Dear Gibran, Jerawat Itu Bukan Urusan Negara!

Penulis

Di antara setumpuk masalah yang menimpa masyarakat saat ini, Gibran memilih bagi-bagi skincare kepada para Gen Z pada 18 Februari 2025 lalu. Dia membagikan skincare kepada para murid di SMA 13 Jakarta saat melakukan kunjungan untuk meninjau program Makan Bergizi Gratis (MBG). Momen itu diabadikan oleh Rmol.id dan mendapat 47 ribu likes di Instagram.

Dari video tersebut, Gibran disambut ‘hangat’ oleh para murid. “Sekarang lebih ke skincare, biar nggak jerawatan,” ucap sang Wakil Presiden. Sontak saya merasa geli mendengarnya. Sekelas wapres ngurusin jerawat? Namun, giliran persoalan Gen Z susah mencari pekerjaan, tanpa malu malah bersembunyi tangan. 

Ironinya lagi, Gibran melakukan aktivitas yang tidak ada nilai urgensinya sama sekali justru di saat ribuan rakyat dan mahasiswa turun ke jalan memprotes kebijakan efisiensi anggaran. Kebijakan rezim Prabowo-Gibran yang dinilai konyol dan hanya akan menyengsarakan rakyat. Ini mengingatkan saya pada masa ketika kemarin rakyat turun ke jalan dalam Aksi #IndonesiaDarurat, Erina dan Kaesang malah pergi ke luar negeri, dengan menumpang jet pribadi dan menikmati roti senilai gaji guru honorer di Indonesia. Kekonyolan itu, terulang kembali oleh kakak kandungnya, si anak presiden ke-7, Gibran Rakabuming Raka.

.

Jerawat Bukan Masalah Publik

 

Tentu saja, video bagi-bagi skincare yang berdurasi hampir satu menit itu menuai pro dan kontra. Ada yang menanggapinya dengan serius, ada pula yang berkomentar mengundang tawa. Namun, mayoritas terlihat tak sepakat dengan adanya ‘ide brilian’ bagi-bagi skincare ke anak sekolah. 

Padahal, urusan jerawat adalah urusan privat. Tak seharusnya pemerintah–apalagi orang nomor 2 di republik–mencampuri hal yang bukan menjadi kewenangannya. Ada banyak masalah publik yang mestinya diselesaikan oleh mereka ketimbang memperhatikan hal remeh-temeh. Masalah banjir misalnya, atau akses pendidikan dan kesehatan yang kerap disepelekan padahal justru memiliki nilai urgensi bagi rakyat. 

Melihat Gibran bagi-bagi skincare sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, tak hanya sekali ini saja pemerintah masuk dalam urusan privat rakyat. Di 2020 lalu, terdapat usulan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga. Mendengar ada usulan ini, publik pun heboh karena menilai pemerintah terlalu jauh mengintervensi urusan privat.

Sebab dalam RUU tersebut, banyak terkandung pasal-pasal yang kontroversial. Di antaranya, mengatur tentang kewajiban suami dan istri dalam rumah tangga hingga wajib lapor bagi keluarga maupun individu LGBT. Bahkan hingga perkara ranjang pun diatur di dalamnya. Aktivitas seksual sadisme dan masokisme digolongkan sebagai penyimpangan seksual dan wajib lapor.

Entah apa yang jadi rujukan dan tujuan Gibran dari bagi-bagi skincare ini. Apakah Gibran diutus untuk dengan sengaja mengalihkan isu korupsi Pertamina? Atau ingin mengalihkan perhatian para Gen Z dari seruan massa #IndonesiaGelap? Atau malah sedang nyolong start buat Pilpres 2029 mendatang? 

 

Gen Z Butuh Pendidikan Gratis dan Pekerjaan Bukan Skincare, Mas Wapres!

 

Ada satu komentar teratas dalam postingan video itu yang menarik perhatian saya. “Anggaran skincare wajah mending untuk subsidi pendidikan, Pak Wapres”, tulis seorang warganet dengan nama akun @cesillara. Komentar tersebut bahkan lebih masuk akal, logis, dan sangat penting untuk direalisasikan dalam rangka membangun sumber daya manusia di negara ini. 

Seperti yang kita ketahui, akses pendidikan di Indonesia masih belum merata. Jika kita menilik Ringkasan Eksekutif Peta Jalan Pendidikan Indonesia, masih ada 29.830 desa dan kelurahan tidak memiliki satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun Taman Kanak-Kanak (TK). Lalu sebanyak 302 kecamatan tidak memiliki Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (Mts). Sementara untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), ada 727 kecamatan yang masih belum memilikinya.

Dari provinsi yang ada di Indonesia, Provinsi Papua Pegunungan menjadi wilayah yang masih tertinggal menurut data dari BPS. Di sana, masih banyak penduduk yang belum pernah mendapatkan pendidikan sama sekali. Sementara itu, DKI Jakarta menjadi provinsi yang mengenyam pendidikan terbanyak. 

Kondisi tersebut menggerakkan ribuan pelajar Papua turun ke jalan menuntut pendidikan gratis dalam serangkaian aksi #IndonesiaGelap kemarin. Namun, Wapres kita seakan tutup mata dan telinga. Atau, jangan-jangan memang tak punya? Sebab dia lebih memilih untuk memberikan skincare gratis. 

Tak hanya persoalan akses pendidikan, sulitnya mencari pekerjaan juga menjadi masalah yang harus mendapat perhatian serius. Tak jarang kita menemukan keluhan para Gen Z di media sosial mengenai persyaratan kerja yang tak masuk akal. Misalnya, dengan batasan usia tertentu tetapi disertai dengan pengalaman kerja yang muluk.

Atau kita juga sering menjumpai poster lowongan kerja dengan syarat maksimal usia 25 tahun, ada batasan minimum tinggi badan, berparas cantik, dan lain sebagainya. Penyebab lainnya adalah turunnya lapangan pekerjaan di sektor formal. Jika dibandingkan dengan periode 2014-2019, lapangan pekerjaan sektor formal saat ini menurun drastis.

Semula, pada periode tersebut sektor formal mampu menyerap 8,5 juta orang. Sementara pada periode 2019-2024 tak sampai setengahnya, hanya 2 juta orang. Artinya, Gen Z harus bertarung untuk mendapat kursi pekerjaan dalam sektor formal. Tak heran jika sekarang Gen Z menjadi penyumbang pengangguran tertinggi berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS.

Stereotipe yang disematkan kepada Gen Z juga menjadi beban tersendiri bagi mereka. Gen Z dicap bermental lembek, tidak kreatif, dan juga tidak memiliki etos kerja yang tinggi. Padahal, Gen Z justru memiliki kesadaran yang lebih mapan mengenai mental health dan buruknya tradisi senioritas. Bahkan, tak dapat dipungkiri pula, mereka memiliki kesadaran penuh mengenai dampak pengeksploitasian. 

Bukankah permasalahan-permasalahan seperti di atas harusnya menjadi penting untuk diperhatikan, Mas Wapres? Bahkan lebih penting daripada persoalan jerawat di wajah seseorang, bukan? Wahai Mas Wapres, anak-anak sekolah itu lebih membutuhkan pendidikan gratis daripada makan siang dan skincare gratis. Dan, anak-anak yang engkau beri skincare gratis itu kelak lebih membutuhkan lapangan pekerjaan untuk menjamin kehidupan mereka. Bisakah itu kalian wujudkan? 

Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi Indonesia Cemas jika para pemangku kepentingan di pemerintahan republik ini tak segera tobat bertindak konyol. Misalnya, membagikan skincare gratis ala Mas Wapres. Ya, wapres. Akhir kata, Gen Z tak butuh itu semua, kami para Gen Z hanya butuh pendidikan gratis dan lapangan pekerjaan yang memadai di negara ini!


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *