Di One Piece, Jinbe memilih keluar dari sistem yang menindas kaumnya. Di dunia nyata, masyarakat adat juga menghadapi pilihan yang sama: setia pada negara yang merampas atau membelot demi menyelamatkan tanah dan martabat.
Kalau kamu penggemar One Piece, kamu pasti kenal Jinbe. Manusia ikan bermuka serius, berbadan hiu paus, tapi hatinya selembut kapas. Walaupun Jinbe tidak se-famous trio monster di kru Topi Jerami, karakter ini bukan karakter yang muncul hanya sekadar figuran. Jinbe bukan pelengkap, Jinbe adalah karakter yang digambarkan sebagai ksatria laut yang sebenarnya, sehingga kita mampu berpikir tentang sistem ketidakadilan dan tentang pilihan untuk taat atau membelot dari sistem yang bikin hidup serasa tidak merdeka.
Awalnya, Jinbe adalah bajak laut ‘resmi’ yang disahkan Pemerintah Dunia. Fungsinya sederhana tapi busuk: menjinakkan lawan, memberi stempel legal pada pihak yang seharusnya melawan. Tugasnya seperti jadi satpam di rumah yang hobi merampok tetangga.
Namun Jinbe nyatanya segera tersadar, bahwa dia hanyalah alat untuk memukul orang-orang lemah yang disetir oleh pemerintah dunia. Jinbe tahu sistem itu tidak akan pernah peduli pada kaumnya, para fishman, warga bawah laut yang dianggap ‘kelas dua’ oleh manusia daratan. Mereka dibenci, dilecehkan, bahkan diperdagangkan layaknya budak yang tidak memiliki harga diri.
Puncaknya, ketika Pemerintah Dunia bentrok dengan Shirohige, salah satu dari sedikit manusia yang menganggap fishman setara, Jinbe memilih keluar. Status jabatannya sebagai Shichibukai hilang. Sebuah jabatan yang sangat prestisius karena hanya tujuh kelompok bajak laut terkenal yang diberi hak menjalin aliansi dengan Pemerintah Dunia.
Bukan hanya kehilangan jabatan, tapi Jinbe juga dipenjara dan dimusuhi negara. Namun di situlah ia merdeka: yang membuat dia mengikuti jalan kemerdekaan dari Luffy pimpinan kelompok bajak laut Topi Jerami, pemuda idealis yang tidak pernah tunduk pada sistem busuk. Jinbe diterima bukan karena ototnya, melainkan karena integritasnya.
Sistem yang Mengaku ‘Baik’ untuk Masyarakat Adat
Cerita Jinbe ini terlalu mirip dengan nasib masyarakat adat di Indonesia. Bedanya, mereka bukan karakter manga. Mereka manusia sungguhan, tinggal di hutan, gunung, hingga pesisir. Wilayah yang sering disebut ‘pinggiran’, yang nyatanya pejabat rakus tetap saja mengincarnya untuk diolah sebanyak-banyaknya. Pemerintah tidak sadar, dari sanalah pusat kehidupan seharusnya dimulai.
Masyarakat adat ada jauh sebelum republik ini lahir. Mereka punya hukum, tata ruang, bahasa, dan cara hidup sendiri, yang sering kali jauh lebih ramah lingkungan dibanding gaya hidup modern yang kita banggakan. Namun balasan negara? Mereka dicap penghalang pembangunan. Tanah adat diubah menjadi tambang, perkebunan, atau Proyek Strategis Nasional. Melawan berarti dicap ‘radikal’ atau ‘anti kemajuan’.
Sama seperti fishman di One Piece, masyarakat adat di dunia nyata juga memikul stigma bawaan: dianggap kurang pintar, kurang modern, dan kurang layak. Padahal mereka adalah penjaga bumi yang paling konsisten.
“You cannot change the past…”
Jinbe punya satu kutipan yang pantas ditulis di tembok atau dinding DPR: “You cannot change the past. But you can start where you are and change the ending.”
Kita memang tidak bisa menghapus sejarah panjang perampasan tanah dan diskriminasi. Namun masa depan? Masih bisa, selama ada keberanian untuk memilih jalan berbeda. Itulah yang dilakukan Jinbe. Di dunia nyata di Indonesia, itu jugalah yang dilakukan tokoh adat Papua, Filep Karma.
Dulu dia ‘orang dalam’: pegawai negeri, terdidik, paham birokrasi. Namun ketika sadar sistem yang dia jalani tak berpihak pada bangsanya, dia memilih keluar. Mengangkat bendera Bintang Kejora. Hasilnya? 15 tahun di penjara. Bukan karena senjata, melainkan karena simbol. Bukan karena kekuasaan, melainkan karena martabat. Sama seperti tahun ini, di mana pemerintah bahkan bergulat dengan pemikiran mereka yang dangkal, sehingga melarang bendera One Piece berkibar.
Filep Karma dan Jinbe tidak pernah bertemu. Yang satu hidup di dunia fiksi, yang satu pernah hidup di tanah nyata yang terasa lebih kejam dari manga. Namun mereka punya satu kesamaan: mereka tahu kapan saatnya berhenti percaya pada sistem, dan mulai percaya pada rakyatnya sendiri.
Pelajaran dari Dunia Fiksi untuk Dunia Nyata
Kisah Jinbe sebenarnya tentang satu hal: kekuatan sejati adalah keberanian membela komunitas ketika sistem berhenti melakukannya. Masyarakat adat di dunia nyata juga sama. Mereka bukan korban pasif, mereka adalah aktor politik yang sah. Mereka tidak butuh belas kasihan. Mereka butuh pengakuan nyata. Dalam hukum, tanah adat seharusnya menjadi wilayah yang dilindungi, bukan dirampas demi kepentingan pihak luar.
Dalam peta, wilayah adat mestinya diakui keberadaannya, bukan dihapus seolah tak pernah ada. Dalam kebijakan, pembangunan harus melibatkan masyarakat adat sebagai subjek utama, bukan menyingkirkan mereka dari tanah dan kehidupannya. Dalam anggaran negara, dukungan nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari jauh lebih berarti daripada sekadar pemasangan spanduk setiap peringatan Hari Masyarakat Adat.
Kalau dunia fiksi bisa memberi Jinbe ruang untuk berlayar dan membela kaumnya, kenapa dunia nyata tidak bisa memberi ruang yang sama bagi masyarakat adat? Kadang, anime jauh lebih realistis daripada pidato pejabat.
Masyarakat Adat: Hanya Ingin Hidup Merdeka
Loyal pada rakyat itu kemuliaan. Loyal pada sistem yang menindas itu pengkhianatan. Masyarakat adat yang memilih jalan merdeka mungkin dianggap pembangkang oleh negara, tapi dalam sejarah, merekalah yang akan dikenang sebagai penjaga kehidupan.
Jika kalian menonton One Piece lagi dan melihat scene ketika Jinbe berdiri di samping Luffy, ingatlah: di dunia nyata, ada banyak Jinbe yang sedang melawan Pemerintah Dunia versi mereka sendiri. Bedanya, mereka tak punya kapal Thousand Sunny. Namun mereka punya tekad dan itu cukup untuk menyalakan obor kemerdekaan yang seharusnya.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








