ANJING itu datang dari lembah. Berjalan pelan, ekornya mengibas. Ia tak tahu bahwa kakinya sedang menapak di garis fiktif, perbatasan antara dua bangsa yang masing-masing saling menuduh yang satu sebagai penjajah dan yang lain sebagai pengkhianat tanah air. Di atas kakinya yang kecil dan berbulu, ia tidak tahu bahwa dia sedang berada di wilayah yang dijaga dengan kebencian dan senapan laras panjang.
Anjing itu berjalan pelan di antara dua pos militer di desa kecil bernama Titwal yang dijaga India dan Pakistan, di antara dua pasukan yang sama-sama terkurung dalam kebosanan, di kawasan Kashmir yang dingin dan terjal. Dua kubu tentara saling berhadap-hadapan di puncak bukit, dipisahkan ngarai dan aliran air berbatu. Selayaknya manusia yang jemu dengan kekosongan, mereka menyanyi, bercanda, menyair. Namun kebosanan dan hasrat membunuh tak saling meniadakan. Ia hidup berdampingan. Maka ketika seekor anjing muncul, jadilah ia satu medium pelampiasan.
Anjing itu diberi nama Jhun-Jhun oleh salah satu serdadu India, tapi di seberang perbatasan, pasukan Pakistan memanggilnya Shun-Shun. Ia diberi sisa roti kering oleh pihak India, juga diberi makan oleh pihak Pakistan. Ia tersesat di antara dua belas tangan suntuk yang semua menginginkannya berpihak. Namun Jhun-Jhun atau Shun-Shun tidak tahu-menahu hal itu. Ia hanya ingin makan. Dan barangkali, bermain. Ia menggonggong pelan, lalu mengibas-ngibaskan ekor.
“Apakah dia anjing India atau Pakistan?”
Itulah awal malapetaka. Sebab dunia tidak memberi tempat bagi yang tak bisa memilih. Ketika Jhun-Jhun atau Shun-Shun tampak terlalu sering berada di dekat tenda Pakistan, tentara India mulai curiga, jangan-jangan anjing itu mata-mata. Ketika ia kembali ke India, giliran pihak seberang yang geram. Ia tak bisa memuaskan kedua sisi. Satu kesalahan fatal yang tak terpikirkan olehnya.
Karena:
“Even dogs will now have to decide if they are Indian or Pakistani. […] And all Pakistanis, including dogs, will be shot.”
–“The Dog of Tithwal”, Saadat Hasan Manto.
Maka tembakan pun dilepaskan. Tembakan pertama meleset. Lalu disusul tembakan dari sisi lain. Anjing kecil itu tersentak. Anjing itu melolong. Ia tidak langsung mati. Ia sempat tertatih, mencoba berjalan dengan satu kaki terseret, matanya penuh bingung. Namun tak lama kemudian, tembakan kedua, ketiga, dan suara dor terakhir membuat tubuh kecilnya rebah. Anjing itu rubuh dengan proyektil di kepalanya. Bukan sebagai anjing India atau Pakistan, bukan pula sebagai Jhun-Jhun atau Shun-Shun. Ia mati selayaknya anjing mati. Ia sebagai anjing.
Itulah anjing dari Titwal. Ia hanya seekor anjing yang lewat. Namun baginya, dunia tak pernah ‘lewat-lewat saja’. Dunia, baginya, adalah tempat di mana makanan bisa datang dari tangan mana pun dan kasih sayang bisa muncul dari tenda mana pun. Namun dunia juga tempat di mana peluru bisa datang dari arah yang tak terduga.
baca juga:
–Vonis Teoretis Anarkisme dalam Animal Farm: Negara Adalah Petaka Revolusi
–Tak Ada Cinta di Bawah Mendung Junta
CERITA pendek Saadat Hasan Manto ini saya temukan ketika duduk di bangku sekolah dasar pada 2015, kira-kira saat saya masih kelas 4 atau 5 di Madrasah Ibtidaiyah. Tepatnya, di rak buku kakak saya, dalam sebuah buku kumpulan cerpen terbitan Jalasutra berjudul Perang, Cinta, dan Revolusi: Cerita-cerita Anti Perang, yang disusun dan diterjemahkan oleh Anton Kurnia pada 2003. Buku itu saya ambil diam-diam tanpa izin, dengan alasan khas anak kecil—sampulnya keren. Di dalamnya terselip banyak nama yang kala itu terdengar asing di telinga bocah seperti saya: José Eduardo Agualusa, Borges, Kawabata, Manto hingga Steinbeck. Namun entah kenapa, kisah Manto tentang anjing itulah yang membuat saya terpana saat membacanya, di satu Jumat pagi pada mata pelajaran matematika.
Waktu itu saya tak benar-benar paham apa isinya. Saya hanya tahu ada seekor anjing dan dua kelompok tentara yang saling benci. Saya tahu bahwa seekor anjing bisa ditembak hanya karena ia disangka ‘anjing musuh’. Dan saya tak bisa mengerti, bukankah anjing tak mengenal konsep negara?
Kini, bertahun-tahun kemudian, saya membacanya ulang melalui terjemahan berbahasa Inggris oleh Khalid Hasan dan Muhammad Umar Memon, dan saya paham mengapa cerita itu terus menempel dalam benak saya, meski saya sempat melupakannya. Manto menulis cerpen ini sebagai satu alegori tentang kekejian kebangsaan. Soal cita-cita negara-bangsa. Tentang nasionalisme yang kehilangan rasa. Tentang orang-orang yang menyamakan patriotisme dengan kemampuan membunuh lebih cepat daripada berpikir.
CERITA ini pendek. Tak sampai puluhan halaman. Tapi bagi saya ia tetap hidup, karena ia sederhana dan telanjang. Anjing itu adalah tubuh paling polos dalam sebuah arena kekerasan. Ia netral karena ia tak punya negara. Ia tak tahu India, tak tahu Pakistan. Dan itu adalah bencana. Ia harus dibunuh.
Cerita Manto ini lahir dari trauma pemisahan India-Pakistan pada 1947. Sejarah mencatat bahwa peristiwa Partition itu mengakibatkan lebih dari sejuta orang tewas dan puluhan juta lainnya mengungsi. Manto sendiri hidup dalam perpecahan, sebagai seorang Muslim India yang akhirnya hijrah ke Pakistan setelah pemisahan. Namun, bahkan di Pakistan ia dianggap terlalu liberal, tak bisa didikte. Cerita-ceritanya tentang kekerasan banyak ditolak, bahkan dilarang. Namun ia terus menulis. Anjing dari Titwal bukanlah satu cerita njlimet nan ndakik-ndakik, tapi ia punya titik nyerinya sendiri.
Dulu saya kira perang selalu antara dua yang berbeda. Namun Manto menunjukkan bahwa perang bisa terjadi karena terlalu banyak kesamaan. Tentara India dan Pakistan di pos itu dulunya berbicara bahasa yang sama. Makan makanan yang sama, tapi mereka saling membenci karena sejarah dan nasionalisme menjadikan batas sebagai sabda. Betapa batas negara bisa mengubah seekor anjing, dari makhluk yang suka bermain dan mengibas-ngibaskan ekor, menjadi entitas yang layak ditembak. Betapa cepat cinta berubah jadi curiga. Betapa gampang keakraban berubah jadi paranoia. Saya tahu betul, nasionalisme adalah kegilaan kolektif, semacam sampar, yang menyamar jadi cinta, yang membuat suara tembakan sekonyong-konyong terdengar masuk akal.
Kini, saya membayangkan, andai saya bisa bertemu kembali dengan anjing itu, saya tak akan memberinya nama. Namun, saya akan duduk di sampingnya dan membiarkannya tidur di antara saya dan dirinya yang sama-sama tidak ia kenal.
Barangkali, kita semua, pada titik tertentu, adalah anjing dari Titwal yang berjalan dengan lugu di tengah medan kebencian, tak tahu bahwa langkah kita diawasi, bahwa ekor kita bisa dianggap lambaian pengkhianatan, dan tubuh kita bisa jadi alasan bagi dua pihak untuk menyalakkan senapannya. Bukan karena kita bersalah, tapi karena kita tidak memilih untuk membenci.
Saya mendengar suara dor, dan anjing itu rubuh.
Dan bukankah itu dosa terbesar di dunia hari ini?
*Ulasan buku kumpulan cerpen The Dog of Tithwal: Stories karya Saadat Hasan Manto yang diterjemahkan oleh Khalid Hasan dan Muhammad Umar Memon (Brooklyn: Archipelago Books, 2021). Cerpen ini juga masuk dalam buku kumpulan cerpen perang berjudul Perang, Cinta, dan Revolusi: Cerita-cerita Anti Perang yang disusun dan diterjemahkan oleh Anton Kurnia (Yogyakarta: Jalasutra, 2003).
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








