Pengalaman Membaca “Catatan-catatan yang Berserakan di Atas Ranjang”

Penulis

“Sensualitas dalam Karya Sastra”, sebuah judul dari sebuah poster acara perilisan dan diskusi buku puisi yang saya hadiri pada 22 Februari 2025 silam. Malam itu, saya diminta menjadi salah satu pembicara. Buku puisi yang sedang dirayakan itu berjudul Catatan-catatan yang Berserakan di Atas Ranjang. Penulisnya adalah rekan saya di program magister, tapi beda program studi.

“Sensualitas dalam Karya Sastra”, tema ini mengingatkan saya pada salah satu esai Katrin Bandel berjudul “Seksualitas dalam Sastra Indonesia”, yang saya kira bisa jadi pemandu tulisan ini. Dalam esainya, Katrin memfokuskan kritik terhadap karya dua penulis perempuan Indonesia, Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu. Keduanya kadung dianggap sebagai feminis sekaligus penulis perempuan yang berani karena ‘membebaskan seks’ di wacana sastra Indonesia.

Ayu Utami berupaya menunjukkan bahwa seksualitas telah diatur sedemikian rupa, lalu ditekan hingga ditabukan oleh berbagai institusi masyarakat yang masih mempertahankan ‘moralitas’ kolot dan aneh. Representasi sikap ini ada di diri Shakuntala, tokoh fiktif ciptaannya dalam novel Saman. “Ayu Utami mem(p)osisikan dirinya bertentangan dengan sikap yang menurutnya menjadi kecenderungan umum tersebut, yaitu kecenderungan untuk membungkam dan menyensori seksualitas (serta ekspresi dan representasinya)”.

Hal yang perlu digarisbawahi dari sikap di atas adalah cara si penulis melihat dunia di sekitarnya, sebuah kehidupan masyarakat yang dicap kolot dan terbelakang perihal pemaknaan atas seksualitas. Wacana semacam ini tentu memicu pro dan kontra, terutama di kalangan para kaum muda (feminis): “apa salahnya membicarakan tentang seksualitas dan/atau pengalaman senggama?” Itu.

Jawabannya, mungkin, ada di halaman 197 buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas (2013). Di akhir paragraf dua, Katrin menuliskan, “… Ayu Utami sendiri tampil sebagai perusuh yang berani melawan tabu dan tidak membiarkan bahasanya disensori. Artinya, meskipun ‘moralisme’ menurut penuturannya telah merambat ke mana-mana, dirinya, entah kenapa dan bagaimana, seakan-akan berada di luar pengaruh ‘moralisme’ tersebut sehingga dapat menertawakan dan menentangnya. Dengan kata lain, Ayu Utami mem(p)osisikan dirinya sebagai manusia istimewa yang lebih maju dan merdeka daripada mayoritas masyarakat di sekitarnya.”

Sederhananya, perlawanan atas ‘moralitas’ yang kita anggap menghambat kemodernan suatu masyarakat adalah seburuk-buruknya ke(tidak)sadaran seorang manusia di negara bekas terjajah. Apa bedanya mereka dengan penjajah di masa kolonial, jika memandang ‘kultur dan moralitas’ masyarakat sekitarnya sebagai suatu produk kebudayaan yang rendah sambil mengagungkan produk kebudayaan yang entah dari mana itu? Saya rasa ini yang jadi salah satu objek kritikan Katrin pada Ayu Utami, novelnya, hingga mungkin, pada para pemuja wacana ‘pembebasan seksualitas’ yang banal dan mirisnya malah menjadi orientalis.

 

Pengalaman Membaca Teks di Atas Ranjang

 

Serupa tapi tak sama. Wacana dalam teks sastra yang dibahas Katrin dalam esainya, setidaknya, memiliki kesamaan dengan wacana dalam puisi-puisi Kezia Rantung—yang menggunakan nama KeyRan di buku rilisannya.

Seksualitas. Namun, diskusi malam itu dibuat untuk mengarahkan pembaca sedikit bergeser dari ruang seksualitas yang representatifnya adalah urusan intim yang privat ke ruang yang lebih bersifat publik, sebagai perenungan universal. Dugaan saya, pemilihan kata ‘sensualitas’ adalah kesengajaan— yang mungkin direncanakan penulis—agar pengalaman personal penulis dalam teks puisi bisa dinikmati sebagai proyek perenungan massal yang reflektif.

Buku Catatan-catatan yang Berserakan Di Atas Ranjang tiba di gadget saya pada 3 November 2024. Wujudnya masih dalam bentuk digital, demikian pula sampai pada hari brojolnya, buku itu belum dapat terpegang secara fisik oleh pembaca—atau mungkin sampai tulisan ini dibuat?

Penulisnya mengirimkan buku digital itu beberapa jam setelah kami berjumpa di sebuah cafe daerah Kasongan. Di sanalah, untuk kali pertama dia meminta saya menjadi salah satu pembahas saat perilisan. “Aku perlu melihat bagaimana perspektif laki-laki membaca puisiku,” demikian bujuknya.

Kumpulan puisi Catatan-catatan yang Berserakan Di Atas Ranjang berisikan 51 puisi yang terbagi dalam tiga bagian, dengan masing-masing berisi 10, 22, dan 19 puisi. Pembagian itu diberi judul yang berbeda, dengan menghadirkan kamar sebagai ‘ruang pemisah’ antar kisah dalam puisi. Bagian pertama, kita dibawa masuk pada “Kamar I: Serakan Sebelum di Ranjang”. Lalu bagian kedua, kita mulai masuk ke “Kamar II: Serakan-serakan di Ranjang”. Terakhir, di bagian ketiga kita diarahkan menuju “Kamar III: Serakan-serakan Setelah di Ranjang”.

“Kamar satu berisikan situasi bersosial yang dirasakan dalam berbagai suasana. Kamar dua berisi kisah-kisah intim. Kamar tiga berisi refleksi setelah kejadian-kejadian tersebut,” kurang lebih itu ucapan penulis saat saya iseng bertanya maksud penghadiran tiga kamar di kumpulan puisinya.

Usai membacanya beberapa kali, saya jadi sedikit mengerti. Pada kamar pertama itu, penulis mencoba menuliskan segala macam perjumpaannya dengan orang-orang—terutama lawan jenis. Perasaan-perasaan yang membekas itu diabadikan penulis, baik saat sober, mabuk, atau situasi trance yang entah seperti apa. Setidaknya, di kamar itu kita seperti dibawa mengingat masa-masa jatuh cinta, kasmaran, deg-degan yang tiba-tiba, dan segala macam kekonyolan yang terjadi di hadapan seseorang.

Kamar kedua, kita diceritakan soal kisah pengalaman intim penulis bersama seseorang. Gairah mendominasi suasana dalam puisi-puisi di kamar ini. Tak jarang kita temukan kata-kata yang bisa merepresentasikannya keintiman itu. Dari ‘ranjang’, ‘bersenggama’, ‘hasrat’, ‘menjamahku’, ‘telanjang’, sampai ‘desahan’ cukup untuk menggambarkan pergulatan semacam apa yang sedang ditekstualisasikan penulis.

Sedangkan di kamar terakhir, pertengkaran dan pergulatan batin penulis cukup kentara di bagian ini. Ada ketakutan akan perpisahan, senggama yang tanpa menyisakan rasa, lagu-lagu yang membawa ingatan melambung pada memori di kepala, sampai cinta yang seperti roller coaster di dada. Sebagai pembaca, saya rasa itu aspek-aspek emosional yang terasa saat memasuki satu per satu kamar yang dibuat penulis dalam bukunya.

 

Membaca Kemungkinan Dari Luar Kamar

 

Sebagai satu dari dua orang yang diminta untuk membicarakan Catatan-catatan yang Berserakan Di Atas Ranjang—biar tidak begitu mengecewakan—saya mencoba beberapa kacamata yang pas—tepatnya sesuai kemampuan saya—untuk bisa melihat beberapa kemungkinan di sekitar teks.

Kebiasaan yang kini terbangun, saat berjumpa dengan karya (sastra) yang mengandung wacana seksualitas di dalamnya, hal pertama yang melintas di kepala saya adalah; seksualitas semacam apa yang dihadirkan penulis dan bagaimana dia memosisikan diri dalam wacana tersebut? Saya tidak akan terlena pada citra, simbol, bentuk, garis, tekstur, warna, bahkan metafora penuh gairah yang disajikan si pencipta karya. Arah wacana dan posisi si pencipta adalah aspek paling penting sebelum bicara panjang soal tetekbengek elemen, simbol, dan metafora yang digunakan. Sebab, bagaimanapun, tafsir atas apa yang dipahami sebagai seksualitas kita hari ini, mau diakui atau tidak, telah tercemar oleh konstruksi pikiran yang dipaksawariskan sejak masa kolonialisme hingga hegemoni budaya Barat di masa kini.

Buku Catatan-catatan yang Berserakan Di Atas Ranjang adalah satu dari beberapa karya (sastra) yang ditulis oleh perempuan dengan mengangkat tema-tema seksualitas. Dalam wacana ini, kita bisa melihat dua kecenderungan. Pertama, mereka yang berupaya untuk membebaskan pemaknaan dan perlakuan atas seksualitas di masyarakat, demi mendapat ‘ketenangan’ dalam pengaktualisasian kebebasan yang dikehendaki. Kedua, mereka yang berupaya untuk mendefinisikan ulang seksualitas dengan tetap mempertimbangkan apa, di mana, hingga bagaimana konteks pembebasan dan kebebasan itu dibicarakan.

Pada kecenderungan pertama, seperti yang telah saya singgung di awal tulisan, saya akan langsung mengacu pada kritik yang dilakukan Katrin pada dua penulis perempuan Indonesia, Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu. Terlepas dari misi khusus yang dibawakan keduanya dalam wacana seksualitas di sastra Indonesia, saya tetap sepakat pada inti kritik Katrin dalam esainya. Kedua penulis perempuan itu, mengkritik kebiasaan masyarakat di sekelilingnya atas tafsir seksualitas dengan perspektif orang yang seolah berada jauh, terpisah, hingga berjarak betul dengan sosio-kultur masyarakat yang dimaksud. Konteks ini yang lantas membuatnya berperan sebagai agensi asing yang leluasa menertawakan subjek masyarakatnya sendiri. Bukankah sah jika dikatakan bahwa mereka, tanpa disadari, menempatkan diri sebagai seorang orientalis? Orientalisme Timur atas Timur. Suatu kekhasan masyarakat bekas terjajah yang memandang sesama mereka, dari pikiran sampai tindakan, secara rendah dengan melekatkan stereotipe-stereotipe seperti kolot, udik, kampungan, terbelakang, hingga ketinggalan zaman.

Pengetahuan Barat pada akhirnya menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, memberi surplus wawasan bagi kita dalam memahami realitas. Di sisi lain, membuat kita menjadi representasi mereka, yang akhirnya mual dan jijik terhadap pengetahuan nenek moyang yang sesungguhnya.

Pembebasan seksualitas sebagai suatu wacana yang digaungkan Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu dalam karya-karyanya, tak bisa dengan serta-merta dianggap sebagai satu-satunya jalan terbaik untuk ‘menghancurkan’ ketabuan dan ‘kekolotan’ berpikir masyarakat kita. Menyimpulkan bahwa moralitas suatu masyarakat sebagai penghambat dari praktik pengekspresian hasrat seseorang (individu) yang entah berakar dari mana.

Mempertanyakan, merumuskan ulang, bahkan mungkin ke tahap paling radikal untuk tidak mau lagi melakoni cara berpikir masyarakat hari ini, rasanya sah-sah saja. Selama tidak merendahkan, memperolok, bahkan memandang hina suatu kebudayaan di masyarakat, seolah dirinya tidak pernah berada dalam ruang budaya itu. Sebab sikap-sikap konyol demikianlah yang menjadi kekhasan seorang orientalis pascakolonial.

Dari uraian singkat ini, saya lalu mencoba melihat, di kecenderungan mana penulis serta karya-karyanya dalam Catatan-catatan yang Berserakan Di Atas Ranjang memosisikan diri pada wacana seksualitas yang dibawakan?

 

Sensualitas dan Politik Ketubuhan

 

Berangkat dari tema diskusi di hajatan perilisan waktu itu, saya terfokus pada diksi yang dipilih untuk tema—entah secara sadar atau tidak. Tema di poster itu menggunakan kata ‘sensualitas’, bukan ‘seksualitas’. Dua kata ini, di banyak dari kita, mungkin memahaminya dalam satu makna yang sama; urusan persetubuhan, kisah persenggamaan, atau sekadar fantasi kepuasan yang badaniah.

Itulah kenapa, saat menjadi pembicara, bahasan yang mula-mula saya utarakan adalah perihal pemilihan kata ‘sensualitas’, yang setidaknya jadi semacam penegas bahwa sajak-sajak berisi kisah intim di buku itu tidak terjebak dalam wacana ‘pembebasan seks’ ala orientalis.

Secara sederhana, sensualitas bisa dimaknai sebagai suatu gejolak yang tak melulu bersifat badaniah atau tubuh yang fisikal sehingga bisa ditempatkan pada ruang yang lebih luas dan kompleks. Secara politis, sensualitas bermakna upaya pengekspresian diri (ketubuhan) seseorang yang berupaya untuk keluar dari kerangkeng konstruksi.

Dalam konteks masyarakat patriark, ketubuhan perempuan diposisikan sebagai objek yang lemah, rentan, dan perlu perlindungan dari yang bukan mereka. Pada situasi ini, akhirnya muncul mitos bahwa sebagai objek maka mereka berada di bawah kuasa laki-laki. Dengan kata lain, relasi kuasa tak terhindarkan.

Suara perempuan yang hendak membicarakan ulang mengenai ketubuhannya dalam menafsir realitas adalah satu wacana yang ditawarkan penulis dalam buku Catatan-catatan yang Berserakan Di Atas Ranjang. Dengan mengambil ruang paling dekat dan intim di realitasnya, penulis mencoba untuk menyatakan bahwa ketakberdayaan perempuan akibat relasi kuasa yang ada dalam konteks hubungan perlu untuk dibicarakan ulang.

Dari sini, kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa suara yang hendak diungkapkan penulis bukan mengarah pada ekspresi tubuh badaniah yang penuh oleh binalitas hasrat semata, melainkan tubuh yang dikerangkeng dalam konstruksi budaya, tubuh yang kemudian dilegitimasi oleh beragam relasi kuasa patriark, tapi ketubuhan itu lantas menolak untuk terus menjadi objek dari kekuasaan di luar dirinya. Catatan-catatan yang Berserakan Di Atas Ranjang adalah tubuh penulis yang hanya mau bersuara tentang dunianya, bukan mempromosikan pembebasan seksualitas. Semoga, begitu.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *