Dangdut Sebagai Lumbung Kebudayaan Rakyat Kecil

Penulis

Musikal yang khas dan lirik-lirik yang sederhana musik dangdut sebagai identitas gambaran hiburan rakyat. Kemunculan, Om Lorenza bentuk konkrit bahwa dangdut tidak akan lekang pada zaman. Masyarakat Indonesia tidak bisa memisahkan diri dari genre musik dangdut. Saya rasa dangdut menjadi anak kandung kebudayaan rakyat kecil. Kebanyakan dari masyarakat yang tinggal di perumahan padat atau perkampungan memiliki berbagai cara menikmati kehadiran dangdut itu sendiri. Mulai dari merayakan pesta hajatan atau sebagian menjadi refleksi diwaktu santai, bahkan menjadi pemacu adrenalin bagi para pekerja kasar.

Sebagian negara mempunyai narasi kebudayaan, misalnya Korea dengan K-Pop, Jepang dengan animenya, atau bangsa Arab dengan gambus. Tentu ini bukan tidak mungkin dangdut sebagai media narasi kebudayaan dalam kancah internasional. Kita bisa melihat bagaimana Korea menggunakan K-Pop sebagai narasi kebudayaan dalam beberapa tahun terakhir, dampaknya apa mengundang para turis luar negri untuk berkunjung. Dangdut sebagai musikal rakyat amat sangat berpotensi menjadi narasi kebudayaan atau lebih tepatnya sebagai diplomasi budaya untuk menampilkan wacana nasionalisme bangsa Indonesia.

 

Dari Hulu ke Hilir Musik Dangdut

 

Kehadiran dangdut merupakan wujud produk kebudayaan yang mengalami proses kristalisasi yang amat panjang, pandangan masyarkat beraneka ragam menyikapi kehadiraan genre tersebut. Namun, perlu diakui dangdut mengalami perkembangan yang amat pesat dalam sejarah kebudayaan bangsa Indonesia. Setidaknya, kita melihat bagaimana faktor internal arsemen musikal dan lirik-lirik sederhana yang dapat dipahami. Bahkan, faktor eksternal, seperti para penguasaha turut terlibat dalam membentuk pasar industri musik dangdut.

Dangdut sendiri dalam catatan sejarah juga terlahir dalam narasi kebudayaan nasional pada era Presiden Ir. Soekarno. Situasi itu tergambarkan, secara geopolitik kebudayaan Indonesia khususnya tahun 1960-an yang dimana terjadi perang ideologi antara komunisme dengan liberalisme. Soekarno menyikapi dengan politik bebas aktif, akan tetapi cendrung mesra dengan blok komunisme, tentunya menimbulkan dampak pada politik dalam negeri khususnya pada seni hiburan yakni musik. Dalam pidatonya Soekarno sangat melarang musik ala barat yang merupakan bagian Imperalisme Barat. (Manifesto Politik RI dan Undang-Undang Dasar 1945. Surabaya : Fa. Penerbitan “GRIP”, hal: 29). Momentum tersebut menjadi perkembangan musik melayu (Dangdut)  

Istilah “dangdut” lahir dari tiruan bunyi musik “dang dut” atau “ndangdut”. Awal perkembangnya disebut sebagai orkes melayu. Setidaknya sampai era 70-an istilah dangdut muncul dan lebih popular ketimbang melayu yang konsumen besarnya adalah masyarakat pinggiran. Kehadiraan musik dangdut sebagai hiburan alernatif khususnya musik. Kepopulerannya terasa dengan kemunculan Rhoma Irama yang dilabeli sebagai Raja Dangdut atas karya lagunya dan filmnya yang berjudul “Satria Bergitar”

Dalam buku Culture Studies dan Kajian Budaya Pop: Pengantar Komprensif dan Teori dan Metoe karya Jhon Storey mengutip pendapat Rosselon “bahwa musik rakyat merupakan musik alternatif bagi musik kapitalis dalam industri musik”. Dangdut sendiri masuk katagori musik popular, setidaknya ada alasan yang mendorong seperti nilai ekonomis (tukar) dan nilai kultural (guna). Pada poin nilai tukar dangdut sebagai musik popular sangat bergantung pada industri musik yang melahirkan nilai ekonomis sebagai jalan awal perkembangannya, akantetapi pada sisi yang satu nilai kultural yang memberikan nuansa penegasaan bahwa dangdut hanya berada dikendali konsumennya sendiri yang menentukan perkembangan kedepannya.

Kekuataan lirik yang sederhana menjadi cerminan kehidupaan sosial masyarakat. Setidaknya, liriknya bukan hanya persoalan kisah-kisah romantisme remaja urban, lebih dari itu liriknya sarat dengan situasi masyarakat kelas menengah kebawah dan berupayah menghadirkan perasaan menghibur atas kepahitan ekonomi. Dangdut lawasan seperti Om Lorenza dalam lagu tambal ban mencoba merefleksikan atas kepahitan ekonomi dalam nuansa melakolis. Atau nuansa campursari versi Didi Kempot yang identik dengan keambyaran sehingga nuansa kepahitan atas kondisi sosial dan ekonomi menyihir para pendengar untuk menggugat atas kenyataan pahit dan memperotes kemapanan. Kebetulan eksistensi sebagai musik pesta rakyat bukan hanya sebagai hiburan tapi juga sebagai guggatan atas kondisi sosial yang bagian dari ruh musik itu sendiri. Namun, sebagian besar lirik juga perlu diuji apakah situasinya memilik kesamaan dengapan lirik lagu itu sendiri. Dangdut yang dikatagorikan sebagai musik popular, melahirkan dimensi pengkaburan atas gemerlap sosial.

 

Semua Akan Dangdut Pada Zamannya

 

Hampir sepanjang perjalanan bangsa, dangdut selalu mengiasi kondisi zaman mulai dari melayu, koplo, lawas, dan sejenisnya. Setidaknya pandangan masyarakat mengalami pergeseran dalam menilai musik dangdut. Hal ini disebabkan oleh suatu komunitas atau komunal yang menikmati musik dangdut secara kolektif dan konsisten, situasi ini juga mengubah tren aliran dangdut sendiri, seperti saat ini dari koplo ke lawasan adalah bentuk habbit masyarakat dalam menikmati musik dangdut itu sendiri.

Pergesaran musik dangdut bentuk penegasaan bahwa dangdut bagian dari sebuah subculture. Pada umum musik yang berbentuk mapan seperti aliran orkestra. Atau kondisi hari ini merujuk pada kebanyakan masyarakat menikmati sajian musik elektronik atau dj yang cendrung menghentakkan dan tarian. Dengan adanya semacam aliran dj dalam genre musik, dangdut mencoba beradaptasi dengan genre tersebut melahirkan penyebutan yang panjang sepert dangdut koplo remix. Koplo yang menjadi simbol dangdut yang bernuasan tarian agresif terus menerus , sehingga kemunculan dangdut lawas sebagai aliran dengan nuansa tarian yang lebih slow bagian dari menarasikan dangdut sebagai musik rakyat yang lebih variative sehingga secara tidak langsung kembali dengan merekontruksi masa lampau dangdut itu sendiri yang memilik berbagai macam aliran. 

Dangdut sendiri secara perkembangan mengalami pergesaran status dalam masyarakat. Sebagaiamana kita ketahui musik dangdut di era 2000-an menjadi identitas masyarakat kelas bawah atau terpinggirkan. Sebagian besar dari penikmat dangdut kala itu para supir truk atau bus, dan para pekerja kasar dalam menemani pekerjaanya, selain itu dangdut sebagai hiburan wajib untuk acara hajatan (pernikahan atau sunatan) di wilayah perkampungan dan kota-kota atau acara-acara perayaan musim panen. Namun, citra dangdut mengalami naik kelas kita Via Vallen memasuki Istana sebagai musik yang bisa dinikmati oleh para pejabat juga. Maka dari itu, sebaiknya dangdut sebagai diplomasi kebudayaan Indonesia dalam dunia Internasional dan menempatkan setara dijajarakan dengan musik reggae dari Jamica, K-pop dari Korea, atau nuansa Jazz dari Amerika. 


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *