Membaca Dua Wajah Filsafat Derrida

Penulis

Dari mana kita, dan ke mana kita? Merupakan salah satu pertanyaan paling purba dalam sejarah pikiran manusia—yang jawabannya selalu mengarah pada pengertian tentang Tuhan (ketakterhinggaan dan ketakterbatasan). Itulah akhir yang lebih mudah disebut sebagai nihilisme.

Jacques Derrida tergolong filsuf yang pemikirannya mengarah ke sana. Melalui proyek dekonstruksinya, Derrida kerap dicap sebagai intellectual gimmick, fashionable nonsense, nihilistik, antisosial, antipolitik, dan anarkis (hal 148).

Pelabelan semacam itu cenderung timpang karena hanya melihat satu sisi. Derrida harus dipahami dari dua perspektif agar batas problematika dan sumbangsihnya terlihat jelas. Melalui buku Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika, Martin Suryajaya berusaha mengelaborasi dan mendudukkan kedua hal tersebut

Dalam buku setebal 398 halaman ini, Martin menyusun argumennya secara sistematis. Dia memulai dengan menelusuri intertekstualitas Derrida, kemudian menguraikan pemikiran utama filsuf Prancis tersebut, sebelum akhirnya mengidentifikasi masalah dalam dekonstruksi.

Pendekatan dialektis ini membuat buku terasa lebih komprehensif dan proporsional. Bahasa yang digunakan pun cukup sederhana, padat, dan mudah dimengerti. Pembaca seperti diajak memahami Derrida secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai sosok yang meruntuhkan struktur makna, tetapi juga sebagai pemikir yang membuka ruang bagi pemahaman baru, khususnya studi terkait humaniora.

baca juga:
–Politik sebagai Pertengkaran Menurut Jacques Ranciere
–Kondisi Filosofis-Historis dari Novel Chevengur Andrei Platonov

Sebelumnya, harus diakui, memang tidak mudah menerima pemikiran Derrida. Dia filsuf yang sudah penuh dengan sinisme dan olok-olok. Bukan tanpa alasan, pemikiran Derrida memang cenderung ‘mengarahkan’ pembacanya menjadi sofistik yang penuh nuansa relativisme. Kalau kita cermati, tantangan pikiran relatif adalah sifat kerelatifannya sendiri: jika semua kebenaran relatif, maka relativisme pun menjadi relatif. Begitu pula jika tidak ada kebenaran absolut, pernyataan itu sendiri menjadi absolut. Di sinilah para Derridean menemukan dinding metafisika yang tak berhingga itu.

Namun, batas relativisme Derrida juga dapat terbilang unik. Melalui dekonstruksi, hubungan tiap unit menjadi horizontal. Meletup-letup dari berbagai arah sebagai proses perayaan kehadiran yang setara. Bukan lagi vertikal dalam nuansa hierarki dan strukturalis. Seperti kata Derrida, bahwa tak ada sesuatu apa pun yang hadir penuh dalam kemurnian dan terisolasi pada dirinya sendiri; setiap realitas, setiap refleksi, sudah selalu terkontaminasi oleh Yang-Lain (hal. 158).

Homi K. Bhabha dalam pikiran pascakolonial menyebutnya sebagai hibriditas: suatu pencampuran identitas yang tidak meninggi-rendahkan nilai satu sama lainnya. Artinya, setiap kehadiran terikat dengan kehadiran lainnya (terkontaminasi) dan hubungan di dalamnya bukanlah klaim dominasi dan hierarki. 

Konsep ini membuka ruang bagi semua kehadiran dalam posisi yang setara, termasuk yang sebelumnya tak terbayangkan. Pijakan pemikiran seperti itu sangat berguna dalam masyarakat yang kian mengglobal, dan juga dapat menjadi titik penempatan nilai inklusivitas, keberagaman, kesetaraan, dan kebebasan dalam melihat realitas.

Oleh sebab itu, keberimbangan narasi yang Martin hadirkan dalam buku ini tetap relevan dalam memahami pluralitas di era masyarakat terbuka saat ini. Terlebih dalam konteks Indonesia yang dikenal dengan nilai keberagaman budaya, seni, dan sosial. Buku ini memberikan wawasan kritis tentang dekonstruksi, tetapi juga mengajak pembaca untuk menimbang ulang posisi filsafat dalam menghadapi perubahan zaman. Hal itu penting bagi kedewasaan berliterasi.

Membaca Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika berarti membaca dua wajah filsafat Derrida. Itu sangat berguna bagi perkembangan filsafat. Seperti yang Martin sendiri harapkan di penutup bukunya, bahwa dekonstruksi bukannya tanpa masalah dan bukannya tanpa sumbangan. Dan itu berarti: filsafat belum selesai.

*Ulasan buku berjudul Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika yang ditulis oleh Martin Suryajaya (Yogyakarta: Cantrik Pustaka, 2025).


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *