surat penghargaannya bertulisan Nippon, engkau mau pula mempunyai surat seperti itu. Sekiranya aku pandai berbahasa Nippon, dan aku tulis dengan huruf cakar ayam itu, bahwa engkau babi besar, apa engkau tahu?” 
(“Heiho”, hlm.106)

“Akhmad mengeluh dan katanya dengan suara parau, “Begitu saja, Pak. Jangan pakai perkataan yang susah-susah kalau ada perkataan yang mudah. Apa perkataan jahanam tidak lebih tepat bagi mereka itu? Belanda jahanam, Nippon jahanam, dan Indonesia….”
Disambung orang tua itu antara batuk-batuk, katanya, “Tolol dan pandir. Ya, Mat, engkau pintar juga. Pakai saja perkataan yang mudah-mudah. Toh artinya sama juga.”
(“Heiho”, hlm.108)

“Tanah air? Mana tanah airmu? Engkau tahu apa arti Heiho? Kalau dalam rumah tangga Heiho itu dinamakan jongos, tolol!”
(“Heiho”, hlm.109)

Panas sedang teriknya, cahaya panas melalui jangat kepala, masuk ke dalam kepala. Orang-orang menjadi marah dan galak seperti harimau. Mereka berteriak, “Jahanam! Pengecut! Pemuda lain menyabung nyawanya. Engkau melarikan diri seperti perempuan.”
(“Surabaya”, hlm.122)

Akan tetapi, akhirnya mereka berteriak bersama-sama kepada pengawal-pengawal itu, “Kalian jahanam! Jahanam! Semuanya!” 
(“Surabaya, hlm.125)

Anak-anak yang berpihak pada pendapat pertama lebih banyak, dan itu sebabnya sejak itu Open bernama: guru goblok, dan karena perkataan golok sangat baik bersajak dengan goblok, Open akhirnya bernama: guru goblok. Setiap ia masuk kelas ada saja anak-anak nakal yang berteriak keras-keras, “Selamat pagi, Guru Goblook … blok … bloook.” Atau jika ia pagi-pagi masuk dengan sepeda antiknya ke dalam pekarangan sekolah berteriak dari segala jurusan, “Gobloook … gobloook … gobloook.”
(“Jalan Lain ke Roma”, hlm.152)

Bagaimana, Belah Tengah? Menurut pandangan kau: Idrus ini seorang sastrawan yang telah “kehilangan daya magis bahasanya” karena ia telah “menyerahkan ekspresi emosi sepenuhnya pada umpatan vulgar” dalam cerpen-cerpennya yang terhimpun dalam Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma? Lalu bagaimana halnya dengan para sastrawan kontemporer Indonesia seperti Ida Fitri lewat novelnya Paya Nie dan Raudal Tanjung Banua lewat cerpennya “Cerobong Tua Terus Menderu” yang juga mengakomodasi umpatan dalam teks karyanya?  Coba simak petikan kedua karya tersebut di bawah ini:

Berselang menit, setelah Kak Limah berteriak, terdengar suara langkah-langkah kaki tergesa dari samping, membuat lelaki  hitam kecil itu mengutip handuknya dan berlari ke belakang rumah, menuju ke arah sungai. Khadijah muncul bersama Syah, putra sulung mereka. Syah yang membawa kelewang di tangan terus mengejar bapaknya sambil memaki-maki, “Bapak pukimak! Tak tahu malu!” (Paya Nie)11

“Hentikan kataku!”
“Ada makhluk halus dalam tubuhnya!”
“Tidak!”
“Siluman ular!”
“Biar!”
“Ini perintah Nyi Roro Kidul, lho?”
“Perintah gundulmu!” Kasidi merebut batang tebu yang sudah remuk itu, mematahkannya seketika, lalu melemparkannya jauh-jauh.  (Cerobong Tua Terus Menderu”)12

Kata kau: “Sastra yang agung justru diuji ketika ia mampu menggambarkan situasi yang paling busuk dan penuh amarah sekalipun, namun tetap menggunakan kekuatan jalinan kata yang membuat pembaca merenung, bukan malah merasa mual.”

Jadi, kau merasa mual, ya, saat membaca peristiwa fiksional ketika karakter seorang anak memaki ayahnya yang suka mengintip perempuan dan memamerkan alat kelaminnya kepada perempuan itu dengan makian “Bapak Pukimak” seperti yang ditulis Ida dalam Paya Nie itu?

Jadi, kau merasa mual, ya, saat membaca novel The Garlic Ballads karya Mo Yan, cerpen “Lampor” karya Joni Ariadinata, novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan, novel To Live karya Yu Hua, atau cerpen-cerpen Idrul dalam Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, yang narasi-narasi telah aku kutip di atas itu?

Apakah kau juga merasa mual ketika membaca kutipan dari novel Bumi Manusia13 karya Pramoedya Ananta Toer di bawah ini?

Tanpa mengubah arah pandang Tuan Mellema berjalan menyeret sepatu langsung menuju padaku. Padaku seorang. Ia berhenti di hadapanku. Alisnya tebal, tidak begitu putih, dan wajahnya beku seperti batu kapur. Sekilas pandangku jatuh pada sepatunya yang berdebu, tanpa tali. Kemudian teringat olehku pada ajaran guruku: pandanglah mata orang yang mengajakmu bicara. Buru-buru aku angkat lagi pandangku dan beruluk tabik:
“Selamat petang, Tuan Mellema!” dalam Belanda dan dengan nada yang cukup sopan.
Ia menggeram seperti seekor kucing. Pakaiannya yang tiada bersetrika itu longgar pada badannya. Rambutnya yang tak bersisir dan tipis itu menutup pelipis, kuping. 
“Siapa kasih kowe ijin datang kemari, monyet!” dengusnya dalam Melayu-pasar, kaku dan kasar, juga isinya.
Di belakangku terdengar deham Robert Mellema. Kemudian terdengar olehku Annelies menarik nafas sedan. Robert Suurhof menggeserkan sepatu dan memberi tabik juga. Tapi raksasa di hadapanku itu tidak menggubris.
Aku akui: badanku gemetar, walau hanya sedikit. Dalam keadaan seperti ini aku hanya dapat menunggu kata-kata Nyai. Tak ada orang lain bisa diharapkan. Celakalah aku kalau dia diam saja. Dan memang dia diam saja.
“Kowe kira, kalo sudah pake pakean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap monyet!” (Bumi Manusia, hlm. 42-43)

Menurut otak kau itu, novel Bumi Manusia karya Pram ini tidak mungkin menjadi karya “sastra yang agung” karena Pram tidak “mampu menggambarkan situasi yang paling busuk dan penuh amarah” dengan “kekuatan jalinan kata yang membuat pembaca merenung” tatkala ia memperlihatkan secara gamblang kepada pembaca pandangan dan sikap kolonial Barat yang rasis itu lewat peristiwa perjumpaan Minke dengan Tuan Herman Mellema dalam Bumi Manusia ya?

Sampai di sini, kau paham, nggak, kenapa aku harus menunjukkan contoh lewat kutipan-kutipan ini kepada orang dengan kedunguan yang ngeyel kayak kau? Kau jawab ini,  ya, Subhan? Jangan menghindar lagi dan lari-lari maling terus!

SUBHAN:

“Komentar Sunlie: “Apakah ia juga luput membaca sejarah sastra Indonesia, sehingga tidak tahu bagaimana di luar politik literasi Balai Pustaka bentukan pemerintah Hindia Belanda, para penulis peranakan Tionghoa dan kaum Indo-Belanda ikut memberikan sumbangsih begitu besar bagi sastra (berbahasa) Indonesia melalui karya-karya mereka yang menggunakan bahasa Melayu Pasar?”  

Hmm. Argumen sejarah yang Sunlie bawa justru memperlihatkan sesat pikir (logical fallacy) yang sangat akut. Sunlie sengaja membenturkan Balai Pustaka dengan sastra peranakan Tionghoa atau Indo-Belanda demi mendapatkan legitimasi sejarah untuk menghalalkan bahasa caci maki.”

SUNLIE:

Nah, lagi-lagi kau mau main pelintiran lagi, kan?! Di bagian mana dalam teks tulisan usangku itu aku “sengaja membenturkan Balai Pustaka dengan sastra peranakan Tionghoa atau Indo-Belanda demi mendapatkan legitimasi sejarah untuk menghalalkan bahasa caci maki”? Kenapa aku harus membenturkan keduanya? Semua orang yang membaca sejarah sastra Indonesia juga paham, kok, jika pada era kolonial, Belanda telah menjalankan kebijakan Commissie voor de Volkslectuur lewat Balai Pustaka yang bertindak layaknya “polisi bahasa”, di mana mereka bukan saja memaksakan penggunaan Melayu Tinggi sebagai satu-satunya standar literatur yang “beradab”, tetapi juga menjadikannya sebagai instrumen kontrol atas apa yang boleh dibaca!

Lagipula, ketika aku menulis kalimat tanya “apakah ia (maksudnya: kau) juga luput membaca sejarah sastra Indonesia, sehingga tidak tahu bagaimana di luar politik literasi Balai Pustaka bentukan pemerintah Hindia Belanda, para penulis peranakan Tionghoa dan kaum Indo-Belanda ikut memberikan sumbangsih begitu besar bagi sastra (berbahasa) Indonesia melalui karya-karya mereka yang menggunakan bahasa Melayu Pasar?” ini, apakah aku sedang berbicara tentang caci maki dalam teks karya sastra Melayu Pasar atau sedang menjawab pernyataan dungu kau bahwa “Sejatinya, sastrawan sebagai ahli sastra, yang terlatih mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan—adalah anutan yang patut diteladani.”?!

Aku kutipkan, deh, teks tulisanku itu di sini supaya semua orang bisa membaca dengan jelas dalam konteks seperti apa aku mengatakan bahwa makhluk manipulatif macam kau ini luput membaca sejarah sastra Indonesia! Perhatikan baik-baik teks dalam tanda kurung (…) di bawah ini, ya, Subhan! Jangan kau pelintir lagi!

(Pernyataan lugu Subhan yang sok, bahwa “Sejatinya, sastrawan sebagai ahli sastra, yang terlatih mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan—adalah panutan yang patut diteladani” bagi saya telah menunjukkan secara jelas kepada kita betapa minimnya bacaan sastra orang yang mengaku sebagai “pegiat literasi dan pembaca buku-buku sastra” ini. Sehingga saya pun jadi bertanya-tanya, sebagai seorang pegiat literasi dan pembaca buku-buku sastra, buku sastra apa saja, sih, yang telah dibaca oleh dirinya? 

Mampukah ia menyebutkan satu judul saja novel kontemporer yang bersih dari “bahasa sehari-hari”? Tidak tahukah Subhan jika “bahasa sehari-hari” yang “ditakuti” olehnya itu telah lama dipakai oleh penulis seperti Mark Twain (1835-1910)? Apakah ia benar-benar tidak tahu sama sekali tentang novel-novel karya Mark Twain setenar The Adventures of Tom Sawyer (1876) dan The Adventures of Huckleberry Finn (1884) yang telah berulang kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh berbagai penerbit itu?

Apakah ia juga luput membaca sejarah sastra Indonesia, sehingga tidak tahu bagaimana di luar politik literasi Balai Pustaka bentukan pemerintah Hindia Belanda, para penulis peranakan Tionghoa dan kaum Indo-Belanda ikut memberikan sumbangsih begitu besar bagi sastra (berbahasa) Indonesia melalui karya-karya mereka yang menggunakan bahasa Melayu Pasar?)

Bahasa Melayu Pasar, termasuk yang dinamakan sebagai Bahasa Melayu-Tionghoa, yakni “varian Melayu Pasar yang dipergunakan oleh komunitas Tionghoa-Hindia dalam komunikasi keseharian (lisan maupun tulisan), yang banyak menyerap kosakata Sinitik (terutama dari dialek Hokkien)” itu bahasa sehari-hari atau bukan, wahai Subhan?

EMANGNYA dalam tulisanku di atas, aku “ada bilang juga” bahwa novel Mark Twain The Adventures of Tom Sawyer (1876) dan The Adventures of Huckleberry Finn (1884) mengandung caci maki? Aku tidak menyebut seperti itu, kan? Namun, yang aku katakan dengan jelas adalah bahwa kedua novel itu ditulis menggunakan “bahasa sehari-hari” American-English! Paham nggak kau, Buyan?!

Emangnya bahasa sehari-hari itu pasti dipenuhi caci maki?! Pelintiran kau ini amatiran sekali. Jadi jagoan neon sajalah kau. 

SUBHAN:

“Tahukah Sunlie bahwa para penulis peranakan Tionghoa seperti Kwee Tek Hoay atau Lie Kim Hok menggunakan bahasa Melayu Pasar bukan sebagai pembenaran untuk mengobral umpatan kasar? Sebaliknya, mereka menggunakannya karena bahasa itu adalah lingua franca yang inklusif, demokratis, dan hidup di tengah masyarakat urban kala itu. Menyamakan bahasa Melayu Pasar yang kaya dengan budaya caci maki hari ini adalah bentuk pseudo-sejarah yang sangat dipaksakan.

Jika mau jujur membaca sejarah, kekuatan sastra tidak pernah diukur dari seberapa patuh ia pada sensor kolonial Balai Pustaka, atau seberapa vulgar ia di jalur Melayu Pasar. Kekuatan sastra diuji pada estetika dan kedalaman visi kemanusiaannya.”

SUNLIE:

Nah, kau tahu soal “lingua franca”! Lingua franca itu bahasa komunikasi sehari-hari atau bukan?!

Kapan aku mengatakan bahwa “para penulis peranakan Tionghoa seperti Kwee Tek Hoay atau Lie Kim Hok menggunakan bahasa Melayu Pasar sebagai pembenaran untuk mengobral umpatan kasar”?! Di mana aku bilang begitu? Kau jangan memfitnahku lagi dengan pelintiran amatiran kau! Dan juga jangan sok tahu tentang Sastra Melayu-Tionghoa! Aku ini termasuk periset Sastra Melayu-Tionghoa yang mencari arsip sampai ke Leiden, Belanda.

Kutanya kau lagi, di mana aku menulis seperti yang kau tuduhkan ini, Subhan: “Menyamakan bahasa Melayu Pasar yang kaya dengan budaya caci maki hari ini adalah bentuk pseudo-sejarah yang sangat dipaksakan.”?! Di bagian mana tulisanku itu aku menyamakan bahasa Melayu Pasar dengan budaya caci maki hari ini, Dungu?

Jika mau jujur membaca sejarah, kekuatan sastra tidak pernah diukur dari seberapa patuh ia pada sensor kolonial Balai Pustaka, atau seberapa vulgar ia di jalur Melayu Pasar. Yang menyimpulkan bahwa “sastra diukur dari seberapa patuh ia pada sensor kolonial Balai Pustaka atau seberapa vulgar ia di jalur Melayu Pasar” ini sejenis Orang Gila. Aku tidak pernah mengatakan demikian, ini pelintiran keji ala Straw Man Fallacy yang sengaja mainkan karena kau tak punya argumen untuk menangkisku, wahai Belah Tengah!

Jadi, menurut kau, Bumi Manusia yang dalam narasinya terdapat makian “monyet” atau Paya Nie yang mengandung makian “Bapak Pukimak” itu tidak lolos ujian estetika dan kedalaman visi kemanusiaannya, ya?! Menurut kau, The Garlic Ballads karya Mo Yan yang mengangkat peristiwa “Insiden Bawang Putih” pada tahun 1980-an di Shandong, RRC14 itu juga tidak mengandung nilai estetika dan kedalaman visi kemanusiaan?!

Di bawah ini kita akan membuktikan kalau kau itu berdusta besar lewat referensi-referensi yang ia sebutkan.

SUBHAN:

“Kalau Sunlie berani objektif, mari bandingkan. Di jalur Balai Pustaka, kita punya roman Sitti Nurbaya (1922) karya Marah Rusli. Konflik kemarahan, kelicikan Datuk Maringgih, dan penindasan kolonial digambarkan dengan sangat menusuk, tajam, dan penuh intrik, namun tanpa satu pun kata makian murahan yang keluar dari naratornya. Estetikanya berdiri kokoh tanpa perlu mengemis pada kevulgaran.15”

SUNLIE: 

Apa?! Kau baca roman Sitti Nurbaya16 nggak, Subhan?! Siapa bilang sama kau bahwa tidak ada makian yang dari para narator novel karya Marah Rusli itu? Bahkan, dalam pembukaan tulisan usangku jargon “sastra santun” yang mengejek kalian itu, jelas-jelas aku sudah mengutip makian Datuk Maringgih terhadap Samsul Bahri yang berbunyi: “Rasailah pula olehmu bekas tanganku, hai anjing Belanda!”

Kendati novel ini terbit di bawah kontrol ketat Balai Pustaka, tapi pemerintah kolonial Belanda dan para editor di Balai Pustaka tampaknya juga takkan senaif kau dalam memaknai penggunaan caci maki pada dialog antar-karakter dalam novel, hoi Belah Tengah! Kau simaklah baik-baik kutipan-kutipanku ini: 

Setelah sejurus berdiam diri, berkatalah pula Samsulbahri dengan menyapu air matanya, yang tak dapat ditahannya, “Hai Datuk Meringgih! Sekaranglah akan kuperlihatkan kepadamu, bahwa ada lagi yang terlebih berkuasa daripada hartamu itu. Walaupun seratus kali lebih banyak hartamu dari yang ada sekarang ini, tiadalah akan dapat ia mengubah pikiranku, hendak membalas kejahatanmu itu dan tiadalah dapat ia menolong melepaskan engkau dari dalam tanganku. Terimalah olehmu hukumanmu!” lalu Samsu mengangkat pestolnya, menembak Datuk Meringgih. Tetapi tatkala itu juga Datuk Meringgih melompat ke muka, menetak Samsulbahri dengan parangnya, sambil berteriak, “Rasailah pula olehmu bekas tanganku, hai anjing Belanda!” (Sitti Nurbaya, hlm. 263)

“Anjing Belanda” ini bukan makian ya, Subhan?! 

Apakah hanya itu saja caci maki dalam novel Sitti Nurbaya? Tentu saja tidak! Akan aku kutipkan lagi. Kali ini berupa makian dari Samsul Bahri terhadap Datuk Maringgih setelah ia membaca surat dari kekasihnya Sitti Nurbaya yang penuh penderitaan:

Membaca kekejian ini, merah padamlah warna muka Samsu. Matanya sebagai berapi, urat keningnya membengkak dan sekujur badannya gemetar. Tangannya dikepalkannya sebagai hendak menerkam Datuk Meringgih, yang pada penglihatannya barangkali ada di mukanya. “Jahanam!” demikianlah perkataan yang keluar dari mulutnya, “Anjing tua yang tiada berbudi. Ingat rupa dan umurmu hendak meminta Nurbaya. Dengan hantu, patut engkau kawin!” (Sitti Nurbaya, hlm.116)

Jadi, menurut kau Subhan, kata-kata seperti “jahanam” dan “anjing tua” yang keluar dari mulut tokoh Samsul Bahri ini bukan caci maki vulgar, ya?1 Atau, kata-kata itu masih kurang vulgar menurut kau?! Hebat kau, Subhan. Salut aku pada kau! Berani betul kau berdusta!

Masih mau yang lain? Ada. Ini aku kutipkan untuk kau:  

“Jadi binatanglah sekalian laki-laki yang ada di Padang ini! Sebab sekaliannya beristri banyak. Hanya ia sendiri yang beristri seorang. Jika demikian katanya, sesungguhnyalah pikirannya telah bertukar dan otaknya telah miring. Barangkali telah termakan perbuatan orang, sehingga lupalah ia akan dirinya dan jalan yang benar,” sahut Sutan Hamzah, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. (Sitti Nurbaya, hlm. 60)

Ketika itu terperanjatlah Samsu dan Nurbaya, lalu berdirilah Samsu di muka Nurbaya akan melindunginya. Oleh sebab bencinya Samsu kepada Datuk Meringgih ini, karena teringat akan sumpahnya di Jakarta, tiadalah dapat ditahannya hatinya lagi lalu menjawab, “Tak perlu engkau berkata begitu! Bercerminlah engkau kepada badanmu sendiri! Adakah engkau sendiri berlaku sopan santun berhati lurus dan benar, tahu adat istiadat? Jika ada ibilis yang sejahat-jahatnya di atas dunia ini, tentu engkaulah ibils itu!” (Sitti Nurbaya, hlm. 152)

Hai Datuk durhaka! Kekayaanmu itu tiada memberi paedah kepada teman sejawatmu, sahabat kenalanmu, sesamamu manusia dan kepada dirimu sendiri sekalipun, melainkan mendatangkan segala bahaya, sengsara, duka nestapa kepada isi negeri. Tiada layak engkau dikurniai Tuhan senjata yang sekuat itu. (Sitti Nurbaya, hlm. 261)

“Apa katamu? Rumah dan sekalian barang ini, bukan harta ayahku, melainkan milikku sendiri, karena tertulis di atas namaku. Tiada siapa berkuasa atasnya, melainkan aku seorang. Kalau benar engkau laki-laki dan berkuasa atas rumah ini, cobalah kaukeluarkan aku dari sini!” lalu Nurbaya mengambil palang pintu, sambil berkata, “Tandanya aku berkuasa atas rumah ini, kuusir engkau seperti anjing dari sini. Bila lama juga engkau di sini, takkan tiada makanlah palang pintu ini kepalamu yang besar, sulah dan beruban itu,” lalu Nurbaya menghampiri Datuk Meringgih, sambil mengayunkan palang pintu ke kepalanya; tetapi lekaslah ia dipegang orang, disabarkan dengan perkataan yang lemah-lembut. (Sitti Nurbaya, hlm. 155)

SUBHAN:

“Sekarang mari lihat di luar Balai Pustaka, pada karya peranakan Tionghoa yang diagungkan Sunlie. Ambil contoh drama monumental Kwee Tek Hoay, Allah jang Palsoe (1921) atau roman Drama di Boeven Digoel (1928). Apakah karena mereka menggunakan Melayu Pasar lalu karyanya berisi caci maki jalanan yang banal? Sama sekali tidak! Kwee Tek Hoay mengkritik feodalisme, membongkar kemunafikan sosial, dan menggambarkan konflik batin tokoh-tokohnya dengan bahasa Melayu Pasar yang sangat terhormat, taktis, dan sarat perenungan filosofis.17”

SUNLIE:

Setelah memfitnah Marah Rusli bahwa beliau tidak menuliskan kata-kata umpatan vulgar dalam novel Sitti Nurbaya, sekarang kau mau memfitnah Kwee Tek Hoay pula?! Ini dusta, kebohongan, dan penipuan sekeji apa lagi, Subhan?

Seperti yang sudah aku katakan dalam tulisan usangku kemarin, tampaknya kau ini memang suka memfitnah orang-orang yang sudah meninggal dunia! Kualat kau ini!

Berikut akan aku perlihatkan buat kau dan semua orang kutipan dari teks naskah drama Allah jang Palsoe dan roman Drama di Boeven Digoel karya Kwee Tek Hoay itu. Buka kedua mata kau lebar-lebar, ya, Subhan?!

  1.  Kutipan-kutipan dari buku drama ALLAH JANG PALSOE cetakan Tjiong Koen Bie Electrische Drukkerij Batavia, 191918:

Kioe Lie (dengan aer moeka koerang senang): Tadi itoe koetsier bangsat bilang “traoesah bajar”. Bagoes betoel sekarang kaoe kasih oewang padanja. Patoetlah toekang-toekang sado disini begitoe koerang adjar, sebab banjak orang sematjem kaoe jang terlaloe kasih ati pada marika.
Kioe Gie: Boekan begitoe, sebab saja taoe itoe pembajaran jang enko kasih ada djaoe dari tjoekoep. (Hlm 32)

Kioe Lie (dengen sanget goesar, mata mendelik menghampiri sampe deket sekali pada KIOE GIE): Apakah kaoe bilang? Njonja djanda Tjio Tam Bing, anak dari toen Tan Kong Pa satoe millionair dan fabriekant goela, kaoe brani namaken satoe ……. satoe prampoean ……
Kioe Gie: Ja! satoe prampoean hina, saja bilang! sebab kaloe prampoean baek-baek ia tentoe merasa maloe aken menika lagi pada saorang lelaki jang sama shenja sedeng soeminja sendiri baroe meninggal satoe tao lamanya. (Hlm. 78)

Houw: Koerang adjar! mengapakah akoe moeti kasianin? biar dia mampoes akoe tiada perdoeli!
Sainan: Ai djangan begitoe, ‘nja besar! kaloe tida ada neng Omi brangkali djoeragan sekarang soeda tiada ada di ini doenia. (Hlm. 82)

  1.  Kutipan-kutipan dari novel DRAMA DI BOEVEN DIGOEL yang aku ambil dari Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (Jilid 3) Drama di Boven Digul terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, 200119:

“Hei, orang goblok, kerbo! Kalede! Bagimana kau bisa tahan sasama orang politie yang dateng di rumahnya Boekarim sacara recherche sabagi juga kau. Aku sudah dapet banyak sekalih katerangan dari hal maksudnya orang-orang communist yang aku hendak tuturken. Aku tahu dimana ada disembunyiken bom-bom dynamiet yang bakal digunaken di ini malem. Sekarang sedeng aku dateng hendak beriken itu kabar penting, kau tahan padaku seperti bangsat! Aku tida mengarti bagimana di hoofdbureau orang bisa berlaku begitu goblok!” (Hlm. 65)

“Tapi biarlah sekarang aku berentiken penuturan tentang itu lelaki idioot, hanya bicaraken saja sual-sual yang paling penting, kerna boleh jadi ini ada surat paling penghabisan yang aku tulis padamu dalem ini penghidupan. Aku hadepken ini masin tulis dengen hati terharu, kerna tida tau sampe kapan aku nanti bisa menulis lagi padamu. Sama kapal yang aken bakal sampe di sini laen bulan tentu bakal dateng pula suratmu yang berisi banyak nasehat dan pikiran baek hingga selalu membikin hatiku girang. Tapi sekarang itu surat pastilah aku tida bisa terima dan oleh postkantoor bakal dikirim balik padamu, ini ingetan membikin hatiku sedih. (Hlm. 617) 

Sekarang, aku tanya kau, Subhan: Kata-kata seperti “koetsier bangsat”, “koerang adjar”, “prampoean hina”, “mampoes”, “orang goblok”, “kerbo”, “kalede”, “bangsat”, “goblok”, dan “lelaki idiot” yang bertaburan dalam teks naskah drama Allah Jang Palsoe dan roman Drama di Boeven Digoel karya Kwee Tek Hoay itu tergolong sebagai umpatan/caci maki vulgar atau bukan, Subhan?!

Kau, kan, dengan pede dan yakin betul menyatakan bahwa drama monumental Kwee Tek Hoay, Allah jang Palsoe (1921) atau roman Drama di Boeven Digoel (1928) yang menggunakan Melayu Pasar itu “sama sekali tidak!” berisi caci maki jalanan yang banal? Tapi seperti yang telah aku kutip di atas, kok ternyata kedua karya Kwee Tek Hoay yang kau sebutkan itu isinya mengandung caci maki?!

Pertanyaanku selanjutnya: Kau sudah membaca betul-betul kedua karya Kwee Tek Hoay yang kau sebutkan dengan yakin itu belum? Atau, hanya asal cuap-cuap saja? Jangan-jangan kau ini berpikir bahwa aku dan orang-orang tidak memiliki kedua buku itu, sehingga kau bisa bebas berdusta seenak moncong kau, ya?!

“Kwee Tek Hoay mengkritik feodalisme, membongkar kemunafikan sosial, dan menggambarkan konflik batin tokoh-tokohnya dengan bahasa Melayu Pasar yang sangat terhormat, taktis, dan sarat perenungan filosofis20”. Aku tidak meragukan kualitas karya Kwee Tek Hoay karena aku membacanya. Tetapi kau harus mampu membuktikan sendiri kesimpulan kau ini!

SUBHAN:

“Jadi, membela caci maki dengan jubah ‘sejarah Melayu Pasar’ adalah apologi yang malas sekaligus penghinaan terhadap kualitas sastra peranakan itu sendiri. Sastra peranakan Tionghoa menyumbang saham besar bagi Indonesia bukan karena mereka menulis dengan ‘kasar’, melainkan karena mereka merekam denyut kehidupan masyarakat dengan jujur.21 Ketika seorang penulis seperti Sunlie yang soleha hari ini berlindung di balik sejarah Melayu Pasar hanya untuk melegitimasi diksinya yang miskin dan hantam-kromo, ia sebenarnya sedang gagal menjadi sastrawan di era modern, sekaligus gagal memahami warisan masa lalu.”

SUNLIE:

Kapan aku pernah “membela caci maki dengan jubah ‘sejarah Melayu Pasar’?! “Apologi yang malas sekaligus penghinaan terhadap kualitas sastra peranakan itu sendiri” ini telah nyata-nyata kau lakukan sendiri dengan fitnah kau terhadap karya Kwee Tek Hoay seperti yang telah aku buktikan di atas. Kau tidak membaca kedua karya itu, tapi berani-beraninya kau mengklaim bahwa kedua karya itu sama sekali tidak berisi caci maki/umpatan dalam teksnya! Itu namanya dusta!

Yang ngomong bahwa “sastra peranakan Tionghoa menyumbang saham besar bagi Indonesia karena mereka menulis dengan ‘kasar’” itu siapa?! Kau? Kau ini sebenarnya mau berdebat adu argumen dan adu data atau cuma mau bermain pelintiran saja?!

“Ketika seorang penulis seperti Sunlie yang soleha hari ini berlindung di balik sejarah Melayu Pasar hanya untuk melegitimasi diksinya yang miskin dan hantam-kromo, ia sebenarnya sedang gagal menjadi sastrawan di era modern, sekaligus gagal memahami warisan masa lalu.” Pada bagian mana dari tulisanku kemarin itu aku berlindung di balik sejarah Melayu Pasar?! Buktikan!

Jadi, menurut kau, penulis seperti Eka Kurniawan, Ida Fitri, dan Joni Ariadinata sedang gagal menjadi sastrawan di era modern, sekaligus gagal memahami warisan masa lalu?! Jadi, menurut kau, penulis seperti Mo Yan, Yu Hua, Arundhati Roy, J. D. Salinger, dan Salman Rushdie sedang gagal menjadi sastrawan di era modern, sekaligus gagal memahami warisan masa lalu?!

SUBHAN:

“Komentar Sunlie: “Tidak tahukah Subhan kalau karya sastra pada hakikatnya merupakan cermin kehidupan, yang memantulkan kembali wajah kita apa adanya (buruk rupa atau elok rupawan, berjerawat batu atau semulus pualam)??? Tidak pahamkah pula dirinya jika karya sastra seyogianya selalu merefleksikan wajah jaman maupun lokalitas latarnya?”  

Khotbah Sunlie tentang ‘sastra sebagai cermin zaman’ justru menelanjangi kedangkalan pemahamannya sendiri terhadap hakikat estetika. Jika tugas sastra hanya sekadar menjadi cermin yang memantulkan wajah zaman apa adanya—lengkap dengan ‘jerawat batu’ dan caci makinya yang vulgar—maka sastra tidak lagi dibutuhkan hari ini. Mengapa? Karena kamera CCTV, laporan berita kriminal, dan rekaman pertengkaran di media sosial jauh lebih jujur dan akurat dalam memantulkan realitas kasar itu daripada sebuah novel.”

SUNLIE:

Jadi, menurut kau, cara sastra merefleksikan kehidupan itu macam kamera CCTV, laporan berita kriminal, dan rekaman pertengkaran di media sosial, ya? Wow! Buyan kali kau ini! Pantas saja kau gagal terus jadi penulis sastra, cuma bisa nulis karya pop doang! 

Entahlah apakah kau bakal paham atau tidak, tapi ini mau aku kutipkan buat kau kata-kata Heru Joni Putra dalam tulisannya yang berjudul “Antisipasi Imajinasi Batak di Venice Biennale” dalam https://herujoniputra.substack.com/p/antisipasi-imajinasi-batak-di-venice biar kau lebih cerdas sedikit: “Fiksi bukan oposisi biner dari fakta, namun selalu berkaitan secara politis dengan fakta. Salah satu relasi politisnya adalah bahwa fiksi memproyeksikan posisi kita terhadap fakta, termasuk sejarah.”

Apa yang kau bualkan di atas itu asli 100x lebih mengerikan daripada klaim junjungan kau DJA beberapa waktu silam bahwa “film juga dapat dikategorikan sebagai sastra”!

Yang berkhotbah itu kau, Bloon. Aku memaki kedunguan kau. 

SUBHAN:

“Jika sastrawan hanya bertindak sebagai tukang fotokopi realitas yang banal, di mana letak kerja intelektual dan kreatifnya? Sastra yang agung tidak pernah menjadi cermin pasif yang buram. Sastra adalah lensa kristal. Ia menangkap realitas yang buruk rupa, menyaringnya melalui perenungan yang dalam, lalu memancarkannya kembali sebagai sebuah kesadaran baru yang menggugah jiwa, bukan malah membuat mual dengan reproduksi sampah verbal yang klise.”

SUNLIE:

“Membaca kekejian ini, merah padamlah warna muka Samsu. Matanya sebagai berapi, urat keningnya membengkak dan sekujur badannya gemetar. Tangannya dikepalkannya sebagai hendak menerkam Datuk Meringgih, yang pada penglihatannya barangkali ada di mukanya. “Jahanam!” demikianlah perkataan yang keluar dari mulutnya, “Anjing tua yang tiada berbudi. Ingat rupa dan umurmu hendak meminta Nurbaya. Dengan hantu, patut engkau kawin!” Jadi, menurut kau, narasi Marah Rusli ini gagal “menyaring realitas yang buruk rupa melalui perenungan yang dalam lalu memancarkannya kembali sebagai sebuah kesadaran baru yang menggugah jiwa”, ya?! Jadi sekarang bagi kau: Karena ia ternyata mengandung kata-kata umpatan vulgar, maka roman Sitti Nurbaya yang tampaknya cukup kau banggakan ini akhirnya “malah membuat mual dengan reproduksi sampah verbal yang klise”, ya?

Jadi, menurut kau, Marah Rusli itu “hanya bertindak sebagai tukang fotokopi realitas yang banal” ketika ia mendeskripsikan kemarahan Samsul Bahri lewat umpatan-umpatan kasar di atas?! Jawab!

SUBHAN:

“Mari kita buka kembali lembaran emas sejarah sastra Indonesia di era Balai Pustaka; roman Salah Asuhan (1928) karya Abdul Muis adalah salah satunya. Roman ini adalah puncak refleksi wajah zaman dan lokalitas latar yang paling genial pada masanya. Abdul Muis memotret benturan budaya Barat dan Timur, sebuah zaman transisi yang penuh gejolak psikologis, rasisme kolonial, kemarahan, dan frustasi batin yang luar biasa pada karakter Hanafi dan Corrie.22

Apakah untuk memantulkan ‘jerawat batu’ konflik rasial dan frustasi sosial tersebut Abdul Muis harus mengobral caci maki vulgar di sepanjang narasi? Sama sekali tidak! Jeritan zaman itu digambarkan dengan dialog-dialog yang tajam, metafora yang menusuk hati, dan ironi yang tragis. Abdul Muis membuktikan bahwa lokalitas Minangkabau dan Jakarta tempo dulu yang penuh ketegangan bisa dihadirkan dengan sangat hidup dan bertenaga tanpa perlu mengemis pada kosakata sampah jalanan.”

SUNLIE:

Kau ini memang bagak, Subhan! Memangnya semua novel, semua cerpen harus berisi kata-kata umpatan, padahal narasinya tidak menyediakan ruang dan konteks untuk itu? Jangan kau samakan realisme sastra dengan sekadar obral caci maki, dong! Sebuah karya sastra punya anatomi dan logikanya sendiri dalam realitas fiksi. Karakter, latar belakang sosial, peristiwa, hingga atmosfer ceritalah yang menentukan bagaimana tokoh-tokoh bertindak, berpikir, dan bercakap! Masa ketika Hanafi lagi bermesraan dengan Corrie, keduanya saling memaki?! Maksud akal dan sesuai konteks cerita nggak itu, Bloon?!

TAPI, saking bloonnya kau, kau malah menduga bahwa aku mengatakan “setiap karya sastra HARUS berisi caci maki!” PADAHAL, yang jelas-jelas aku katakan dalam tulisanku itu adalah penggunaan kosakata makian atau umpatan kotor oleh para sastrawan dunia adalah hal yang sangat wajar, sangat lumrah, sangat layak, sangat biasa, sangat umum, sangat boleh dalam teks-teks karya sastra! Masa seorang penulis dan pegiat literasi macam kau TIDAK BECUS MEMBEDAKAN antara HARUS ADA Makian dengan Wajar Ada Makian, Lumrah Ada Makian, Layak Ada Makian, Biasanya Ada Makian, Umumnya Ada Makian, dan Boleh Ada Makian?!

Emangnya kau mau memaksa tokoh Hanafi dalam Salah Asuhan menjadi tokoh Maman Gendeng dalam novel Cantik itu Luka?! Bedakan, dong, karakteristik dan latar belakang sosial kedua tokoh itu juga situasi kisah mereka, Bego!

Ini hanya kebodohan kau, ketidakmampuan kau menyimak teks, atau kau memang sengaja ingin memelintir apa yang telah aku ungkapkan dalam tulisanku, sih? Mau bermain licik demi meraih kemenangan debat, begitu?

Ini aku kutipkan lagi salah satu pernyataan dalam tulisan usangku. Semua pembaca baca baik-baik, ya?

“Bayangkan saja apabila dalam karya-karya di atas, kata-kata caci maki seperti “bastard”, “fuck your ancestors”, “bajingan tengik”, “sialan”, “anak jadah”, “keparat”, “tai”, “anjing busuk”, “bedebah Jawi”, dan “bangsat” harus disaring oleh para penulisnya lantaran semua kata-kata itu dianggap sebagai “bahasa sehari-hari” atau “bahasa pasar” yang kasar dan tidak santun!”

Bedakan, dong, antara “bahasa sehari-hari” atau “bahasa pasar” yang kasar dan tidak santun seperti contoh-contoh makian di atas dengan “bahasa sehari-hari” atau “bahasa pasar” yang biasa saja seperti “Lu mau beol kagak ntar sore?” 

