Ketika Gibran Mengaku Tak Suka Membaca, Maka Idiokrasi Indonesia 2045 Adalah Jawabannya

Penulis

Beberapa bulan lalu, video percakapan atau talkshow antara Najwa Shihab dan Gibran Rakabuming Raka (Wakil Presiden Indonesia saat ini) dalam rangka peresmian “Pojok Baca Markobar-Lakopi Makassar” pada 2017 muncul kembali di belantara media sosial. Video tersebut berupa potongan yang terasa ingin menunjukkan pengakuan terang-terangan Sang Wapres bahwasanya dia tidak suka membaca–bahkan buku Catatan Najwa pun dianggapnya berat.

Demikian pula pada Juli 2024, sempat muncul foto Gibran yang sedang menghiasi ruang kerjanya dengan berbagai mainan. Hal tersebut pun menuai kontroversi terutama di media sosial seperti X. Beberapa netizen melontarkan komparasi antara Gibran dengan Bung Hatta yang kiranya bak langit dan bumi, meskipun keduanya menjabat di jabatan yang sama.

Hal ini tentu miris sekali, apalagi jika melihat wapres terbaru rakyat Indonesia ini sebagai representasi masyarakat Indonesia–terutama dalam urusan literasi. Maka Indonesia saat ini hingga generasi 2045 mendatang akan berada di ambang kedaruratan yang benar-benar darurat. 

Di lain masalah, jika kita melihat survei Pemilu 2024 yang diadakan oleh LSI, Poltracking, dan Indikator, yang menyebutkan bahwa sebagian besar Gen Z memilih pasangan Prabowo-Gibran sebagai pasangan yang ideal. Ya, Gen Z. Generasi yang digadang-gadang sebagai agen perubahan itu.

Jika kembali ke hutan media sosial, kita bisa melihat bahwasanya Gen Z ini alih-alih menilai paslon secara kritis, mereka malah memikirkan perasaan paslon Prabowo-Gibran karena telah dinilai buruk oleh paslon lain, lalu pikiran itu mereka luapkan di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z masih belum memiliki kesadaran kritis di tengah tumpah-ruah informasi di internet. Padahal, menurut statistik yang dihimpun oleh survei Jakpat, 63% Gen Z menghabiskan waktunya untuk bermain media sosial dan berselancar.

Bak godam yang siap menghantam, fakta-fakta yang telah disebutkan di atas membuat semua orang ketar-ketir terhadap masa depan bangsa yang susah-payah dibangun oleh para pembaca buku yang ulung. Kemungkinan terbesarnya, di 2045 bangsa Indonesia akan dihadapkan pada suatu negara idiokrasi–meskipun ini terlalu berlebihan dan tentunya Indonesia tidak akan separah yang digambarkan di film Idiocracy (2006).

Sisi yang lain, perlulah menengok bahwa Indonesia sekarang menempati peringkat ke-31 di dunia atau ke-3 di ASEAN dalam urusan tingkat kegemaran membaca buku. Menurut CEOWORLD Magazine, pada 2024 rata-rata orang Indonesia membaca 5,91 buku per tahun dan menghabiskan 129 jam per tahun untuk membaca. Statistik tersebut juga didukung dengan merebaknya komunitas buku di pelbagai daerah, atau setidaknya satu kota atau kabupaten memiliki komunitas yang berkaitan dengan buku.

Lantas apakah itu cukup? Apakah orang-orang yang suka membaca buku tersebut akan memberikan dampak kepada bangsa ini? Seberapa banyak para pembaca buku itu akan mengubah Indonesia?

Keterputusan Masa Lalu

Salah satu kata kunci dalam tulisan ini adalah ‘mengingat sejarah’. Jika Bung Hatta dalam persepsi hari ini merupakan sosok yang spesial karena terdapat seorang negarawan yang suka membaca, maka kemungkinan terbesarnya, Bung Hatta saat itu hanya berpikiran bahwasanya dengan membaca buku, dia akan bebas alias kegiatan membaca adalah sebuah kebiasaan atau bahkan keharusan. Hal ini terlihat ketika Hatta diasingkan ke Boven Digoel sebagaimana yang dicatat oleh Takashi Shiraishi dalam bukunya yang berjudul Dunia Hantu Digul: Pemolisian sebagai Strategi Politik di Indonesia Masa Kolonial, 1926-1941. Hatta membawa buku sebanyak dua koper sehingga membuat para tahanan merasa senang karena memiliki hiburan baru. Tentunya, ini berkaitan dengan ucapan Tan Malaka di bukunya Madilog, “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”

Rasa-rasanya, di masa lalu, membaca buku adalah sebuah kewajiban bagi setiap individu, apalagi bagi para tokoh penggerak seperti Bung Hatta. Tentunya, Bung Hatta maupun sosok pendiri Republik lainnya tidak hanya terkungkung dalam dunianya sendiri namun mereka juga membentuk organisasi pergerakan alias mereka mengimplementasikan bacaannya untuk memahami realita masyarakatnya sendiri dan mewujudkan bayangan masyarakat merdeka.

Lantas, mengapa persepsi masa kini menanggapi minat baca tokoh penggerak bangsa dahulu itu sebagai sebuah keistimewaan? Jawabannya sederhana, masyarakat Indonesia saat ini mengalami keterputusan dengan masa lalunya sendiri dan hal tersebut masih dilanjutkan hingga sekarang.

Dimulai dari pasca petaka 1965 keterputusan ini berasal. Rezim diktator mengubah segalanya. Keran industrialisasi dan pembangunan dibuka lebar-lebar untuk modal asing. Tak pelak lagi, kapital budaya masuk menjejali individu-individu Indonesia yang sebelumnya anti kepada kebudayaan yang amoral.

baca juga:
–Awan Mendung Demokrasi Indonesia di Rezim Prabowo-Gibran
–Dear Gibran, Jerawat Itu Bukan Urusan Negara!

Babak ini digambarkan dengan baik oleh beberapa akademisi sebagai bentuk kolonialisme yang baru, karena memiliki corak yang hampir sama. Dalam kasus bacaan, banyak buku yang dilarang dan dibredel, bahkan saking ketatnya harus lapor dulu ke markas militer terdekat agar mendapat stempel keramat layak terbit. Banyak dari aktivis, merobek sampul bukunya agar tidak disita, atau beberapa penerbitnya mengakali dengan mengedit sampulnya agar tidak memancing perhatian militer.

Dalam rentang waktu orde bau hingga sekarang, bangsa Indonesia semakin menjauh dari masa lalunya yang megah dan dipenuhi dengan bayang-bayang negara berdaya di masa depan. Lalu, bagaimana dengan masa kini dan masa depan?

Rajin Membaca Jadi Pintar, Malas Membaca Jadi Gibran

Sebagaimana fakta-fakta yang telah dijelaskan di muka, maka terdapat beberapa hal yang saling bertaut untuk menyongsong distopia Indonesia dengan rasa gembira dan hal tersebut sudah ada di depan mata semua orang – entah sadar atau tidak.

Secara garis besar, baik itu pemerintah maupun rakyat sendiri seolah-olah terputus dengan masa lalu dan utopia yang terkandung di dalamnya. Alih-alih memperdalam masa lalunya sebagai suatu masyarakat yang terbayang, bangsa Indonesia hari ini hanya disibukkan dengan masa kini. Seperti misalnya, ketika pemilu tiba, semua orang merasa bahwa pemilu harus diperjuangkan, lalu setelah selesai akan dilupakan dengan cepat. 

Entah selaras dengan konsep Fredric Jameson atau tidak, bangsa Indonesia sekarang berada di suatu kondisi pastiche, dimana bangsa ini hanya memparodikan yang lalu-lalu seolah-olah menciptakan inovasi, namun nyatanya hanya sebuah komedi omong. Seperti misalnya, ketika Sukarno menciptakan proyek Mercusuar untuk menyambut Asian Games 1962, Hatta yang tidak lagi menjadi wakil presiden pun hanya bisa geram. Bahkan, Hatta pun menyebut bahwa baik Sukarno maupun jajarannya di bidang ekonomi tidak mengetahui seluk-beluk ekonomi sama sekali.

Lantas apa hubungannya?

Masyarakat Indonesia pun tentu masih ingat dengan pembangunan IKN (Ibu Kota Nusantara). Sebagian orang pun juga mafhum bahwa proyek pembangunan tersebut terlalu menghamburkan uang dan kurang memiliki manfaat. Fenomena ini secara gamblang menunjukkan bahwasanya pemerintahan Indonesia selain terlalu membebek pada konsep perekonomian Barat, juga mengalami keterputusan masa lalu sehingga kebijakan yang dihasilkan tak lebih seperti gejala pastiche.

Secara tak langsung, bangsa ini sedang menuju idiokrasi, dimana pemerintahan diambilalih oleh orang-orang bodoh yang hanya bisa menciptakan lelucon ketimbang berusaha menghubungkan kondisi sekarang dengan masa lalunya. Menyitir ucapan Chris Wibisana di halaman X-nya, bangsa ini tidak lagi memiliki negarawan yang bijak seperti Hatta, Sjahrir, Sukarno, ataupun yang lainnya – dan malahan yang muncul tak lebih seperti Gibran.

Bangsa ini tidak lagi memiliki negarawan yang paham ekonomi seperti Hatta yang tentunya sudah membaca pemikiran-pemikiran para ekonom seperti Marx, Adam Smith, dan lain sebagainya. Juga, bangsa ini tak memiliki sosok Tan Malaka yang khatam dengan bacaan para pemikir kiri. Di waktu sekarang, kita hanyalah sampah-sampah yang berserakan.

Pemerintah Indonesia akan terus-terusan diisi oleh orang-orang yang penuh dengan omong kosong dan bodoh hingga melampaui tahun 2045 yang digadang-gadang sebagai Indonesia Emas. Bayangan ini tentu bersamaan dengan kehancuran demokrasi, hingga ekonomi – karena lagi-lagi tak ada pejabat yang paham atau memiliki bacaan yang kuat. Boleh jadi, tahun 2045 tingkat literasi Indonesia akan menduduki peringkat pertama di ASEAN, namun apa boleh buat, hal semacam itu hanya akan menjadi angka-angka statistik ketimbang menakuti pemerintah jika tidak dibarengi dengan upaya mengingat masa lalu dan membayangkan masa depan bersama.

Tentunya hal semacam ini bisa saja terjadi ketika para pembaca buku sekarang hanya berkutat pada kehidupan mereka sendiri dan tidak merasakan gejolak sebagai seorang pembaca buku sekaligus pemuda seperti yang terjadi di masa pergerakan. Inilah yang dianggap Fredric Jameson sebagai keterputusan dengan masa lalu. Jadinya, kegagalan negara Indonesia adalah berarti kegagalan pemerintah dan rakyatnya sendiri karena sama-sama tidak memiliki bayangan bersama mengenai masa depan bangsa ini.

Pada akhirnya, kita semua hanya bisa membayangkan bahwa nanti, kesadaran kritis terlalu telat untuk bangun ketika negara ini sudah porak-poranda akibat ketidaktahuan pemerintah dalam menjalankan negara, sebab ketidaktahuan tidak akan menolong siapapun. Terlebih lagi, masyarakat Indonesia harus menerima konsekuensi pengulangan-pengulangan sejarah yang lain, entah itu kemunculan Gibran yang baru, Jan Ethes jadi presiden, ataupun lainnya, sebab sejarah akan terus berulang, pertama menjadi tragedi, dan yang kedua akan menjadi farce.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *