Kerja Bukan Sekedar Bertahan Hidup: Tentang Manusia, Kerja, dan Alienasi

Penulis

Alarm jam berbunyi, tanda pagi telah tiba. Bahkan sebelum ayam jago berkokok, para pekerja telah bersiap melakukan rutinitasnya. Mandi dan sarapan lalu berangkat ke tempat tujuan dengan berdesak-desakan di Kereta Rel Listrik (KRL) yang mengangkut ratusan bahkan ribuan pekerja setiap harinya. Tempat tujuan dari para pekerja tak lain adalah sebuah tempat di mana mereka menghabiskan waktunya sepanjang hari, baik itu di kantor, kafe atau pabrik. Saat Mentari kian redup, maka para pekerja pun bersiap—jika tidak dipaksa lembur atau bekerja shifting—kembali berdesakan dalam KRL yang siap mengantarnya pulang. Begitu seterusnya hingga pekerja tak mampu lagi melangkah.

Kerja bukan lagi sebagai ruang hidup, melainkan sebagai keterpaksaan yang tak dapat ditolak. Pekerja bekerja agar bisa makan, membayar sewa tempat tinggal dan bekerja agar besok bisa bekerja hingga hidup bisa diperpanjang hari demi hari. Bahkan tak jarang ditanamkan semangat kerja tanpa henti, seolah dengan semakin giat bekerja maka para pekerja bisa hidup lebih enak. Hingga tanpa disadari waktu kehidupan kian habis dan tak ada lagi waktu untuk sekadar duduk menikmati secangkir kopi bersama orang-orang terkasih. Kerja perlahan kehilangan maknanya. Kerja tidak lagi dirasakan sebagai bagian dari hidup, melainkan sebagai sesuatu yang harus ditukar dengan hidup itu sendiri. Hal ini membawa pada pertanyaan: apakah ini yang dimaksud hidup sebagai manusia? dan apakah kerja memang seharusnya seperti ini?

Kerja dan Hakikat Manusia

Karl Marx merupakan salah satu pemikir berpengaruh yang pernah ada dalam sejarah pemikiran modern. Setiap pekerja di seluruh dunia seharusnya berterima kasih atas ide-idenya. Semangat perjuangannya untuk meningkatkan derajat kelas pekerja masih terasa hingga sekarang. Menurut Marx (dalam Raharusun, 2021) kerja dalam sistem kapitalisme tidak lagi dianggap dan dilakukan sebagai bentuk nyata dari potensi dan harapan pengembangan diri manusia yang baik, tetapi telah bertransformasi dan dipersempit hanya menjadi alat untuk meraih tujuan finansial, yaitu penumpukan kekayaan atau akumulasi kapital. Marx berpendapat bahwa kapitalisme merupakan suatu sistem yang menciptakan keterasingan pada manusia dalam dirinya sendiri.

Bagi Marx, kerja secara mendasar menjelaskan perbedaan yang ada pada manusia. Daya rasionalitas dalam aktivitas berpikirnya membuat manusia memahami dan kemudian melakukan tindakan yang mengatasi dorongan-dorongan instingtifnya. Berbeda dengan manusia, hewan hanya memproduksi apa yang menjadi kebutuhannya secara langsung bagi dirinya dan keturunannya. Sedangkan manusia dengan akal budinya bisa membuat perhitungan dan perencanaan lain untuk hidup yang lebih baik. Tidak seperti hewan, dalam setiap proses produksinya, manusia senantiasa mengandalkan kebebasan dan kemampuan berpikirnya, bukan hanya terikat pada kebutuhan fisik dan inderawi.

Marx menganggap pekerjaan sebagai suatu aksi unik yang dilakukan oleh manusia untuk mengubah alam. Saat manusia bekerja, mereka tidak bisa terpisah dari alam, karena dalam proses tersebut, mereka berinteraksi dengan alam dan menjadi bagian dari alam itu sendiri. Manusia dapat memanfaatkan segala sesuatu yang ada di alam dengan mengolah hal-hal yang alami agar memiliki nilai yang lebih sesuai dengan kebutuhan manusia. Menurut Marx, melalui pekerjaan, manusia mampu menciptakan nilai dan bentuk baru dari benda-benda yang ada di alam. Contohnya, seseorang yang memasuki hutan, mengambil sepotong kayu, lalu mulai mengukir patung bernilai seni tinggi dari kayu yang disediakan oleh alam. Tindakan ini, menurut Marx, menjadikan manusia berbeda dan mampu memberikan perubahan pada unsur-unsur alam sehingga lebih mendekati sifat manusiawi. Melalui hasil pekerjaan yang diperoleh, manusia dapat mengamati dan menyadari bakat serta kemampuan diri mereka sehingga manusia itu menjadi nyata (Raharusun, 2021).

Pada dasarnya manusia bekerja pertama-tama untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, tetapi dalam proses pemenuhannya merupakan usaha untuk sesuatu yang lebih fundamental, yaitu perwujudan dan upaya mempertahankan kelangsungan eksistensi.  Bahkan, upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kelangsungan hidup yang lebih baik dan berarti. Ini disebabkan oleh kenyataan bahwa setiap individu selalu berusaha untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan menjauhkan diri dari penderitaan. Franz Magnis Suseno (dalam Raharusun, 2021) menjelaskan bahwa makna pekerjaan manusia tercermin dalam perasaan bangga. Rasa bangga karena mampu berkontribusi secara optimal menggambarkan sebuah sukacita eksistensial tentang tercapainya kebutuhan dasar dari keberadaan manusia yang terwujud melalui aktivitas yang dilakukannya. Dengan demikian, seseorang “menyatakan kehadiran dan eksistensinya” di dalam pekerjaan dan menunjukkan kepada orang lain bahwa individu tersebut tidak sekadar berandai-andai melainkan ia nyata bereksistensi.

Namun, jika kerja adalah hakikat manusia, mengapa begitu banyak orang justru merasa kehilangan dirinya saat bekerja?

Alienasi: Ketika Kerja Menjauhkan Manusia dari Dirinya Sendiri

Marx menyebut kondisi ini sebagai alienasi—keterasingan manusia dari hasil kerjanya, dari proses kerjanya, dari sesamanya, dan pada akhirnya dari dirinya sendiri. Marx berpendapat bahwa seorang pekerja justru mengalami keterasingan dalam pekerjaan-pekerjannya. Keterasingan pertama yang dialami oleh si pekerja adalah keterasingan dari hasil kerjanya sendiri. Produk yang dibuat oleh pekerja bukanlah miliknya sendiri, sehingga ia terasing dari hasil kerjanya. Lebih lanjut Marx berpendapat, (dalam Raharusun, 2021) “semakin si pekerja menghasilkan pekerjaan, semakin ia dan dunia batinnya menjadi miskin”. Dalam arti, pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pekerja tidak memberikan kepuasan atau kebahagiaan dalam dirinya. Marx juga menambahkan bahwa “orang hanya menunggu waktu di mana ketika tidak ada paksaan, ia kemudian lari dari pekerjaannya seperti orang yang lari dari penyakit sampar”. Dampak dari keterasingan ini adalah individu atau pekerja hanya terlepas dari fungsi-fungsi hewaniah seperti makan dan minum, memiliki anak, dan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.

Menurut Marx, akibat yang langsung terjadi dari terasingnya manusia dari hasil pekerjaannya, aktivitas hidupnya, dan hakikatnya sebagai makhluk sosial adalah terpisahnya manusia satu sama lain. Pada sistem kapitalisme, manusia dipaksa untuk saling bersaing. Dari persaingan tersebut, maka akan saling menimbulkan rasa curiga antar manusia—baik antar kelas pekerja dengan pemilik modal, maupun sesama kelas pekerja—sehingga setiap manusia akan dipandang sebagai musuh. Sehingga mereka tidak lagi membiasakan diri untuk hidup bersama dengan orang lain maka yang terjadi adalah sifat individualistik. Relasi antar manusia direduksi menjadi relasi produktivitas.

Kapitalisme juga membuat kerja tidak dilakukan karena kehendak sadar, melainkan karena paksaan ekonomi. Ia bekerja bukan karena ingin, tetapi karena harus. Kerja menjadi aktivitas yang dihindari, bukan dirayakan. Tak heran jika banyak pekerja yang mengeluhkan tentang pekerjaannya dan memasang muka muram saat berangkat kerja. Alienasi bukan perasaan personal semata. Ia adalah kondisi sosial yang sengaja dibentuk oleh sistem bernama kapitalisme.

Kapitalisme dan Kerja yang Direduksi

Kapitalisme mereduksi makna dari kerja sehingga kerja menjadi sebuah komoditas. Tenaga manusia dijual di pasar, tidak berbeda dengan barang komoditas lainnya. Manusia—pekerja—dianggap bernilai jika ia mampu menghasilkan keuntungan bagi pemilik modal. Semakin besar keuntungan yang diberikan oleh pekerja, maka akan semakin disayang oleh pemilik modal karena dianggap sebagai aset. Pada titik ini, diri manusia kembali direduksi sehingga disamakan dengan benda atau mesin. Maka, ketika mesin itu tak lagi menghasilkan, akan dengan mudah digantikan dengan mesin lainnya.

Upah yang diterima oleh pekerja bukanlah nilai yang sesuai dengan apa yang telah ia hasilkan, melainkan sekadar cukup untuk ia mempertahankan hidupnya agar esok bisa kembali bekerja. Kerja kemudian kehilangan dimensi kemanusiaannya. Kerja tak lagi soal makna, melainkan efisiensi dalam kapital. Tak lagi soal kehidupan, melainkan hanya sebatas angka dalam tabel keuntungan bagi pemilik modal.

Membayangkan Kerja yang Membebaskan

Dalam buku Marinaleda karya Dan Hancox dikisahkan bahwa masyarakat kota Marinaleda yang berada di Andalusia, Spanyol, mampu mewujudkan kerja yang membebaskan. Kerja tidak lagi sebagai bentuk keterasingan karena para pekerja merupakan sekaligus para pemilik lahan garapan dan pabrik. Tak ada relasi kerja antara pemilik modal dan pekerja seperti relasi kerja dalam sistem kapitalisme. Pada titik ini kerja menjadi aktivitas kolektif, sadar, dan bermakna. Kerja tidak lagi memisahkan hidup dari produksi, melainkan menyatukannya.

Masyarakat Marinaleda merupakan cerminan masyarakat yang membebaskan, kerja tidak lagi menjadi beban, melainkan bagian dari kehidupan bersama. Hal ini bukan lagi sebatas utopia kosong, melainkan sebuah perjuangan kelas pekerja dalam menciptakan kehidupan yang setara dan berdaulat.

Menolak Kerja yang Merampas Kemanusiaan

Kerja semestinya memberi kehidupan bagi manusia—pekerja—bukan hanya sekadar hidup. Kehidupan yang mampu membuat manusia berkembang serta berdampingan dengan manusia lainnya, bukan memandang manusia lain sebagai pesaing yang mengancam. Menolak kerja yang eksploitatif bukan berarti menolak kerja itu sendiri, melainkan menolak sistem yang merampas makna dari kerja. Menolak paradigma bahwa penderitaan dalam bekerja adalah hal wajar yang alamiah karena semestinya kerja mendatangkan kebahagiaan.

Tatanan sosial saat ini yang menuntut produktivitas bukan turun dari langit melainkan tindakan politis, maka mempertanyakan ulang tentang makna kerja merupakan tindakan politis. Mempertanyakan dan membayangkan tentang kerja yang setara merupakan langkah awal untuk merebut kembali kemanusiaan. Kerja adalah hakikat manusia, oleh sebab itu ia tidak boleh dijadikan alat penindasan terhadap manusia.

Referensi

Raharusun, Johanis H. 2021. Makna Kerja Menurut Karl Marx (Sebuah Kajian dari Perspektif Filsafat Manusia). MEDIA Jurnal Filsafat dan Teologi Nomor 1 Volume 2

Hancox, D. 2023. Marinaleda: Eksperimen kota kecil antikapitalis (R. L. Larasati, Terj.). Tangerang Selatan: Marjin Kiri.


Editor: Farras Pradana


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *