Halte Saat Hujan

Penulis

Hujan deras mengguyur kota pagi ini. Sial, aku jadi tidak masuk kelas. Jangan pikir, aku sedang bermalas-malasan di kamar sambil sesekali tertawa menonton video lucu di handphone. Jangan. Aku sedang berada di halte bus dengan motor kuparkir di pinggir trotoar. Motorku basah sempurna terkena serangan air dari langit.

Dari subuh, aku sudah siap sedia sewaktu bunyi alarm menghantam telinga. Aku bermalas-malasan menuju kamar mandi, dengan sedikit kebingungan memikirkan warna baju apa yang cocok untuk dikenakan hari ini? Sedikit? Sepertinya tidak, aku benar-benar kebingungan saat memilih baju. Benar kata ayah, lebih baik semua baju berwarna hitam saja agar tidak pilih-pilih, bisa menghemat waktu juga. Selesai sarapan, ibu sedikit mengomel tentang cucian kotorku, sudah seminggu sepertinya belum kucuci. Eh? Dua minggu. Wajar saja, aku tak ada waktu untuk bergumul dengan cucian kotor saat ini, tugas kuliah di pertengahan semester sedang kurang ajar menghantam waktuku. Jangan tanyakan jam tidurku. Sungguh jangan. Maka, dengan mata panda akibat kurang tidur yang lebih menyerupai mata setan ini, aku berangkat dari rumah. Ibu masih mengomel dari dapur, sementara ayah hanya tertawa di ruang televisi melihat kekacauan pagi ini.

Di perjalanan, aku hanya bersenandung kecil, menyanyikan beberapa lagu yang akhir-akhir ini sering kudengar. Aku lupa membawa earphone. Hingga akhirnya langit pagi menjadi mendung, laju motor sedikit kubuat lebih cepat, lalu setelah itu hujan benar-benar jatuh, dan yap, aku kehujanan. Tak jauh setelahnya, aku melihat halte di pinggir jalan, lalu melipir. Syukurnya belum terlalu basah. Bisa malu aku jika kebasahan, kemeja biru dan celana jin biruku akan tampak kuyup sekali nanti. Aku tertawa. Kemenangan kecil. Dan aku tertawa lagi. Kekalahan kecil. Kenapa? Dosen di kampus tidak peduli hujan atau tidak, bila tak masuk kelas, tak dianggap hadir, tak peduli jika tiba-tiba ada badai tornado sekalipun, tak bisa dilobi. Hanya jika meninggal, baru dosen akan iba. Sayangnya, ini bukan hari kematianku.

Halte tempatku melipir tak terlalu besar. Ya, seperti tempat pemberhentian pada umumnya. Ada tiang penyangga di tiap sudut, kursi panjang, lalu coretan vandalisme menutupi hampir seluruh cat, ditambah tulisan jorok di sana-sini. Orang-orang aneh memang suka merusak fasilitas umum. Huh, masuk neraka saja sana. 

Oh iya, di samping tempatku duduk, tak jauh dariku, terdapat seorang perempuan. Seumuran denganku, sepertinya, entah lebih muda atau lebih tua. Kaos pink lengan pendeknya sedikit basah kena hujan. Di lengan kirinya ada gelang rajut, sementara ujung jin birunya tampak lebih gelap karena air, sama sepertiku. Rambutnya menarik, potongan pendek, dan dicat merah terang. Sial, aku terlalu memperhatikannya. Bila dia sadar, bagaimana? Bisa dianggap tak sopan nanti. Cukup, cukup. Perhatikan saja yang lain. Apa, ya? Handphone. Ya, benar. Baterainya habis. Kunyuk. Jalanan, itu saja. Lagipula perempuan itu juga sedang memperhatikan jalanan. Tak akan aneh bila sama-sama memperhatikan itu. Ya, kan? Perhatikan jalanan saja, jangan dia.

Perempuan itu datang dari gang samping halte sambil berlari kecil. Hujanlah yang membuatnya berlari. Aku baru saja duduk ketika ia datang. Sempat saling menatap beberapa saat, lalu kembali sibuk dengan pikiran masing-masing saat ia akhirnya duduk tak jauh di sampingku.

Sebuah bus berhenti beberapa saat di depan halte. Perempuan itu berdiri, lalu kembali duduk. Kau salah melihat rute busnya kah? 

Hening. Hujan masih mengguyur deras dengan konsisten.

“Aku salah melihat rute bus,” ucapnya, tersenyum sambil menoleh padaku.

Eh? Dia bicara padaku? Halte ini hanya ada kita berdua. Bodoh, jelas dia bicara padaku, cuma ada aku di sini.

“Kau mau ke mana memang?” 

“Ke Kampus Cempaka, aku ada urusan organisasi di sana. Mengganggu waktu untuk bermalas-malasan memang organisasi itu, huh.” Dia tertawa. “Eh, maaf aku malah memaki.” Ia langsung menutup mulutnya sambil tertawa kecil seolah baru sadar salah bicara.

“Kampus Cempaka? Kampus kita berdekatan, aku di Kampus Sindang.” Bodoh sekali kau ini, berdekatan apanya? Itu jauh sekali, ujung ke ujung.

“Hah? Sindang kan di utara, lho. Cempaka itu di selatan.” Dia terlihat menahan tawa. 

“Eh, iya, maksudku kampus kita berjauhan, maaf lho. Kampus kita jaraknya ujung ke ujung maksudku, eh, apa sih? Hah? Maaf, duh.” Bodoh, bodoh, dan bodoh sekali kau ini.

Perempuan itu tertawa lepas. Ia langsung menutup mulutnya, matanya menyipit, dan kembali tertawa. “Maaf, aku tak bisa menahan tawa.” 

Tangannya mengulur, mengajak menjabat tangan ke arahku.

“Namamu siapa?” Ia mengusap sudut matanya, tawanya sampai membuat matanya berair, senyum masih tersisa di bibirnya. 

Aku menyebutkan namaku. Lalu Perempuan itu menyebutkan namanya. 

Ia masih tetap tersenyum.

Tin! Suara klakson bus membuyarkan lamunanku,

Sebuah bus berhenti di depan halte. Perempuan itu berdiri,  masuk ke dalam bus dengan cepat tanpa menoleh sedikitpun. Eh? Dia benar-benar pergi.

Hujan sudah berhenti, langit pagi yang kelam menjadi cerah. Matahari pagi menerpa wajahku dengan hangat. Sial, jam tidur membuat pikiranku kemana-mana. Perempuan itu … ia manis sekali. Andai saja aku punya keberanian untuk lebih dari sekadar menyapanya.

Akupun naik ke motor, menuju kampus dengan keadaan pantatku yang basah. 


24 Mei 2026


Editor: Farras Pradana


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *