“Tanah Surga Wadas Dijadikan Tambang, Saat Negara Menindas Petani”
(Bambang Muryanto, Mei 2021)
Kutipan kata-kata ini merupakan kalimat awal ditulis oleh Bambang Muryanto, salah satu penulis buku “Tersungkur dan Tetap Melawan” yang merupakan buku dari reportase Project Multatuli, bekerja sama dengan penerbit buku Marjin Kiri, mengupas berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi di berbagai daerah Indonesia dari sudut pandang jurnalisme. Sebagai salah satu bentuk apresiasi atas terbitnya buku ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Multatuli Project, Sekolah SK Trimurti, Marjin Kiri dan LPM Arena, adakan diskusi buku, Sabtu (27/6) di Green House UIN Sunan Kalijaga. Diskusi ini terbuka untuk umum, dimulai pukul 16.00 WIB. Pembicara dalam diskusi ini antara lain: Fahri Salam (Pemred Project Multatuli), Bambang Muryanto (Penulis Buku-Jurnalis), dan Susi Mulyani (Wadon Wadas). Ketiga pembicara ini di pandu oleh moderator Kiki Hadi dari perwakilan AJI Jogja.
Diskusi ini dibuka oleh Dina selaku MC, dengan mempersilahkan perwakilan dari AJI Jogja menyampaikan kata sambutan setelah itu kemudian Dina memperkenalkan moderator dan pembicara untuk maju kedepan menceritakan pengalamannya dalam proses penyusunan buku ini serta hambatan-hambatannya. Moderator kemudian membuka pertanyaan kepada Fahri Salam, tentang alasan ingin menulis buku ini.
“Sebenarnya teman-teman hanya memiliki keinginan sederhana untuk mendokumentasikan hasil reportasenya dan ingin membuat buku. Ide ini sebenarnya sudah lama dari tahun 2022, kemudian karena melihat momentum tahun 2025 terjadi demonstrasi besar-besaran dan pergantian rezim, hal ini menjadi alasan mengapa buku ini terbit.” Ujar Fahri.
Fahri juga menjelaskan bahwa pemilihan 14 reportase dan penulis dilakukan agar buku tetap relevan, mudah dipahami dan merepresentasikan keberagaman wilayah serta gender yang ada di Indonesia.
Dalam diskusi ini dijelaskan tentang kondisi desa Wadas yang dituliskan oleh Bambang Muryanto. Desa Wadas di Purworejo seperti diketahui beberapa tahun lalu merupakan daerah pegunungan yang sangat sejuk dan hijau, ternyata daerah ini seketika berubah saat pertambangan batu andesit masuk ke desa tersebut dan merusak segalanya. Salah satu yang menjadi narasumber Bambang Muryanto selama berada di Wadas adalah Susi Mulyani.

Sebagai warga desa Wadas Susi menceritakan kondisi desa Wadas sebelum pertambangan masuk adalah desa yang makmur, indah, sejahtera, tetapi semenjak ada pertambangan batu andesit, Wadas berubah menjadi mencekam, suram dan seperti desa mati. Perangkat desa dengan warganya sudah tidak sejalan lagi, banyak masyarakat yang kemudian dipaksa untuk menjual tanahnya agar diubah menjadi lokasi pertambangan. Menurut Susi, “pihak pemerintah menyetujui adanya pertambangan batu andesit, sedangkan warga yang tidak setuju dengan pertambangan tersebut, salah satunya adalah keluarga saya.”
Demikian yang diungkapkan oleh Susi saat menceritakan kondisi Wadas setelah masuknya proyek pertambangan.Konflik ini berdampak besar pada hubungan sosial warga. Setelah proyek pertambangan masuk, hubungan Susi dengan keluarga dan tetangganya menjadi kurang harmonis karena adanya perbedaan prinsip. Sebagian warga bersedia menjual tanah mereka, sementara sebagian lain tetap teguh untuk mempertahankan lahan. Kondisi tersebut membuat masyarakat Wadas dihadapkan pada dua pilihan yang sulit: mengikuti kemauan pemerintah untuk menjual tanah mereka atau tetap bersatu menolak penambangan di desa mereka.
Dari 12 RT yang ada, 7 RT akan dijadikan area pertambangan. Awalnya banyak yang menolak adanya pertambangan di Wadas, pada akhirnya karena banyaknya desakan serta ancaman satu persatu mereka menjual tanahnya, termasuk orang tua dan mertua dari Susi sendiri. Menurut Susi dari warga Wadas sendiri ada yang mendapatkan uang ganti rugi sebesar 10-15 Milliar perorang, sehingga awalnya warga menolak kini berbalik menjual tanahnya.
Dampak dari pembukaan pertambangan ini juga dirasakan pada rusaknya ekosistem pertanian sebagai salah satu mata pencahrian warga disana, sebelumnya hasil panen durian, kemukus, dan temu lawak bisa mencapai 15-20 juta sekali panen, kini yang didapat oleh warga pasca adanya tambang hanya kisaran 250-450 ribu sekali panen. Sehingga dengan kondisi terdesak oleh kebutuhan ekonomi ini, satu persatu warga menjual tanahnya kepada pemerintah.
Dari pernyataan dan cerita Susi, Bambang Muryanto sebagai salah satu penulis menambahkan tentang kondisi Wadas saat ia masih meliput disana. Bambang mengawali pembicaraannya dengan mengutip analogi “Sepasang Elang yang Terbang Diatas Desa Wadas”. Kata-kata ini terdapat di awal tulisannya di buku tersebut. Menurut pengamatan Bambang saat masih meliput di Wadas, Elang Jawa tersebut memang selalu muncul saat pagi hari, berterbangan dari satu pohon ke pohon yang lain di titik tertinggi di desa tersebut. Tapi semenjak lahan desa dibuka lebih besar, Elang tersebut hilang entah kemana. Ternyata dampak pertambangan ini bukan hanya terdampak pada tanaman yang ditanam warga, namun juga pada ekosistem fauna yang ada di desa tersebut.
“Awal peliputan di Wadas, saya diantar oleh salah satu rekan.Awalnya, saya meriset terlebih dahulu tentang Desa Wadas dan Amdal (Analisis Dampak Lingkungan) yang menjadi titik fokus dari permasalahan konflik peralihan lahan yang ada di sana,” kata Bambang Muryanto. Saat itu kondisi memang tidak kondusif, ada polisi, alat-alat berat sudah berada di lokasi dan sudah ada warga yang sudah dipukuli, salah satu warga yang dipukuli oleh aparat kepolisian saat itu adalah suami dari Susi Mulyani karena tetap bersikeras tidak ingin menjual tanahnya.
Banyak media pers yang satu persatu mulai masuk ke desa Wadas untuk meliput, namun realitanya liputannya tak sesuai dengan fakta di lapangan, nama Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) saat itu menjadi sorotan, karena mampu mengendalikan jurnalis yang meliput disana. Kondisi Wadas saat ini seluruh proyek pekerjaan berhenti, alat-alat berat mangkrak di beberapa sudut tempat, karena ternyata kualitas batu andesit yang dicari untuk membuat Bendungan Bener, ternyata tidak sesuai sehingga proyek pertambangan ini berhenti begitu saja, meninggalkan sisa-sisa kerusakan yang diberikan seluruhnya kepada warga.
Setelah ketiga pembicara menyampaikan pembahasan tentang buku tersebut dan bercerita tentang Wadas, moderator membuka sesi tanya jawab kepada peserta diskusi yang hadir. Pertanyaan pertama dari Dila, dari LPM Psikologi UII. Dila merasa tersentuh dengan cerita dari Susi sebagai warga desa yang merasakan penindasan dari penguasa, Dila sendiri menceritakan tentang apa yang terjadi di desanya, Kutai, Kalimantan Timur.
Jika di Wadas adalah pertambangan batu andesit, Kutai adalah penghasil Batu Bara. Sedangkan masyarakat di Kalimantan Timur menjual tanahnya ke pihak perusahaan, lalu bagaimana caranya Susi dapat melewati kondisi yang memang tidak mudah tersebut? Susi sendiri menjawab ada teman-teman yang selalu menguatkannya, ada Mas Bambang, Mbak Sanah dan berbagai jurnalis yang memiliki kepedulian terhadap kondisi Wadas saat ini. Sehingga melalui pendampingan-pendampingan tersebut, Susi merasa diteguhkan dan tetap pada prinsipnya untuk tidak menjual tanah.
Susi juga bercerita, sebenarnya bulan Mei lalu, suami saya didatangi pihak BPN, dibujuk kembali untuk mengambil uang senilai 5,6 Milliar di pengadilan, namun suami saya tetap menolak dan tetap pada prinsipnya.
Salah seorang peserta diskusi bernama Sari juga menanyakan kepada Susi upaya yang dilakukan warga Wadas untuk mengembalikan tempat sisa hasil pertambangan yang terbengkalai dikembalikan menjadi hutan kembali sebagaimana fungsi sebelum adanya pertambangan, Susi menjawab bahwa sebagian kecil memang masih bisa dimanfaatkan warga untuk membangun “bank pakan” untuk ternak, karena sebagian kecil warga wadas memiliki ternak, selebihnya yang lokasinya sulit untuk di jangkau dibiarkan terbengkalai begitu saja sehingga belum bisa dikembalikan seperti semula.
Dalam diskusi ini fahri menanggapi tentang adanya “ekonomi uang” yang tidak dipungkiri terjadi pada warga Wadas. Fahri menegaskan,”Logikanya begini jika warga bekerja dengan memanfaatkan lahan pertanian, dengan merawat tanamannya, memupuk dan tahapan akhir memanen, pastinya membutuhkan waktu yang sangat lama sekali untuk mendapatkan keuntungan, ketika ada yang memberinya uang dalam jumlah besar tanpa perlu kerja keras, tentu hal itu yang akan dipilih.”
Itu juga berlaku pada semua daerah yang terdampak pertambangan, Kalimantan dan Papua. Bahkan di Papua karena sudah tidak ada hutan yang terlihat, burung-burung disana berlahan mati karena tidak memiliki tempat tinggal dan “Langit Terasa Dekat Bumi”. Demikian perumpamaan yang diungkapkan oleh fahri ketika bertemu dengan salah satu masyarakat Papua yang hutannya dibabat habis untuk kepentingan Program Strategis Nasional (PSN).
Melalui buku ini harapannya pembaca dapat melihat tentang kesadaran untuk memiliki prinsip, walau dalam kondisi yang sulit dengan berbagai permasalahan konflik dan penindasan yang berbeda dari satu daerah dengan daerah yang lain, namun bertahan untuk menjadi benar serta memiliki kesadaran untuk melawan menjadi pokok dari isi buku ini. Kegiatan diskusi tersebut berakhir pukul 18.30 WIB, ditutup dengan foto bersama dengan para pembicara. (A.R)
Editor: Dhika Marcendy
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








