Mengadili Moralitas Ekstrem

Penulis

Inilah sebuah novel yang mengisahkan lembah horor mundi. Meminjam pengertian Yasraf Amir Piliang, horor mundi merupakan sebuah sistem yang didukung oleh pikiran-pikiran horor, ditopang hasrat-hasrat kekacauan, serta dilengkapi penjara-penjara jiwa. Saat itulah sebuah dunia yang menakutkan berlangsung.

Tidak berlebihan mengatakan itu sebagai penggambaran keseluruhan cerita, penokohan, serpihan-serpihan drama, dan imajinasi plot novel Anjing Mengeong, Kucing Menggongong (selanjutnya AMKM) karya Eka Kurniawan. Bermula dari ketidakinginan seorang anak untuk menjadi saleh yang senantiasa dituntut untuk sembahyang, AMKM menjelma deretan pertengkaran moral absurd ‘yang nyata’, antara bapak dan anak.

Dikisahkan, Sato Reang, laki-laki 16 tahun yang mendambakan kebebasan. Saking liar harapan kebebasannya, Sato Reang di usia remaja bertingkah di luar batas moral biner kebanyakan. Seperti membakar bioskop, mencuri boneka monyet, mengencingi buah-buahan, mengajak murtad teman salehnya hingga mati, dan rela ditangkap polisi hanya untuk membuat bapaknya malu.

Bukannya merasa bersalah, bersedih, atau menyesal, Sato Reang bahkan gembira dan merasa telah mencapai puncak kepuasaan dan kebebasannya. Kematian bapaknya pun sangat membuatnya bahagia. Dia tidak ingin meneruskan apapun ajaran bapaknya. Dia mengutuk bayang-bayang moralitas bapaknya yang taat beragama.

Lebih dari itu, dia ingin menjadi api yang bisa membakar apa pun. Sebab, api baginya sangat mulia. Di neraka, Tuhan memercayakan tugas kepada api untuk membakar dosa-dosa manusia (hal. 96). 

Dengan 133 halaman yang padat, novel ini menjelma sebagai proyektor yang memantulkan realitas kehidupan pascakebenaran. Ketika doktrin agama yang rigid (tokoh ayah) berbenturan dan bertukar fungsi dengan hasrat kebebasan manasuka (Sato Reang, sang anak), yang hasilnya ambiguitas dan kontradiktif. Tahap lanjutan kedua hubungan tersebut akan mengarah pada hipermoralitas (moralitas ekstrem).

baca juga:
–Membaca Dua Wajah Filsafat Derrida
–Pengalaman Membaca “Catatan-catatan yang Berserakan di Atas Ranjang”

Georges Bataille dalam bukunya Literature and Evil (1990) menyatakan hipermoralitas sebagai suatu kondisi di mana ukuran-ukuran moralitas yang ada tidak dapat dipegang lagi. Hal ini disebabkan situasi yang berkembang telah melampaui batas-batas antara Good dan Evil.

Julia Kristeva menyebut kontradiksi semacam itu dengan istilah abjeksi (abjection), moralitas mengambang—ketika moral, nilai, dan etika sudah tidak memiliki pijakan yang jelas, serba manasuka—yang pada akhirnya membuat subjek tenggelam ke dalam jurang moralitas paling rendah.

Menariknya, novel kelima Eka Kurniawan ini seperti ingin memberi tahu bahwa kita semua di era pascakebenaran dan digitalisme memungkinkan sekali berperan seperti Sato Reang—masuk ke jurang moralitas paling rendah. Khususnya tingkah situasi politik dan karakter sosial kita yang begitu tanpa malu memproduksi ‘moral-moral gila’.

Semisal, tetap tersenyum saat terbukti korupsi, transaksi jabatan depan kamera, main tumbal saat berkuasa,  ingin kaya dengan instan, bertaruh nyawa demi viralitas, doyan makan tapi ingin tetap kurus, dsb.

Sudut pandang kontradiksi semacam itu sebenarnya sudah disiratkan Eka Kurniawan dalam judul—yang mencoba mensubstitusikan peran subjek. Anjing seharusnya menggonggong, kucing yang seharusnya mengeong, berpindah fungsi pada ruang yang sama secara bersamaan. Pertukaran peran ini mengakibatkan fungsionalnya terganggu, mengambang, dan saling liar.

Dari sana Eka Kurniawan terlihat telah berusaha memberi pengantar agar pembaca berancang-ancang, mundur sejenak, kemudian melihat lebih jernih, memastikan setiap jejak, mengoreksi detail narasi—sebelum akhirnya mengucapkan ketenangan yang lebih bijak sekaligus dewasa di hadapan hipermoralitas.

Sulit mengategorikan novel terbaru Eka Kurniawan ini baik atau buruk. Namun yang jelas, AMKM mengajak kita untuk lebih banyak merenung dan berpikir ulang tentang apa pun. Bebas memilih menjadi peran apa, saleh seperti si bapak atau mendamba kebebasan ala Sato Reang. Moralitas tetap perlu menjadi pertimbangan utama.

*Ulasan buku berjudul Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong yang ditulis oleh Eka Kurniawan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2024).


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *