Gimana ‘Cuaca Hari Ini’?

Penulis

”Kamu tuh bisa kerja gak!!!!” teriak seorang tetangga yang noise-nya bikin canggung Ajib dan Boy (nama samaran). Teriakannya melengking seperti bending di senar E gitar stratocaster yang dibarengi dengan nyalanya Digitech Whammy DT Pitch Shifter yang knob shift up-nya mentok di angka tujuh, pedalnya diinjak sampai mentok, setting-an Marshall STUDIO 900 COMBO nyaris tanpa bass dan middle tapi knob volume dan gain rata kanan, plus kabel jack murahan merek antah berantah seharga Rp 15.000 korban promo flash sale di aplikasi oren. Ajib dan Boy, mereka adalah dua manusia yang sebenarnya tak saling kenal dan tak mungkin bisa saling kenal tanpa awkward moment itu. Mata mereka saling bicara, “cabut, yuk”, “ayok”, dan dijawab lewat saling ngangguk kepala.

Ajib dan Boy keluar kontrakan sambil menutup pintu pelan-pelan. Lanjut kasih keluar motor pelan-pelan dan siap gas, ngeng…. Mungkin karena momen canggung tadi, mereka sampai lupa buka Gmaps. Mereka, sekali lagi, meski tak saling kenal, punya tujuan yang sama yaitu berangkat ke Girpasang untuk nonton pertunjukan Cuaca Hari Ini dari Paulus Neo yang berkolaborasi dengan Agus Bimo Prayitno, Puspa Sila Jelita, Gedrug Merapi, Julianno Lorca, Purwanta, dan Bonifasius Bagas. Mereka diajak oleh kerabatnya masing-masing, Ajib diajak Bang Julianno dan Boy diajak Mas Neo. Cuma kebetulan mereka berangkat naik motor, jadi tak ikut iring-iringan dengan rombongan mobil yang berangkat duluan sekitar pukul 10.00 AM. 

Mereka pilih jalur yang konon kata Gmaps paling cepat dan paling ekstrem (anyway i was among them but yaaa you know just like any other journalist, my voice was not really important and it’s fine, so please assume that i was not there!) 

Lesgooow! Petualangan dimulai! Rintangan pertamanya adalah udara panas khas Yogyakarta yang bikin ketek basah dan kulit kering. Dari Baciro sampai Kaliurang KM 10, udara panasnya stabil menyiksa seluruh pengendara motor di Jogja. Seharusnya itu bukan masalah buat Ajib dan Boy yang sudah belasan bahkan puluhan tahun tinggal di Jogja, tapi masalahnya, Ajib masih belum sober dari sisa mabuk semalam dan Boy, kalau kata orang Sunda, masih lulungu alias nyawanya belum ngumpul pasca bangun tidur. Selebihnya, aman aja sih karena mereka bawa motornya pelan-pelan.

Setelah mulai belok ke arah timur, gedung-gedung, rumah-rumah, kemacetan, jalan aspal tanpa lubang, kios-kios Madura, dan tentu udara panas mulai meninggalkan mereka. Sekarang, di hadapan mereka hanya sawah, kebun, pedesaan, hutan, jalan berlubang, truk bermuatan besar, dan, yang bikin rusak pemandangan, galian tambang—tampaknya ilegal—yang sangat dalam di tengah hutan samping jalan setapak yang mereka lewati. Namun, ya sudahlah, mau gimana lagi? Perjalanan harus berlanjut. Jujur, jalanannya lumayan rumit, belok kanan-kiri dan kadang belokannya terhalang pepohonan yang bikin Ajib, sebagai pemandu touring, beberapa kali salah belok dan bikin kepercayaan Boy pudar, ia jadi ikutan buka Gmaps—promise me this is the last time i appear in this story, actually that was my fault i was the only one who read maps, and i’ve never been good at this, sorryyy.

Sekitar lima kilometer lagi dari Girpasang, tiba-tiba hujan. Ajib dan Boy berteduh di salah satu kios pedesaan yang kebetulan tutup. Beruntungnya tempatnya lumayan nyaman buat berteduh. Boy mulai ngoceh bin ngeluh hp–nya sulit dapat jaringan—betul, ia pake provider paling murah di indo. Setelah dicek, bukan itu masalahnya, hp–nya airplane mode! Kesel gak tuh?! Batre-nya low lagi… untungnya Ajib adalah musafir pro dengan porto nomaden sejak 2016, ia selalu well prepared whenever he goes, jangan ragukan! Tas Ajib adalah kelontong Madura serba ada, ia pasti bawa powerbank sepaket dengan berbagai jenis kabel USB A, B, C, lightning, and so on semuanya ada. Yeah, Boy, selamat!

Hujan tinggal sisa gerimis. Ajib dan Boy melanjutkan perjalanan dengan mengenakan jas hujan. 

Tiba lah mereka di parkiran Girpasang. Di sana ada Ghina, Romy, Angle, Pak Pur, dan Öñžę yang tiba duluan, lagi asik ngobrol sambil nunggu hujan yang tak jadi reda. Boy langsung bercengkrama dengan orang-orang di parkiran, ya karena memang Boy sudah kenal mereka sejak lama. Tapi Ajib, the man from nowhere, malah linglung harus bikin apa. Bang Julianno, orang yang Ajib kenal, belum tiba di Girpasang. Öñžę—orang yang sama-sama diajak Bang Julianno—tampak belum terlalu akrab dengan Ghina, Romy, dll. dan ia memilih untuk bercengkrama dengan Ajib. Ajib nampak acuh-tak acuh. Sambil mendengarkan Öñžę ngomong, ia fokus makan nasi goreng.

Mungkin sekitar setengah jam pasca Ajib dan Boy tiba, Mas Neo dan Mas Felix turun dari checkpoint di Pendopo Her, Girpasang untuk ambil barang-barang yang masih tertinggal di parkiran. Boy langsung cekatan membantu teman-temannya membawa barang dan loading sound di pendopo yang nantinya jadi tempat pementasan. Medan venue yang lumayan terjal dan hujan tipis-tipis bukan masalah buat Boy dan teman-temannya yang lain. Satu hal yang bikin salut, Boy mengangkat keyboard-nya Mas Neo yang kira-kira 17 kilogram dari checkpoint ke Pendopo Her yang jaraknya sekitar 500 meter, nanjak lagi. Proud of you bro!

Ajib dan Öñžę yang sudah terlanjur berteman, memutuskan untuk jalan bareng dari parkiran ke checkpoint. Untuk sampai ke sana, mereka perlu melewati jembatan gantung sepanjang 200 meter yang menghubungkan dua bukit. Mereka berdua takut ketinggian. Ajib awalnya memang agak gemetar tapi rasa takutnya teralihkan dengan pemandangan hijau bukit-bukit Girpasang. Öñžę ternyata jauh lebih cupu dari Ajib. Pemandangan hijau tak mendistraksi rasa takutnya. Kaki Öñžę gemetar, kedua tangannya memegang tas gendong Ajib sambil bilang: pelan-pelan, broo… dan itu bikin Ajib cengar-cengir sendiri melihat abang-abangan perpusjal (perpustakaan jalanan) ini ternyata secemen itu.

Ajib sebenarnya cemas dengan keputusannya sendiri untuk ikut berangkat ke Girpasang. Ia meng-iya-kan ajakan itu di tengah-tengah kemabukan. Ia tahu di sana kemungkinan besar tak ada satu pun manusia yang ia kenali. Ia khawatir kalau semua hal yang ada di Girpasang dan membuatnya tak nyaman. Ya, Ajib memang orang dengan kondisi kesehatan mental. Tak heran kalau ia cemas dengan keadaan, itu wajar kok. Tapi hijau-hijau bukit, keramahan dan kegiatan warga lokal, ritual doa, makanannya, teh anget, and every little things before the concert started were an antidepressant for him. Walaupun ia merokok sampai spaneng buat mengurangi nervous-nya.

Pukul 06.00 PM, Boy turun dari pendopo untuk beristirahat sedikit sebelum turun ke Kaliurang menjemput pacarnya. 15 menit setelah itu Boy berangkat. Penonton dan warga yang hendak menonton pertunjukan sudah berkumpul di checkpoint. Para seniman dan crew sudah siap di pendopo. Kurang lebih pukul 09.00 PM pertunjukan ‘Cuaca Hari Ini’ dimulai.

***

Semua sudah berkumpul di pendopo. Mas Neo dan seorang warga lokal, Muhammad Ansori, membuka ‘Cuaca Hari Ini’ dengan sedikit sambutan. Mereka menceritakan tentang latar belakang acara ini dan folklore di Girpasang. Singkatnya, ‘Cuaca Hari Ini’ adalah sebuah doa bersama sekaligus ekspresi rasa syukur untuk ibu bumi atas segala berkah yang diberikannya untuk semua mahluk yang tinggal di tubuhnya.

Mas Neo duduk di depan keyboard-nya. Di hadapannya, ada Pak Pur yang duduk sila sambil memegang rebab. Di sampingnya ada Mas Bege, memegang sebuah alat musik tiup besar. Suasana mulai hening. Penonton terdiam dan sorot matanya mengarah ke Mas Neo, Pak Pur, dan Mas Bege. Jari Mas Neo mulai menari-nari di atas tuts dengan tempo yang sangat pelan. Mas Bege meniup alat musiknya yang menghasilkan suara berat minta ampun: kalau kata Ajib suaranya haunting banget. Pak Pur menggesek rebabnya pelan yang bikin suasana makin transcend. Semakin lama temponya semakin cepat. Efeknya adalah suara dan bunyi-bunyian yang bikin ambience tegang. Kemudian temponya tiba-tiba melambat lagi. Dari arah penonton, Bang Julianno masuk ke pendopo, ia langsung duduk sila di tengah para musisi, berdiam sebentar, lalu menutup mata, punggung dan kepalanya mulai bergerak menyesuaikan tempo musik. Tabe’… tabe’… tabe’… tabe’!!! Bang Julianno membaca mantra dengan bahasa Dayak Kanayatn. Makin tegang, makin kaos, makin cepat, makin keras. Musiknya terus mengiringi mantra. Sebagian penonton melongo terbawa suasana, beberapa ada yang nampak merinding, beberapa anteng melamun sambil nyekek gelas ciu, beberapa orang tak beradab mengganggu jalannya pentas dengan dalih memfoto: sebenarnya bukan masalah mau ambil foto, itu malah bagus, tapi cara kalian mengambil gambar itu lhoo… ibarat kalian fotografer sepak bola tapi kalian masuk ke dalam lapangan demi foto yang apik, itu kan mengganggu jalannya pertandingan, got it bruh? Toh hasil foto yang sudah diunggah di medsos-nya Mas Neo diambil dari angel yang amat-sangat sopan, this is just my advice, keep your money and buy a good lens!!

Tak terasa Bang Julianno selesai membaca mantra. Ia kembali ke barisan penonton. Lampu pendopo meredup. Mbah Bimo dari bagian belakang pendopo berjalan ke tengah pendopo. Di antara lampu yang masih redup, ia duduk dan menyalakan dupa yang jumlahnya lumayan banyak. Api yang menyala di kepala dupa jadi satu-satunya sumber cahaya. Mbah Bimo berdiri dan tubuhnya mulai merespon musik yang dari tadi tak berhenti mengalun dari awal pentas. Tempo tarian Mbah Bimo benar-benar mengikuti ritme musik, lampu-lampu pendopo mulai terang mengikuti ritme Mbah Bimo dan para musisi. Bukan cuma temponya, gerak tubuhnya pula, ritme pelan dengan gerakan lembut dan ritme cepat dengan gerak tari yang tegas. Begitu juga dengan Mbak Puspa yang mulai menari di depan pendopo, mereka sama-sama merespon ritme musik. Seketika para penonton bergeser ke kanan-kiri, memberikan ruang tari untuk Mbah Bimo dan Mbak Puspa. Mereka menari berputar-putar mengelilingi beberapa tongkat yang ada di tengah-tengah rumput depan pendopo. Kepala mereka sesekali mengarah ke tanah dan ke langit: mungkin sebagai simbol penghargaan pada ibu bumi dan bapa langit(?) Kemudian Mbah Bimo dan Mbak Puspa menari sambil keluar dari area tari.

Sekelompok penari laki-laki berbaju hitam, masuk dari bagian kanan pendopo. Mereka langsung mengambil tongkat-tongkat tadi. Mereka berjalan dan membuat lingkaran. Ritme musik semakin cepat, gerak mereka semakin cepat. Saking cepatnya mereka sampai berlari-lari. Penari maupun musisi terus mempercepat temponya. Semuanya terlihat kaos sekaligus teratur. Penonton semakin mundur ke pinggiran memperluas ruang untuk penari. Ritme melambat, para penari berbaris untuk minggir dari area tari. Seketika area depan pendopo sudah jadi ruang untuk penonton lagi. Masih, musiknya tak berhenti hanya semakin pelan dan lambat. Selang beberapa menit setelah itu, Bang Julianno naik lagi ke pendopo dan bermonolog. Ketimbang monolog, itu lebih seperti poetry slam di Chicago pada tahun ‘80an. Entah memang sudah Bang Julianno persiapkan atau tidak, slams tersebut tersusun rapi terdengar seperti sebuah puisi yang ia hafalkan selama bertahun-tahun. Ia juga sempat mengutip puisinya WS. Rendra yang berjudul Hai, Ma. Ia semakin katarsis. Suaranya makin keras. Ia berteriak sampai suaranya serak-serak. Musiknya mengikuti tegangnya slams. Gamelan makin heboh. Jep… slams selesai, musik berhenti, lampu meredup, acara selesai. Tapi tak sepenuhnya selesai, para penampil dibanjiri orang yang pengen salaman dan wartawan yang mau wawancara, terutama Mas Neo yang tampak lumayan kelelahan.

Ajib dan Boy yang menonton merasa acara ini sangat spontan: kalau menurut Boy seperti sebuah jamming. Mereka sebenarnya tak menyangka bahwa pertunjukannya ‘seliar’ ini. Ajib awalnya merasa berjarak dengan pagelaran ini, mitos-mitos setempat, doa-doa soal pertanian. Ternyata sangat luwes.

 

Daripada mengolah opini Ajib, baiknya Anda membaca sendiri isi kepalanya: 

 

ini anabel ya Analisa gembel, aku sih liat pertunjukan semalem kaya ngebagi jadi dua session: instrumental dan gerak. kaya piano, alat music tiup yang aku lupa Namanya, trus yang kaya violin itu, klongengan dan piranti gamelan lalu yg kaya tabuhan, itu session instrumen. bapak sepuh baju putih, perempuan nari, lalu abang2 berkelompok baju item dan mas gondrong penyair—meski pake suara, ya, tapi ku tetep masukin ke session non instrumen. dua session itu saling melengkapi, kadang music yang mengiringi tapi kadang juga sebaliknya. paling suka suara instrumen alat tiup, baru dan haunting. kalo soal gerak aku selalu balik ke esai yg perna kubaca di newyorker ato guardian aku lupa soal Gerakan grand jete di ballet, abis baca itu aku jadi dapet ilustrasi soal pentingnya gerak tubuh dan how ia seharusnya dihargai dalam konteks seni-senian. meski ya aku masi tida paham juga si kalo gerak lambat dari bapak baju putih itu apa, tatapan ke langit si mbak penari itu symbol apa dan lain sebagainya? tapi aku jg paham kalo aku dateng kesitu juga as a orang yg punya jarak dengan entah kehidupan lereng maupun kesenian (terutama tradisi) jadi ya diliat aja dinikmati sambil under influence, pas crescendo, juga penari laki berkelompok itu kemudian bergerak lebi cepat seharusnya wkwk. Atau lebi tepatnya i was expected buat kita penonton bisa ikut menari or bergerak juga bareng apalagi tariannya simple jadi kayanya bole deh. maksudnya bukan buat interupsi,tapi lebi karena definisi panggung di pertunjukan lebi luas karena pada akhirnya mengokupasi ruang penonton juga kan, jadi alangkah baiknya penonton yg ingin jumpalitan or ikut tarian difasilitasi wwkwk. itu jg nyambung dengan konsep kita orang yang dari Jogja dateng kesitu buat merasakan opsi lain atau bentuk lain dari kehidupan di Girpasang, gitu. lagi2 ini anabel sik.

 

Next ini opininya Boy: 

 

Kalau dibandingkan sama konser musik umumnya, menurutku secara konsep pagelaran ini nawarin sesuatu yang lebih beragam. bukan cuma menampilkan musik, tapi juga ada unsur kolaborasi lintas instrumen, budaya, tari, dan monolog, yang mungkin bikin lebih dari hiburan biasa. Kesannya seperti jamming, tapi mungkin juga di situ menariknya. Bukan tipe pertunjukan yang semua orang suka, tapi pasti ada yang menikmati konsep seperti ini. aku coba nyimak konsernya, mungkin karena konsepnya yang spontan, jadi aku nggak terlalu dapet momennya. Apalagi waktu itu gelas (ciu) kita muter terus, coy, jadi mungkin ke-distract juga, ya, haha. oh iya, mungkin ini pertama kali aku nonton konser dengan full minum ciu. tapi tetep seru lihat kolaborasinya.

***

Penonton sudah mulai bubar. Para penampil dan crew-nya mulai beres-beres. Pendopo mulai sepi. Ajib langsung turun ke checkpoint karena tak tahu mau bikin apa lagi. Sebelum itu, ia sempat jalan-jalan keliling sekitar tempat manggung, kayaknya bingung sih. Boy seperti pas persiapan acara, ia sibuk beres-beres bersama teman-temannya yang lain. Sekitar jam 01.00 AM, hampir seluruh peralatan manggung sudah di bawa turun, meski masih ada beberapa yang diangkut sebentar pagi. Seniman-seniman, para crew, dan beberapa penonton lanjut minum ciu di checkpoint. Ajib kebingungan dengan cara apa ia mau menghabiskan waktu sampai pagi. Mau tak mau Ajib harus berusaha fit in dengan kakak-kakak di sana. Ia bilang ciu sebenarnya lumayan membuat cair suasana di sana, bikin gak canggung, walaupun ia masih banyak diam dan cuma cengar-cengir. Sejujurnya, Ajib pengen langsung turun ke Jogja malam itu tapi ya gimana yaa… dan ia bilang kalau ciu terlalu ekstrem diminum—mungkin ekonominya sudah membaik dari beberapa tahun lalu—tapi itu bukan masalah: 

“but itu pengalaman yg bagus sekali buat aku, kadang kalo nonton konser baru kepikiran sesuatu setelah bbrp hari. terutama ketemu warlock dan hidup mrk yg kayanya bersahaja gitu dan tenang itu pengalaman menyenangkan sih,” kata Ajib.

Boy ikut minum-minum sebentar. Ikut hahahihi. Tak lama ia pamit pulang, karena besoknya ada jadwal pagi. bhayyy. thanks, Boy, tiati di jalan.

Ciu habis. Orang-orang bubar. Ada yang tidur, ada yang masih nyebat duabat. Suara hujan turun, suara serangga, dan suara ngoroknya Öñžę jadi nina bobo buat orang-orang yang menginap di checkpoint. 


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *