Bugis-Makassar merupakan etnis besar yang berada di tempat asal saya, Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis-Makassar, kendati lebih dikenal sebagai pelaut ulung yang gemar melakukan diaspora ke berbagai daerah maupun negeri untuk berdagang, mereka sejatinya seorang petani, selaras dengan yang ditulis Christian Pelras di dalam bukunya, Manusia Bugis. Pelras adalah seorang etnologi asal Prancis yang puluhan tahun meneliti Sulawesi Selatan.
Etnis Bugis-Makassar memiliki banyak uraian prinsip hidup di dalam pranata sosialnya. Salah satu yang santer terdengar di Sulawesi Selatan, yaitu siri’ na pesse dalam bahasa Bugis, siri’ na pacce dalam bahasa Makassar. Keduanya bermakna sama. Siri’ berarti harga diri atau rasa malu, sedangkan pesse/pacce berarti empati.

Nilai Seorang Manusia Bugis-Makassar
Sebagai laki-laki Bugis, saya kerap kali diajarkan soal keutamaan nilai siri’ na pesse oleh keluarga di dalam proses tumbuh kembang saya menuju dewasa. Bahwa siri’ na pesse sebagai landasan gerak yang penting bagi seorang manusia Bugis-Makassar.
Siri’ na pesse, yang merupakan keseimbangan antara harga diri/rasa malu, dengan rasa empati inilah yang kemudian mendefinisikan manusia Bugis-Makassar atau sebagaimana dalam bahasa Bugis-Makassar disebut tau atau to, yang berarti manusia.
Siri’ atau harga diri seorang manusia Bugis-Makassar, sebagaimana seorang manusia, tentu saja mesti diperlakukan secara manusiawi melalui pesse atau empati milik orang lain, agar dia merasa bernilai dan punya siri’. Begitu pula pesse yang perannya mesti hadir, terutama sebagai penyeimbang nilai siri’. Mencegahnya agar tak jatuh pada arogansi, sumbu pendek, serta megalomania.
Namun, yang saya pahami di sini, bahwa bukan pesse-lah yang membuat seseorang jadi punya siri’ atau harga diri. Sebab harga diri sudah mesti dipupuk sedari dini sebagai bekal dalam menjadi manusia dewasa dan sebagaimana patutnya kita punya nilai sebagai seorang manusia. Kendati harga diri ini pula turut terbentuk seiring perilaku atau usaha-usaha kita, dalam menjalankan sebuah komitmen, atau dalam memperlakukan orang lain, misalnya. Harga diri di konteks inilah yang kelak akan menjadi prinsip, pegangan hidup, atau semacam landasan gerak agar terhindar dari kecenderungan ikut arus, tak berpendirian, bahkan jatuh menjadi sekadar kerumunan massa. Begitu pula dengan pesse atau empati ini.
Untuk memahami lebih jauh konsep siri’ na pesse, nilai tersebut pula bisa diurai menjadi sulapa’ eppa’ (segi empat). Empat nilai penting yang pula turut menjadi sebuah idealisme dalam memandang manusia Bugis-Makassar, yaitu warani (berani), macca (cerdas), sugi (kaya), dan lempu (jujur).
Sulapa’ eppa’ ini pula masih bisa diurai lagi menjadi sebelas nilai penting, meliputi alempureng (kejujuran), amaccang (kecendekiawanan), asitinajang (kepatutan), agettengeng (keteguhan), reso’ (usaha), siri’ (harga diri/malu), awaraningeng (keperwiraan), asabbarakang (kesabaran), asugireng (kekayaan) sipatuo (saling menghidupi), dan sipatokkong (saling membangun).
Bagaimana Menghubungkan Narsisme Ala Sigmund Freud dengan Konsep Siri’ na Pesse?
Perlu saya tekankan sebelumnya bahwa di sini saya tidak bermaksud untuk mengultuskan teori Eropa di atas ajaran budaya. Melainkan hal ini merupakan upaya saya untuk bagaimana mendudukkan teori Eropa agar lebih sesuai dengan konteks ajaran budaya, guna memperkaya pembacaan atau memberi pendekatan alternatif dalam memahami ajaran budaya. Dalam hal ini adalah budaya Bugis-Makassar.
Sigmund Freud merupakan seorang ahli saraf dan ilmuwan psikologi asal Austria yang dikenal sebagai bapak disiplin ilmu psikoanalisis. Dalam pembacaan saya atas teori Sigmund Freud, dia membagi narsisme menjadi dua jenis, yaitu narsisme primer dan narsisme sekunder.
Narsisme primer adalah sebuah fase egoisme instingtif yang lazim terjadi pada masa bayi dalam pemenuhan kebutuhannya laiknya kebutuhan untuk makan, minum, buang air, tidur, dan sebagainya. Pada fase ini, bayi belum bisa mendiferensiasi atau membedakan dunia objek eksternal dengan dirinya. Maka, rasanya tak patut pula untuk menjustifikasi begitu saja bahwa narsisme primer ini sebagai bentuk ‘cinta diri’. Sebab pada poin ini, bayi belum menyadari bahwa dirinya adalah subjek.
Kemudian, narsisme sekunder, yang hadir seiring perkembangan narsisme primer. Ini adalah fase di mana subjek-objek mulai terbentuk atau kala si bayi yang mulai tumbuh jadi semakin dewasa, bisa membedakan dirinya dengan objek eksternal serta tubuh ibunya. Kondisi tersebutlah yang menghadirkan hasrat terhadap objek eksternal, semisal hasrat kepada seseorang (sebagai objek) atau barang-barang. Hasrat ini adalah kondisi kekurangan seseorang manusia yang selalu menuntut untuk terus-menerus dipenuhi (tak pernah sepenuhnya terpuaskan).
Narsisme sekunder ini berpotensi menjadi psikosis hanya kala hasrat seorang subjek yang secara normal disalurkan kepada objek eksternal ini, ditarik kembali menuju dirinya sendiri secara berlebihan hingga jatuh pada kondisi megalomania–kecenderungan untuk memelihara kesempurnaan dirinya, tak mau terlihat bergantung pada orang lain (sebagaimana dia bermain dengan mekanisme pertahanan diri), haus validasi serta pujian. Dalam kondisi megalomania, hasrat sebagai kondisi atau rasa keberkekurangan ini seolah direpresi sehingga ia tampak tak membutuhkan orang lain.
Keterbelahan atau subjek-objek inilah yang terbentuk di fase narsisme sekunder. Untuk menggambarkan lebih detail lagi, hasrat perlu dibagi menjadi dua, yaitu hasrat untuk berdaya atau mempertahankan diri (dalam istilah Freud: ego-libido) dan hasrat untuk mempertahankan suatu kelompok atau keberlangsungan spesies (dalam istilah Freud: objek-libido).
Antara ego-libido dan objek-libido ini mesti dijaga keseimbangannya. Semakin banyak ego-libido, kasih sayang atau empati ini diproyeksikan ke objek-libido orang lain. Hal ini membuat semakin sedikit energi yang ada untuk pemenuhan diri atau ‘cinta diri’. Begitu pula sebaliknya. Semakin banyak energi yang terserap dari objek-libido ini, semata untuk mengenyangkan ego-libido, semakin sedikit pula energi yang ada untuk rasa empati, kasih sayang, atau berahi kepada diri orang lain.
Ini sesuai dengan pemahaman nilai siri’ na pesse yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Siri’ atau harga diri ini seumpama aspek individual seseorang atau ego-libido (sesuatu yang pula turut terbentuk seusai penyalurannya menuju objek-libido). Sedangkan pesse’ atau empati ini adalah seumpama aspek sosial atau objek-libido (sesuatu yang disalurkan atau diproyeksikan dari ego-libido).
Maka, siri’ dan pesse sama pentingnya. Minimnya pesse bisa mereduksi siri’ jadi semata arogansi, sumbu pendek, hingga minim empati laiknya megalomaniak. Demikian pula minimnya siri’, akan mereduksi pesse jadi semata penghambaan buta, seolah penurut atau mudah diperbudak, dan tak punya harga diri maupun keberanian. Hal inilah yang kemudian mesti senantiasa dijaga keseimbangannya agar tindakan kita tak jatuh pada reduksi nilai atau kondisi psikosis.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂








