Selasa sore, tepatnya 11 Maret 2025, kurang lebih seratusan massa berkumpul di Taman Parkir Abu Bakar Ali. Mereka mengikuti aksi bertajuk “Ruwatan Demokrasi”. Aksi tersebut adalah lanjutan dari Jogja Memanggil 20 Februari lalu. Massa aksi terdiri dari individu, mahasiswa, sampai dengan berbagai jaringan sipil Yogyakarta. Mereka mulai berdatangan sekitar pukul 14.15 WIB.
Sekitar lima belas menit kemudian, hujan yang cukup deras pun ikut menyusul massa aksi yang silih berganti datang. Guyuran deras air hujan tak membuat massa aksi diam saja, mereka tampak menyiapkan beberapa spanduk dan poster untuk aksi. Mereka menyiapkannya di lantai dua Taman Parkir Abu Bakar Ali.
Derasnya hujan berlangsung hampir dua jam. Hujan mereda sekitar pukul 16.15 WIB, walau rintik-rintik kecil air hujan masih berjatuhan. Redanya hujan juga bersamaan dengan massa aksi yang mulai turun ke lantai bawah.
Massa aksi pun mulai menggelar spanduk dan memegangi kertas-kertas poster bertuliskan kritikan pada penguasa. Tak lama mobil komando datang dan massa kemudian berbaris memanjang di belakangnya.
Tampak sebuah spanduk kuning bergambar wajah Prabowo dan Jokowi dengan sebuah tulisan peringatan di tengahnya “Warning, Sama-Sama Fasis” dibentangkan massa aksi. Spanduk berukuran besar tersebut dibentangkan di barisan depan.
Silent March Menuju Titik Nol
Setelah barisan siap, massa aksi mulai berjalan perlahan menuju titik aksi, yaitu Titik Nol kilometer Yogyakarta. Sebelum berjalan, salah satu koordinator aksi mengungkapkan bahwa massa diharapkan diam dan tidak berorasi saat berjalan menuju Titik Nol. Hal tersebut dia ungkapkan sebagai titik puncak kemarahan kepada negara selama ini.
Selanjutnya massa aksi perlahan mulai berjalan menuju titik aksi. Massa mulai berjalan sekitar pukul 16.45 WIB. Poster dan kertas bertuliskan kritik kepada pemerintah mulai diangkat oleh mereka. Terdapat beberapa tulisan yang menarik perhatian, mulai dari kritik pedas kepada penguasa, isu konflik agraria, hingga sindiran atas pendirian Danantara. Mulai dari “Setan Jaman Now = Penguasa Zalim, Kapitalis Birokrat, Aparat Pembunuh, Konglomerat Busuk!”, “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya!, Kaum=WNI, Lawan Kezaliman”, “Konflik Tamansari, 788 Warga Digusur dan Diusir, Rumah Warga Dibakar”, sampai “Danantara Ryhmes With Bintara dan Tamtama”.
Walau hujan membasahi jalanan Yogyakarta sore itu, massa “Ruwatan Demokrasi” tetap khidmat mengikuti aksi. Mereka berjalan dengan khusyuk.
Di depan barisan, tepatnya setelah mobil komando, terdapat empat orang yang melakukan aksi teatrikal. Tiga orang memegangi kaos putih yang sudah diberi pewarna merah walau sedikit luntur sehingga berubah warna menjadi merah muda, satunya memegang alat musik berupa gamelan kecil. Aksi teatrikal tersebut dilakukan dengan tiga orang pemegang kaos mengibaskan kaos yang mereka bawa saat pemegang gamelan memukul gamelannya.
Mereka melakukannya setiap beberapa menit sekali sembari berjalan. Beberapa massa aksi lainnya juga berada di depan menyalakan dupa. Teatrikal dan penyalaan dupa semakin membuat aksi senja itu tampak berbeda dari aksi-aksi demonstrasi lainnya.
Orasi, Pembacaan Puisi, hingga Ruwatan
Setelah khusyuk berjalan selama hampir 30 sampai 40 menit, massa aksi akhirnya tiba di Titik Nol KM Yogyakarta. Di tengah-tengah perempatan Titik Nol, mereka mulai membentuk barikade lingkaran mengelilingi mobil komando. Pada barikade tersebut masih terbentang beberapa spanduk, poster, dan tulisan-tulisan yang sejak tadi dibawa.
Satu per satu perwakilan massa aksi pun memulai orasi. Beberapa perwakilan jaringan sipil atau pun mahasiswa turut meramaikan mobil komando dengan orasi mereka. Terlihat perwakilan Forum Cik Ditiro, mahasiswa UNY, hingga mahasiswa UGM menyuarakan apa yang menjadi keresahan mereka. Orasi-orasi tersebut memecah suasana senja dan ramainya jalanan Yogyakarta.
Namun, yang berbeda dalam aksi sore itu adalah perwakilan mahasiswa ISI Yogyakarta. Setelah sebelumnya mereka melakukan pengibasan kaos saat Silent March, di titik aksi itu mereka melakukan aksi teatrikal pembacaan puisi dengan iringan musik pukul, taburan bunga, dan penyalaan dupa.
Aksi teatrikal dimulai dengan ditabuhnya gendang dan gamelan kecil, disusul dengan pembacaan puisi. Puisi pertama dibacakan lalu disusul dengan nada-nada syair, sembari gendang terus berbunyi disertai bunyi “teng…” dari gamelan yang setiap sepersekian detik memecah keheningan mendungnya senja.
Saat syair dan musik saling bersahutan, disebarkan pula bunga merah disertai kepulan asap dupa. Adanya sebaran bunga dan asap dupa menandakan bahwa massa aksi sedang meruwat kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja.
Sebagai penutup, penampil teatrikal kemudian menampilkan pembacaan puisi “Mata Luka Sengkon Karta” karya Peri Sandi. Mereka begitu lantang membacakan puisi yang berkisah soal petani Sengkon Karta yang terkena represi di masa Orde Baru. Apalagi ketika memasuki bait “Pemimpin otoriter.., REPELITA.., Rencana pembangunan lima tahun.., Bisa jadi rencana pembantaian lima tahun”. Seakan bait tersebut menggambarkan ulang kondisi negara saat ini.
ISI bergerak sebagai penampil teatrikal mengungkapkan makna aksinya sore itu kepada awak Semut Api Media.
“Di sini kami memasang dupa. Dupa itu adalah doa yang kami kirim ke udara atau ke langit. Sedangkan bunga itu doa kami yang kami kirim ke tanah. Selama asap itu masih mengepul dan bunga itu belum layu maka mereka (dupa dan bunga) tidak akan berhenti berdoa,” ujar salah satu perwakilan ISI Bergerak yang menjelaskan soal makna adanya dupa dan bunga dalam aksinya.
Dia juga turut menambahkan mengenai makna aksi teatrikal pengibasan kaos saat Silent March.
“Pakaian itu sering diasosiasikan dengan identitas kita sebagai negara Republik Indonesia, dan akhirnya berdarah. Hal itu (kaos yang dikibas-kibaskan) adalah upaya kami supaya darah di tubuh bangsa ini segera kering. Aksi ini juga tajuknya Ruwatan, ritual pembersihan dan penyucian,” tambahnya.
Saat teatrikal berakhir, massa aksi kemudian saling berbagi takjil dan berbuka puasa bersama. Mereka berbuka sembari melanjutkan beberapa orasi yang belum selesai.
Sekitar pukul 18.30 WIB, massa aksi kemudian membacakan poin perlawanan. Poin perlawanan masih sama dengan aksi Jogja Memanggil sebelumnya, yaitu 1) Turunkan Prabowo-Gibran 2) Bubarkan Kabinet Merah Putih, dan 3) Bangun Demokrasi Kerakyatan sebagai seruan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk bangkit melawan penguasa secara terang dan tegas.
Setelah pembacaan poin perlawanan, massa aksi kemudian membubarkan diri sekitar pukul 18.47 WIB.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂








