Matinya Kepakaran: Era di Mana Semua Orang Merasa Paling Tahu

Penulis

Di tengah riuh rendahnya percakapan publik hari ini, kita menyaksikan sebuah ironi yang mengusik nurani intelektual: kepakaran mati karena pembunuhan sistematis oleh masyarakat yang memuja kegaduhan dan menyembah opini. Tak ada lagi diferensiasi terhadap proses panjang pembentukan ilmu. Siapa pun kini merasa sah untuk berbicara tentang apa pun, meski tanpa dasar yang sahih. Gelar, metodologi, dan disiplin ilmu runtuh di bawah tekanan ‘viralitas’. Dunia hari ini telah berubah menjadi forum bebas tempat ketidaktahuan tampil dengan berpakaian kepercayaan diri, dan kebodohan tampil sebagai insan yang dianggap memiliki keberanian berpendapat. Ini bukan demokratisasi pengetahuan, ini hanyalah banalitas yang kadung disulap jadi kebenaran.

Lihat saja, seorang selebritas bicara soal kesehatan mental, lalu jutaan orang menelan mentah-mentah tanpa bertanya pada psikolog. Seorang influencer merekomendasikan diet ekstrim, dan ribuan tubuh dikorbankan demi ilusi kelangsingan. Sementara itu, para pakar yang menghabiskan separuh hidupnya untuk meneliti hanya mendapat satu-dua pendengar, itu pun dianggap kaku dan membosankan. Dunia ini kini lebih percaya pada wajah cantik dengan ring light ketimbang ilmuwan di perpustakaan berdebu yang bicara pelan-pelan tapi berisi kebenaran.

Bahkan tempat-tempat strategis di pemerintahan pun tak lagi diisi oleh mereka yang punya kapasitas. Semua itu hanya jadi panggung bagi-bagi jabatan dan transaksi politik yang dibungkus jargon meritokrasi. Kompetensi dikalahkan oleh kedekatan dan integritas dihancurkan oleh loyalitas semu. Tak peduli seberapa dalam pemahamanmu tentang tata negara, kalau kau tak punya koneksi, tak ada tempat untukmu. Pemerintahan yang seharusnya dijalankan oleh yang ahli, kini dipenuhi wajah-wajah yang lebih pandai membungkuk ketimbang berpikir. Maka jangan heran bila negara seperti berjalan tanpa otak—karena memang yang duduk di kepalanya bukan pemikir, melainkan para pengabdi kekuasaan.

Sebab-sebab Matinya Kepakaran

Kepakaran mati bukan hanya karena kehilangan nilai, melainkan karena kehilangan tempat. Dunia hari ini tak lagi menyediakan ruang terhormat bagi akal yang terlatih dan pengetahuan yang teruji. Ada banyak pembunuh dalam kasus kematian ini, dan semuanya beroperasi dengan cara yang sangat sistematis. 

Pertama-tama, kita harus menunjuk ruang pendidikan sebagai tersangka utama. Institusi pendidikan tinggi hari ini telah bertransformasi dari rumah pematangan nalar menjadi pabrik pencetak gelar instan. Orientasinya bukan lagi pencarian kebenaran, melainkan akreditasi, sertifikasi, dan percepatan produksi tenaga kerja. Mahasiswa dididik bukan untuk berpikir, melainkan untuk menyelesaikan tugas tepat waktu dan lulus dengan IPK tinggi. Dosen tak lagi diberi ruang mengembangkan pemikiran yang radikal, karena penelitian harus mengikuti kata kunci proposal hibah dan publikasi harus cocok dengan selera jurnal internasional yang netral secara ideologis. Ilmu dijinakkan, kemudian disterilkan.

Lalu negara, dengan seluruh jejaring kekuasaannya, turut ambil bagian dalam menyingkirkan pakar dari posisi-posisi penting. Pengetahuan tidak lagi digunakan sebagai basis keputusan, tetapi justru sebagai alat legitimasi kebijakan yang sudah dibuat lebih dulu. Ketika pakar bicara jujur, mereka dianggap pembangkang. Ketika mereka diam, kekuasaan berjalan tanpa rem. Maka yang bertahan adalah mereka yang memilih kompromi: tampil seolah-olah ilmiah, padahal sudah kehilangan integritas intelektual. Di sisi lain, media massa, yang seharusnya menjadi saluran artikulasi kepakaran, justru menjadi panggung utama bagi para komentator dadakan. Mereka yang paling keras bersuara, paling sering tampil, dan paling mahir menciptakan narasi yang viral adalah mereka yang bergerombol mengisi ruang diskusi publik. Kepakaran sejati, yang bicara lambat, penuh catatan kaki, dan sering kali menyakitkan bagi ego massa, justru disingkirkan.

baca juga:
–Menggagas Hukum Kritis
–Tukin Dosen Tak Dibayar, Kesejahteraan Hanya Angan-Angan

Hingga pada akhirnya, masyarakat pun memegang pisau terakhir. Publik hari ini yang sudah telanjur jatuh cinta pada kenyamanan opini sendiri, menjadi pribadi yang tidak ingin lagi ‘dididik’, apalagi dikoreksi. Mereka hanya ingin diyakinkan bahwa pendapat mereka tidak salah dan media sosial menyediakan itu semua dalam jumlah tak terbatas. Kepakaran mati karena tidak lagi diinginkan. Kita hidup di jaman ketika siapa pun bisa bicara soal apa pun, asal percaya diri dan punya banyak pengikut. Ini bukan sekadar krisis pengetahuan, ini adalah krisis kejujuran dalam memperlakukan kebenaran.

Menyingkirkan Kepakaran 

Pertanyaan besarnya: apakah kalian sadar bahwa dunia ini perlahan menyingkirkan orang-orang yang tahu dan memberi panggung bagi mereka yang sekadar bisa berbicara? Ketika seorang dokter dilawan oleh thread X, ketika ahli kebijakan publik dikalahkan oleh orasi emosional lima menit, ketika penelitian belasan tahun ditumbangkan oleh komentar warganet yang tak tamat membaca, di situlah kepakaran dikubur hidup-hidup. Kita sedang menyaksikan pergeseran drastis dari pengetahuan ke persepsi, dari otoritas ilmiah ke otoritas algoritma. Dan yang paling menyedihkan, banyak dari kita bersorak saat proses itu terjadi.

Apa yang kalian rayakan? Semata hanyalah kekalahan akal sehat. Ketika semua suara dianggap sama, tanpa melihat siapa yang berbicara dan dari mana dia bicara, maka yang tersisa hanyalah keramaian tanpa arah. 

Konsekuensi Dunia Tanpa Pakar

Dunia tanpa pakar adalah dunia yang rawan hancur. Kebijakan publik jadi asal-asalan karena dibuat untuk menyenangkan massa, bukan menyelesaikan masalah. Di ruang media, hoaks menyebar lebih cepat dari klarifikasi karena orang lebih percaya teman grup WhatsApp daripada data resmi. Akibatnya, isu-isu penting seperti pandemi, perubahan iklim, dan stabilitas ekonomi ditangani dengan spekulasi, bukan ilmu.

Masyarakat terpecah karena tidak ada satu pun sumber pengetahuan yang diakui bersama. Semua orang punya ‘kebenarannya’ sendiri. Akhirnya, debat publik tak pernah selesai, karena tak ada yang mau tunduk pada yang lebih tahu. Di titik ini, yang menang bukan yang benar, melainkan yang paling ramai. Inilah wajah masyarakat yang kehilangan arah: gaduh, keras kepala, dan penuh ilusi paham segalanya.

Memulihkan Martabat Pengetahuan

Maka temukan kepakaran kalian, tolong. Dunia ini sudah terlalu bising dengan suara-suara tanpa isi, dan hanya akan pulih jika ada yang kembali menekuni dalam-dalam, bukan sekadar menyalin dan mengulang. Kepakaran bukan soal gelar, bukan pula soal menjadi yang paling banyak bicara. Kepakaran lahir dari kejujuran menghadapi keterbatasan diri dan kesabaran menggali kebenaran yang sering tak populer. Kita butuh lebih banyak orang yang diam, berpikir, lalu bicara dengan dasar. Kita butuh kembali percaya bahwa untuk bisa berbicara tentang sesuatu, kita harus lebih dulu belajar tentangnya. Bukan sebaliknya.

Jika generasi ini ingin keluar dari kepalsuan intelektual yang terus direproduksi oleh algoritma dan ego, maka satu-satunya jalan adalah membangun kepakaran itu kembali—pelan-pelan, diam-diam, tapi dengan harga diri. 

Setidaknya, jika kalian ingin tetap berpendapat—dan itu hak semua orang—sertakanlah data dan bawalah fakta. Pendapat tanpa dasar hanyalah bentuk lain dari kebisingan dan kebisingan yang dibiarkan akan menjadi norma baru. Dunia tidak kekurangan opini, tapi sangat kekurangan ketelitian. Sebelum berbicara soal ekonomi, bukalah data statistik. Sebelum bicara soal hukum, bacalah undang-undangnya. Jangan jadikan perasaan pribadi sebagai ukuran kebenaran universal. Kepakaran dibangun di atas disiplin, bukan asumsi. Bila kalian belum bisa menjadi pakar, jadilah setidaknya orang yang menghormati kerja para pakar dengan tidak asal bicara.

Dan sungguh, apa yang tersampaikan di atas adalah sebuah pengantar. Bilamana pembaca yang budiman menyadari akan hal ini,  Thomas M. Nichols dalam bukunya The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why It Matters berujar:

“Matinya kepakaran bukan hanya penolakan atas pengetahuan yang ada. Ia sesungguhnya penolakan terhadap ilmu pengetahuan dan rasionalitas yang tak memihak, yang menjadi fondasi peradaban modern.”

Maka, di tengah arus kebisingan informasi dan kebebasan berpendapat yang tak lagi mengenal batas, kutipan Nichols menjadi penanda jaman bahwa kemunduran suatu peradaban bisa jadi karena menolak tunduk pada orang-orang yang memahaminya dengan benar.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *