Kakakku mematung mendapati diriku terbaring di ruang mayat rumah sakit kampus. Air matanya jatuh membasahi seluruh wajahku yang telah diselimuti kain putih. Udara di sekitarnya terasa berat, seakan ruangan itu telah mencuri oksigen dari paru-parunya. Ia menangis, tetapi tangisan itu terjadi di dalam dirinya saja. Tangannya mengepal keras dan wajahnya memerah. Ia merogoh ponsel di sakunya. Dengan menahan segala amarah, ia memberi kabar ke orang tuaku. Bapakku dengan nada lirih bilang di ujung teleponnya, “Nak, selesaikan masalah adikmu dengan cara yang sama.”
***
Setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah, bukan karena ingin menambah ilmu dan mendapatkan gelar sarjana, tapi untuk terhindar dari cerita di kampung agar tak ada yang mencomooh bapak dan ibuku yang tak mampu menjadikanku manusia. Semua orang seusiaku di kampung merantau dan kuliah, jika aku tidak keluar dan pergi, maka orang tuaku akan malu dan menghardik diri mereka sendiri karena merasa gagal.
Aku memilih Makassar untuk melanjutkan kuliah. Sebuah kota metropolitan yang sangat padat. Selain karena di sana banyak universitas negeri yang bagus, juga karena kakakku telah lebih dulu kuliah di sana. Kakakku seorang mahasiswa di Fakultas Hukum tingkat akhir di kampus swasta, dan sekarang telah memasuki semester ke-13, yang artinya, ini tahun terakhir sebelum dia di-drop out. Hal ini bukan berarti kakakku seorang pemalas yang kerjanya hanya menghabiskan uang orang tua di kampung. Semenjak lima tahun yang lalu, ia telah membiayai kuliahnya sendiri dan bahkan kehidupannya di Makassar. Ia lebih banyak sibuk di luar kampus sebagai aktivis kemanusiaan dan memberikan bantuan hukum bagi mereka yang miskin. Mungkin karena itu pula, ia lamban dalam mengurusi gelar sarjana hukumnya sendiri.
Aku ingat sekali. Dulu waktu ia pulang kampung, aku membongkar tasnya untuk mencari oleh-oleh dan yang kutemukan hanyalah kemeja-kemeja hitam berkantung, bertuliskan namanya yang terbordir dan di bawahnya tertulis ketua umum, di belakangnya bertuliskan nama perhimpunan kampungku. Tak ada oleh-oleh di dalam tas yang lusuh itu. Meski kecewa, tapi oleh-oleh yang paling berharga adalah bertemu seorang saudara yang bertahun-tahun tidak berjumpa.
Sebelum ke Makassar, kakakku menelpon dan memberi tahu bapak dan ibu agar aku tak satu kampus dengannya. Ia menganjurkanku untuk mendaftar di universitas negeri, selain biayanya lebih murah, juga lebih menjanjikan dan lebih aman. Kata terakhir dari kakakku sedikit menggangguku, kata aman menjadikan niatku kuliah sedikit menciut untuk berangkat ke Makassar.
Suatu petang, ketika ia pulang kampung di bulan Ramadhan tahun lalu, aku mengotak-atik laptop kakakku. Aku menemukan folder mahasiswa, kemudian di dalamnya berisi banyak folder lagi. Folder “berkasku” berisi file-file dokumen: laporan pertanggung jawaban, proposal kegiatan, hasil rapat kerja, dan lain-lain, di folder lainnya bertuliskan “KTI-ku” yang berisi banyak tulisan. Aku masih mengingat beberapa kata di antara judul-judul tulisan itu, ada kata “Karl Marx”, “Kapitalisme”, “Korupsi”, “Perdata”, dan banyak lagi yang aku sudah lupa. Aku tidak tertarik untuk membukanya apalagi membaca tulisan orang-orang dewasa. Tapi, folder terakhir membuatku sangat penasaran. Folder itu bernama “Tragedi Kampus Hijau”. Di dalamnya ada banyak video dan foto-foto yang berjudul “Amarah” (April Makassar Berdarah) dan “Memar” (Mei Makassar Berdarah).
Kulihat ada foto tentara masuk di dalam kampus yang berhadapan langsung dengan mahasiswa, ada juga mahasiswa bertubuh gempal terkapar dengan wajah lebam dan memar, ada orang-orang menyeberang di sungai yang keruh, dan beberapa foto jenderal dalam ruang sidang militer. Lalu, kulanjutkan rasa penasaranku dengan memutar video “Memar”. Di video itu, polisi masuk kampus, memburu seluruh mahasiswa bagai bandit yang masuk dalam DPO. Mahasiswa lari pontang-panting. Polisi berhasil meringkus beberapa mahasiswa dan juga memecahkan kepala mereka dengan gagang pistol dan bambu. Mahasiswa diarak keluar tanpa menggunakan baju dan memegang kepala mereka yang berlumuran darah. Aku tertegun dan merinding melihat semua itu. Betapa mengerikannya menjadi mahasiswa kala itu. Kulihat keterangan di video, “Memar” terjadi tahun 2005 sementara insiden “Amarah” terjadi tahun 1996 dua tahun sebelum Soeharto melepaskan jabatanya sebagai presiden.
***
Sudah bulat niatku untuk mendaftar di Kampus Merah, kampus terbaik negeri se-Indonesia Timur. Tapi nasib berkata lain, aku tidak lulus. Aku ingin pulang, tapi takut dimarahi bapak dan ibu sebab biaya ke Makassar saja sudah memakan biaya yang tidak sedikit. Akhirnya aku kembali ke kos kakakku. Saat aku pulang, kakakku sudah menyiapkan makan sore. Terlihat sangat lezat. Ayam lalapan itu kumakan dengan lahap. Setelah selesai, sebelum kakakku angkat bicara aku sudah memberi tahunya lebih dulu kalau aku tidak lulus. Raut wajahnya kecewa, aku tahu ia sangat ingin melihatku masuk di kampus negeri itu, kampus yang sangat ia idamkan, namun gagal juga ia dapatkan.
“Tak ada jalan lain, serahkan semua berkasmu, kamu cukup ikuti seluruh perintahku. Dan berhentilah bersedih, kau tak akan pulang kampung. Kau akan kuliah di kampusku,” kata kakakku sambil menepuk-nepuk pundakku. Kakakku sungguh tidak ingin melihatku bersedih, sebagai adik satu-satunya, tentu ia sangat sayang padaku.
Benar saja, satu minggu setelah itu. Aku disuruh ke Kampus Hijau untuk wawancara. Ternyata aku diterima di Jurusan Sastra Inggris. Aku sangat bahagia dan berpikir bahwa memang kakakku tidak hanya sembarang kuliah, buktinya aku bisa diterima di sini dengan mudah dan bahkan tanpa tes masuk sekalipun. Tapi kebahagiaan itu hanya sementara, sebab tiba-tiba ketakutan lain meyerangku.
Aku membatin, “Aku akan masuk ke Kampus Hijau.”
Melihat gayaku yang kemayu dan lembek, kakakku menyuruhku terlebih dulu pulang ke kampung untuk dimandikan sama kakek. Aku tertawa ketika mendengar ucapannya, sebab dengan usiaku yang sebesar ini mana mungkin aku dimandikan sama kakek.
Kakakku lantas mengingatkan, “Kau pulang saja dulu dan ikuti perintahku, jangan banyak bantah, ini demi kebaikanmu juga.”
Aku hanya dua hari di kampung. Saat aku menghadap kakek, ia sudah mengerti apa yang harus ia lakukan dan ia menitipkan sebilah badik, katanya untuk jaga-jaga saja. Semenjak dari kampung, aku seakan terlahir kembali, aku tidak lagi menundukkan kepala saat berjalan. Tubuhku tegap, dadaku membusung dan mataku tajam seperti serigala.
Hari pertama menginjakkan kaki di Kampus Hijau, aku disambut dengan puluhan baliho dan gambar-gambar di tembok. Gambar dan tulisannya sangat mengintimidasi dan mengancam. Baliho berwarna hitam bergambar tengkorak dengan mata berwarna merah bertuliskan, “Selamat datang di kampus perjuangan.” Aku berjalan sedikit di samping gerbang, “Selamat datang para petarung.” Ada juga baliho yang aku suka. Ada di simpang tiga dekat Fakultas Kedokteran bertuliskan kutipan Soe Hoek Gie, “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.” Sayangnya, baliho itu koyak, entah karena apa, tapi masih sangat jelas tulisannya. Bambunya sedikit lagi rubuh karena ditebas. Barangkali banyak yang tersinggung. Sedikit tulisan yang lebih arogan tertulis di tembok sebuah kantin, “Area hukum di sini, tabe’2 ko.” Aku melewatinya dan tersenyum.
Ternyata memang kampusku ini sesuai dengan tulisan penyambutanku di gerbang. Bahwa kampus ini penuh dengan para petarung. Saat baru beberapa hari menginjakkan kaki di kampus, Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik tewas ditikam. Katanya, ia hanya bernasib sial. Niatnya untuk melerai, tetapi tewas dengan darah yang tidak keluar. Dua tahun setelah itu, junior kakakku di Fakultas Hukum, meninggal di rumah sakit kampus. Tersiar kabar, ia ditikam di kamar kosnya. Ia kabur mengendarai motor sambil memegang perutnya yang telah bersimpah darah menuju rumah sakit. Meskipun kuat memapah dirinya sendiri, ia tidak tertolong. Tak lama berselang, duel terjadi di depan Fakultas Hukum. Kabarnya hanya persoalan dendam lama yang bersemi kembali. Luka lama organisasi yang tidak pernah selesai. Akhirnya menghilangkan nyawa seseorang.
Aku menghabiskan tiga tahun di kampus ini dan belum sekalipun aku membuat dan mencari perkara yang memicu “orang lain” dalam tubuhku keluar. Semenjak mahasiswa baru, aku mengikuti seluruh prosesnya, menghargai semua senior dan tidak ingin mencari masalah. Di fakultasku, semua orang baik dan seperti keluarga. Karena kedekatan itu pula aku didukung untuk maju menjadi ketua senat bukan hanya junior dan senior di dalam kampus, tapi senior-senior di luar kampus yang sudah lama lulus ikut mendukungku pula.
***
Pendaftaran bakal calon ketua senat dibuka. H-1 satu, tak ada calon lain terdengar selain namaku hingga tiga hari setelahnya. Aku melihat kertas pengumuman milik KPU yang ditempel di semua pintu kelas. Aku diselimuti keheranan, ada foto Abbas di sana.
Abbas sahabat karibku. Teman pertama yang kudapatkan di Makassar. Aku selalu tinggal di kosnya sepulang kuliah. Orangnya luar biasa baik. Jika ingin makan, ia tak pernah ingin pergi sendiri. Kita melewati seluruh pengkaderan fakultas bersama-sama sehingga hal itu menambah kedekatan kami. Tapi semenjak ia aktif di luar kampus dan lebih aktif di organisasi daerahnya, kami jarang lagi bersama. Ia sudah sangat jarang memunculkan wajahnya di kampus.
Hari-hari penuh mencekam tiba. Wakil Dekan mengeluarkan keputusan baru bahwa, bagi siapa saja yang ingin menjadi ketua senat harus memiliki minimal IPK 3.0 tidak boleh kurang dari itu. Ia akhirnya tidak meloloskan Abbas dalam bursa pencalonan ketua senat sebab IPK-nya hanya 2.75. Seluruh surat pengumuman milik KPU dicabut. Meski awalnya Abbas lolos verifikasi oleh KPU, tapi kemudian dianulir oleh pihak birokrat. Ketua KPU tidak bisa apa-apa. Ia harus patuh pada aturan Wakil Dekan sebagai pembina kemahasiswaan. Namun, tiba-tiba pemilihan ditunda karena ketua KPU menghilang. Ada yang bilang, kalau ia harus pulang kampung karena tak tahan lagi diancam. Setiap malam ia diteror dan ingin dibunuh.
***
Suasana di fakuktas ramai sekali. Seluruh angkatan hadir pada hari pemilihan ini. Sebetulnya bukan pemilihan, tetapi pengukuhan diriku sebagai ketua senat, sebab calon hanya satu dan itu artinya aku dipilih dan menang secara aklamasi.
Tapi di luar sana…
Perempuan berlarian kocar-kacir, juga berteriak dan menangis histeris. Seluruh keramaian buyar seketika. Batu-batu melayang ke gedung fakultas. Kaca jendela gugur satu demi satu dan menjadi puing-puing. Kendaraan yang tegak berdiri kini semuanya berbaring. Empat motor yang memiliki plat yang menunjukkan identitas kampungku terbakar. Suara alarm mobil-mobil berbunyi dan membuat suasana semakin riuh. Di bawah, ada sekitar tiga puluh orang yang siap perang. Ada yang mengangkat parangnnya tinggi-tinggi dengan mengeluarkan suara mengelegar. Juga kudengar suara di luar sana menyebut nama dan daerahku dengan ditambahi nama-nama binatang di belakanngya. Aku menahan diri untuk tidak keluar. Bukan takut, tapi aku tidak ingin orang lain dalam diriku menjadi liar.
Aku panas dan semakin bertambah panas. Kemarahanku tak bisa lagi kuredam ketika salah satu junior dengan tersengal-sengal mendatangiku di aula, di lantai dua.
“Kanda, banyak sudah anak-anak hancur di bawah, mereka sudah tidak bisa ditahan, mereka banyak sekali.”
Orang lain dalam diriku akhirnya keluar. Kutinggalkan ruangan. Kutampik tangan Wakil Dekan yang menahan dan melarangku keluar. Ia memelas sembari berkata padaku, untuk tinggal saja di sini dan jangan ikut meladeni karena akan menambah rusuh keadaan. Ia bilang, sudah menelpon pihak rektorat, dan polisi akan segera datang. Aku tak lagi menghiraukan kata-katanya, kubilang, “Pak, biar saya selesaikan masalahku, ini siri’ namanya, saya tidak pernah diajarkan keluargaku di kampung untuk lari dari masalah.”
Aku berjalan turun, kulepaskan jaket kulitku, kutanggalkan topi kesayanganku, kusingkapkan kedua lengan bajuku lalu kuambil badik titipan kakek dalam tas selempang kecilku. Aku tiba di bawah dan berlari ke arah jalan agar mereka meninggalkan teman-teman dan adik-adik juniorku yang kulihat dari kejauhan sudah terkapar dan bercucuran darah. Aku hanya seorang diri, mereka mengelilingiku, dan orang yang paling depan aku sangat mengenal matannya: Abbas. Ternyata ia otak dan pemimpin dari penyerangan ini.
Satu tebasan parang mengenai punggungku, aku berbalik. Semua orang di situ sontak serentak kaget, sebab kemeja hitamku hanya robek, tapi tidak mengeluarkan darah. Aku memburu lelaki yang menebasku tadi, aku berlari kencang dan kuhantam belakang kepalanya dengan tendangan terbangku. Ia terjatuh, saat berbalik, kuhunuskan badik sebanyak dua kali di perutnya.
Aku kembali berdiri dan membidik siapa lagi berani maju. Mereka pasang kuda-kuda dengan parang juga busur, tapi mereka enggan menyerang. Tak kusadari dua busur melayang mengenai belakang punggungku, busur itu terpental, aku cepat berbalik dan memburu orang melayangkan busur, tapi langkahku terhenti, saat aku berbalik, orang di depanku menancapkan bambu di perutku yang ujungnya baru saja diruncingkan.
Aku bergetar. Rasa perih itu menjalar seperti api yang membakar pelan dari dalam, menembus daging, menjalar hingga ke tulang, lalu menikam kepalaku dengan nyeri yang tak tertahankan. Dadaku sesak, seakan udara tiba-tiba menghilang, meninggalkanku di antara hidup dan mati. Aku menunduk, melihat ujung bambu yang tertancap dalam di tubuhku, dan ketika mataku ke atas, aku melihat wajah itu: Abbas, tangannya masih menggenggam bambu tua itu, napasnya memburu, tetapi matanya—matanya begitu tenang. Bukan kemarahan, bukan penyesalan, hanya kehampaan yang membekukan waktu di antara kami. Aku ingin berkata sesuatu, tapi mulutku tidak bisa berkata apa-apa selain hanya darah yang mampu menyembur dari bibirku.
Air mataku jatuh begitu saja, bercampur dengan darah yang mengalir deras dari luka di tubuhku. Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan—tusukan di perutku, atau kenyataan bahwa Abbas yang melakukannya. Lututku melemas, tubuhku goyah sebelum akhirnya aku jatuh tersungkur ke jalan, pipiku mencium kerikil aspal yang tajam.
Aku menatap langit. Terang cakrawala sore mulai pudar digantikan warna lembayung bersama gema suara azan magrib yang perlahan menyelimuti mataku. Suaraku lirih, hampir seperti bisikan yang tertelan angin.
“Maafkan saya, Bapak… Ibu… Saya tidak bisa membuat kalian bangga….”
Rasa dingin mulai merayap, menelan semua rasa sakit, semua suara, semua warna. Aku mengerjap sekali, dua kali, sebelum akhirnya semuanya menghilang. Dunia menutup tirainya, dan aku terpejam.
***
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








