Di tangan kakek dan bapaknya darah berlumuran, sedang sang anak justru mengubahnya menjadi nama yang bersih lewat seni, dan generasi sesudahnya akan mewarisi nama itu tanpa lagi mencium asalnya.
Seperti biasa, sebuah festival akan memilih namanya dan tahun ini ARTJOG memilih Ars Longa: Generatio, yang dalam rilis pers mereka dijabarkan dengan dialogis, interdisipliner, lintas generasi. Pameran dibuka pada 19 Juni, dan persis pada hari-hari menjelang itu generasi yang konon “dirayakannya” justru turun ke jalan di banyak kota. Mereka menuntut penghentian pemborosan anggaran, penurunan harga bahan bakar, penghentian program buang-buang duit, penarikan militer dari ranah sipil, dan satu hal yang paling telanjang: presiden mengakui kesalahannya–atau turun mungkin? Bahkan beberapa elemen menyebut istilah yang membuat saya sendiri merinding: Reformasi Jilid Dua.
Sekarang mari kita perhatikan aforisme yang dipinjamnya, karena di situ kecelakaan pertamanya. Pepatah Hippocrates yang asli, dan kutipan Latin yang ditaruh kurator sendiri di awal teksnya berbunyi vita brevis, ars longa. Hidup yang singkat disebut lebih dulu, baru seni yang panjang, demikian ungkapnya. Namun, festival ini memotong maknanya. Ia menaikkan Ars Longa ke judul, menonjolkan keabadian seni, dan menenggelamkan vita brevis ke latar sampai hampir tak terbaca. Pemotongan itu bukan urusan tata bahasa semata. Justru ini adalah ringkasan seluruh operasi festival, yaitu mengedepankan keabadian seni dan mengubur dalam-dalam “kehidupan yang dipendekkan”. Siapa yang dikubur? Sebuah generasi.
Bersamaan dengan adanya kabar yang santer di kota yang jadi titik perhelatan perayaan seni ini, kita menemukan sebuah keironian. Ada nama-nama yang janggal, yang mulanya malu-malu terungkap, turut serta dalam perhelatan “lebaran seni” tahun ini, di tahun yang cuaca politiknya terasa sangat panas dan memuakkan. Nama tersebut betul-betul memaksa kita semua untuk berpikir ulang akan semangat yang diusung.
***
Selain pentungan, kekuasaan hari ini juga (masih) dibangun dengan persetujuan. Bisa dikatakan pentungan justru gagal, karena setiap kepala yang dipukul di jalan menjelang 19 Juni hanya menelanjangi orang yang memerintah. Persetujuanlah yang justru lebih kuat menopang kekuasaan itu sendiri. Sebab ada kenyataan bahwa cara pandang penguasa diterima sebagai hal yang wajar, bahkan oleh rakyat selaku pihak yang dirugikan.
Persetujuan tersebut diproduksi di tempat tertentu, di ruang makan sipil, di ruang tamu kebudayaan, sampai di ruang kerja lembaga yang justru tampak paling jauh dari negara. ARTJOG adalah salah satu pabrik persetujuan yang dimiliki negeri ini. Tulisan ini sederhana saja: ARTJOG 2026 adalah mesin yang mengubah modal kotor blok penguasa menjadi persetujuan publik, dan mesin ini bekerja justru karena ia tampak merdeka.
Seni adalah sebuah medan dengan otonomi yang relatif. Kekuatan medan seni bertumpu pada satu klaim, yaitu bahwa ia menilai dengan ukurannya sendiri, tanpa pamrih, lepas dari kapital dan kuasa. Klaim inilah yang memberi medan modal simbolik akan kesenian itu sendiri. Di sini, ARTJOG adalah lembaga pengukuh semacam itu selama hampir dua dekade.
Namun, medan ini punya rahasia kotor, ia hidup dari penyangkalan terhadap ekonomi. Agar modal simboliknya bernilai, medan harus terus berpura-pura tidak peduli uang. Maka mitos ARTJOG tentang dirinya yang mandiri, artist-driven, model anomali yang lahir dari masyarakat sipil di akhir bulan madu Reformasi 2007, bukanlah narasi yang perlu kita banggakan lagi. Sebab ternyata, dari situ lahir penyangkalan ekonomi, dan dari penyangkalan itulah produksi modal simbolik nanti bisa dipinjamkan.
Tidak ada yang menimpa ARTJOG dari luar. Semuanya berjalan dengan manajemen yang aktif merayu sponsor, juga kurator yang menulis tema sambil tahu persis siapa yang membayar.
Festival ini bukan korban lanskap pendanaan yang busuk. ARTJOG justru juru cuci paling cakap di lanskap itu. Kenapa? Lihat daftar penyangganya–cukup pada daftar puncaknya saja. Main Partner festival ini adalah Bakti Budaya Djarum Foundation. Tiga Strategic Partner-nya adalah Didit Hediprasetyo Foundation, BRI, dan Pertamina.
Empat nama ini bukan donatur acak yang kebetulan murah hati. Mereka adalah kepentingan-kepentingan yang memerintah Indonesia, yang diringkas dalam satu papan sponsor, yaitu kapital konglomerat lewat Djarum, dinasti politik lewat Didit, kapital ekstraktif negara lewat Pertamina, dan capital finance negara melalui BRI. Sejauh ini kita baru menjelaskan bagaimana pertukaran modal ini bekerja atau kenapa blok penguasa menginginkannya.
Mulai dari Djarum, ia veteran dalam permainan ini. Uang Djarum adalah uang kretek yang kita tahu sendiri bagaimana monopoli perdagangan kretek ini mengisap darah para petani tembakau. Di sana ada nama Hartono sebagai salah seorang terkaya di Indonesia, dengan tentakelnya pula di BCA.
Bakti Budaya Djarum Foundation sudah berpuluh tahun mengubah uang tembakau menjadi kasih sayang nasional, lewat seni, film, olahraga, dan beasiswa, sampai pernah memantik kontroversi soal eksploitasi anak dalam ajang yang berlabel rokok. Artinya, Main Partner ARTJOG adalah mesin pencuci kapital yang paling berpengalaman di negeri ini. Mereka tahu persis bagaimana modal ekonomi yang kotor dikonversi menjadi modal simbolik yang dicintai.
Generatio bicara pewarisan, sesuatu yang didialogkan satu generasi untuk yang berikutnya. Namun BRI dan Pertamina adalah agen dari kebalikan ini semua. Di tangan mereka, generasi berikutnya tidak mewarisi hutan, karena dua raksasa ini justru mewariskan tanah gundul dan iklim yang pecah. Pertamina dan BRI membawa dosa ekstraksi, dan keduanya menampar langsung kecemasan yang dijual teks kuratorial.
Teks kuratorial Ars Longa: Generatio dengan gemulai bicara antroposen, kepunahan dan krisis keanekaragaman hayati. Lalu antroposen itu dibiayai Pertamina, yaitu bahan bakar yang harganya sedang ditangisi lintas generasi di jalan, dan dibiayai BRI, yang menurut data Forests & Finance dan TuK Indonesia adalah kreditor terbesar kedua bagi komoditas pembabat hutan, dengan eksposur sekitar Rp 96 triliun ke sawit, pulp, dan kayu, sambil menyebut dirinya First Mover on Sustainable Banking–sebuah klaim hijau yang sudah dibantah peneliti lingkungan negeri ini sendiri.
Pertamina sebagai perusahaan negara yang memonopoli migas di Indonesia merupakan juara bertahan di klasemen korupsi negeri ini. Dalam tabulasi Liga Korupsi yang disusun Kompas per Juni 2025, perkara tata kelola minyak mentah Pertamina periode 2018 sampai 2023 menjadikannya duduk di puncak klasemen dengan taksiran kerugian negara sekitar Rp 968,5 triliun. Hal itu menjadikannya skandal korupsi terbesar dalam sejarah Indonesia, melewati skandal PT Timah, dan jauh di bawahnya BLBI dengan angka Rp 138 triliun.
Modusnya sederhana, tetapi amat keji. Jajaran direksi anak usahanya membeli BBM RON 90 atau lebih rendah dengan harga RON 92 lalu mengoplosnya di depo agar tampak seperti Pertamax. Artinya bahan bakar yang harganya ditangisi di jalan itu bukan cuma mahal, ia juga dikorupsi dan dikeruk oleh perusahaan yang sama yang kini menandatangani cek untuk festival 19 Juni ini. Di tengah tata kelola yg korup, mendanai kegiatan seni untuk mencuci citranya harus kita sebut dengan apa, kalau bukan zalim?
Festival dengan sederet emblem-emblem ideologinya menerima cek dari para pemodal kepunahan generasi. Pada teks yang sama bahkan ada janji untuk melampaui propaganda generasi muda sebagai demografi target pasar. Padahal alasan paling jelas sebuah bank mensponsori festival seni anak muda adalah: menempelkan mereknya pada demografi target pasar dengan meminjam legitimasi. Dalam kalimat yang sama, tempat di mana ia berlagak melampauianya, disangkalnya pula fungsi yang ia jalankan bagi penyokongnya. Inilah vita brevis yang pertama: hutan dan masa depan yang dipapras, lalu disembunyikan di balik kata lintas-generasi.
Dari semuanya kita perlu melihat satu generasi yang tidak akan hadir dalam dialog lintas-generasi ini, yaitu generasi yang dihilangkan, dan di sinilah kita harus berhenti lama pada nama Didit Hediprasetyo. Pertama sebagai Didit Hediprasetyo Foundation dan kedua sebagai officiated festival. Sekali lagi, di nama ini kita perlu berhenti lebih lama karena ia adalah simpul yang paling lentur yang sebenarnya sangat kaku. Banyak mungkin yang memandangnya hanya sebagai seorang perancang couture lulusan Paris, pecinta seni, apolitis, hidup jauh dari hiruk-pikuk politik RI1—bapaknya.
Citranya yang kosmopolitan dan apolitis ini tidaklah bersifat netral. Itu semua cuma alibi yang dirakit, sebab—percayalah—tidak ada yang netral dari anak tunggal seorang presiden yang tengah berkuasa. Ke mana pun namanya pergi, ia turut serta membawa kepresidenan masuk ke ruangan, mau ia berpidato atau tidak. Maka kehadiran Didit Hediprasetyo Foundation sebagai Strategic Partner bukan sumbangan seorang kolektor, melainkan sebuah restu dari keluarga istana.
Di sini modal politik yang Didit bawa bukan modal yang bersih. Ingatlah bahwa bapaknya diberhentikan dari militer oleh Dewan Kehormatan Perwira terkait penculikan aktivis pro-demokrasi pada 1997 dan 1998, tiga belas di antaranya masih hilang sampai hari ini, dan tidak pernah ada proses pengadilan yang menuntaskannya. Di garis ibu, Didit adalah cucu Soeharto, jenderal Orde Baru dengan tiga dekade kekuasaan otoriternya, aktor pembantaian pasca 1965, dan sederet warisan korupsinya.
Jadi dalam satu orang ini kita bertemu dua nama paling diperdebatkan dalam sejarah kuasa Indonesia, yaitu bapak yang namanya berkelindan dengan aktivis yang hilang, dan kakek yang namanya berkelindan dengan rezim yang menghilangkan jauh lebih banyak nyawa.
Bisakah ini disebut artwashing? Tentu bisa. Artwashing adalah pertukaran. Sebuah pihak yang membawa noda, entah darah, ekstraksi, atau kuasa yang fasis, yang menyerahkan uang kepada institusi seni, dan sebagai gantinya menerima sesuatu yang tidak bisa dibeli di tempat lain yaitu modal simbolik.
Laku ini memindahkan kepercayaan yang dimiliki seni: seni yang menilai dunia dengan jujur dan merdeka, ditukar kepada pihak yang justru paling tidak jujur dan paling tidak merdeka. Jangan berpikir bahwa di sini karya atau bungkamnya kritiklah yang dibeli. Tidak. Apa yang mereka beli adalah asosiasi, yaitu hak untuk berdiri di samping sesuatu yang tampak baik dan ikut terlihat baik karenanya. Di sini kelicikannya nampak karena tidak ada pihak yang merasa ditipu. Semua pihak tahu dan diuntungkan, serta ketiadaan korban yang jelas membuat kejahatannya sulit dituduhkan.
Kenapa harus seni yang jadi deterjen di sini? Ya, karena mensponsori seni yang menggunakan bahasa-bahasa humanis macam dekolonial, ekologis, emansipatoris, dialogis, dsb. dapat membeli sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu kesan bahwa si pembayar cukup terbuka, cukup percaya diri, bahkan cukup demokratis untuk membiayai suara yang seolah melawannya.
Lucu, kan? Kapital negara dan dinasti tidak memilih seni yang jinak. Mereka memilih seni yang tampak galak, karena membeli kegalakan adalah alibi yang paling meyakinkan yang pernah ada. Rezim yang membiayai kritik terhadap dirinya sendiri kelihatan tidak terancam, lapang dada, dan modern. Jadi jangan berpikir bahwa wacana progresif yang diusung akan merugikan. Yang ada menjual citra perlawanan kepada publik sambil menjamin tidak ada perlawanan adalah kemenangan para kapital.
***
Meski begitu perusakan yang paling dalam bukan semua yang disebut di atas, karena itu masih perusakan dari luar. ARTJOG telah menelan kosakata pemberontakan anak muda itu sendiri, yaitu generasi, dialog, imajinasi sosial—yang dibeli lebih dulu lalu diucapkan ulang sebagai tema sponsor—sehingga ketika anak muda memakai kata itu untuk melawan, kata itu sudah jadi milik yang dilawan. Bahkan David Graeber ikut ditelan, seorang anarkis penggerak Occupy yang seumur hidupnya menyerang persis kapital yang membayari festival semacam ini.
Lebih dari itu, festival ini menyerap energi pemberontakan generasi muda ke dalam perayaan yang aman, lalu mengembalikannya kepada mereka sebagai persetujuan. Apa yang diproduksi pada akhirnya bukan lukisan, melainkan akal sehat, yaitu rasa yang ditanam pelan bahwa blok berkuasa ini berbudaya, terbuka, dan pelindung seni, sehingga wajar didukung atau setidaknya tidak layak untuk dilawan. Generasi kita diajari bertepuk tangan untuk blok yang sedang menghabisi hutannya, upahnya, dan kawan-kawannya yang dipukul di jalan. Generatio, pada akhirnya, memproduksi sebuah generasi yang mencintai perusaknya.
Maka kembali ke aforisme yang mereka usung. Vita brevis, ars longa. Seni ini memang panjang, dan ia bisa panjang justru karena ada hidup yang dipendekkan di bawahnya. Festival memilih menaruh ars longa di depan dan mengubur vita brevis, dan dalam pilihan itu ia sudah mengaku, yaitu memilih keabadian seni dan menyingkirkan hidup yang dikorbankan untuknya. Generatio bukan dialog lintas-generasi. Tema tersebut adalah kuitansi atas perusakan yang terjadi.
ARTJOG memonumenkan dirinya sebagai salah satu garis depan tempat kekuasaan sedang dipertahankan, dengan bahasa yang dicuri dari generasi yang sedang dirusaknya. Seperti halnya seni, napas perlawanan pun harus tetap panjang, sekecil apa pun itu.
Editor: Ivo Trias Julianno
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








