Jika kita berbicara mengenai ajang balap mobil Formula 1 (F1), tentu yang mungkin terbayang adalah bahwa ajang tersebut adalah kasta tertinggi dalam motorsport. F1 adalah tempat bagi pabrikan untuk beradu inovasi, beradu teknologi, serta sebagai tempat untuk riset bagi pabrikan yang harapannya adalah hasil riset tersebut bisa digunakan di mobil produksi jalan raya mereka.
Melihat hal-hal tersebut, tidak heran jika F1 menjadi populer—terutama ketika dipegang oleh Liberty Media seperti sekarang ini. Namun, di balik glamornya F1 dan eksposurnya yang besar, ada pembalap seperti Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel yang memanfaatkan eksposur F1 yang besar tersebut untuk nyambi jadi aktivis. Mereka memanfaatkan eksposur mereka yang besar untuk menyuarakan suara-suara yang mereka anggap benar. Untuk menyatakan sikap politik mereka sebagai bagian dari masyarakat global.
Lewis Hamilton sebagai Aktivis Black Lives Matter (BLM)
Pada GP Toskana 2020 di Sirkuit Mugello, Lewis Hamilton mengenakan kaus hitam bertuliskan “Arrest the cops who killed Breonna Taylor”. Hal itu dia lakukan sebagai aksi solidaritas terhadap Breonna Taylor. Sebagai konteks, Breonna Taylor adalah seorang wanita Afrika-Amerika. Dia ditembak dan dibunuh oleh polisi yang masuk ke rumahnya di Louisville, Kentucky menggunakan surat perintah tanpa ketukan pintu untuk penyelidikan narkotika.
Hamilton menyoroti bahwa permasalahan tersebut adalah permasalahan rasial. Sebagai aktivis Black Lives Matter (BLM), Hamilton menyuarakan #JusticeForBreonnaTaylor dan menyerukan penangkapan pelaku polisi yang dengan sadis telah menembak dan membunuh Breonna Taylor.
Sebastian Vettel sebagai Aktivis Lingkungan
Pada GP Kanada 2022, Sebastian Vettel datang ke Sirkuit Gilles Villeneuve dengan outfit yang tidak biasa. Vettel datang dengan mengendarai sepeda dan mengenakan kaos putih bergambar jaringan pipa dengan tulisan “Stop Mining Tar Sands” di bagian atas dan terdapat tulisan “Canada’s Climate Crime” di bagian bawahnya.
Tidak berhenti sampai di situ, ketika balapan, Vettel juga mengenakan helm khusus yang isinya juga memprotes penambangan pasir tar di Kanada—isinya sama seperti kausnya yang dikenakannya ketika datang ke sirkuit.
Vettel memprotes penambangan pasir tar yang terjadi di Provinsi Alberta, Kanada karena dia menilai penambangan tersebut telah merusak lingkungan. Vettel menyoroti bahwa untuk melakukan penambangan pasir tar tersebut, banyak pohon yang harus ditebang demi menyediakan tempat untuk mengekstraksi minyak.
Mereka yang Terusik
Dua contoh kasus dari Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel yang saya sebutkan sebelumnya hanyalah satu dari sekian banyak yang mereka suarakan. Namun, tentu saja hal yang dilakukan oleh Hamilton dan Vettel tersebut tidak semua orang suka. Mereka juga kerap mendapatkan kritikan baik dari komunitas F1 itu sendiri maupun pihak yang memang disinggung.
Hamilton kerapkali dikritik di kalangan komunitas F1. Kritikannya bisa dibilang bernada nyinyir dengan menyatakan “Stick to racing (tetaplah balapan)” dan jangan mengurusi politik serta jangan membawa-bawa masalah dari luar ketika balapan.
baca juga:
–Zaman Edan: Rupa Bangsa Indonesia dalam Lanskap Digital
–Mengintip Kondisi Pekerja dan Budaya Kerja Industri Digital
Hal serupa juga dialami oleh Vettel. Ketika dia memprotes penambangan pasir tar saat GP Kanada 2022, Vettel dikritik oleh Sonya Savage selaku Menteri Energi dan Mineral Alberta melalui thread-nya di X (Twitter).
Sonya Savage mengkritik bahwa Vettel munafik, Vettel seakan lupa bahwa dia sedang balapan untuk tim Aston Martin yang disponsori oleh Saudi Aramco, sebuah perusahaan minyak yang memiliki produksi minyak harian terbesar di dunia. Saudi Aramco dikenal sebagai penyumbang emisi karbon global terbesar sejak 1965.
Rezim Mengambil Tindakan
Pada akhir 2022, Fédération Internationale de l’Automobile (FIA/Federasi Automobil Internasional) resmi melarang semua pembalap—termasuk pembalap Formula 1—untuk membuat pernyataan atau komentar terkait politik, agama, atau pribadi yang tidak netral tanpa izin sebelumnya. Pelarangan tersebut mulai berlaku pada awal 2023.
Larangan ini diatur dalam Pasal 12.2.1.n International Sporting Code (ISC; Kode Olahraga Internasional). Pasal tersebut menyebutkan bahwa seorang pembalap dapat dianggap melanggar ketentuan apabila mereka secara terbuka menyampaikan atau menampilkan pernyataan politik, keagamaan, maupun pribadi yang bertentangan dengan prinsip netralitas yang dianut FIA sebagaimana tercantum dalam Statuta-nya. Dengan pengecualian jika pernyataan tersebut telah mendapat persetujuan tertulis sebelumnya dari FIA untuk ajang internasional, atau dari Autorités Sportives Nationales (ASN/Otoritas Olahraga Nasional) yang berwenang untuk ajang nasional di bawah yurisdiksi mereka. Otoritas Olahraga Nasional di sini maksudnya adalah seperti Ikatan Motor Indonesia (IMI) di masing-masing negara yang berafiliasi dengan FIA.
Tentu saja hal tersebut langsung menimbulkan kontroversi terutama dari kalangan pembalap F1. Dilansir dari ESPN, Lewis Hamilton merupakan salah satu pembalap yang secara terbuka mengkritik perubahan aturan ini. Hamilton mengatakan tidak akan ada yang bisa menghentikannya untuk menyuarakan isu-isu yang menjadi perhatiannya.
Selain Hamilton, ada juga Lando Norris yang menyamakan aturan tersebut dengan pembalap yang diperlakukan seperti anak sekolah. Sementara Alex Albon, menyatakan bahwa semua pembalap F1 menentang perubahan peraturan tersebut.
Sosok di Balik Larangan Berpolitik oleh FIA
Jika bertanya mengenai siapa orang di balik perubahan peraturan tersebut, maka muncullah nama Mohammed Ben Sulayem selaku Presiden FIA. Sebelum adanya pelarangan berpolitik melalui Pasal 12.2.1.n itu, Mohammed Ben Sulayem memang sudah tidak suka dengan sikap Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel yang berpolitik ketika race week.
Mohammed Ben Sulayem memang dikenal sebagai sosok yang kontroversial. Mantan pembalap reli asal Uni Emirat Arab tersebut dikenal sebagai sosok yang bisa dibilang konservatif dan tidak segan mengambil langkah-langkah yang mengundang pro dan kontra.
Dilansir dari Sky Sports, pada awal 2023, Mohammed Ben Sulayem meminta pembalap tidak menggunakan platform FIA untuk ‘agenda pribadi’. Hal itu jelas mengarah pada Hamilton dan Vettel—dua pembalap yang paling vokal dalam urusan advokasi sosial dan lingkungan.
Bisa dibilang, munculnya Pasal 12.2.1.n itu adalah puncak kekesalan Mohammed Ben Sulayem terhadap sikap politik Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel. Diketahui bahwa Hamilton telah memperjuangkan HAM dan kesetaraan ras sembari juga memperjuangkan hak-hak LGBTQ di negara-negara konservatif seperti Arab Saudi. Begitu juga dengan Vettel—yang pensiun dari F1 sejak akhir 2022—telah menyoroti berbagai isu mulai dari hak LGBTQ hingga perubahan iklim.
Membalap dengan Nurani
Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel bukan hanya pembalap. Mereka adalah orang-orang yang—dengan segala privilese dan risikonya—memilih untuk bicara. Hamilton menyuarakan nyawa yang dipadamkan oleh kekerasan rasial, sementara Vettel mengangkat isu lingkungan yang digerus oleh kerakusan industri. Mereka tahu, bahwa helm bisa lebih dari sekadar pelindung kepala—ia bisa jadi papan iklan nurani.
Benar jika apa yang dilakukan oleh Hamilton dan Vettel tersebut tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Namun, mereka memilih untuk tidak apatis dan siap menerima realita bahwa menunjukkan keberpihakan sering kali tidak membuat mereka nyaman.
Mereka tahu, dunia luas akan lebih tenang jika mereka hanya bicara soal pole position, menang balapan, dan perebutan gelar juara dunia. Namun, mereka juga tahu bahwa dalam dunia yang penuh ketimpangan, diam justru bisa jadi bentuk politik yang paling mematikan.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








