Namanya Didit Hediprasetyo. Anak Prabowo Subianto. Menjadi sponsor ArtJog 2026, yang menjudulkan dirinya Ars Longa, Generatio. Didit akan menjadi pembuka acara, dan yayasannya tercantum resmi sebagai strategic partner.
Dari balik jeruji besi Mussolini, Gramsci memberi cahaya ilahi kepada kita soal ini. Gramsci bilang perlu membedakan dominio, kontrol melalui kekerasan langsung, dari direzione, kepemimpinan melalui persetujuan yang dibangun secara budaya. Yang kedua ia sebut hegemoni. Hegemoni tidak bekerja dengan memaksa, melainkan bekerja dengan membuat orang merasa bahwa nilai, selera, dan perspektif kelas penguasa adalah milik mereka sendiri.
ArtJog adalah mesin hegemoni kelas yang sangat canggih dan sangat murah. Ia tidak pernah memaksa siapa pun masuk. Justru sebaliknya, ia menciptakan kerinduan untuk hadir, keinginan untuk merasa terlibat dalam sesuatu yang diberi nama seni kontemporer, kepuasan dari berdiri di depan instalasi sambil memotret layar yang berpendar. Kelas menengah urban pulang dari ArtJog dengan perasaan sudah melakukan sesuatu yang kritis dan progresif. Padahal yang mereka lakukan adalah mengonsumsi produk budaya yang memang dirancang untuk merawat konsensus kelas, bukan mengguncangnya. Kesadaran kritis yang dijual di sana adalah kesadaran kritis yang sudah dikebiri sebelum antri di loket untuk sekarcis necis yang harganya najis.
Peta hegemoni itu terbaca telanjang dari struktur sponsorship. Djarum Foundation sebagai main partner adalah dinasti tembakau yang sudah puluhan tahun membangun citra filantropis sebagai tameng dari tuntutan kesehatan publik. Berbagai rezim pasca-1965 bilang rokok membunuh, tapi galeri seni yang mereka biayai akan terus hidup. BRI, Mandiri, BNI hadir dengan wajah inklusivitas ekonomi, sementara ekosistem finansial yang sama terus mencekik nafas pedagang kecil dengan bunga dan birokrasi. Pertamina adalah BUMN yang menjadi instrumen negara menaikkan harga BBM sambil memasang iklan kebanggaan nasional di setiap sudut kota. Dan di atas semua itu, Didit Hediprasetyo, yang namanya sendiri adalah nama sebuah rezim yang sedang berdarah-darah di hadapan rakyatnya.
Gramsci menyebut momen seperti ini revolusi pasif. Ini merupakan perubahan yang tampak terbuka dan progresif, pada kenyataannya memperkuat struktur kekuasaan yang ada. ArtJog sudah lama beroperasi dalam logika busuk itu. Festival ini menampung karya-karya yang mengkritik ekstraktivisme, ketidakadilan, kerusakan bumi, di samping mempresentasikannya dalam ruang yang didanai oleh para bandar ekstraktif dan bank negara. Kritik tidak ditekan di sini. Ia diintegrasikan. Ia dijinakkan sampai menjadi ornamen yang justru memvalidasi kehadiran sang tuan tanah. Memang begitulah, hegemoni tidak membungkam kritik, justru akan membeli kritik, memajangnya di dinding, lalu memasang logo korporat dan komprador di sebelahnya.
Tahun 2016 ada yang bereaksi atas logika ini. Ketika PT Freeport, korporat yang sudah puluhan tahun membelek Papua sampai segala organnya hilang, masuk sebagai sponsor ArtJog, Lesbumi Yogyakarta dan FNKSDA melakukan boikot publik. Mereka mengajukan pertanyaan sederhana: bagaimana festival mempertahankan integritas kritisnya ketika pendanaannya bergantung pada perusahaan yang seharusnya menjadi objek kritik itu sendiri? Sepuluh tahun kemudian, sponsornya bukan lagi perusahaan tambang. Sponsornya langsung dari putra mahkota dari rezim yang sedang melukai rakyatnya sendiri. Belum ada tanda perlawanan yang berarti, terutama dari seniman. Inilah tanda keberhasilan hegemoni yang bekerja sempurna.
Dalam The New Imperialism, Harvey menunjukkan bahwa kapitalisme tidak hanya terakumulasi melalui produksi dan pertukaran. Ia juga berakumulasi melalui perampasan, melalui pencaplokan atas apa yang dulunya komunal, seperti tanah, air, pengetahuan, hingga ruang budaya, lalu mengubahnya menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan oleh kawanan rente kepada orang-orang yang sebenarnya sudah memilikinya sejak lama. Harvey menyebut ini sebagai accumulation by dispossession. Yogyakarta berganti rupa dari kota pendidikan menjadi pariwisata adalah bukti hidupnya, dan ArtJog adalah alatnya.
Kesuksesan festival ini telah mengubah lanskap kota tanpa satu pun pernyataan resmi bahwa itulah yang sedang terjadi. Harga properti di koridor budaya naik. Galeri-galeri independen yang dirintis seniman selama puluhan tahun terdesak oleh kafe estetik dan ruang pamer komersial dengan harga sewa yang jauh melampaui kemampuan mereka. Ruang yang dulunya komunal, tempat ekspresi budaya tumbuh dari kampung dan komunitas, dirampas, dikomodifikasi, dan dikembalikan kepada publik dengan label harga najis. Seniman lokal tidak hanya terdesak secara fisik dari kota. Mereka juga tersingkir dari definisi tentang apa yang boleh disebut seni.
ArtJog menetapkan standar itu. Standar yang hanya bisa dipenuhi oleh mereka yang punya akses ke jaringan kurator internasional, kolektor berduit, dan para bandar korporat yang mau menyumbang dengan syarat logo mereka dipasang cukup besar. Bagi yang tidak punya akses itu, pilihan tinggal dua: sesuaikan diri atau menyingkir. Inilah primitive accumulation dalam era kiwari. Bukan hanya perampasan tanah secara fisik dengan surat eksekusi, melainkan perampasan modal simbolik, perampasan hak atas definisi, perampasan klaim atas warisan budaya sendiri. Semuanya dilakukan dengan tenang, dengan latar musik pop kekinian, dan dengan wine yang cukup mahal di resepsi pembukaan.
Pada 2026, rezim yang sedang dikritik habis-habisan, bahkan mungkin akan dimakan rakyat kelak ketika tak ada yang mampu dimakan lagi, mencoba untuk mengestetikakan penindasan melalui festival seni. Cultural laundering, pencucian legitimasi melalui estetika. Yang dicuci bukan uang, melainkan nama. Dan, festival seni adalah mesin cuci yang paling elegan, paling sulit untuk tidak curiga atas apa yang pernah dibangun oleh kelas penguasa untuk dirinya sendiri.
Ars longa, vita brevis. Seni panjang umurnya, hidup singkat. Tapi ada yang lebih panjang dari seni adalah ingatan kolektif tentang siapa berdiri di mana, pada saat-saat yang menentukan. ArtJog 2026 dibuka oleh putra mahkota, disponsori oleh dinasti tembakau dan kawanan rente berseragam BUMN, digelar di tengah rakyat yang menanggung harga sembako yang mencekik, anak-anak sekolah yang jatuh sakit karena makan siang yang diracuni, dan Soeharto yang merupakan komprador dan algojo direhabilitasi menjadi pahlawan oleh rezim yang mewarisi metodenya.
Jika Seno Gumira mengatakan, “ketika jurnalisme dibungkam, sastra (seni) harus bicara”, maka itu cuma euforia estetis orang-orang kalah dan kalahan. Kondisi materialnya seni justru alat paling jitu untuk mempertahankan kekuasaan, tanpa membungkamnya. Yang diperlukan adalah hentikan segala pengestetisan penderitaan dan perlawanan! Bangkit, berorganisasi, dan tumbangkan!
Editor: Vincentius Dandy
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