Ini kau memang benar-benar tidak paham atau hanya berpura-pura tidak paham demi bermain cacat logika Strawman?! Buktinya dalam ocehan usang kau dulu itu kan kau telah secara sembrono menyatakan bahwa semua “bahasa sehari-hari” itu pasti kasar alias “bahasa pasar tanpa saringan”! Cek: “Sejatinya, sastrawan sebagai ahli sastra, yang terlatih mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan—adalah anutan yang patut diteladani. Teladan, bukan saja merujuk pada keindahan tutur gaya bahasa yang ditulisnya, mutu karya itu, tetapi juga pada kesantunan dalam menimbang setiap persoalan yang tengah terjadi.”

Sekali lagi: Emangnya bahasa sehari-hari itu pasti dipenuhi oleh caci maki?!

Anehnya lagi kau di sini kemudian mati-matian mengklaim bahwa “Kwee Tek Hoay mengkritik feodalisme, membongkar kemunafikan sosial, dan menggambarkan konflik batin tokoh-tokohnya dengan bahasa Melayu Pasar yang sangat terhormat, taktis, dan sarat perenungan filosofis”. Anjrit, orang kayak kau ini nggak malu menelan ludah sendiri!

Kau sendirilah yang awalnya menyatakan “bahasa sehari-hari alias bahasa pasaran itu harus disaring” terlebih dahulu oleh sastrawan, eh kau pula yang kemudian mengatakan bahwa “bahasa pasar seperti Bahasa Melayu Pasar bukanlah bahasa kasar penuh caci maki” sembari menuduh orang lain telah mengatakan bahwa “Melayu Pasar itu penuh dengan cacian”! Emangnya bahasa Melayu Pasar itu bukan termasuk bahasa sehari-hari? Aneh sekali orang ini.

Agaknya kau ini kebingungan untuk membedakan mana bahasa sehari-hari secara umum dan mana bahasa kasar seperti makian yang biasa dipergunakan dalam keseharian di masyarakat. Serta kebingungan untuk menentukan mana yang disebut dengan “bahasa sehari-hari” dalam karya sastra (misalnya bahasa Hinglish Hibrid dengan gaya slang Bombay yang biasa dipergunakan Salman Rushdie dalam narasi novel-novelnya) dan mana pula kosakata umpatan/makian yang kerap dipakai oleh para sastrawan (termasuk juga Rushdie) lewat tokoh-tokoh fiksinya sesuai dengan konteks cerita dalam realitas (baca: kehidupan) fiksi itu sendiri.  

Lagian, kenapa, sih, si kau ini “ngebet banget” memaksa sastrawan di seluruh dunia untuk menyaring kata-kata kasar dari teks yang mereka tulis? Kok Mo Yan, Mas Joni, Ida Fitri, Salman Rushdie, Mas Triyanto, Yu Hua, Marah Rusli, dan Kwee Tek Hoay tidak  menyaringnya, ya?! Apakah dengan demikian, karya-karya mereka pun—menurut perspektif dungu kau—serta merta menjadi karya yang buruk?

Kukutipkan lagi buat kau kata-kata makian vulgar dalam karya sastra dunia, kali ini dari salah satu novel terkenal Salman Rushdie, The Moor’s Last Sigh:

‘You laad-sahibs,’ he said, contemptuously sending a long jet of bright vermilion sputum towards my bare feet. ‘You live in the city and know nothing of its secret, of its heart. To you it is invisible, but now you have been made to see. You are in Bombay Central lockup. It is the stomach, the intestine of the city. So naturally there is much of shit.’
‘I know the Bombay Central area,’ I protested. ‘Railway stations, dhabas, bazaars. I found no place resembling this.’
‘A city does not show itself to every bastard, sister-fucker, motherfucker,’the elephant man shouted before slamming the window shut. ‘You were blind, but now wait and see.’23

Emangnya siapa yang memaksa “Abdul Muis harus mengobral caci maki vulgar di sepanjang narasi”? Mana ada di dunia ini novel maupun cerpen yang sepanjang narasinya dipenuhi oleh caci maki vulgar?! Itu novel atau cerpen apaan? Caci maki-caci maki vulgar, ya, jelas tidak mungkinlah dilontarkan oleh Samsul Bahri kepada sang kekasih Sitti Nurbaya dan begitu pula sebaliknya! Tetapi, lontaran berbagai makian kasar itu jelas merupakan hal yang sangat wajar keluar dari mulut Samsul Bahri ketika ia berhadapan dengan Datuk Maringgih, begitu juga sebaliknya! Paham kau?!

Kenapa seorang sastrawan (maupun penulis pop) mesti “mengemis pada kosakata sampah jalanan” jika konteks cerita yang mereka tulis itu memang tidak membutuhkan kosakata makian?! Emangnya makian itu definisinya kosakata sampah jalanan, ya? Berarti Marah Rusli pakai kosakata sampah jalanan dong ketika tokoh Samsul Bahri memaki “jahanam” atau “iblis” kepada Datuk Maringgih?

Lagipula, siapa bilang kalau Abdul Muis tidak menggunakan kosakata kasar seperti “mampus”, “pasop kowe”24, dan “setan” dalam novel Salah Asuhan25, kendati kata-kata kasar tersebut dilontarkan oleh para tokoh dalam konteks yang berbeda, yakni dalam situasi bercanda yang akrab? Nih, simak baik-baik:

“Eh, anakku mampus, lakinya kude!”
Corrie gelak terbahak-bahak.
“Nah! …. guwe kate ape, mampus lu… eh, lu mampus katenye … eh, Non, Non, Non, apa lu mau keye orang tue mampus … nah Cor, kliwatan lu jadi orang!” (Salah Asuhan, hlm. 169)
Corrie berkata dengan suara keras, “Pasop kowe, Mina, segala kotoran ada di ubin!”
Tante Lien: “Pasop kowe, Mina, segala kotoran ada di ubin.”
Corrie: “Nanti lu guwa bikin mampus!”
Tante Lien: “Nanti lu guwa bikin mampus!”
Corrie: “Eh, setan!”
Tante Lien: “Eh, setan!”
Corrie: “Guwa hajar lu sama slop!” lalu Corrie mengangkat slop rumputnya, dilemparkannya kepada Mina. (Salah Asuhan, hlm. 170)

Nah, kau keliru lagi kan, Subhan?! Barangkali setelah membaca dialog dalam novel Salah Asuhan yang aku kutipkan ini atau setelah kau memeriksanya sendiri di buku biar kau yakin aku tidak berdusta padamu, kau akan berkata hati, “Untuk apa, sih, Abdul Muis menggunakan kata-kata tidak beradab seperti itu dalam sebuah adegan bercanda? Apa ia tidak bisa memakai kata-kata lain yang lebih santun? Kenapa ia sampai harus menuliskan adegan bercanda semacam itu?” 

Tapi itu bukan urusanku, Subhan! Kau berpikirlah sendiri.

SUBHAN:

“Berlindung di balik jargon ‘cermin kehidupan’ untuk melegitimasi diksi yang miskin dan hantam-kromo hanyalah apologi dari seorang penulis yang malas melakukan sublimasi estetika. Sastra bukan tempat sampah untuk menampung seluruh umpatan zaman. Ketika seorang penulis gagal mengangkat lokalitas dan realitas sosial menjadi sebuah karya seni yang tinggi, ia sebenarnya tidak sedang merefleksikan zaman, sebaliknya ia sedang menelanjangi ketidakmampuannya sendiri dalam mengolah bahasa.”

SUNLIE:

Jadi, menurut kau, diksi-diksi umpatan yang digunakan oleh Marah Rusli, Kwee Tek Hoay, dan Abdul Muis sesuai dengan konteks peristiwa fiksi dalam karya mereka itu merupakan “diksi-diksi yang miskin dan hantam kromo”, yang “hanyalah apologi dari para penulis yang malas melakukan sublimasi estetika”? Sehingga dengan demikian, ketiganya pun “gagal mengangkat lokalitas dan realitas sosial menjadi sebuah karya seni yang tinggi”? Atau, dengan kata lain: Dengan adanya diksi-diksi umpatan tersebut dalam karya mereka, Marah Rusli, Kwee Tek Hoay, dan Abdul Muis—menurut kau—“sebenarnya tidak sedang merefleksikan zaman, tetapi sebaliknya menelanjangi ketidakmampuan mereka sendiri dalam mengolah bahasa”?! Jangan lupa kau jawab. 

SUBHAN:

“Komentar Sunlie: “Jika Subhan benar, bahwa pertaruhan “mutu (sebuah) karya” sastra terletak pada “keindahan tutur gaya bahasa” dan bahwa seorang penulis sastra mesti “mengolah kata yang bukan bahasa sehari-sehari—bukan bahasa pasaran tanpa saringan”, maka sudah bisa diperkirakan seperti apa nantinya teks-teks karya sastra Indonesia yang bakal dihasilkan di bawah jargon konyol itu! Dan jika hal itu sampai terjadi, tamatlah sudah sastra Indonesia, bahkan sastra dunia!”

Ramalan Sunlie tentang ‘tamatnya sastra Indonesia dan dunia’ akibat penyaringan bahasa adalah sebuah melodrama intelektual yang menggelikan. Jika membiarkan bahasa pasaran tanpa saringan masuk secara brutal ke dalam teks adalah satu-satunya cara menyelamatkan sastra, maka tamatlah fungsi sastrawan. Jika bahasa yang ditulis sama persis dengan bahasa yang didengar di terminal, di pasar, atau di kolom komentar media sosial, untuk apa publik masih perlu membaca karya sastra? Sastra dunia bertahan hidup selama berabad-abad justru karena ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh realitas jalanan: yaitu keindahan tutur dan kedalaman bahasa yang telah disublimasikan.”

SUNLIE:

Ck, ck, ck! Ya, jelas tamatlah sastra Indonesia maupun dunia jika karya-karya yang disebut sebagai karya sastra itu macam karya-karya munafik kau dan yang sejenis karya kau. Padahal itu cuma karya pop jelek doang! Ya, jelas tamatlah sastra Indonesia maupun dunia jika para pembaca tak bisa lagi menemukan karya-karya dahsyat macam karya Mo Yan, Idrus, Salman Rushdie, Gabriel Garcia Marquez, Yu Hua, Pramoedya Ananta Toer, dan Marah Rusli yang membiarkan bahasa pasaran tanpa saringan masuk secara brutal ke dalam teks karya-karya mereka sesuai konteks realitas fiksi!

“Jika bahasa yang ditulis sama persis dengan bahasa yang didengar di terminal, di pasar, atau di kolom komentar media sosial, untuk apa publik masih perlu membaca karya sastra? Sastra dunia bertahan hidup selama berabad-abad justru karena ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh realitas jalanan: yaitu keindahan tutur dan kedalaman bahasa yang telah disublimasikan.” Tampaknya kau harus pergi berziarah ke makam Marah Rusli dan bertanya di depan nisan beliau, kenapa ia menggunakan kata-kata makian kasar seperti “jahanam” dan “anjing tua” dalam teks roman Sitti Nurbaya, Subhan. Jangan kau nyasar ke kuburan palsu Sitti Nurbaya, ya?

SUBHAN:

“Sunlie tampaknya gagal membedakan antara ‘bahasa sehari-hari’ sebagai objek tangkapan realitas, dengan ‘proses penyaringan’ sebagai kerja estetika penulis. Menyaring bahasa bukan berarti mensterilkan karya menjadi teks yang kaku dan munafik. Menyaring bahasa adalah kerja intelektual untuk menemukan diksi yang paling presisi, tajam, dan memiliki daya magis agar konflik yang digambarkan terasa menusuk hingga ke tulang sumsum pembaca.26”

SUNLIE:

Di catatan kaki kau kau menyebut pernyataan kau di atas itu merujuk kepada teks esai27 Eliot, Thomas Stearns. (1919). “Tradition and the Individual Talent”. The Egoist. Esai ini mengupas konsep depersonalisasi seni dan pentingnya distansi estetik (jarak estetis) penulis terhadap luapan emosi mentahnya.”

What?! Emangnya di bagian mana dalam teks esainya “Tradition and the Individual Talent”, T.S. Eliot menulis dengan maksud seperti yang kau klaim di atas?! Kau jangan ngarang bebas untuk berdusta dan memfitnah T.S. Eliot! Coba kau kutipkan teks Inggris dari esai Eliot itu kalau kau berani! Asal klaim saja kau! Apa kau nggak malu menghalalkan dusta dan penipuan semacam ini cuma karena kau ingin memenangkan debat denganku?!

Dengan getol, kau menulis tentang menyaring bahasa sehari-hari, pemilihan diksi yang presisi, dan daya magis kata-kata, sementara Eliot di esainya itu sama sekali tidak pernah membicarakan soal diksi atau estetika permukaan bahasa! Eliot sedang berbicara tentang “kesan dan pengalaman” (impressions and experiences)—yaitu bagaimana peristiwa hidup penyair berubah menjadi medium puisi! Kau berbicara tentang stilistika; Eliot berbicara tentang epistemologi penciptaan! Ini dua ranah yang sama sekali berbeda! Ini, mah, kayak mau mengklaim bahwa teori relativitas Einstein berbicara tentang resep masakan bae!

Ini aku kutipkan kata-kata Eliot dari esainya di atas: “the poet has, not a ‘personality’ to express, but a particular medium, which is only a medium and not a personality, in which impressions and experiences combine in peculiar and unexpected ways. Impressions and experiences which are important for the man may take no place in the poetry, and those which become important in the poetry may play quite a negligible part in the man, the personality.”

