Cerita aksi massa dari Yogyakarta: Siapa yang Sebenarnya Pecundang?

Penulis

”Jangan pake tameng, pentungan! Ayo sini! Maen pake tangan kosong!” Teriak seorang massa aksi yang sudah hilang kesabarannya setelah terus-terusan direpresi aparat kepolisian dan ormas di depan gerbang kantor DPRD Yogyakarta pada 20 Maret 2025, sekitar pukul 00.45 WIB. Ia tak sendirian, massa aksi lain yang sudah muak dengan kelakuan polisi mulai memaki dan mengajak mereka berkelahi. Sebelum benar-benar meledak, para massa aksi lainnya mulai menenangkan kawan-kawannya yang marah untuk mundur. 

Jauh sebelum itu sekitar 16 jam sebelumnya, pukul 10.00 WIB, massa aksi mulai berkumpul di parkiran Abu Bakar Ali. Mereka terkumpul dari beberapa organ/aliansi masyarakat dan mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Setelah menunggu sekitar satu jam, jumlah massa aksi yang terkumpul kurang lebih seratus orang. Mereka lekas berjalan beriringan ke titik kumpul utama, yaitu kantor DPRD Yogyakarta. 

Sekitar jam 11.30 WIB, massa aksi sudah memenuhi halaman sampai pintu masuk kantor DPRD Yogyakarta. Tak tunggu lama, massa aksi yang sangat kecewa akan pengesahan RUU TNI, langsung memasang poster-poster, karya lukis, coretan-coretan protes di sekitaran kantor DPRD. Selain itu massa aksi juga memarkirkan “pick up perjuangan” yang membawa genset dan pengeras suara di depan teras DPRD Yogyakarta untuk massa aksi yang mau berorasi, bermusik, dan membaca puisi.

Kemudian massa aksi melakukan teater parodi yang mempertontonkan kesewenang-wenangan TNI jika mereka diberikan kekuasaan. Mereka berdandan seperti tentara dan masyarakat sipil. Mereka memperlihatkan kekejaman TNI yang doyan menyiksa sipil dengan perasaan bangga.

Di tengah teriknya Matahari, puluhan massa aksi berteduh di teras DPRD Yogyakarta, sambil menonton aksi di panggung bebas. Mereka yang berteduh, berhadapan langsung dengan beberapa belas polisi yang menjaga pintu masuk ruang DPRD.

Ada seorang massa aksi yang menempelkan celana dalam bertuliskan ‘uang rakyat’ di bahu salah satu polisi. Lantas polisi itu membuang celana dalam tersebut dan memasang wajah cemberut. Kemudian Semut Api Media bertanya pada massa aksi yang berani melakukan itu, “Gak perlu takut, tanpa pentungan mereka gak akan berani,” jawab salah seorang massa aksi.

Seiring berjalannya aksi, para massa aksi perempuan terus meneriaki polisi. “Cabul”, “pedofil”, “berapa, dek?”, “pembunuh” dan lain-lain sebagai ungkapan kemarahan mereka terhadap kejahatan polisi yang tak pernah diadili.

Saat menjelang sore, sekitar pukul 15.00 WIB, saat seorang massa aksi sedang membacakan puisi perlawanan, beberapa massa aksi menyalakan smoke bomb. Kejadian itu sontak membakar semangat massa aksi yang sedang duduk berteduh. Mereka meramaikan si pembaca puisi dan merayakan kemarahannya bersama-sama. Beberapa menit setelah itu massa aksi yang marah secara spontan mengambil tong sampah dan menyebarkannya di teras Kantor DPRD Yogyakarta. Beberapa massa aksi lain melempari teras itu dengan sampah yang ada di sekitar kantor. Pembuangan sampah itu membuat para polisi minggir dari teras. Mungkin karena bau (?). Teras menjadi aman tanpa kehadiran polisi yang “mengamankan”. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh massa aksi untuk membuat coretan-coretan protes di dinding kantor DPRD. Massa aksi juga membakar sampah tersebut, meski ujung-ujungnya dimatikan oleh polisi. Waktu polisi memadamkan itu, massa aksi melempari mereka dengan sampah yang tersisa sambil bilang, “Gak usah sok ngurus negara, ngurus sampah aja gak bisa!”

Aksi mulai memanas. Beberapa massa aksi di belakang coba menenangkan kawan-kawannya yang marah. Mereka yang marah pun mundur dan mengadakan konsolidasi untuk merencanakan apa yang akan dilakukan nanti malam. Sambil mengajak massa aksi duduk melingkari patung Jendral Sudirman, seorang massa aksi yang memegang pengeras suara bilang, “Woy, kalian (polisi dan pejabat), kita ajarin gimana caranya berdemokrasi! Lihat!”

Massa aksi berdiskusi pada pukul 17.00 WIB. Mereka membahas bagaimana kelanjutan aksi ini kedepannya, apakah akan dilanjutkan atau bubar, jika lanjut sampai larut malam, bagaimana persiapannya. Massa aksi sepakat untuk menginap sampai UU TNI dicabut. Mereka bersedia untuk membawa tenda dan membuat dapur umum. Sebelum dapur umum siap, mereka sudah membagikan nasi kucing, gorengan, air mineral, dan cemilan untuk disantap.

Hari sudah gelap, massa aksi kembali melingkar mengadakan panggung bebas bagi mereka yang mau bersuara. “Ada truk Brimob di selatan,” kata seorang massa aksi yang sempat memindahkan motornya dari Jalan Perwakilan. Sontak kabari itu tersebar ke seluruh massa aksi. Sebagian massa aksi panik, sebagian lagi tenang karena mereka sudah membaca hal itu akan terjadi. Kebetulan di beberapa titik aksi Indonesia Gelap sudah mulai bentrok. Itu membuat kepanikan cepat menyebar. Di saat itu massa aksi saling menenagkan diri dan mempersiapkan jika hal buruk terjadi.

Yeah! Sekitar jam 19.30 WIB, tiba-tiba gerobak makan-minuman ikut meramaikan aksi! Ada ronde, sate madura, bakso, starling, bakpao, dan jasuke. Ternyata massa aksi mendapat donasi dari antah-berantah yang bisa membeli seluruh dagangan-dagangan itu. Adanya makanan gratis itu membuat massa aksi tetap tenang dan menjaga semangat perlawanan.

Saat massa aksi asik mengisi perut dan menyaksikan hiburan di panggung bebas, dari bagian utara kantor DPRD, polisi mulai mengepung. Tepat pukul 21.05 WIB, puluhan polisi berkumpul berusaha menekan keasikan massa aksi. Suasana menegang. Seluruh massa aksi segera menyelesaikan makan, beberapa sudah berdiri siap berperang. Beberapa intel dan ormas sudah mulai mengintai di sekitaran massa aksi. Tapi massa aksi berusaha tetap tenang dan terus bernyanyi. Massa aksi tetap menjaga komitmen: Jangan mulai sampai mereka mulai duluan.

22.40 WIB, Brimob berseragam lengkap anti huru-hara dengan truk meriam air mengepung massa aksi dari bagian utara dan selatan Gedung DPRD Yogyakarta. Di posisi yang terhimpit ini, tiga perempat massa aksi memadatkan barisan di depan masjid dekat gerbang keluar kantor DPRD, seperempat massa aksi masih diam di sekitaran patung Jendral Sudirman. Perasaan massa aksi lumayan campur aduk di momen ini. Ada yang marah, kecewa, panik, takut, dan tak menghiraukan. Satu yang mereka pegang: tetap satu komando. Semuanya saling mengingatkan satu sama lain untuk tetap tenang dan jangan takut. Potret itu tergambar dari sorakan keras dari massa aksi. Semakin keras artinya semakin marah sekaligus tenang secara bersamaan.

Beberapa menit setelah dikepung, mahasiswa diajak berdialog dengan kepolisian. Polisi yang berdialog dengan perwakilan massa aksi adalah ADI VIVID AGUSTADI BACHTIAR yang didampingi beberapa polisi lainnya. Mereka minta massa aksi untuk mundur. Massa aksi juga meminta polisi untuk menarik pasukan jika ingin mereka bubar. Akhirnya truk meriam air mundur dan pasukan anti huru-hara diperintahkan untuk duduk. Selama dialog terjadi, Adi Vivid menjanjikan pasukannya diam tak menyerang massa aksi. Sekitar setengah jam setelah itu, massa aksi sedang berdiskusi untuk mundur, tiba-tiba semua lampu di Gedung DPRD mati. Gelap, tak ada cahaya sama sekali. Beberapa detik setelah itu lampu menyala kembali, namun massa aksi sudah terlanjur panik ada serangan mendadak. Massa aksi semakin memperketat barisan dan mulai waspada. Mati-nyala lampu itu terjadi dua atau tiga kali. Massa aksi semakin meningkatkan kewaspadaan setelah mendapat kabar bahwa di bagian luar Gedung DPRD, bagian barat dan selatan, ada ormas yang mengepung dan membawa senjata tajam. 

“Gimana mau bubar, lihat! Di luar ada ormas, bawa sajam!” kata perwakilan mahasiswa yang berdialog dengan polisi. 

“Ormas apa? Siapa? Kami harus tau … Baik kita coba amankan dari luar,” kata Adi Vivid.

Sikap Adi Vivid dinilai mencurigakan oleh salah seorang massa aksi. Massa aksi tersebut bilang bahwa sudah ada beberapa media arus utama sudah menunggu di sekitaran massa aksi, mungkin saja ini salah satu agenda pencitraannya. “Ada indikasi pencitraan di sini, aku coba check namanya di Google, isinya emang pencitraan semua,” kata salah seorang massa aksi pada Semut Api Media.

Sekitar jam 00.15 WIB (23/03/2025), dialog berpindah ke depan gerbang. Perwakilan massa aksi dan polisi sempat cekcok soal persetujuan di awal tadi. “Bapak bilang kami cuma mundur sampai gerbang, kenapa sekarang kami diusir?” kata seorang massa aksi. 

Cekcok berlangsung sekitar 15 menit. Tiba-tiba pasukan anti huru-hara yang dijanjikan akan berdiam oleh Adi Vivid, maju menekan massa aksi dari halaman gedung. Keos antar massa aksi dan polisi tak lagi terhindarkan. Mereka mulai dorong-dorongan. Truk meriam air siap menembak. Sebagian massa aksi mundur mencari benda untuk dilempar. Sebagian melindungi diri. Sebagian yang coba kabur ke arah selatan dicegat ormas. Massa aksi sungguh marah.

“Pembohong!”

”Pembunuh!”

Saat suasana semakin memanas, ormas dari arah selatan menembakan petasan ke arah massa aksi. Beberapa dari mereka maju, lalu melempari massa aksi dengan kayu.

Beberapa massa aksi yang marah coba untuk kejar tapi ditenangkan oleh sesama massa aksi. “Tahan abang! Kasi tinggal, lawan kita bukan itu!” Teriaknya.

Massa aksi ditembak gas air mata. Tapi para massa aksi berani memungut kaleng gas itu, dan melempar balik ke arah mereka. Meriam air mulai ditembakan ke atas. Massa aksi sedikit mundur. Sempat terjadi adu mulut antara sesama massa aksi, mereka yang ingin mundur dan mereka yang ingin lanjut berperang. Tapi itu tak berlangsung lama.

”Maaf, maaf, saya janji mereka akan diam,” kata Adi Vivid.

Meski begitu, Massa aksi tetap enggan mundur.

Tiba-tiba ada seorang dengan rambut klimis, kaos oblong hitam, bersendal jepit, entah ia siapa, yang pasti ia bukanlah bagian dari massa aksi. Ikut-ikutan heboh membubarkan massa aksi. “Bukan, dia pasti bukan massa aksi. Mungkin preman sewaan, mungkin warga lokal. Hati-hati!” Kata salah seorang massa aksi berada di dekat orang itu sejak ia datang. “Keliatannya dia mau sok jadi pahlawan sih,” massa aksi menilainya lainnya.

“Halah, dari dulu Jogja gini terus, polisinya pecundang! Tiap aksi di Malioboro selalu pake warlok (warga lokal) atau ormas. Selalu adu domba masyarakat dengan orang aksi. Keterlaluan emang. Mancing-mancing konflik horizontal,” saut massa aksi dari dalam barisan.

Pukul 01.15, massa aksi sudah terdesak. Mereka mengambil keputusan yang paling waras, yaitu mundur pelan-pelan. “Kalah jumlah kita, polisi banyak, ada preman dan ormas, waras aja, yuk! Gak semua kuat lanjut kaos.”

Mereka berjalan mundur sambil memaki polisi. Ada massa aksi yang membakar sampah tengah jalan. Ada juga mereka yang menyimpan plastik sampah di tengah jalan. 

Tepat pukul 01.45, massa aksi berkumpul di parkiran Abu Bakar Ali dan lalu membubarkan diri.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *