Pembukaan Artjog 2026 diwarnai aksi perform art sebagai bentuk protes terhadap sikap Artjog yang menerima bantuan dari Didit Hediprasetyo yang merupakan anak dari Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Aksi teatrikal yang dilakukan di depan panggung yang berdekatan dengan loket penjualan tiket Artjog itu dibubarkan oleh pihak keamanan ArtJog. Sebelum dibubarkan, seniman tersebut meneriakan beberapa kalimat seperti “Seni telah mati sodara-sodara”. Beberapa saat kemudian dia ditangkap dan dibawa ke pos satpam di wilayah JNM.
“Hati nurani Anda telah mati. Seni kali ini terjadi akibat pemutihan sejarah dan restu oligarki. Selamat datang dan selamat menikmati. Seni telah mati sodara-sodara. Seni dan sastra telah mati. Intelektual tanpa hasrat pemberontakan adalah perpanjangan tangan negara. Intelektual adalah perpanjangan tangan negara. Selamat datang teman-teman. Selamat datang di area paling berbahaya. Kami generasi terburuk sastra indonesia,” jelas seniman tersebut sambil melemparkan bunga tabur ke udara.
Perihal kejadian tersebut, khususnya kasus pembubaran dan pemukul yang terjadi, Gading Paksi selaku project direction Artjog menjelaskan bahwa Artjog membuka ruang kepada siapapun yang ingin berekspresi. Menurutnya, mereka tidak pernah bermaksud menghalangi kebebasan berekspresi. Dia melanjutkan, praktik represifitas apalagi pemukulan tidak ada dalam standar kerja mereka.
“Pertama, saya minta maaf kepada mereka. Berikutnya saya perlu waktu untuk menginvestigasi bagaimana kronologi yang benar. Saya minta waktu untuk berkoordinasi bersama tim kami dan juga keamanan perihal kronologis itu seperti apa. Kami menekankan pada semua tim bahwa kami membuka seluas-luasnya ruang-ruang berekspresi seperti yang mas Ais lakukan tadi. kami sama sekali tidak ingin dan tidak akan menghalangi niat-niat itu, apalagi represif sampai pemukulan itu tidak ada dalam standar kami (Artjog). Saya mohon waktu teman-teman untuk menginvestigasi ini,” jelasnya di halaman Jogja National Museum, 19 Juni 2026.
Dalam konferensi pers yang dilakukan oleh Koalisi Seni ArtJokes, Lorca selaku salah satu perwakilan koalisi menjelaskan bahwa ArtJokes hadir sebagai wacana tandingan terhadap ruang seni ArtJog yang telah dikooptasi negara.
“Artjog melakukan praktik artwashing korporasi yang mendanai artjog. Artjog mengabaikan situasi sosial politik hari ini,” jelasnya di Kantor LBH Yogyakarta pada tanggal 20 Juni 2026.
Agam Wispi, salah satu perwakilan koalisi yang turut hadir dalam konferensi tersebut, menyayangkan tindakan represifitas yang dilakukan oleh ArtJog melalui pihak keamanan mereka. Menurutnya, situasi semakin memanas karena sikap protes berupa aksi teatrikal tersebut justru direpresif oleh pihak keamanan. Padahal, menurutnya, apa yang dilakukan seniman merupakan bentuk ekspresi seniman dalam merespons Artjog.
“Yang sangat disayangkan adalah tingkat represif cukup masif saat teman kita ingin menyampaikan ekspresinya. Dia mengekspresikan apa yang dia lihat dan rasakan. Kalau ArtJog adalah ruang ruang bebas di mana semua orang bisa berbicara, kenapa kemudian perform yang dilakukan oleh kawan-kawan kami justru dihentikan secara sepihak?” katanya
Sebagai informasi, seniman yang direpresi dan ditangkap oleh pihak keamanan (ArtJog) sudah dibebaskan di malam yang sama saat penangkapan.
Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








