Selama 10 tahun terakhir, kita melihat semakin banyak gerakan sosial yang muncul dengan cara berbeda dari pola lama. Gerakan yang lebih segar dan lebih kreatif, yang dapat masuk lintas kelas, lintas profesi, dan lintas generasi. Sebagai contoh gerakan lapak baca, kelompok diskusi buku, sampai skena musik dan film indie. Mereka muncul cepat, bergerak horizontal, saling terhubung lintas daerah dan isu, tanpa struktur komando yang kaku. Itulah yang sering disebut gerakan rimpang (rhizome), mengutip dari metafora Gilles Deleuze dan Félix Guattari—seperti akar rimpang yang menjalar ke segala arah, bukan naik lurus seperti batang pohon.
Di Indonesia, bentuk gerakan ini tampak, misalnya, saat ribuan mahasiswa turun ke jalan menolak Revisi UU KPK, Omnibus Law, atau UU TNI. Cepat meluas lewat poster digital, selebaran, thread X (Twitter), hingga video TikTok. Memberikan efek tekanan yang cukup membuat kekuasaan geram, sampai menggunakan cara-cara represif. Mulai dari serangan buzzer, doxing, hingga kriminalisasi sampai kekerasan. Namun sebagai catatan, gerakan ini tak bertahan lama gaungnya, mereka mulai meredup perlahan. Toh jika ada yang bertahan hanya sisa-sisa saja, dan sebagai catatan, apa yang diupayakan belum mampu menggetarkan struktur kuasa.
Melihat fenomena tersebut, Abdil Mughis Mudhoffir dalam tulisannya “Bahaya Laten Gerakan Rimpang” mengajukan sebuah kritik yang cukup keras. Dia menilai model gerakan semacam ini tidak hanya lemah, tetapi bahkan berbahaya karena menjadi katup pengaman yang justru memperpanjang umur sistem penindas. Dia dalam tulisannya mengingatkan bahwa hanya gerakan kelas pekerja yang terorganisir, dengan struktur, kepemimpinan, dan ideologis yang mampu membuat perubahan transformatif.
Kritik ini tentu penting, tetapi juga menyisakan beberapa pertanyaan. Sekiranya, apakah semua gerakan rimpang pasti rapuh dan dangkal? Benarkah satu-satunya jalan adalah mengulang pola partai kelas pekerja abad lalu, yang hari ini banyak mengalami kebuntuan? Atau justru kita perlu melihat cara lain mengorganisir perlawanan yang lebih cocok dengan zaman sekarang—lalu menumbuhkannya lewat jaringan rimpang yang punya akar kuat di masyarakat?
Rimpang Tidaklah Kosong
Perlu diketahui, penulis menilai bahwa pengamatan Mughis memang benar dan mengamini uraian bernasnya. Benar adanya bahwa gerakan protes saat ini mudah viral, tetapi juga cepat surut dan lesu. Saat ini media sosial memiliki kecenderungan membuat aksi hanya sekadar memproduksi citra daripada membangun strategi. Terkesan hanya memproduksi kemarahan atau lebih bersifat emosional, tetapi melupakan bagaimana cara mengorganisir gerakan dan membuatnya lebih bertahan lama. Alhasil banyak aktivis lebih senang tampil keren di depan kamera ketimbang sabar mengorganisir akar rumput.
Namun patut disayangkan, kritik tersebut berhenti pada dua kutub yang boleh dikatakan cukup sempit: yakni memandang bahwa gerakan rimpang yang cair dan mudah layu, lalu tawarannya mengarah ke model partai kelas pekerja yang sentralistik. Padahal jika kita lihat secara saksama, sejarah telah menunjukkan, baik gerakan yang terlalu cair maupun yang terlalu birokratis akan menemui jalan buntu yang ujungnya adalah kegagalan. Gerakan yang bersifat horizontal atau hanya seru-seruan di jalan atau medsos, pada akhirnya akan lekas lenyap. Namun bukan berarti gerakan partai tersentral lebih bagus, secara praktik banyak yang justru jadi oligarki baru, mereduksi rakyat jadi sekadar tempelan belaka. Pun kebijakannya lebih cenderung top-down.
baca juga:
–Daoed Joesoef dan Warisannya: Sistem Pendidikan yang Mengkerdilkan Fungsi Pendidikan
–Bagaimana Para Birokrat Memproduksi Kesadaran Palsu? Perihal Kebijakan Makan Bergizi Gratis di Papua
Banyak yang beranggapan jika gerakan rimpang pasti hanya soal euforia dan heroisme. Padahal di tempat lain, model rimpang justru menjelma kekuatan nyata yang menjadi katalisator transformasi sosial, atau perubahan bertahap menuju tujuan utama yakni tatanan yang lebih adil.
Jika belajar dari MST di Brasil, yang merupakan gerakan petani tak bertanah terbesar di dunia, mereka menempati tanah-tanah luas yang ditelantarkan tuan tanah, lalu mengorganisir ribuan keluarga dalam koperasi pertanian agroekologi. Pada tiap komunitasnya memiliki majelisnya sendiri, tetapi semua terhubung dalam federasi nasional. Mereka tidak hanya protes di jalan; mereka mengubah siapa yang punya tanah, siapa yang menentukan tanam apa, dijual ke mana, dan dengan harga berapa.
Lalu coba kita lihat apa yang terjadi di Chiapas, Meksiko, dengan digawangi gerakan Zapatista. Melihat dari catatan mereka sejak 1994 yang menolak tunduk pada kekuasaan negara neoliberal, mereka membuat sistem pendidikan dan kesehatan sendiri, memproduksi pangan sendiri, hingga memutus ketergantungan pada korporasi. Mereka menunjukkan bahwa gerakan dapat didorong bukan melalui sentralisme dan hierarki, atau sederhananya dengan elite tetap— tetapi yang terjadi adalah struktur dibangun dengan desentralisasi yang terhubung, ada dewan adat, dan majelis desa. Di sana kepemimpinan selalu bergilir dan dipilih majelis desa, sehingga sulit diambil alih elite baru .
Cerita serupa juga terjadi di Rojava, Kurdistan. Ide-ide Bookchin dijalankan nyata di sana. Partai Pekerja Kurdi berubah, dari tersentral (dahulu leninis) menjadi desentral (munisipal konfederalisme). Strukturnya dibangun melalui partisipasi tiap munisipal dan terbangun dewan rakyat yang bukan sebagai perwakilan, melainkan delegasi. Lalu mereka juga membangun tiap-tiap komune dengan basis kerja dan terhubung. Mereka dapat mengurus distribusi pangan, mendirikan koperasi tekstil, merencanakan restorasi hutan, lalu berkonfederasi lintas kota. Demokrasi langsung berjalan berlapis, dari blok RT hingga dewan federasi wilayah. Mereka rimpang, tetapi jelas anti-kapitalis, anti-patriarki, dan anti-negara otoriter.
Rimpang itu Lawan Hierarki
Mengenai tawaran membangun model tradisional seperti partai kiri sentralistik, belum tentu menjawab situasi yang tengah kita hadapi. Pertanyaannya adalah berapa buruh yang sadar akan posisi politiknya? Atau bagaimana dengan sektor yang lain? Kita telah belajar bagaimana kegagalan Partai Buruh di pemilu, meskipun ada banyak kritik, di mana banyak kompromi dan elemen liberal di sana. Namun kita dapat belajar bahwa gerakan buruh yang solid saja mengalami kebuntuan dan kegagalan.
Saat ini kita perlu mengakui bahwa gerakan saat ini masih sangat lemah. Sehingga perdebatan dan diskusi harusnya lebih ke pembahasan bagaimana cara mengorganisir rakyat yang cocok dengan kondisi Indonesia saat ini, yang beragam dan semakin kompleks, berbasis desa, kampung kota , pesisir, sawah, pasar tradisional, atau ekonomi informal. Atau berbasis pada konteks zaman, di mana saat ini banyak pemuda yang sudah jenuh dengan model gerakan tradisional, yakni yang hierarkis dan tersentral. Maka, di konteks kompleksitas inilah model rimpang—yang horizontal tetapi terhubung, tanpa satu pusat komando tetapi dengan kesadaran kolektif kelas—justru dapat menjadi alternatif.
Dan pola-pola ini sebenarnya sudah tampak. Di Jawa Timur, warga yang menjadi korban konflik agraria terhubung dengan gerakan lain, seperti di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Sulawesi, bahkan Maluku Utara. Mereka tidak menunggu instruksi. Mereka berunding lintas provinsi bahkan lintas pulau, menggalang dana, menggelar pertemuan kampung, menyiapkan strategi advokasi dan solidaritas. Atau, gerakan Gejayan Memanggil yang terhubung dengan gerakan di Surabaya Aliansi Bara Api, lalu terhubung di Malang, Kediri, sampai Jakarta. Semua itu tanpa komando, tetapi mereka terhubung dan mampu membuat aksi-aksi yang serentak. Ini terlihat saat gerakan #IndonesiaGelap dan #TolakRUUTNI.
Itu semua rimpang, tetapi bukan rimpang kosong. Mereka punya kesadaran bahwa musuhnya adalah kapitalisme, otoritarianisme, dan ekonomi ekstraktif yang menindas manusia dan bumi sekaligus.
Banyak yang memandang bahwa gerakan rimpang seolah-olah anti-organisasi. Padahal rimpang bukan anti-organisasi, tetapi anti-hierarki yang kaku. Meminjam bahasa Bookchin, bahwasanya kita perlu organisasi yang mendistribusi kekuasaan ke bawah, bukan menumpuknya di atas. Demokrasi langsung yang terhubung, bentuk konfederasi yang dibangun oleh majelis-majelis lokal, saling berkoordinasi untuk urusan lintas wilayah, dan tanpa mematikan otonomi tiap komunitas. Situasi semacam inilah yang justru menjadi alternatif jawaban, terkait bagaimana yang rimpang ini dapat menjadi kekuatan, bukan sekadar hadir lalu lenyap.
baca juga:
–Membaca Dua Wajah Filsafat Derrida
–Vonis Teoretis Anarkisme dalam Animal Farm: Negara Adalah Petaka Revolusi
Inilah yang tidak dilihat oleh Mughis dalam artikel kritiknya. Ketika dia menuntut gerakan kembali ke pola serikat atau partai kiri tradisional atau bercorak lama, dia melupakan banyak contoh yang telah menunjukkan partai revolusioner juga bisa berubah menjadi aparatus dominasi baru, kaku, dan otoriter. Tentunya, kita tidak mau menukar hierarki lama dengan hierarki baru hanya karena labelnya ‘kiri’.
Sebaliknya, gerakan rimpang yang sadar kelas akan menolak tunduk hierarki yang terpusat, tetapi tetap membangun strategi bersama dan meminimalisir sentralisasi. Sehingga fokus yang perlu dibangun adalah penguatan tiap basis lokal, membuat keterhubungan dan menumbuhkan semangat solidaritas lintas ras, suku, profesi, bahkan isu. Saat ini penting menyelenggarakan pendidikan politik secara masif, supaya komunitas lokal paham sebenarnya siapa yang kita lawan dan siapa yang akan menjadi kawan. Forum-forum yang menekankan pentingnya kultur bertukar pengalaman lintas daerah supaya saling memahami dan membentuk solidaritas lintas wilayah bahkan pulau juga penting untuk dimasifkan agar semakin menguatkan gerakan ke depannya.
Rimpang yang Berideologi
Pada abad ini, kita telah disuguhkan aneka kekacauan, ekstraksi alam semakin masif, ketimpangan semakin tajam, dan konservatisme yang rasis mulai dominan. Tentu saat ini kita tak butuh gerakan yang hanya menuntut upah layak, pajak lebih tinggi, kebijakan redistributif atau sekadar tata kelola yang baik, hingga partisipasi atau sekadar keterbukaan informasi. Saat ini, secara jelas, kita butuh gerakan yang benar-benar menggeser siapa yang punya alat produksi, siapa yang mengurus sumber alam, siapa yang memutuskan mau ditanam atau dibangun apa di tanah ini.
Di sinilah pentingnya membaca Marx bersama Bookchin. Marx sudah sangat jelas menunjukkan bahwa akar masalahnya dari kekacauan ini adalah kapitalisme. Di mana pendekatan tersebut membuat segelintir orang menguasai alat produksi, sementara mayoritas hanya punya tenaga untuk dijual. Namun Bookchin mengingatkan kita bahwa masalah tak berhenti di kelas saja. Terdapat hierarki sosial—patriarki, dominasi negara, rasisme—yang juga turut menopang sistem. Sebab itulah pembebasan mestinya tidak melulu hanya soal upah, tetapi juga soal bagaimana kita mengurus tanah, pangan, energi, relasi sosial, bahkan ekosistem secara bersama.
Itulah kenapa gerakan model rimpang harus tetap ditanamkan dengan nalar Marx (tentang kelas dan kapitalisme) dan Bookchin (tentang demokrasi ekologis dan anti-hierarki) agar relevan. Gerakan seperti ini bisa menjalar ke mana-mana, sulit dipatahkan sekaligus, saling menyokong, dan saling belajar. Mereka bisa dimulai dari kampung, pasar, kota, tetapi tak berhenti di situ. Mereka harus membangun federasi solidaritas lintas wilayah.
Dan ini bukan utopia. Dari MST, Zapatista, Rojava, sampai permulaan gerakan solidaritas agraria lintas wilayah, solidaritas lintas kampung kota yang tergusur, solidaritas gerakan tolak tambang dari Kendeng hingga Sangihe, sampai gerakan protes Gejayan Memanggil, mereka tidak menunggu instruksi komando dari politbiro. Mereka bergerak organik dan saling terhubung. Meskipun tidak secanggih contoh yang digunakan, tetapi memang nyatanya mereka ada. Dan hal itu menunjukkan bahwa gerakan rimpang, jika dirawat dan terkoneksi bisa menjadi alternatif yang dapat menciptakan satu kekuatan besar.
Namun, benar kata Mughis, kita memang harus waspada pada gerakan rimpang yang hanya berhenti di panggung protes. Namun, solusinya jelas bukan kembali ke sentralisme, apalagi ditutupi label kiri. Solusinya tentu tidak adanya lagi kata yang keluar untuk berharap pada elite yang baru, apalagi dilabeli kiri.
Solusi atas persoalan rimpang yang tak karuan, terletak pada strategi merajut jaringan rimpang yang berakar pada kesadaran kelas, yang sabar membangun institusi rakyat dari bawah. Itulah gerakan rimpang yang tidak hanya melawan, tetapi mengambil alih kehidupan, supaya kelak segala penindasan dan tentunya kapitalisme tidak punya tempat untuk bertumpu lagi.
*Tulisan ini pandangan pribadi, tidak mewakili organisasi.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








