Selepas dikunyah kerja, seringlah badan ini pegal-linu. Minyak gosok kerap jadi solusi mendesak bagi saya: dioleskan pelan di punggung yang menegang, di bahu yang terhimpit beban, menyebarkan hangat yang menipu saraf, seakan tiada yang sungguh keliru dari semua ini. Sampai akhirnya saya heran sendiri: mengapa saya mesti memakai minyak gosok saban hari? Mengapa saya mesti pegal-linu selepas nguli?
Pertanyaan pertama gampang dijawab: lantaran nyeri. Pertanyaan kedua lebih sukar. Ia menuntut saya membongkar sesuatu yang selazimnya saya terima tanpa risau: bahwa bekerja memang membuat letih, bahwa tubuh memang kudu sakit, bahwa minyak gosok ialah ikhtiar akhir bagi persoalan. Badan yang pegal tiada pernah bertanya mengapa ia pegal. Badan hanya minta diringankan. Dan minyak gosok menjawab permintaan itu tanpa banyak cakap.
Tiadalah saya tengah meromantisasi penderitaan atau menampik kelegaan. Minyak gosok sungguh bekerja. Hangatnya menjalar, otot-otot mengendur, dan malam bisa terlewati dengan dengkur yang lebih layak. Pun demikian, tiadalah perkaranya pada minyak gosok itu sendiri, melainkan pada apa yang terjadi manakala cara pikir minyak gosok yang cepat, praktis, dan meredakan, mulai merembes ke wilayah-wilayah lain dalam hidup kita.
Nyaris segenap persoalan hari ini tampil dalam kemasan serupa minyak gosok. Cara mendapatkan pekerjaan, cara membangun kepercayaan diri, cara mengelola kecemasan, tak luput pula cara menemukan makna hidup. Semuanya itu tersaji dalam rupa tutorial yang rapi, seakan saban perkara punya prosedur teknis yang tinggal diikuti. Di YouTube, kita belajar memperbaiki kran bocor dalam tujuh menit. Di media sosial, utas-utas ringkas menyajikan cara mengatasi overthinking dalam lima langkah praktis. Semua ini membantu. Semua ini nyata manfaatnya. Tentu saja.
Kendati demikian, diam-diam kita mulai terbiasa dengan jenis pengetahuan tertentu: pengetahuan yang langsung bisa dipakai, yang tiada membuat kita sepatutnya ambil jarak dari tempat semula berpijak, yang menjawab “bagaimana” tanpa pernah bertanya “mengapa”. Tutorial, sebagaimana minyak gosok, menyembuhkan tanpa menjelaskan. Tiadalah minyak gosok pernah bertanya dari mana nyeri berasal. Ia sekadar membuat nyeri itu cukup reda agar esok badan boleh dipakai lagi.
Saban pengetahuan niscayalah membawa cara tertentu tatkala melihat persoalan. Ada pengetahuan yang mendidik kita melakukan sesuatu: bagaimana merancang Curriculum Vitae (CV) yang menarik, bagaimana bercakap di depan umum, bagaimana mengatur waktu agar lebih produktif.
Ada pula pengetahuan yang membuat kita mempertanyakan mengapa sesuatu mesti dilakukan dengan cara demikian: mengapa kita perlu membuat CV yang menarik agar bisa hidup layak, mengapa waktu kita amblas untuk hal-hal yang kita sebut produktif, mengapa hidup terasa daftar keterampilan yang mesti terus diperbarui.
Tutorial nyaris niscaya berada pada jenis yang pertama. Ia dirancang guna membuat kita mampu bertindak, dan tiadalah ia disusun agar kita berhenti sejenak guna memeriksa hulu-hilir keadaan secara lebih utuh.
Kendati demikian, perkaranya barangkali bukanlah sekadar tutorial menyediakan jawaban yang praktis. Barangkali perkaranya ialah bahwa tutorial tiada pernah sungguh netral terhadap pertanyaan. Tiadalah ia sekadar menawarkan solusi; ia terlebih dulu menentukan apa masalahnya.
Minyak gosok kelihatannya cuma menawarkan obat. Padahal saban obat diam-diam membawa diagnosis. Tiadalah ia sekadar berujar, “Ini cara mengurangi nyeri,” melainkan pula, “Beginilah nyeri itu sebaiknya dipahami.”
Dan di sinilah korban paling senyap dari budaya ini. Isi dompet kita boleh jadi terkuras selepas membeli kelas demi kelas, waktu kita amat mungkin habis guna mengikuti webinar demi webinar. Akan tetapi, lebih senyap daripada itu semua: bagaimana kalau imajinasi politik kita turut perlahan menyusut?
Manakala tiap-tiap perkara diterjemahkan sebagai problem individu, kita lantas kehilangan bahasa guna membicarakan tindakan kolektif. Lama-lama, tiada lagi orang bertanya, “Apa yang bisa kita ubah bersama?” Melainkan, “Skill apa lagi yang mesti kupelajari?” Inilah kiranya inti politik pengetahuan yang kerap terlewat dari kritik terhadap budaya tutorial. Tiadalah apa yang diperebutkan itu sekadar jawaban. Apa yang diperebutkan meliputi pula hak guna mendefinisikan pertanyaan.
Lantas, mengapakah bentuk pengetahuan semacam itu bisa sedemikian maraknya? Apabila suatu bentuk pengetahuan merajai zaman, tiadalah umumnya semata-mata lantaran ia berguna atau lantaran kita memang menginginkannya. Ada kondisi sosial yang membuatnya terus diproduksi, dipromosikan, dan ujung-ujungnya dicintai pula. Rupanyalah hasrat kita sendiri punya sejarah: ia dibentuk, dipelihara, diberi insentif, diiklankan, dinormalisasi.
Tutorial ia lah komoditas. Kendati komoditas utamanya bukanlah solusi. Apa yang sejujurnya dijual oleh industri tutorial, yang meliputi kelas-kelas daring, webinar, bootcamp, sertifikasi, aplikasi produktivitas, coaching, buku-buku self–help, ialah cara mendiagnosis hidup. Marilah sejenak kita cermati bagaimana ini bekerja.
Seseorang mengalami burnout. Tutorial mindfulness hadir bukan terutama selaku teknik meditasi, melainkan selaku kerangka diagnosis yang membisikkan: ini masalah regulasi emosi, ini soal resiliensi Anda yang kudu ditingkatkan.
Bandingkan dengan diagnosis alternatif yang tiadalah ia akan pernah menawarkan tutorial, melainkan: ini masalah organisasi kerja. Ini soal beban yang di luar nurul. Ini perkara target yang dirancang tanpa mempertimbangkan batas manusia.
Seseorang merasa kurang produktif. Kursus manajemen waktu lantas memberi senyum teduh sembari membawa diagnosis: keterlambatan ialah problem teknik mencatat pengaturan skala prioritas. Dan tiadalah ia akan menunjuk beban kerja yang seabrek banyaknya.
Seseorang mengalami keterhimpitan keuangan. Aplikasi pencatatan pengeluaran menyala dan membawa diagnosis: kemiskinan terutama ialah perkara perilaku konsumsi. Dan tiadalah ia akan menuding upah yang kurang memadai seturut harga-harga yang kian menanjak.
Saban kasus, tiadalah apa yang dijual sekadar keterampilan. Apa yang dijual sejujurnya ialah individualisasi masalah. Tutorial mengubah pertanyaan dari “Mengapa upah rendah?” menjadi “Bagaimana mengatasi skill issue?” Dari “Mengapa kerja membuatku sakit?” menjadi “Bagaimana mengelola stres?” Dari “Mengapa biaya rumah kian merampok kocek?” menjadi “Bagaimana mengatur cashflow?”
Dan lebih dari sekadar mengubah pertanyaan, tutorial turut pula mengubah lokasi intervensi. Mari kita awasi secara saksama: “Mengapa upah rendah?” menyasar sistem upah selaku pihak yang sepatutnya dirombak. Sedangkan “Bagaimana meningkatkan skill?” menyasar diri sendiri selaku pihak yang rusak dan mesti dibenahi. Sistem yang salah urat tetap di luar rumah pijat. Badan dan jiwa kitalah yang malah diurapi minyak gosok, lantas disangka salah urat pula.
Perubahan ini begitu senyap sehingga nyaris kita tiada sadari. Kita pikir kita tengah mencari jawaban. Padahal pertanyaan untuk perkaranya sendiri telah ditukar. Minyak gosok memang tiada pernah bertanya dari mana nyeri berasal, dan lantaran itulah ia malah sedemikian gampangnya diterima, tiada yang merasa terganggu oleh sesuatu yang sekadar ingin meredakan.
Diagnosis semacam ini pula menguntungkan institusi tempat kita bekerja. Bayangkan dua cara menghadapi burnout karyawan. Cara pertama: mengurangi jam kerja, meningkatkan kondisi hidup pekerja, hingga mengubah target yang kelewat fiktif. Cara kedua: memberikan pelatihan mindfulness, resiliensi, dan manajemen stres. Manakah yang lebih gampang? Manakah yang tak perlu mengganggu mekanisme akumulasi uang?
Mindfulness memang membantu, dan tiadalah saya meragukan itu. Kendati demikian, mindfulness sedemikian gampang diterima oleh banyak perusahaan tiadalah lantaran ia bermanfaat semata, melainkan pula disebabkan oleh diagnosis yang dibawanya: “ini masalah regulasi emosi pekerja”. Diagnosis ini tentulah tiada mengacaukan pembagian kerja, target produksi, maupun relasi kuasa di tempat kerja. Sehingga sampai di sini, tutorial-tutorial itu bekerja tak ubahnya minyak gosok: tiadalah ia menghapus penyebab pegal, melainkan ia membuat badan cukup nyaman guna kembali melakoni nasib di kancah eksploitasi yang sama.
Lantaran diagnosis individual terus-menerus menguntungkan, ia diproduksi dan dipromosikan tanpa henti. Tak usahlah ada rapat rahasia yang merencanakan semua ini. Cukup lewat seperangkat insentif yang membuat diagnosis individual lebih murah dan lebih mudah ketimbang diagnosis struktural. Pelatihan mindfulness jauh lebih murah ketimbang merombak regulasi tenaga kerja. Webinar seputar produktivitas lebih gampang digelar dibanding membongkar sistem kerja yang eksploitatif. Coaching lebih mudah dijual daripada memperjuangkan kebijakan publik agar bisa adil.
Maka perlahan, lantaran logika pasar inilah tutorial menjadi jawaban yang paling simple diproduksi, dipasarkan, dan dikonsumsi. Dan lantaran ia terus diproduksi, terus dipromosikan, terus tersedia pada setiap sendi kehidupan, kita pun mulai mencintainya. Sekiranya, tiadalah preferensi kita akan hal ini merupakan bawaan lahir, ia merupakan hasil dari ekosistem yang membentuk kita agar menginginkan jenis jawaban tertentu, dan lebih dari itu: agar menerima jenis pertanyaan tertentu sebagai satu-satunya pertanyaan yang relevan.
Manakala suatu perkara struktural didiagnosis sebagai masalah individu, solusinya ialah konsumsi pribadi yang tiada punya hilir. Saya stres, saya beli kelas. Saya kurang percaya diri, saya ikut coaching. Saya gagal mencapai target, saya beli kursus lagi. Saban diagnosis membuka peluang pasar baru, dan saban pembelian membuka kemungkinan pembelian berikutnya. Tiadalah pasar ini akan pernah kehabisan pelanggan, lantaran ia tiada pula menjanjikan cara hidup masyarakat berubah. Ia sebatas menjanjikan diri yang lebih baik dalam tatanan yang tetap eksploitatif.
Kendati demikian, ada sesuatu yang lebih dalam lagi. Tiadalah tutorial sekadar menjual diagnosis. Ia pula turut memproduksi tipe manusia tertentu: manusia yang senantiasa merasa dirinya belum cukup. Manusia yang melulu merasa belum cukup produktif. Belum cukup resilient. Belum cukup mindful. Belum cukup komunikatif. Belum cukup percaya diri.
Manusia-manusia semacam itu luar biasa menguntungkannya bagi ekosistem yang terus memproduksi tutorial, lantaran ia akan terus membeli, giat ikut seminar self–development, rajin mengevaluasi diri, gigih merasa kurang, bahkan tanpa perlu dipaksa. Ia telah menerima premis dasarnya: bahwa perkara ada pada dirinya, dan bahwa solusinya ialah perbaiki diri tanpa henti.
Maka mengemukalah problem bahwa tutorial mengubah sesuatu yang lebih fundamental, yakni cara kita mengalami penderitaan kita sendiri. Dulu, orang barangkali lebih suka berseru, “Aku dieksploitasi!” Sekarang lebih suka mengeluh: “Aku kurang resilient.” Dulu berpekik: “Jam kerja ini tidak manusiawi!” Sekarang meratap: “Aku belum pandai work–life balance.” Dulu: “Lawan!” Sekarang: “Aku mesti belajar menerima dan beradaptasi.” Tentulah pembaca yang budiman dapat menyimpulkan sendiri apa makna dari ini.
Tiadalah saya ingin terjerembab ke dalam khotbah moral, menghakimi mereka yang mencari tutorial. Saya yakin kebutuhan terhadap tutorial itu tiadalah semata-mata lahir dari kemalasan berpikir. Saya lebih meyakini bahwa ia lahir dari kebutuhan guna bertahan hidup.
Seseorang yang mesti membayar kontrakan bulan depan, yang anaknya perlu uang sekolah minggu ini, tentu lebih membutuhkan tutorial wawancara kerja yang konkret ketimbang membaca kritik ekonomi-politik. Dalam situasi seperti itu, tutorial ialah teknologi bertahan hidup yang terbilang rasional. Saya sendiri memakai minyak gosok, dan saya pula berterima kasih untuk itu.
Kendati demikian, lantaran tutorial sedemikian efektifnya membantu kita beradaptasi, ia pula dapat mengurangi dorongan guna mempertanyakan mengapa adaptasi itu terus-terusan diperlukan. Tiadalah minyak gosok menciptakan otot kawat tulang besi, tetapi ia membuat otot yang pegal jadi bisa ditoleransi. Lebih dari itu, ia pula memungkinkan kerja berlanjut esok pagi.
Punggung yang masih sakit barangkali akan memaksa saya berhenti bekerja sehari. Tetapi punggung yang cukup nyaman lantaran minyak gosok, memungkinkan saya punya nasi esok hari. Kiranya demikianlah tutorial bekerja. Tiadalah ia menghapus sumber kelelahan. Ia sekadar memastikan kita cukup pulih guna sanggup kembali bergulat dalam kerasnya zaman.
Barangkali seseorang akan membela keadaan ini dengan mengatakan bahwa manusia memang mendahulukan kebutuhan praktis sebelum memikirkan perubahan sosial. Makan dulu, aman dulu, baru berpikir seputar keadilan. Ini argumen yang menggoda lantaran terdengar masuk akal dan manusiawi. Kendati sejarah menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Gerakan buruh tiada lahir dari pekerja yang telah sejahtera, malahan ia lahir dari mereka yang tubuhnya remuk oleh mesin pabrik, yang anak-anaknya kelaparan di pemukiman kumuh. Kesadaran bahwa ada yang keliru dengan struktur tiadalah melulu menunggu perut kenyang. Kerap kali ia malah tumbuh dari pengalaman hidup yang paling mendesak, dari punggung yang nyeri lantaran kelewat lama membungkuk di depan mesin.
Cara bernalar “nanti kalau sudah mapan baru boleh berpikir kritis dan menyelenggarakan upaya-upaya perubahan tatanan masyarakat” mengandaikan bahwa kesejahteraan akan datang dengan sendirinya manakala kita cukup teguh mengikuti tutorial. Padahal bagi banyak orang, tiadalah kesejahteraan akan pernah datang tanpa perubahan struktural.
Tiadalah saya akan menyederhanakan ini menjadi pertarungan antara tutorial dan kritik struktural, seakan kita bisa memilih salah satu. Tiadalah tutorial merupakan musuh. Kritik struktural pula bukanlah pengganti tutorial. Tiadalah kita bisa membayar kontrakan dengan teori perjuangan kelas. Apa yang menjadi perkara di sini ialah tatkala salah satunya menelan yang lain, manakala imajinasi seputar perubahan struktural dianggap sebagai kemewahan yang mengawang nun di angkasa, sementara tutorial menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa guna memahami dan mengatasi persoalan hidup.
Ada masanya kita memang perlu mencari cara agar lolos wawancara kerja. Dan ada masanya pula kita perlu bertanya: mengapa begitu banyak orang mesti berebut pekerjaan yang kian nadir? Mengapa bertahan hidup kian menuntut individu agar belajar tiada henti, meng-upgrade diri tanpa jeda, seakan berhenti sejenak akan membuat dirinya terkubur hidup-hidup? Tiadalah rasanya pertanyaan-pertanyaan ini mampu dijawab via tutorial. Sebab ia merupakan pertanyaan mengenai air yang kita renangi, dan bukanlah seputar teknik-teknik berenang yang lebih efisien.
Dunia yang kita huni hari ini menghasilkan sedemikian banyak nyeri sehingga ruang guna mempertanyakan sumbernya kian sempit. Apa yang tumbuh subur kemudian tiada lagi sebatas kebutuhan pereda, melainkan pula pasar yang siap menyediakannya. Dan senantiasa ada yang diuntungkan manakala kita menerima diagnosis yang tiada mengubah strukturnya, sewaktu kita terus mencari jawaban atas pertanyaan yang telah disuapkan kepada pikiran kita.
Apa yang dijual dari sana, pada akhirnya, ialah harapan bahwa hidup bisa diperbaiki tanpa mesti mengubah dunia tempat kita hidup. Tutorial, sepertimana minyak gosok, menjawab kebutuhan itu secara ringkas. Barangkali kelewat ringkas: meredakan tanpa mengganggu, membantu tanpa menggugat.
Maka esok nanti, saya masih akan mengoleskan minyak gosok sebelum kembali dikunyah kerja. Saya tak keberatan dengan itu. Apa yang saya cemaskan ialah sewaktu hangatnya tak cuma meredakan nyeri, melainkan turut pula meredakan pertanyaan-pertanyaan radikal.
Editor: Dhika Marcendy
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








