Ketika membaca tulisan kawan Ifan Reynaldi yz, “Vonis Teoretis Anarkisme dalam Animal Farm: Negara Adalah Petaka Revolusi.” Saya sampai harus mengernyitkan dahi. Bukan karena tergugah dengan interpretasi, tetapi sinkretisme buta dari parade kutipan beberapa tokoh, tanpa pemahaman dan analisis yang memadai dari konteks historis-ahistoris. Tidak adanya demarkasi antara negara borjuis dan negara proletar, sehingga kawan Ifan hanya bisa menghardik negara sebagai petaka dari revolusi, seakan ini adalah keniscayaan.
Saya pun sampai bertanya-tanya: “Apakah Vicky Prasetyo adalah mentor kawan Ifan selama proses penulisan?”
Oleh karena itu, selain menanggapi untuk memecah kebuntuan, tulisan ini juga akan menawarkan suatu alternatif konseptual, betapa pentingnya memahami materialisme-historis, karena kawan Ifan mengutamakan pembacaan yang sinis ketimbang analitis.
Ilusi Kemerdekaan hingga Lahirnya Negara Babi
Dalam Animal Farm, Orwell memang berhasil membangun alegori kuat tentang pengkhianatan revolusi. Perlu diketahui, Orwell bukan seorang anarkis, melainkan seorang sosialis-demokrat yang muak pada totalitarianisme Stalin. Membaca Orwell sebagai penolakan total terhadap negara, selain keliru juga menyesatkan dari segi konseptual. Terlebih lagi, ketika kawan Ifan mengutip Mao Zedong dan Rosa Luxemburg sebagai justifikasi yang memperjelas kebuntuannya dalam memahami konteks.
Telaah dari perspektif marxis, menjadi keniscayaan bahwa negara adalah arena terjadinya kontradiksi kelas antara penindas dan tertindas. Marx dan Engels dalam The German Ideology (1846) menegaskan bahwa “(k)elas yang berkuasa secara material dalam masyarakat adalah pada saat yang sama kelas yang berkuasa secara intelektual.” Ketika para babi merebut kekuasaan, mereka menciptakan kelas baru yang mendominasi relasi produksi yang tak berubah dan cenderung eksploitatif.
Pemberontakan hewan-hewan ternak hanya mengganti Jones dengan Napoleon, sebuah contoh representasi klasik karena gagal membongkar basis ekonomi. Ini bukan persoalan ada tidaknya negara, tetapi apakah alat produksi dan distribusinya telah dikuasai bersama atau tetap dikendalikan minoritas? Dalam konteks ini, para babi telah menjelma sebagai borjuasi baru atau dalam The Poverty of Philosophy (1847) mereka telah berhasil menukar sistem ‘kepemilikan kolektif’ menjadi ‘privatisasi yang dilegitimasi oleh ideologi.’
Negara Babi dan Matinya Prinsip Animalisme
Pada bagian ini, perubahan mendasar dalam dinamika kekuasaan terlihat dari para babi yang tidak hanya menguasai alat produksi, tetapi juga memunculkan ideologi sebagai kesadaran palsu yang menimpa seluruh hewan, terutama Boxer. Boxer adalah subjek ideal dari ideologi penguasa, tak sadar sedang dieksploitasi, bahkan rela mati dalam proses kerja karena baginya, “Napoleon selalu benar” dan “Aku akan bekerja lebih keras.”
baca juga:
–Ia Mati, Selayaknya Anjing Mati
–Film Pengkhianatan G30S/PKI: Ideologi dan Marxisme
Dalam analisis kelas, Boxer adalah sosok proletariat yang telah direduksi menjadi fungsi-fungsi kerja semata dan secara sadar memperkuat dominasi kelas babi. Kondisi ini mencerminkan alienasi, di mana tenaga kerja Boxer terpisah dari hasil kerjanya dan dari dirinya sendiri sebagai subjek.
Ketika dijual ke tukang jagal dan hasilnya dibelikan whisky untuk para babi, ini bukan sekadar metafora, melainkan gambaran brutal mengenai konversi nilai surplus kerja yang dihasilkan dalam memproduksi komoditas. Lebih ironisnya lagi, para hewan lainnya memilih untuk diam dan tetap percaya, bahkan memuji para babi—di sinilah peran ideologi: bukan melalui paksaan, tetapi internalisasi nilai-nilai dominasi oleh korban sendiri—Marx menyebut ini sebagai false consciousness.
Revolusi Tanpa Negara, Mungkinkah?
Pada bagian ini, titik kelemahan kawan Ifan makin jelas dan terjebak dalam utopia lama anarkisme yang percaya revolusi bisa terjadi dengan asosiasi bebas—membentuk masyarakat tanpa hierarkis, termasuk negara. Mengutip tokoh-tokoh seperti Emma Goldman, Peter Kropotkin, bahkan Che Guevara. Sekali lagi, saya bertanya: “Apakah kawan Ifan pernah membaca otobiografi Che Guevara? Jika iya, apa tujuan yang ingin dicapai dalam Revolusi Kuba? atau hanya sekadar mengutip demi memperkuat argumen tentang revolusi anarkis?”
Revolusi tentunya mengharuskan pengorganisasian kekuatan secara terencana untuk mempertahankan pencapaian revolusioner. Jika tidak, maka akan meledak ibarat sebuah bom waktu.
Seperti Revolusi Spanyol pada 1936 yang menjadi tolok ukur atas inkoherensi, juga keterbatasan anarkisme pada teori maupun praktik. Sekalipun menolak segala bentuk hierarki dan kekuasaan, kaum anarkis tetap harus mengorganisir diri melalui Confederación Nacional del Trabajo-Federación Anarquista Ibérica (CNT-FAI) agar memperkuat kekuatan massa untuk mengambil alih pabrik dan pertanian, serta pembentukan milisi rakyat.
Saat revolusi mencapai puncaknya, kelompok anarkis mengalami dilema ideologis: menolak kekuasaan negara, tetapi di sisi lain tidak menghancurkan negara borjuis dengan struktur alternatif yang lebih terorganisir maupun tersentralisasi. Karena tidak ada pilihan lain, kolaborasi kelas dengan pemerintahan republik justru memberikan jalan untuk revolusi dilucuti faksi kontra-revolusi sehingga digilas habis fasisme Franco.
Kekalahan tragis di Spanyol, bukan hanya memberi pukulan telak kepada kaum anarkis, tetapi karena pengabaian total terhadap strategi dan taktik Revolusi Bolshevik 1917. Paling tidak, ini menunjukkan betapa pentingnya mempelajari serta memahami Revolusi Bolshevik yang telah mempengaruhi terjadinya gerakan-gerakan konfrontasi hingga percikan revolusi, seperti di Kuba, Tiongkok, bahkan Indonesia.
Sekalipun Revolusi Bolshevik kemudian dikhianati rezim totalitarianisme Stalin—baca: stalinisme—yang melatarbelakangi alegori Orwell. Apakah ini berarti kita harus menyimpulkan secara menyeluruh dan membenarkan bahwa negara adalah petaka revolusi? Oh, tentu saja tidak!
Pernyataan “menolak untuk mengerti”, adalah ungkapan paling jujur. Di lain sisi, kawan Ifan patut diapresiasi karena sangat lihai memadukan frasa-frasa puitis antara cinta dan luka revolusi dengan argumentasi yang ahistoris. Tak ubahnya seperti catatan harian seseorang yang sedang patah hati. Alih-alih merumuskan fondasi teoritis dan praktis yang lebih progresif sebagai prasyarat revolusi—disebut Gramsci ‘intelektual organik’. Sepertinya duduk merenung di warung kopi sembari mendengar Love Driven Fury sudah cukup.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