Di bagian mana teks Eliot ini yang mendukung pernyataan dungu kau?!

Pengakuan kau yang menyatakan bahwa argumen kau mengenai “proses penyaringan bahasa sehari-hari” itu berhulu atau merujuk pada diktum T.S. Eliot dalam “Tradition and the Individual Talent”—khususnya bagian “the poet has, not a ‘personality’ to express, but a particular medium…”—adalah sebuah lompatan logika yang fatal sekaligus bentuk penyesatan teoretis (misreading)! Kau bukan mau menipu, kau tampaknya mengalami distorsi pemahaman yang akut dalam membedakan antara psikologi penciptaan (impersonalitas emosi) dengan teknik pertukangan bahasa (stilistika diksi)!

Ayo kita tengok cacat nalar kau yang amat mendasar ini!

(1) Reduksi Norak kau atas Teori Impersonalitas: Ketika Eliot menyebut pikiran penyair sebagai “particular medium” tempat bertemunya “impressions and experiences,” ia sedang merumuskan manifesto tentang depersonalisasi emosi. Ia menegaskan bahwa puisi yang paripurna haruslah memisahkan secara total antara “manusia yang menderita” (the man who suffers) dengan “pikiran yang mencipta” (the mind which creates)! Tapi oleh kau, teks ini kau degradasi secara dangkal menjadi sekadar persoalan teknis penyaringan diksi dan bahasa sehari-hari! Menyamakan “peleburan pengalaman hidup” versi Eliot dengan “filterisasi kosakata jalanan” adalah sebuah simplifikasi yang sangat menggelikan!

(2) Sesumbar kau mengenai benturan antara ‘bahasa sehari-hari’ sebagai objek realitas dengan ‘proses penyaringan estetika’ untuk mencari diksi yang tajam dan magis, sesungguhnya adalah wilayah perdebatan kaum Romantik atau kaum Imajis! T. S. Eliot dalam esai kanoniknya di atas sama sekali tidak sedang merisaukan urusan linguistik sehari-hari! Menggunakan esai “Tradition and the Individual Talent” sebagai legitimasi atas teori penyaringan bahasa sehari-hari adalah tindakan yang salah alamat secara tematik! Jelas di sini, kau tampaknya sekadar mengidap “confirmation bias”: kau punya asumsi sendiri tentang estetika bahasa, lalu mencatut kutipan Eliot yang terdengar mentereng demi mendongkrak otoritas tulisan kau, tanpa peduli pada konteks asli teks yang kau jarah itu! Ini jenis penipu yang tak tahu diri!

(3) Kau melakukan pembalikan logika! Eliot menggunakan metafora ilmiah Katalis Platina untuk menjelaskan bahwa proses kombinasi impresi dalam pikiran penyair terjadi secara “peculiar and unexpected ways” (aneh, tak terduga, dan organik di bawah sadar). Bagi beliau, pikiran penyair cuma sebuah wadah pasif tempat reaksi kimia itu berlangsung. Tapi sebaliknya bagi kau, teks Eliot justru mengklaim proses tersebut sebagai “kerja intelektual untuk menemukan diksi yang paling presisi”! Padahal istilah kerja intelektual menemukan diksi mengandaikan adanya aktivitas sadar, mekanis, dan kalkulatif—sebuah konsep pertukangan (craftsmanship) yang justru ditolak oleh Eliot lewat teori impersonalitasnya!

    Ini  aku kasih tautan esai Eliot itu di sini agar semua orang dapat membacanya sendiri: https://tseliot.com/essays/tradition-and-the-individual-talent

    Jadi, wahai Belah Tengah! Pernyataan kau sebagai penulis yang mengaku merujuk pada Eliot adalah tidak akurat dan menyesatkan! Kalau ini sebuah karya ilmiah, tentu saja catatan kaki kau itu harus dicabut! Dan kalau ini sebuah esai populer, maka kau telah melakukan misinterpretasi yang sangat keterlaluan terhadap seorang pemikir besar! Kusarankan kau baca ulang seluruh isi teks esai Eliot itu dari halaman pertama sampai halaman terakhir! Ini bukan soal perbedaan interpretasi; ini soal kegagalan paling dasar dalam memahami teks! Itu pun kalau kau memang bukan dengan sengaja mau memelintirnya seenak jidat kau, ya?

    Jangan kau mencatut nama Eliot untuk memberi “baju akademis” pada tulisan kau macam ini! Ini praktik penulisan yang tidak etis—mengambil konsep “medium” dari Eliot, lalu kau paksa-paksakan ke dalam kerangka berpikir kau tentang “pemilihan diksi”, sehingga menghasilkan referensi yang sangat dipaksakan (forced reference)! Kau itu sebetulnya tidak baca Eliot. Dan kalau pun memang kau baca, kau hanya sengaja mengabaikan teks utamanya demi mendukung “jargon sastra santun” kau!

    “Sunlie tampaknya gagal membedakan antara ‘bahasa sehari-hari’ sebagai objek tangkapan realitas, dengan ‘proses penyaringan’ sebagai kerja estetika penulis” jadi nurut kau, sebetulnya boleh nggak para sastrawan menggunakan bahasa sehari-hari sebagai tangkapan realitas dalam karya-karyanya?

    Yang gagal membedakan itu bukannya diri kau sendiri? Lagipula, di mana aku mengatakan bahwa dalam kerja sastra tidak boleh melakukan “proses penyaringan”?! Mau melintir?! Mau fitnah? Mana ada di dunia ini karya sastra yang tidak melewati “proses penyaringan”?! Kata-kata makian yang muncul dalam karya-karya Mo Yan, Salman Rushdie, Eka Kurniawan, Marah Rusli, Idrus, Pramoedya Ananta Toer, dll. tentu saja sudah melewati “proses penyaringan” oleh para penulisnya ketika karya-karya itu sedang ditulis dan disunting, Bloon!

    SUBHAN:

    “Jika Sunlie butuh bukti sejarah bagaimana prinsip penyaringan kata ini justru melahirkan mahakarya abadi dan bukannya menamatkan sastra, mari kita bedah roman Dian yang Tak Kunjung Padam (1930) karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA) era Balai Pustaka. Dalam roman tersebut, STA memotret benturan kelas sosial yang sangat kejam antara Yasin yang miskin dan Molek yang bangsawan di Palembang. Ketegangan sosial, keputusasaan, kemarahan terhadap adat, dan patah hati yang teramat dalam digambarkan dengan sangat hidup.28

    Apakah STA menggunakan bahasa pasaran tanpa saringan atau umpatan kasar jalanan untuk menggambarkan kepedihan dan ketidakadilan itu? Sama sekali tidak! STA dengan sadar memilih dan mengolah tutur gaya bahasa yang indah, puitis, namun sekaligus sangat bertenaga.

    Resultannya? Roman itu tidak menamatkan sastra Indonesia; ia justru menjadi salah satu batu penjuru yang memperkokoh fondasi sastra modern kita. Karya itu membuktikan bahwa rasa sakit, amarah, dan protes sosial yang paling radikal sekalipun justru berlipat ganda kekuatannya ketika disampaikan melalui bahasa yang disaring dengan kecerdasan estetika yang tinggi.”

    SUNLIE:

    Kau yakin dalam Dian yang Tak Kunjung Padam (1930) karya Sutan Takdir Alisjahbana tidak ada “bahasa pasaran tanpa saringan” alias “umpatan kasar jalanan” untuk menggambarkan kepedihan dan ketidakadilan dalam romannya itu? Tapi kali ini kau beruntung, karena aku tidak menyimpan roman itu sehingga tidak bisa kukutipkan apa pun untuk kau dan orang-orang. Namun, sebagai gantinya, akan kutunjukkan kepada kau betapa banyaknya kata-kata makian vulgar dalam roman Sengsara Membawa Nikmat (1929) karya Tulis Sutan Sati29 berikut ini. Baca baik-baik semuanya, ya?

    “Sekarang nyata, bahwa Midun musuhku,” kata Kacak dalam hatinya. “Sudah engkau lukai mamakku, engkau bebat. Maksudmu tentu supaya kami jangan marah. Kurang ajar sungguh! Hati-hati engkau, besok dapat bagian daripadaku. Bila Tuanku Laras pulang dari Bukittinggi, kuceritakan hal itu kepadanya. Anak si peladang jahanam, berani melukai pamili raja di kampung ini?!” (Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 39-40)

    Setelah Midun masuk ke dalam, orang lain disuruh pergi. Maka Tuanku Laras bertanya pula dengan marahnya, “Berani benar rupanya awak memukul orang gila, sampai luka-luka. Apa yang awak sakitkan hati kepada Pak Inuh yang tak sempurna akal itu? Kurang ajar betul awak, ya kerbau!” (Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 41)

    “‘Memang engkau musuhku, jahanam!” ujar Kacak dengan bengis. “Engkaulah yang mengasut orang benci kepadaku. Engkau hendak jadi raja di kampung ini, binatang!”

    Dengan marah amat sangat Midun dipukul, ditinju dan diterajangkan oleh Kacak. Dibalaskannya sakit hatinya yang selama ini. Untunglah hal itu lekas dilihat Tuanku Laras dari beranda kantor. Tuanku Laras segera memisahkan, dan berkata, “Hendak membunuh orang engkau, Kacak?” (Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 44-45)

    “Kurang ajar, berani engkau berkata begitu kepadaku?” ujar Kacak dengan marah. “Engkau kira saya ini patung saja, tidak tahu menolong istri dalam bahaya? Lancang benar mulutnya menghinakan daku, seorang kemanakan Tuanku Laras, di muka khalayak sebanyak ini. Hendak engkau rasai pulakah tanganku sekali lagi?” (Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 50)

    “Jika benar engkau saya katakan kurang ajar, apa pikiranmu, anjing!” ujar Kacak dengan sangat marah. “Akan saya sembahkah engkau hendaknya, binatang! ” (Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 50)

    Kacak melompat hendak menyerang Midun, tetapi ditahan orang, lalu disabarkan. Makin disabarkan, makin jadi, diperkitarkitarkannya orang yang memegang dia. Orang banyak berkerumun melihat pertengkaran Kacak dengan Midun. Midun tidak dapat lagi menahan hati. Apalagi mendengar perkataan “binatang” dan “anjing” itu di muka orang banyak. Ada juga ia hendak menyabarkan hatinya, tetapi tiada dapat. Maka ia pun berkata, “Lepaskanlah saudara-saudara, tak usah disabarkan lagi! Sanak saudara sekalianlah yang akan menjadi saksiku kelak, bahwa saya dalam ha1 ini tidak bersalah. Terlalu benar, sementang kemanakan Tuanku Laras. Datangilah Kacak, lepaskan dendammu! Menanti atau mendatang?” (Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 50)

    Sesudah belenggunya dibuka tukang kunci, dengan segera Midun mengambil uang dalam saku baju, banyaknya Rp 15.- lalu diberikannya kepada tukang kunci itu. Pakaiannya ditukar dengan pakaian orang hukuman. Setelah itu Midun menurutkan tukang-kunci dari belakang. Sampai di muka kamar, tukang-kunci berkata pula, “Masuk, binatang! Lekas, anjing!” (Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 92-93)

    Midun diam saja, telinganya amat sakit ditarik mandur itu. Jika dia tidak mandur, tentu Midun rnelawan agaknya. Mula-mula Midun disuruh mandur itu membongkar tahi di kakus. Midun enggan mengerjakannya, tetapi karena ancaman dikerjakannya juga pekerjaan itu. Sehari-harian itu Midun bekerja paksa. Tak sedikit jua ia dapat berhenti melepaskan lelah. Asal saja ia berhenti sebentar, mandur itu sudah menghardik. Diancamnya Midun dengan perkataan, manakala tidak bekerja, hukumannya akan ditambah. Hanya waktu makan saja ia dapat berhenti. Pekerjaan yang dikerjakan Midun sehari itu pekerjaan berat dan hina pula. Seakan-akan disengaja orang ia kerja paksa sehari itu. Petang hari Midun amat letih. Ketika orang hukuman itu berbaris pula, Midun hampir tidak kuat berjalan lagi. Sedang ia bertinggung, tiba-tiba datang seorang-orang yang besar tinggi kepadanya, lalu berkata, “Hai anjing, berani engkau menggantikan tempat duduk saya? Ayuh, pergi!” (Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 97-98)

    Ketika Midun hendak membuka rantang, tiba-tiba bahunya ditarik orang dari belakang dengan kuat. Sambil menghardik orang itu berkata, “Eh binatang, engkau tidak tahu orang hukuman sekali-kali tidak boleh bercakap dengan orang pereman? Berani sungguh, itu siapa? Ingat! hukumanmu boleh bertambah lagi!” (Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 110)

    “Benar, sama dengan di sini. Sungguh berbahaya benar perempuan-perempuan jahat itu. Tidak sedikit orang yang telah menjadi korban penyakit itu. Di Betawi lebih-lebih lagi yang buta, buta juga, anggotanya pun banyak yang rusak. Sungguh berbahaya benar penyakit jahanam itu.” 

    “Sebenarnyalah perkataan Engku itu. Di sini pun begitu pula. Bahkan banyak hotel di sini dipergunakan untuk itu saja. Dipelihara di situ perempuan-perempuan dukana itu, untuk pemuaskan hawa nafsu orang yang baru datang atau yang ada di negeri ini. Seolah-olah sengaja rupanya orang memperkembang biak penyakit keparat itu.”

    “Benar, kalau begitu sama keadaannya dengan Betawi. Hal ini tidak boleh sekali-kali dibiarkan. Patut benar Pemerintah berikhtiar, supaya musna kupu-kupu malam yang berkeliaran di kota-kota di tanah Hindia ini.” (Sengsara Membawa Nikmat, hlm. 180)

    Apakah menurut kau, Tulis Sutan Sati ini bukanlah seorang sastrawan besar era Balai Pustaka, lantaran ia telah menggunakan “bahasa pasaran tanpa saringan atau “umpatan kasar” jalanan untuk menggambarkan kepedihan dan ketidakadilan” yang dialami oleh tokoh utama Midun dalam romannya itu?!

    Kau bilang, bahwa: “Resultannya? Roman itu [“Dian yang Tak Kunjung Padam”] tidak menamatkan sastra Indonesia; ia justru menjadi salah satu batu penjuru yang memperkokoh fondasi sastra modern kita. Karya itu membuktikan bahwa rasa sakit, amarah, dan protes sosial yang paling radikal sekalipun justru berlipat ganda kekuatannya ketika disampaikan melalui bahasa yang disaring dengan kecerdasan estetika yang tinggi.” Aku tanya kau: Emangnya roman Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati itu bukanlah “salah satu batu penjuru yang memperkokoh fondasi sastra modern kita”???

    Apakah kau hendak mengatakan bahwa Sengsara Membawa Nikmat telah gagal menyampaikan rasa sakit, amarah, dan protes sosial melalui bahasa yang disaring dengan kecerdasan estetika yang tinggi lantaran dalam romannya itu Tulis Sutan Sati tidak membuang kata-kata makian vulgar seperti “jahanam”, “kerbau”, “anjing”, dan “binatang”?!

    SUBHAN:

    “Ketakutan Sunlie terhadap keindahan tutur gaya bahasa sebenarnya hanyalah apologi dari seorang penulis yang enggan memeras keringat kreatifnya untuk mengolah kata. Menuduh proses penyaringan bahasa sebagai pembunuh sastra tak ubahnya seperti seorang koki yang malas memasak, lalu menuduh proses penyaringan bumbu sebagai tindakan yang merusak keaslian rasa bahan makanan. Sastra dunia tidak akan tamat karena bahasanya indah; ia justru mati ketika para penulisnya kehilangan imajinasi dan memilih jalan pintas berupa kevulgaran yang klise.”

    SUNLIE:

    Jadi menurut kau, ketika seorang Tulis Sutan Sati itu memakai kata-kata makian seperti “anak si peladang jahanam”, “kerbau”, “anjing”, “binatang”, dan lain-lain, berarti ia “enggan memeras keringat kreatifnya untuk mengolah kata” ya?! Sehingga dengan demikian, apa yang dilakukan oleh Tulis Sutan Sati lewat roman Sengsara Membawa Nikmat itu justru membuat sastra dunia mati? Oleh sebab itu—menurut kau pula—Tulis Sutan Sati sebagai penulis telah “kehilangan imajinasi dan memilih jalan pintas berupa kevulgaran yang klise”?! Begitu?! 

    Kau jangan kabur dari pertanyaan-pertanyaanku ini, ya? Ini harus kau jawab!

    Kau bilang bahwa “Ketakutan Sunlie terhadap keindahan tutur gaya bahasa” Ini sebuah fitnah keji yang dengan sadar kau gunakan untuk mengarahkan opini pembaca awam. Emangnya di mana aku takut pada bahasa indah dan kapan aku pernah menyatakan bahwa aku takut pada bahasa indah? Apa buktinya kalau aku takut pada bahasa indah? Bisa kau buktikan kalau karya-karyaku (puisi, cerpen, novel) mengandung ketakutan terhadap keindahan tutur gaya bahasa? Coba kau tunjukan fitnah kau ini padaku! Ini cerpen-cerpen dan puisi-puisiku yang bisa kau akses secara online di https://ruangsastra.com/category/sunlie-thomas-alexander/.

    Jadi, kalau bagiku keberadaan/kehadiran kata-kata makian dalam karya sastra itu merupakan hal yang teramat wajar sesuai dengan konteks peristiwa fiksional, berarti aku takut terhadap keindahan tutur gaya bahasa, begitu?!

    Karena kau pribadi menolak penggunaan kata-kata makian vulgar dalam karya, maka para sastrawan yang menggunakan kata-kata caci maki dalam karya-karyanya, misalnya Tulis Sutan Sati dan Marah Rusli, kau anggap takut terhadap keindahan tutur gaya bahasa?! Luar biasa kau, Subhan!

    Bagaimana kau bisa dengan begitu dungunya menyimpulkan bahwa seorang penulis yang tidak mengharamkan keberadaan/kehadiran kata-kata makian dalam karya sastra itu sama dengan penulis yang takut pada  keindahan tutur gaya bahasa? Di mana aku pernah mengatakan bahwa dalam karya sastra tidak boleh menggunakan keindahan tutur gaya bahasa? Di mana aku pernah mengatakan bahwa karya sastra hanya boleh menggunakan caci maki dari awal sampai akhir???

    Kalau kau tidak paham apa yang telah kukatakan dalam tulisan usangku yang kau tanggapi itu, maka aku jelaskan ke kau baik-baik, ya? Simak benar-benar, apa penjelasanku ini: “Tentu saja kata-kata makian tidak perlu ada dalam sebuah karya, jika karya itu memang tidak memberikan ruang dan alasan untuk keberadaan kata-kata makian dalam konteks kisahnya! Tetapi kata-kata makian itu bisa saja menjadi hal yang amat niscaya ada jika konteks peristiwa fiksional karya tsb. memang membutuhkannya! Jadi, ada atau tidaknya kata-kata makian ini memang amat bergantung pada konteks dalam sebuah karya sastra!”

    Sekarang kau sudah paham belum? Masa aku harus menjelaskan seperti ini kayak kau masih anak SMP yang belum khatam membaca teks bahasa Indonesia saja?! Meskipun aku sih yakin bahwa kau sebetulnya paham apa yang kumaksud dalam tulisan usangku itu! Apa yang kau lakukan ini hanyalah sebuah kesengajaan yang kau bikin-bikin, bukan keluguan kau! Kau hanya berpura-pura tidak paham saja! 

    Makanya, upaya keras kau untuk memelintir tulisanku ini tampak jelas mengandung cacat logika yang sangat klasik dan fatal. Kau tidak menyerang argumen asliku secara objektif, tetapi berusaha membangun sebuah distorsi agar posisi kau terlihat lebih unggul di hadapan orang awam! 

    Bahkan, kau sebetulnya bukan tidak tahu bahwa fitnah kau ini mengandung cacat logika mengerikan, tetapi kau justru dengan sadar dan sengaja menggunakan sesat pikir (logical fallacy) sebagai teknik dan trik berargumen untuk membungkam lawan sekaligus untuk memperdaya para pembaca awam! Dan kelihatannya kau memang sudah cukup terbiasa dan mahir menggunakan retorika memalukan begini untuk menang debat dan membela diri. Kau itu, kan, mengaku sebagai penulis dan pegiat literasi? Masa kau tidak malu dan gengsi sengaja menggunakan trik licik semacam ini demi menang debat?! Sekarang, ayo kita periksa poin-poin sesat pikir yang kau pakai itu!

    (1) Straw Man Fallacy: Ini adalah cacat logika yang paling dominan dalam tulisan kau. Tampaknya kau memang suka sekali pada si Manusia Jerami ini sehingga terus-menerus memakainya berulang-ulang sepanjang tulisan kau ini! 

    Wahai para pembaca awam Subhan, kuberitahu kalian, ya: Straw Man Fallacy adalah jenis cacat logika yang terjadi ketika seseorang sengaja mengubah, mendistorsi, atau menyalahartikan argumen lawan bicaranya agar argumen tersebut terlihat lemah, konyol, atau ekstrim. Dalam ruang diskusi atau debat, esensi dari Straw Man Fallacy ini memang untuk memelintir ucapan atau maksud lawan bicara dengan niat: [a] Memutarbalikkan Kenyataan: Pelaku Straw Man ini sengaja memutarbalikkan kalimat asli lawan sampai maknanya berubah total dan menjadi versi yang cacat atau ekstrem, [b] Menciptakan Narasi Palsu: Hasil dari pemelintiran itu menghasilkan sebuah “argumen baru” yang sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh si pemilik argumen.

    Tujuan penggunaan Straw Man Fallacy ini tentu saja jahat/manipulatif/negatif, tidak mungkin positif! Pemelintiran ini tidak dilakukan karena sang pelaku salah baca/dengar atau tidak sengaja, tetapi memang sengaja ia lakukan agar argumen lawan terdengar bodoh, jahat, atau konyol di depan publik. Jadi, kalau dalam debat atau diskusi di media sosial kalian melihat seseorang merespons argumen orang lain dengan cara memutarbalikkan maksudnya demi mencari celah untuk menyerang, kalian bisa langsung menunjuknya: “Itu namanya pemelintiran argumen (Straw Man Fallacy)!”

    Ingat, Sodara-sodara, sekali lagi, Straw Man Fallacy terjadi ketika seseorang memalsukan, melebih-lebihkan, atau memelintir argumen lawannya agar lebih mudah buat diserang.

    Karena itu, tuduhan Subhan si Belah Tengah bahwa “aku takut terhadap keindahan tutur gaya bahasa” dan bahwa aku telah “menuduh proses penyaringan bahasa sebagai pembunuh sastra…” jelas-jelas merupakan fitnah keji yang tanpa dasar! Alasannya?

    Karena aku tidak pernah menyatakan bahwa aku “takut pada bahasa indah” atau menuduh “penyaringan bahasa adalah pembunuh sastra.” Argumenku sangatlah jelas: kata-kata makian/vulgar itu bersifat niscaya dan wajar jika konteks dalam karya sastra memang membutuhkannya! Tetapi si Belah Tengah Subhan itu sengaja mengubah argumen kontekstual menjadi generalisasi ekstrim (“Sunlie anti-bahasa indah”)! Fafi betul, kan, orang macam begini?!

    (2) False Analogy alias Analogi Palsu!: Si Belah Tengah menggunakan analogi koki dan penyaringan bumbu untuk menyudutkan posisiku. Katanya dengan keren: “Tak ubahnya seperti seorang koki yang malas memasak, lalu menuduh proses penyaringan bumbu sebagai tindakan yang merusak keaslian rasa…”

    Padahal ini analogi bloon yang tidak apple-to-apple! Dalam memasak, bumbu disaring untuk kenyamanan tekstur tanpa menghilangkan rasanya. Sementara dalam sastra, jika konteks karakternya adalah orang yang sedang marah besar, frustrasi, atau berada di lingkungan sosial tertentu, menghapus makian (bumbu kasar) dan menggantinya dengan bahasa yang halus justru mengubah esensi rasa dan realisme karakter tersebut! Karakter bajingan atau korban yang dizalimi/terjajah yang memaki jelas tidak bisa dianalogikan dengan koki (baca: penulis) yang malas memasak; itu adalah tuntutan estetika realisme dalam cerita! Contohnya, makian yang dilontarkan oleh tokoh fiksi dalam cerpen “Heiho” karya Idrus sebagai subjek terjajah tentang penjajahnya ini: “Tanah air? Mana tanah airmu? Engkau tahu apa arti Heiho? Kalau dalam rumah tangga Heiho itu dinamakan jongos, tolol!” (“Heiho”, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, hlm.109). Pilihan Idrus untuk menggunakan diksi “tolol!” dalam cerpennya tersebut, sebaliknya justru menunjukkan bahwa ia memang sangat ahli dalam memilih diksi yang tepat sesuai dengan konteks situasi-peristiwa dalam cerita yang ia tulis!

    (3) Ad Hominem (Menyerang Pribadi/Motif): Alih-alih mendebat argumenku tentang “konteks penggunaan kata makian”, si Belah Tengah justru langsung melompat pada kesimpulan mengenai karakter dan etos kerjaku sebagai penulis. Ia menyebut gagasanku “hanyalah apologi dari seorang penulis yang enggan memeras keringat kreatifnya” dan menuduhku “memilih jalan pintas”. Ini jelas merupakan satu serangan terselubung terhadap etos penulisanku! Menilai bahwa seorang penulis menggunakan kata makian karena “malas memeras keringat kreatif” atau “mengambil jalan pintas” adalah penghakiman personal yang dungu. Sebab penempatan kata makian yang tepat secara kontekstual justru membutuhkan sensitivitas sosiologis dan linguistik yang tinggi, bukan kemalasan! Kalau begitu, menurut si Subhan, Tulis Sutan Sati itu “malas” dan “memilih jalan pintas”, dong, ketika dalam romannya Sengsara Membawa Nikmat ia menulis: “‘Memang engkau musuhku, jahanam!” ujar Kacak dengan bengis. “Engkaulah yang mengasut orang benci kepadaku. Engkau hendak jadi raja di kampung ini, binatang!” (Hlm. 44). 

    Kau jawab soal makian dalam Sengsara Membawa Nikmat ini ya, Subhan?! Jangan memfitnah sastrawan besar yang sudah meninggal seperti Tulis Sutan Sati!

    (4) False Dilemma/Black-and-White Fallacy (Dilema Palsu): Yang lebih oon lagi, Subhan juga menggiring pembaca awamnya pada dua pilihan ekstrem yang seolah-olah tidak ada jalan tengahnya. Katanya: “… ia [sastra] justru mati ketika para penulisnya kehilangan imajinasi dan memilih jalan pintas berupa kevulgaran yang klise.”

    Kenapa ini aku bilang bloon? Sebab si Belah Tengah membenturkan “bahasa indah” dengan “kevulgaran klise” seolah-olah sastra hanya punya dua jalur itu! Ia sengaja mengabaikan fakta kuratorial bahwa sebuah karya bisa memiliki tutur bahasa yang sangat kuat sekaligus memuat makian yang vulgar secara bersamaan, asalkan hal itu presisi secara konteks. Kok penggunaan kata kasar dalam roman Sitti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat tidak otomatis membuat karya-karya itu kehilangan imajinasi atau menjadi klise, Subhan?! 

    Si Belah Tengah ini gagal total melihat bahwa oposisi biner yang ia ciptakan (indah vs vulgar) adalah fiktif! Sebab kebenaran dalam sastra, bersifat kontekstual, bukanlah moralitas tekstual yang kaku.

    SUBHAN:

    “Komentar Sunlie: “Pertanyaan saya selanjutnya, sejak kapan seorang penulis sastra harus menjadi “anutan yang patut diteladani”?! Sejak kapan seorang penulis sastra memikul tugas mulia kaum ulama, sebagai pengawal moralitas apalagi kesantunan?! Sejak kapan seorang penulis sastra dituntut menjadi orang suci?!”  

    Pertanyaan balik saya kepada Sunlie yang soleha: jika seorang sastrawan menolak menjadi anutan, menolak mengawal moralitas, dan emoh dituntut menjadi orang suci, lalu atas dasar apa seorang Sunlie yang agung menulis esai dengan nada mengamuk pakai jurus mabuk dan menuntut untuk ‘membersihkan’ sastra Indonesia dari orang-orang yang ia sebut penipu dan munafik?”

    SUNLIE:

    Inilah teknik retorika khas kaum munafikun picik yang gemar menjungkir-balikkan logika, Subhan! Dengan demikian, kau berharap orang-orang awam dapat dengan gampang kau tipu ketika mereka membaca upaya kau membenturkan argumenku dengan tuduhan kontradiktif (kau sebut: “menggunakan standar moral untuk memaki penipu, tapi emoh dituntut bermoral”) ini. 

    Namun, siapa pun yang sanggup bernalar akan menemukan bahwa argumen kau ini lagi-lagi cuma dipenuhi oleh sesat pikir yang fatal, yang sengaja mengaburkan batasan antara kebenaran faktual (kejujuran) dengan kesopanan kosmetik! Dan tuduhan standar ganda bloon macam yang kau tuduhkan semacam ini cuma bisa lahir dari ketidakbecusan (atau kesengajaan!) dalam membedakan antara moralitas teologis (kesucian akhlak) dan integritas intelektual (aturan main publik)!

    Tuduhan-tuduhan bloon-nya ini memperlihatkan bahwa si Belah Tengah kian kehilangan pijakan argumentatif dan beralih sepenuhnya ke retorika emosional. Ia bahkan tanpa malu-malu menggunakan sarkasme yang kekanak-kanakan (“Sunlie yang soleha”, “Sunlie yang agung”) untuk menutupi kebingungan logikanya sendiri. Tentu saja, kata “soleha” dan “agung” ini tak lain merupakan cara memaki secara terbalik ala kaum munafikun seperti dirinya.

    Ah, mari kita bedah cacat logika doi yang sangat telanjang itu dalam argumennya kali ini:

    (1) Tu Quoque/Appeal to Hypocrisy (Tuduhan Munafik yang Keliru): Tu Quoque terjadi ketika seseorang mencoba menggagalkan argumen lawannya dengan cara menuduh bahwa lawan tersebut tidak konsisten atau melakukan hal yang sama, padahal konteksnya sama sekali berbeda. Ia menuduhku kontradiktif (menolak sastrawan jadi pengawal moral, tapi kamu sendiri “mengamuk” menuntut “pembersihan” sastra dari penipu dan munafik) dengan sengaja mencampuradukkan moralitas puritan/kesantunan dalam teks sastra dengan integritas intelektual/kejujuran dalam ekosistem sastra. 

    Di sini, jelas ia sengaja merancukan antara penolakanku terhadap posisi sastrawan sebagai pengawal moralitas dalam teks dan kritik komunal/intelektual terhadap perilaku aktor sastra. Padahal, jelas sekali bahwa ketika aku menolak sastrawan menjadi pengawal moralitas, aku sedang bicara tentang estetika karya (bahwa karya sastra bebas menggambarkan realitas apa adanya, termasuk memakai makian dan kevulgaran, tanpa beban harus menceramahi pembaca), tetapi ketika aku mengkritik para “penipu” dan “munafik” di dunia sastra, aku sedang bicara tentang kritik komunal/intelektual terhadap perilaku aktor sastra (misalnya: plagiarisme, manipulasi, politik main uang, klaim kosong, dsb.). Emangnya ketika seorang penulis menuntut kejujuran intelektual di ruang publik itu sama dengan menuntut penulis menjadi “orang suci” atau “pengawal moralitas” dalam karya fiksi mereka?! Pertanyaan kita: Si Belah Tengah ini telah gagal total membedakan kedua wilayah ini atau ia memang sengaja menyamakannya untuk beretorika licik?!

    (2) Straw Man Fallacy (lagi-lagi, deh!): Dalam hal ini, ia kembali memelintir pernyataanku menjadi sesuatu yang ekstrem dan karikatural dengan membingkai tanggapanku itu sebagai “esai dengan nada mengamuk pakai jurus mabuk dan menuntut untuk ‘membersihkan’ sastra Indonesia…” Alih-alih menjawab poin kritis yang aku ajukan (mengenai batasan tugas penulis), ia memakai label peyoratif seperti “mengamuk” dan “jurus mabuk”. Ini adalah taktik untuk mendegradasi bobot tanggapanku seolah-olah itu hanyalah kemarahan personal yang tidak rasional, bukan sebuah argumen teoretis yang valid!

    (3) Equivocation (Ekuivokasi/Pengaburan Makna Kata): si Dungu Belah Tengah ini dengan licik menyaru kata “moralitas” dan “tuntutan kesucian” yang aku maksud, lalu menggesernya ke ranah yang menguntungkan argumennya! Upayanya ini “fafi kefarat” sekali. Ia berusaha keras untuk menyamakan penolakanku terhadap fungsi sastrawan sebagai “ulama/penjaga kesantunan” dengan penolakan terhadap segala bentuk nilai, termasuk kejujuran. Lagian, emangnya di dunia nyata ini seseorang perlu menjadi orang suci hanya untuk berhak mengkritik kemunafikan?! Kritik terhadap kemunafikan adalah basis dari akal sehat (common sense) dan tradisi kritik itu sendiri, bukan bentuk pengawalan moralitas puritan! 

    Orang-orang bukan awam tentunya dapat melihat dengan terang bahwa di sini si Subhan sebenarnya sedang melakukan self-report: ia tidak mampu menjawab esensi pertanyaanku (“Sejak kapan penulis memikul tugas kaum ulama?”). Karena tidak punya jawaban berbasis sejarah dan teori sastra yang kuat, ia pun memilih melompat menyerang personalitas dan konsistensiku dengan analogi yang kelewat dipaksakan!

    SUBHAN:

    “Bukankah tindakan Sunlie yang sibuk menghakimi moralitas kepenulisan orang lain dan melabeli mereka ‘munafik’ adalah bukti nyata bahwa Sunlie sedang menobatkan dirinya sendiri sebagai ‘ulama sastra’ yang paling suci dan merasa berhak menentukan siapa yang kotor dan siapa yang bersih?

    Ini adalah puncak dari logika terbalik yang lebih munafik: Sunlie menolak dibebani tanggung jawab moral, tapi di saat yang sama, dia menggunakan standar moral yang agresif untuk mengadili dan mencaci-maki penulis lain di ruang publik.”

    SUNLIE:

    Justru tuduhan keji si Belah Tengah ini adalah puncak dari logika terbalik yang lebih munafik. Tuduhan ini memang memperlihatkan bahwa si Belah Tengah kian tersesat dalam sesat pikirnya sendiri. Ia mengalami apa yang dalam psikologi argumen disebut sebagai proyeksi—ia menuduh orang melakukan apa yang sebenarnya sedang dia sendiri lakukan!

    Ayo kita bedah secara struktural kenapa tuduhan “standar ganda” dan “logika terbalik” yang dilemparkan doi justru merupakan puncak kedunguan logikanya sendiri!

    (1) Equivocation Fallacy/Mengaburkan Dua Konsep “Moral” yang Berbeda: Ini adalah lanjutan dari racun logika doi sebelumnya, namun kali ini eskalasinya lebih tolol lagi. Karena dengan semena-mena ia mencampuradukkan dua definisi “moral” yang secara epistemologis sama sekali berbeda! Tapi biar aku jelaskan ke dia, mau terima atau tidak, mau paham atau tidak, terserah! Simak benar-benar: [a] Moralitas Puritan/Kesantunan Tekstual: Ini adalah moralitas yang diperjuangkan si Belah Tengah, di mana teks sastra baginya wajib santun, tidak boleh ada makian, dan penulis harus menjadi penuntun akhlak pembaca!, [b] Moralitas Intelektual/Etika Publik: Ini adalah wilayah kritik dalam tanggapanku, yaitu tuntutan akan kejujuran, konsistensi sikap, dan ketiadaan standar ganda (kemunafikan) pada diri seorang kritikus atau aktor sastra di ruang publik! 

    Kenapa Subhan dungu di sini? Karena menuntut seorang kritikus sastra untuk jujur (tidak munafik) di ruang publik bukanlah bentuk penobatan diri menjadi “ulama sastra yang suci”! Itu adalah tuntutan etika profesi yang mendasar. Sama seperti kita menuntut seorang wasit sepakbola untuk adil; lah, emangnya kita harus menjadi “nabi sepakbola” untuk meneriaki wasit yang curang?! Si Belah Tengah sengaja menyamakan “kritik terhadap integritas” sebagai “penghakiman moralitas kesucian”! Busuk sekali retorikanya.

    (2) The Fallacy of Division (Menyamakan Karya dengan Orangnya): Doi gagal memisahkan antara teks fiksi (karya sastra) dengan perilaku penulisnya di dunia nyata. Ia dengan sengaja menuduhku: “Sunlie menolak dibebani tanggung jawab moral [dalam karya], tapi di saat yang sama menggunakan standar moral untuk mengadili penulis lain [di ruang publik].”

    Si Belah Tengah ini sudah dungu tapi masih berpura-pura bego pula! 

    Hoi! Aku tuh menolak teks fiksi disensor oleh pseudo-moralitas kesantunan ala kau karena fiksi adalah ruang representasi realitas (di mana tokoh bajingan boleh memaki)! Namun, ruang publik sastra dan ruang diskusi sastra adalah dunia nyata yang terikat pada etika akademis dan intelektual! Penulis boleh saja menulis karakter yang paling bejat dalam novelnya (bebas dari moralitas kaku), tetapi si penulis di dunia nyata tidaklah boleh melakukan penipuan intelektual atau bersikap munafik dalam ekosistem sastra macam yang dilakukan oleh si Togog Denny JA dan para pembelanya termasuk kau! Moga-moga saja si Belah Tengah ini tidak sampai menyangka bahwa jika karya sastra bebas dari paksaan moralitas kesantunan, maka pelaku sastra di dunia nyata juga bebas dari tuntutan kejujuran intelektual! Kalau ini sampai terjadi, otaknya harus disetrum. 

    (3) Smokescreen/Red Herring (Mengalihkan Isu Utama): Daripada menjawab substansi tulisan usangku itu—tentang apa saja bentuk “kemunafikan” atau “penipuan” yang aku preteli—doi memilih untuk melempar bom asap (smokescreen) dengan menyerang gaya komunikasiku (“agresif”, “mencaci-maki”)! Ini taktik klasik banget untuk mengalihkan perhatian pembaca awam! Jelas sekali tujuan liciknya di sini: Doi ingin para pembaca awam fokus pada “kemarahan”-ku atas kemunafikan para aktor sastra dan impotensi “jargon sastra santun” yang ia usung, bukan pada “kebenaran isi kritik”! Ketika seseorang tidak mampu mendebat data dan argumen, mereka akan mendebat nada bicara atau pilihan kata lawannya! Inilah yang dilakukan si Belah Tengah.

    (4) Psychological Projection (Logika Cermin): Tentu saja tanggapan dungunya yang dahsyat ini adalah sebuah ironi besar! Dia menuduhku menobatkan diri sebagai “ulama sastra yang paling suci”, padahal dialah yang sejak awal menuntut sastrawan untuk memikul tugas ulama, menjaga moralitas, dan menyaring bumbu bahasa agar bersih dan suci dalam karya! Ketika aku menguliti standarnya yang kaku sekaligus palsu tersebut, dia panik dan menuduhku sedang memakai jubah “ulama suci” yang selama ini ingin dia paksakan ke kepala semua orang! 

    Secara keseluruhan, apa yang dinyatakan si Belah Tengah ini cuma terjebak dalam lingkaran setan sesat pikir lantaran doi mendasarkan seluruh argumennya pada asumsi yang cacat sejak awal (faulty premise)! Bagi impostor satu ini, siapa pun yang berani mengkritik moralitas palsu ala dirinya, pastilah sedang berlagak suci! Doi tidak paham (atau pura-pura tidak paham?) bahwa kritik terhadap kemunafikan adalah tugas dasar dari setiap kepala yang berpikir sehat!

    Argumennya bahwa “tindakan Sunlie yang sibuk menghakimi moralitas kepenulisan orang lain dan melabeli mereka ‘munafik’ adalah bukti nyata bahwa Sunlie sedang menobatkan dirinya sendiri sebagai ulama sastra yang paling suci”, adalah sebuah manipulasi wacana yang sangat licik tapi dungu! Dengan sengaja ia samakan kritikku terhadap pelanggaran etika di dunia kepenulisan (yang artinya: manipulasi sejarah, suap, penipuan publik, dan kecurangan akademis/intelektual) dengan “pseudo-moralitas kesantunan” alias etiket semu nan palsu (tidak boleh memaki, harus sopan dalam karya sastra maupun tindakan nyata) yang ia junjung tinggi! 

    (1) Kenapa ini Dungu dan Manipulatif? Ketika aku turut membongkar skandal “33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh” versi Denny JA, aku sedang menyerang kejahatan etika publik dan manipulasi sejarah sastra. Itu adalah perkara corrupt practice (praktik korup). Tapi si Belah Tengah sebagai penjilat sejati si Togog DJA membingkai seranganku itu seolah-olah aku sedang mengadili “dosa pribadi” atau “kesucian spiritual” orang lain! Dengan kejinya ia menggeser isu dari Korupsi Intelektual ke ranah Kesucian Moral. Ini adalah penipuan logika agar publik awam melihat aku sebagai orang yang sok suci (self-righteous), padahal aku sedang bertindak sebagai pelapor pelanggaran etika (whistleblower) lewat teks kritik! Apa yang dilakukan si Belah Tengah di sini namanya Equivocation Fallacy Tingkat Akut (Penyelundupan Makna “Moralitas”)!

      (2) The Fallacy of False Equivalency (Penyetaraan yang Absurd): Kalimat Subhan: “… merasa berhak menentukan siapa yang kotor dan siapa yang bersih?” adalah cacat logika parah. Di mana letak cacatnya? Ia menyetarakan penilaian objektif berbasis rekam jejak kecurangan dengan penilaian subjektif berbasis otoritas moral (“bersih vs kotor” ala pemuka agama) Padahal ketika seseorang menyadari bahwa tindakan Denny JA menyuap sastrawan demi gelar “Tokoh Sastra Berpengaruh” adalah tindakan yang “kotor”, itu bukanlah sebuah klaim teologis bahwa ia yang paling suci. Itu adalah kesimpulan logis berbasis fakta empiris! Belah Tengah secara dungu mengaburkan batasan antara: Fakta Objektif (transaksi finansial untuk memanipulasi kanon sastra adalah kecurangan) dan Klaim Subjektif (“Sunlie bertindak seolah dirinya ulama sastra yang paling suci!). Dengan logika si Belah Tengah ini, “seorang hakim” yang memenjarakan koruptor BAHKAN BISA DITUDUH: “Bukankah hakim itu sedang menobatkan dirinya sebagai manusia paling suci yang berhak menentukan siapa yang kotor dan bersih?” Ini adalah cara berpikir yang merusak tatanan hukum dan akal sehat! 

        (3) Red Herring/Smokescreen untuk Melindungi Konflik Kepentingan (Conflict of Interest): Konteks bahwa doi adalah pendukung gerakan “puisi-esai” Denny JA dan ikut terlibat dalam proyek-proyeknya (sayembara, kegiatan penulisan) menjelaskan motif di balik runtuhnya logika si Belah Tengah ini! Ia memakai Taktik Alibi Moral: Tatkala doi menuntut agar sastrawan tidak mengeluarkan kata-kata makian kasar (bahkan kepada penipu atau koruptor), ia sebenarnya sedang menciptakan tameng linguistik untuk melindungi dirinya sendiri dan kelompoknya! Ia membuat aturan baku: “Mari kita sepakati bahwa makian itu haram dalam karya sastra dan diskusi sastra.” Kenapa doi begitu ngotot membuat aturan ini? Tak lain agar ketika mereka melakukan manipulasi sejarah sastra, orang-orang tidak bisa meneriaki mereka dengan kata “brengsek!”, “penipu!”, atau “bajingan!”. Bagi doi, makian kasar jauh lebih berdosa daripada penipuan intelektual! Ini adalah logika kaum sofis yang menggunakan “topeng kesantunan” untuk melegitimasi kecurangan. 

          (4) Inverted Logic/Projective Framing (Logika Terbalik yang Hakiki): Doi menuduhku melakukan “puncak dari logika terbalik yang lebih munafik”. Mari kita balik cerminnya untuk melihat siapa yang sebenarnya menggunakan logika terbalik yang munafik itu! 

          Posisiku: Menolak teks sastra dikebiri oleh pseudo-moralitas kesantunan, tetapi menuntut integritas moral/kejujuran pada perilaku nyata para aktor sastra di ruang publik agar ekosistem sastra tidak rusak oleh uang dan manipulasi. (Logika yang konsisten: Fiksi adalah ruang estetika, realitas publik adalah ruang etika). Posisi Subhan: Menuntut teks sastra dan tutur kata harus santun dan suci dari makian, tetapi menoleransi (bahkan mendukung) manipulasi, penipuan publik, dan pelacuran intelektual dalam ekosistem nyata sastra Indonesia demi agenda tertentu!

          Tulisan picik si Belah Tengah ini tentu saja tak ubahnya dengan kerja humas (PR) yang dibungkus dengan jargon moralitas! Kenapa? Sebab ketika dia menuduhku menobatkan diri sebagai “ulama sastra”, dia sedang melakukan gaslight kepada pembaca agar fokus mereka beralih dari isu “Skandal Manipulasi Sejarah Sastra Denny JA & Co.” menjadi isu “Sunlie Kurang Sopan dan Sok Suci”! Dia menyerang personifikasi “gaya bicaraku” lantaran jika dia harus mendebat “substansi kasusnya” (soal manipulasi puisi-esai), dia tahu dia akan kalah telak secara data dan etika!

          Makanya dalam tulisan tanggapannya ini, ia tidak berani menyinggung sedikitpun soal kasus manipulasi puisi-esai Denny JA yang seyogyanya menjadi PEMICU lahirnya dua tulisan usangku berjudul “Jargon ‘Sastra Santun’: Sebuah Ancaman Baru bagi Sastra (Berbahasa) Indonesia” dan “Bersihkan Sastra Indonesia dari Para Penipu Munafik Bertopeng Pseudo-Kesantunan!” itu.

          Referensi

          1. Tulisan usangku JARGON “SASTRA SANTUN dapat dibaca dalam tautan https://www.facebook.com/share/p/14fwPQNSm7M/, sedangkan tanggapanku langsungku terhadap tulisan dungu yang berjudul “Bersihkan Sastra Indonesia dari Para Penipu Munafik Bertopeng (Pseudo-)Kesantunan!” dapat diakses melalui https://www.facebook.com/share/p/1HfeuvpmSg/. ↩︎
          2. Jonathan Swift, Gulliver’s Travels and Other Writings (New York: Bantam Dell, 2005), hlm.164. ↩︎
          3. Jonathan Swift, Gulliver’s Travels and Other Writings (New York: Bantam Dell, 2005), hlm.164. ↩︎
          4. Mo Yan, The Garlic Ballads, trans. Howard Goldblatt. (York: Metheun Publishing, 2006), hlm. 31. ↩︎
          5. Joni Ariadinata, “Lampor” dalam Lampor, Cerpen Pilihan Kompas 1994 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002, Cet. II), hlm. 13. ↩︎
          6. Arafat Nur, Lampuki (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2011), hlm. 254. ↩︎
          7. Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 84. ↩︎
          8. Triyanto Triwikromo, Surga Sungsang (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 20-21. ↩︎
          9. Yu Hua, To Live, terj. Michael Berry (New York: Anchor Books, 2003), hlm. 204. ↩︎
          10. Idrus, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Jakarta: Balai Pustaka, 2011). ↩︎
          11. Ida Fitri, Paya Nie (Tangerang Selatan: Marjin Kiri), hlm.7. ↩︎
          12. Raudal Tanjung Banua, Cerobong Tua Terus Menderu (Yogyakarta: Shira Media), hlm. 6 ↩︎
          13. Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia (Yogyakarta: Hasta Mitra, 2002), hlm. 42-43. ↩︎
          14. Novel Mo Yan ini mengambil latar waktu 1980-an ketika Pemerintah Daerah Shandong (yang dalam novel disebut sebagai Wilayah Tiangtang atau Paradise Country) mendesak para petani untuk menanam bawang putih secara massal. Namun, saat panen raya, pasar mengalami kelebihan pasokan (oversupply), dan para pejabat korup menolak membeli hasil panen tersebut serta membebani petani dengan pajak mencekik. Hal ini memicu kemarahan ekstrem para petani hingga berujung pada kerusuhan massal di mana mereka menyerang gedung pemerintah daerah. ↩︎
          15. Mo Yan, The Garlic Ballads, trans. Howard Goldblatt. (York: Metheun Publishing, 2006), hlm. 31. ↩︎
          16. Marah Rusli, Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai (Jakarta: Balai Pustaka, Cetakan XXI 1992). ↩︎
          17. Joni Ariadinata, “Lampor” dalam Lampor, Cerpen Pilihan Kompas 1994 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002, Cet. II), hlm. 13. ↩︎
          18. Kwee Tek Hoay, Allah jang Palsoe (Batavia: Tjiong Koen Bie Electrische Drukkerij, 1919) ↩︎
          19. Marcus A.S. dan Pax Benedanto (Ed.), Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (Jilid 3) Drama di Boven Digul (Jakarta: KPG), 2001. ↩︎
          20. Joni Ariadinata, “Lampor” dalam Lampor, Cerpen Pilihan Kompas 1994 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002, Cet. II), hlm. 13. ↩︎
          21. Arafat Nur, Lampuki (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2011), hlm. 254. ↩︎
          22. Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 84. ↩︎
          23. Salman Rushide, The Moor’s Last Sigh (Toronto: Vintage Canada, 1996), hlm. 298. ↩︎
          24. “Pasop kowe”, atau sering ditulis “Fasop kowe” adalah adalah salah satu bentuk umpatan atau makian kasar dalam bahasa Jawa. Secara etimologi, kata “Pasop” atau “Fasop” diyakini merupakan serapan dari kosakata bahasa Belanda, yaitu Vat op (dari kata vatten yang berarti menangkap, memegang, atau meringkus). Di masa kolonial, kata sering diteriakkan oleh aparat keamanan, serdadu Belanda, atau polisi rahasia saat melakukan penggerebekan dan menangkap buronan/aktivis pergerakan. Ketika kata tersebut diserap ke dalam bahasa Jawa jalanan atau urban yang bergesekan langsung dengan dinamika kolonial, makna bergeser dari perintah penangkapan menjadi sebuah ancaman atau sumpah serapah yang agresif. Ketika seorang berteriak “Pasop kowe!”, arti kontekstualnya setara dengan “Mampus kamu!”. ↩︎
          25. Abdul Muis, Salah Asuhan (Jakarta: Balai Pustaka, Cetakan keempat puluh 2010)  ↩︎
          26. Triyanto Triwikromo, Surga Sungsang (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 20-21. ↩︎
          27. Triyanto Triwikromo, Surga Sungsang (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 20-21. ↩︎
          28. Yu Hua, To Live, terj. Michael Berry (New York: Anchor Books, 2003), hlm. 204. ↩︎
          29. Tulis Sutan Sati, Sengsara Membawa Nikmat (Jakarta, Balai Pustaka, Cetakan ketiga 1991) ↩︎


          Editor: Ariel Anwar


          Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
          Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

          Leave a Reply

          Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *