Anarkisme Sosial sebagai Panduan Bergerak

Penulis

Tegangan dalam anarkisme hampir selalu terkait dengan tendensi kolektivisme dan individualisme. Tegangan tersebut pada gilirannya memicu banyak perdebatan yang melahirkan berbagai cabang pemikiran anarkis yang selalu terwakili dalam dua poros besar. Salah satunya yang lebih spesifik yaitu anarkisme sosial yang dibahas dalam buku Anarkisme Sosial dan Organisasi. 

Anarkisme sosial yang dibahas dalam buku ini bertolak dari pandangan kolektif organisasi kenamaan Federasi Anarkis Rio de Janeiro (FARJ). Isinya mencakup artikulasi pemahaman FARJ menyoal relevansi anarkisme sosial dalam konteks gerakan sosial kontemporer. Dalam pandangan FARJ, anarkisme sosial lebih merupakan ideologi sekaligus metode politik untuk mencapai cita-cita menuju tatanan sosialisme libertarian.

Kecenderungan tersebut membuat buku ini memiliki pokok bahasan yang cukup kaya. Ia tidak hanya memuat sejarah berikut perdebatan teoretis di lingkaran pemikiran anarkis, maupun filsafat politik kiri lain seperti marxisme misalnya. Lebih jauh, buku ini turut memuat serta teknis dan taktis pengorganisasian anarkis berdasarkan pengalaman FARJ di Brazil. 

Pada akhirnya Anarkisme yang dibahas buku ini melampaui simbol “circle A” yang umum dijumpai lewat pernak-pernik fashion atau coretan dinding tak bertuan. Bukan pula semata jargon absurd tentang kebebasan individu di tengah ketidakmungkinannya untuk direngkuh di tengah masyarakat yang dibangun atas motif dominasi dan eksploitasi. Akan tetapi anarkisme sebagai filsafat politik yang bersintesis dengan wacana emansipasi kelas.

Kritik Anarkisme Sosial 

Sebagai salah satu aliran pemikiran anarkis, tradisi anarkisme sosial sejauh yang dipahami FARJ ialah yang berlandaskan semangat kolektif. Oleh sebab itu, lewat satu bagian khusus buku ini, FARJ terang-terangan menyatakan penolakannya terhadap berbagai tendensi individualis dalam tradisi Anarkisme. Adapun dasar yang melatari penolakannya terhadap individualisme anarkis bersandar pada kritik anarkisme sosial terhadap kapitalisme dan negara. 

Anarkisme sosial mengkritik kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi, politik, dan sosial yang sangat eksploitatif demi penciptaan nilai lebih tanpa batas. Sistem ini sepenuhnya ditopang oleh pembagian sosial berbasis kelas yang saling bertentangan. Kelas borjuis atau kapitalis sebagai pemilik sarana produksi di satu sisi dan di sisi lain proletariat sebagai kelas yang tidak memiliki apa pun selain tenaga kerja untuk dijual kepada kapitalis.

Bahasan tentang operasi kapitalisme dalam tradisi anarkisme sosial tidak bisa dilepaskan dari kritik terhadap peran negara. Memang pada mulanya sistem ini menolak intervensi negara terhadap pasar. Bahkan di era neoliberalisme, ekspansi kapitalis seringnya mencari wilayah dengan intervensi minimal negara dalam memastikan jaminan sosial bagi kelas pekerja atau proletariat.

Perubahan mendasar baru terjadi sejak munculnya berbagai masalah sosial era revolusi industri. Negara yang sejak awal didirikan sebagai infrastruktur politik berbasis ketidaksetaraan sosial lambat laun semakin meneguhkan diri sebagai pilar penyangga operasi kapitalisme. Baik dalam memastikan produksi dan reproduksi sosial kapitalis, maupun menjamin keabsahan juga kendalinya.

Hubungan tersebut mesti dilihat sebagai pra-kondisi yang memungkinkan lahirnya berbagai kebijakan negara yang lebih menguntungkan kelas borjuis dan sebaliknya, merugikan kelas pekerja atau proletar. Pun termasuk kecenderungan negara untuk meredam pemberontakan yang berusaha mengubah tatanan sosial lewat cara-cara yang sepenuhnya represif. Pada tingkat sosial dan politik, kritik anarkisme sosial terhadap kapital dan negara mendasari sikap politik FARJ yang memihak terhadap perjuangan kelas. 

“Kami memilih untuk mendasarkan diri pada perjuangan kelas. Kami memahami diri sebagai organisasi pekerja yang membela orang-orang yang dieksploitasi, berjuang untuk penghapusan masyarakat kelas dan penciptaan masyarakat baru di mana tidak ada lagi tuan dan budak.”  (hlm 189)

Sekilas, pokok analisis berikut kritik terhadap produksi dan reproduksi sosial kapitalisme oleh anarkisme sosial yang dianut FARJ memiliki kesamaan dengan kritik dalam tradisi Marxian. Khususnya yang diajukan oleh teoretikus Marxis seperti Antonio Gramsci dengan teorinya tentang hegemoni, atau over determinasi oleh Louis Althusser. Namun tentu terdapat perbedaan mendasar dari keduanya. 

Perbedaan pertama ada pada subjek revolusi. Perjuangan kelas dalam kaum Marxis lebih mengandaikan pekerja-isme, atau peran sentral kelas pekerja sebagai motor penggerak revolusi. Sementara anarkisme sosial memandang subjek revolusi merupakan kelas yang mencakup setiap entitas yang menjadi korban langsung maupun tidak langsung, dari praktik eksploitasi dan dominasi kapitalisme negara. Kedua, perbedaan paling mendasar dari Anarkisme Sosial dan tradisi Marxis umumnya berkutat pada problem transformasi.

Dalam upaya melampaui kapitalisme, umumnya kaum Marxis masih mengandaikan keberadaan negara sebagai fase transisi menuju masyarakat tanpa kelas. Sebaliknya, anarkisme sosial memandang bahwa upaya tersebut mesti inheren dengan wacana penghapusan negara sebagai infrastruktur penopangnya yang paling utama. Dari sekian kecenderungan yang membedakannya dari kalangan individualis, tendensi tersebut membuat anarkisme sosial sebagaimana diyakini FARJ seperti umumnya filsafat Anarkis yang selalu berwatak anti-otoritarian.

Taktik Peleburan Sosial dan Especifismo 

FARJ menjadikan peleburan sosial sebagai taktik dalam perjuangan kelas. Asumsi dasarnya bahwa hanya dengan praktik peleburan sosial lah gagasan anarkisme dapat menciptakan pengaruh bagi gerakan sosial. Pengaruh dalam hal ini yaitu untuk mengubah corak dan metode gerakan agar semakin merepresentasikan prinsip-prinsip anarkisme.

Taktik peleburan sosial sebagaimana dipahami FARJ mengandaikan kerja sosial yang memungkinkan reproduksi teori dan praktik yang diturunkan lewat propaganda maupun pendidikan politik. Kerja sosial yang dilakukan musti terorganisasi dan didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan kelas tereksploitasi berikut wacana penggulingan kapitalisme dan negara lewat momentum revolusi sosial. FARJ mengajukan especifismo sebagai model pengorganisasian efektif.

Secara historis, istilah especifismo pertama kali diinisiasi oleh Federasi Anarkis Uruguay (FAU) yang bentuknya dapat ditelusuri lewat praktik organisasi anarkis sejak abad ke-19. Especifismo secara teori mengadopsi model organisasi dari para pemikir klasik anarkisme seperti Mikhail Bakunin dan Enrico Malatesta. Model ini mengharuskan pembagian kerja dalam organisasi dalam dua tingkatan.

Pada tingkatan sosial, organisasi menjadi alat peleburan yang memungkinkan ide-ide anarkisme dapat mewarnai diskursus perihal wacana politik dalam gerakan populer. Sedangkan di tingkat politik, terdapat organisasi spesifik anarkis sebagai laboratorium untuk mengartikulasikan teori dan praktik. Dualitas organisasi seperti dituturkan Jonathan Payn lewat sesi wawancaranya untuk buku ini, berfungsi sebagai kerangka penjelas tentang kedudukan gerakan massa dan partai Anarkis.

Namun meski mengusung gagasan tentang “partai anarkis” yang dirumuskan oleh Malatesta, ia tidak mengambil bentuk yang sama dengan bayangan kita tentang partai politik borjuis. Tidak pula seperti tuduhan dari kebanyakan kelompok individualis anarkis, pun gambaran tentang partai politik kiri yang berorientasi elektoral atau pemilu.

Konsep dualitas organisasi yang diajukan FARJ lebih mendekati bayangan teoritisi Alfredo Bonanno tentang organisasi anarkis ideal. Ia bercorak fleksibel, atau dalam artian mengenali batas-batas model lama dan baru yang seluruhnya disesuaikan dengan kebutuhan gerakan sosial di satu sisi. Di sisi lain, tetap mempertahankan karakter organisasi anarkis yang cenderung informal, independen, dan non-hierarkis.

“Penting untuk digarisbawahi bahwa dualisme organisasi tidak berarti adanya hierarki atau hubungan menindas di antara dua level tersebut. Dalam pemahaman Anarkisme, organisasi khusus Anarkis dan gerakan sosial saling melengkapi. Organisasi khusus anarkis menyiratkan hubungan yang beretika dan bersifat horizontal. Artinya, tidak ada hubungan hierarkis atau dominasi atas semua pihak yang terlibat.” (hlm 316)

Lebih jelasnya lagi bila membaca bagian khusus yang membahas tentang teknis dan taktis pengorganisasian berbasis dualisme organisasi yang dijalankan FARJ. Penjelasannya yang cukup mendetail tidak memungkinkan saya untuk mengulasnya secara panjang lebar. Hanya berdasar pembacaan saya, besar kemungkinan konsep dualitas inilah yang di satu waktu berkontribusi menjembatani kelahiran berbagai organisasi berbasis komunitas di tubuh gerakan sosial. Contohnya seperti aliansi pelajar, serikat buruh, aliansi perpustakaan jalanan, serikat petani, dan lain sebagainya.

Tentunya klaim demikian masih perlu diuji. Termasuk menyoal keberadaan organisasi anarkis pada tingkat politik yang spesifik. Pengujian ini diperlukan untuk mengukur relevansi narkisme sosial sebagai imajinasi politik alternatif di tengah kebuntuan akan wacana politik dalam tubuh gerakan sosial.

Mengingat ulang momen ketika Margaret Thatcher menyinggung perihal ketiadaan alternatif ekonomi politik di masa depan selain neoliberalisme pada dekade 1980-an. Bila ditelaah lagi, pernyataan Thatcher seolah bermaksud menjustifikasi pranata sosial kapitalis yang ditopang negara sebagai keniscayaan sejarah yang bersifat final. Alih-alih sebatas proses historis yang masih memungkinkan untuk dirombak dan ditata ulang di masa depan.

Kebuntuan yang saya maksud terkait tidak langsung dengan momen bersejarah ini. Tentu saja, pernyataan figur politisi neoliberal seperti Thatcher jauh dari kesan yang sebenarnya. Sejarah mencatat, kemenangan neoliberalisme sebagai agenda geopolitik global dilatarbelakangi oleh kekerasan fisik dan non-fisik dalam rangka memberangus imajinasi politik alternatif yang berlangsung sejak era perang dingin hingga saat ini.

Implikasnya yang paling dekat  dapat diamati lewat diskursus wacana politik kontemporer yang kian didominasi oleh faksi liberal yang hanya mewakili agenda reformisme borjuis. Bila pun terdapat wacana tandingan, mestilah itu lahir dari kelompok kiri penganut sosial demokrasi, nasionalis, hingga konservatif yang cenderung tidak membebaskan. Tidak pernah lebih dari itu.

Refleksi tersebut membuat membaca buku ini lebih dari sekadar praktik klangenan belaka bagi saya. Ia termasuk tindakan politis dalam rangka mempersenjatai imajinasi yang bertujuan membongkar blokade intelektual dalam diskursus wacana politik kontemporer. Selama formasi sosial kapitalisme hanya menjadi satu fase dalam sejarah, tawaran alternatif radikal yang bermaksud melampauinya adalah sesuatu yang mungkin dan layak untuk diujicobakan.***

*Ulasan buku berjudul Anarkisme Sosial dan Organisasi karya Federasi Anarkis Rio de Janeiro (FARJ) (2023, Daun Malam)


Editor: Balqis Nabila


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *