Sebelum malam biadab itu datang, kau tak peduli seberapa besar bobot yang diberikan pengarang kepadamu ketika menulis cerita ini, apakah ia sedang menjadikanmu sebagai tokoh utama atau figuran semata. Kau tak mau ambil pusing memikirkan hal semacam itu apalagi sampai bertindak konyol di luar kendali alur pengisahan. Pikirmu, tiap-tiap orang punya bagian terbaik kehidupan mereka sendiri dan itu lebih dari cukup.
Petang itu, kau baru saja meletakkan pantatmu yang tepos dan berencana menyambung kabel TV tabungmu dengan solder ketika Nurhalimah—istrimu—berteriak dari dapur. Sontak saja tanganmu meletakkan kembali colokan amperemeter, sementara kakimu berusaha mencari-cari sandal yang mungkin terbalik di antara serakan kaus kaki, sepatu, raket badminton, potongan celana, dan kepalan-kepalan bungkus nasi di kolong meja. Dua puluh tiga tahun pernikahan yang sudah kalian jalani agaknya cukup berhasil mengasah kepekaan inderawimu. Melihat bagaimana selanjutnya kau terbirit-birit seperti babi hutan dikejar rombongan anjing pemburu, kau sepertinya paham betul apa yang akan terjadi dalam empat menit ke depan.
Dan benar saja, begitu kau menyembulkan kepala dari balik gorden, spatula Nurhalimah sudah mengacung dalam posisi tepat ke hidungmu dan kau bisa dengan detail menyaksikan bagaimana minyak panas yang baru saja ia gunakan untuk menggoreng risoles menetes-netes dari ujung alat penggorengan itu ke lantai.
“Makin lama kudiamkan kok tambah keterlaluan,” ujar Nurhalimah, memutar bahunya sebentar untuk mematikan api dan kembali ke posisi semula menghadapmu, “sudah mau magrib begini Wanda belum pulang dan kau apa tidak punya keinginan buat menjemputnya to, Mas?”
Mengibas-ngibaskan lap dan berdiri di samping kompor, badan kekar Nurhalimah menutupi separuh jendela yang masih terbuka; menyisakan panorama bulatan Matahari kuning pucat di balik keruwetan jalinan kabel-kabel yang dipasang dari pal listrik satu ke pal listrik lain.
“Tadi pagi pas kuantar sih, dia bilang, ada latihan drama musikal atau apa gitu buat acara wisuda. Agak santailah sedikit, Nur, dia juga bukan anak kelas empat SD lagi. Kau ini sukanya membesar-besarkan keadaan.”
Gawat, tapi mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur. Kalimat terakhir yang sebetulnya tak ingin kau ucapkan itu begitu saja meluncur. Seandainya ada alat pemutar waktu, hal pertama yang ingin kau lakukan adalah menarik keluar lidahmu lantas segera menyolder daging tak bertulang keparat itu sampai putus. Kini kau cuma bisa menghitung langkah kaki Nurhalimah yang dalam gerakan slow-motion maju ke arah di mana kau menyender ke tembok dengan punggung yang pelan-pelan merosot, sembari mempersiapkan diri mendengar dirinya mengumpat.
Tapi, belum selesai Nurhalimah mengata-ngataimu sebagai kepala rumah tangga tak becus yang meski punya kumis tebal seperti Mas Adam di iklan ojek daring, tapi tak memiliki ketebalan serupa dalam hal perhatian serta kasih sayang pada darah daging sendiri, teleponmu menyalak kencang sekali. Nada dering monofonik Simphony No.40 milik Mozart seolah-olah menjadi lonceng penjeda ronde bagi dua atlet tinju yang sebenarnya masih menyimpan nafsu untuk gebuk-gebukan.
Di antara keterjepitan durasi waktu yang pendek itu sebetulnya kau hendak menimpali, bahwa benar memang perhatianmu kurang atau apapunlah namanya, tapi menyamakan perangaimu dengan Mas Adam sungguh padanan terhina-dina yang pernah kau dengar. Sejak manusia berkumis abadi itu muncul dalam sebuah acara masak-memasak di televisi yang diampu oleh Inul Daratista—yang ternyata adalah istrinya sendiri, entah kenapa kau merasa begitu benci sekali kepadanya. Bagimu, satu-satunya keterampilan yang dipunyai Adam Si Brengos Abadi adalah bergelantungan di rambut ketiak istrinya, dan lebih brengseknya lagi, ia tahu betul bagaimana kemudian menjual keterampilan tersebut pada khalayak pemirsa.
Telepon itu masih saja berdering beberapa saat karena ternyata kau lupa memencet tombol terima dan ini membuat Nurhalimah terlihat masih seperti orang yang bernafsu menjotos rahangmu. Sabar, Nur. Sabar. Kau mendekatkan telepon ke telinga dengan tak lupa memencet tombol loudspeaker menggunakan telunjukmu lebih dulu.
Tanpa pembukaan basa-basi sebagaimana sering diucapkan pegawai bank atau sales perusahaan pinjaman daring atau mereka yang kerapkali memamerkan aneka modus penipuan, kalimat-kalimat rapi yang kau perkirakan sepertinya ditulis di atas kertas lebih dulu itu memberondong telingamu. Pada awalnya kau ingin tertawa keras-keras mendengar suara si penelepon. Tapi, kalimat-kalimat itu diulang sampai delapan kali, dengan nada dan tempo yang stabil, membuat selera tinggimu pada segala macam jenis lawakan tiba-tiba saja turun anjlok ke bawah lutut, ya, ke lututmu, lutut yang kini jadi gemetar tak ada ampun. Di atas itu semua, kau bisa mengingat suara si penelepon terdengar berat seperti karung berisi 70 kilo tepung diseret-seret di lantai. Tebakanmu lagi, di ujung sana pastinya si penelepon sengaja menutupi mulutnya dengan masker atau kain atau bisa jadi tapak tangannya sendiri.
“Orang-orang itu apakah benar-benar akan mencelakai Wanda?” Nurhalimah menajamkan suaranya setelah mengusap-ngusap pipinya dengan lengan.
“Kau juga tadi mendengarnya sendiri kan. Tapi mungkin tidak sih, ini ulah teman-temannya Wanda. Hari ini tanggal berapa? Jangan-jangan Wanda berulang tahun dan teman-temannya berencana membuat surprise.”
“Ulang tahun, apaan. Hari jadinya saja masih Oktober nanti. Lagipula mana ada orang mau bikin kejutan dengan cara meneror bapak dan ibu dari teman mereka, dan bilang akan mengirim potongan-potongan…”
“Maksudku, Nur,”
Nurhalimah terburu mendorong dan memukul-mukul bahumu. Kau mencoba menenangkannya dengan cara beberapa menit membiarkan Nurhalimah sepuasnya membuat kausmu basah oleh air mata dan leleran ingus.
Kira-kira satu setengah jam kemudian, di beranda depan, setelah kau berulangkali mencegah Nurhalimah untuk jangan dulu bertindak gegabah dengan menghubungi polisi, telepon itu bergerak-gerak lagi di meja teras. Panggilan yang terlihat pada layar tersebut tetap muncul sebagai Nomor Tak Dikenal.
“Selamat malam, sebenarnya saudara ini siapa, dan maunya saudara apa?” Agak gugup dan merasa aneh juga kau masih sempat menyisipkan sopan santun sejenis itu pada seseorang yang mengancam akan memutilasi tubuh anak gadis kalian. Nurhalimah yang kelihatan murung sejak dari dapur tadi, menyerobot telepon dari genggamanmu dan ia mengabaikan teriakan aduhmu sebagai akibat dagumu kena sikut lengannya.
“Kalian silakan takut. Memang sebaiknya kalian takut. Kami perjelas sekali lagi, jika sampai pukul dua nanti kalian tak melakukan apa yang kami minta, maka sebelum subuh silakan terima kiriman biji mata anak kalian Wanda. Kalian mau yang sebelah kanan atau yang kiri dulu?“ Suara dari dalam telepon betapa runutnya, seolah ada seorang laki-laki di dalam sana sedang membawakan siaran berita Seputar Indonesia atau Liputan Enam Petang.
“Kamu apakan anakku, curut! Kamu apakan. Banci kalian ya, dubur anjing.” Nurhalimah histeris saat kau hendak memelengkan kepalamu agar lebih dekat ke telepon yang ia pegang.
“Jika ada yang mau main-main misalnya menghubungi aparat, coba saja. Kalian akan menerima paket kejutan lebih awal begitu kami tahu kalian bertindak ceroboh. Agar kalian bertambah yakin, coba dengarkan dengan saksama suara anak kalian ini. Suaranya agak kurang jelas memang, soalnya dari tadi mulutnya kami sumpal dengan, maaf, sempak.” Mendengar serentetan kalimat dari telepon kali ini, Nurhalimah kian terlihat seperti orang kesurupan. Kau tak tahu bagaimana harus menenangkan lagi Nurhalimah.
Acara memaki-maki telepon genggam yang diperagakan oleh Nurhalimah baru selesai ketika Pak Widodo, tetangga kalian yang kebetulan berjualan Tahu Gimbal melintas di depan pagar dan ia menghentikan gerobaknya untuk berbasa-basi menanyai kalian kenapa malam-malam begini kok ribut-ribut. Tak ingin terjadi hal-hal buruk, kaupun melangkah mendekati pot-pot tanaman dekat pagar dan menjelaskan bahwa kalian baru saja dikirimi kabar lelayu dari sanak saudara di Pamekasan bahwa kemenakan istrimu meninggal akibat jatuh dari motor dan terlindas truk sayur. Pak Widodo yang kehadirannya dalam cerita ini tak punya andil sedikitpun dalam menggerakkan alur atau menggeser apa pun dari keseluruhan cerita—kecuali menjadikanmu tokoh yang terpaksa harus menanggung dosa kecil lantaran berbohong, cuma bisa mendenguskan innalillahi dan ikut berbelasungkawa serta menawarkan mobil Colt L300-nya dengan cuma-cuma seandainya besok pagi-pagi kalian hendak melayat.
Sembari masih memegang telepon yang tak lagi berbunyi, Nurhalimah mendekatimu yang sudah kembali dan duduk teronggok di undakan teras. Barangkali letih menanggung hari yang berat dalam kehidupannya, ia begitu saja menaruh kepalanya di pahamu.
“Apa Wanda bisa selamat, Mas?”
Nurhalimah melemparkan pertanyaan itu ke arahmu yang masih mendongak dengan tatapan kosong memandang langit. Pandanganmu lantas turun ke rimbunan daun-daun dari pohon semboja, dan berakhir dengan menyusuri pagar teralis yang terbentang dari utara ke selatan. Sebenarnya itu tidak bisa dikatakan tatapan hampa, sebab yang terjadi sesungguhnya adalah kau sedang berupaya merunutkan apa yang sudah dirimu perbuat: sebulan belakangan, tiga bulan, setahun belakangan, empat tahun, tujuh tahun, berjerih payah dengan ingatanmu merayapi ulang jam dan hari dan bulan dan tahun yang sudah terlewat, barangkali ada yang tidak beres di sana, dan ketidakberesan itu membuatmu harus melakukan pekerjaan yang sesungguhnya cuma cocok dipikul oleh para aktor di film-film thriller.
Berbekal sisa kesabaran yang masih dimilikinya, Nurhalimah sempat membantu merunutkan juga dengan bertanya, barangkali ini semua ada kaitannya dengan pekerjaanmu di kantor. Bisa saja ada orang-orang di Balai Kota yang tidak suka denganmu dan punya niat buruk; menghancurkan atau menyingkirkanmu (kau lebih menyukai penggunaan kata kedua, meski Nurhalimah tetap bersikukuh bahwa kedua kata itu sama belaka hasil akhirnya) dengan cara-cara di luar nalar, agar kau dipecat atau dipindahkan ke gedung lain atau yang semacamnya.
Menyarikan agenda buruk rupa milik tokoh-tokoh antagonis dari lusinan sinetron yang sudah ia tonton, Nurhalimah menyimpulkan bahwa cara teraman agar lepas dari segala bentuk marabahaya, sebaiknya memang tiap-tiap orang yang sedang berada dalam posisi tidak bagus alangkah lebih baik mengikuti saja apa yang dimaui oleh si pengancam.
Kau manggut-manggut mendengarkan penjelasan Nurhalimah sembari mengelus-elus ujung kumis, memindahkan telunjuk dan ibu jari itu ke hidungmu yang besar dan berupaya memenceti keluar komedomu yang legit dan berlemak.
Bukan hendak mendebat kesimpulan yang disorongkan Nurhalimah—yang memang ada benarnya juga, tapi pertanyaan besar yang lantas menggelembung begitu saja di kepalamu saat ini adalah: manusia jenis apa yang punya waktu senggang hingga ia mesti, katakanlah, mencari musuh seorang office boy sepertimu. Karir apa pula yang mesti dihancurkan (meminjam kosa kata Nurhalimah) dari seorang laki-laki yang cuma punya agenda kerja rutin; membikinkan teh manis dan sedikit upaya naik turun tangga untuk mengantarkan penghangat lambung tersebut ke kubikel-kubikel aneka divisi staf yang bercokol di lantai enam dan tujuh, mencatat bermacam-macam kudapan untuk kemudian memesankannya di kantin pada jam makan siang, serta seandainya masih ada jam menganggur ia akan diminta untuk menjilidkan setumpuk berkas ke tempat fotokopian.
Kau tahu ada yang ganjil, katakanlah, dalam skenario penculikan anak gadismu malam ini, tapi kau benar-benar tidak tahu apa tujuannya hingga kau turut serta dimasukkan dalam rencana besar mereka.
Bahkan sampai pukul sebelas tiga puluh malam, ketika Nurhalimah membantumu mengenakan jaket kuning (seperti yang si penelepon amanatkan, jaket warna kuning, bukan yang lain) ke lenganmu, kau cuma bisa memandangi raut wajah istrimu itu dengan penuh ketakjuban, seolah malam ini kau mengambil peran jadi salah seorang kombatan yang akan maju ke medan tempur, sementara Nurhalimah dengan seluruh keteguhan yang dimiliki seorang istri sedang melepas suami tercintanya berangkat bertugas dengan sebuah kesiapan total bahwa ia besok pagi atau lusa akan menyambut kepulangan jasadmu dalam kantong mayat.
“Kalau nanti ada apa-apa denganku, jangan ceroboh, Nur. Pikirkan nasib Wanda. Pokoknya dia harus selamat,” katamu sembari mendorong sepeda motor keluar pagar. Sebelum mengengkol pedal, kau sempatkan mengambil lipatan kertas dari sakumu, memastikan sekali lagi kau tidak salah melakukan tindakan demi tindakan selama kurang lebih satu jam mendatang.
Meski di telepon si pengancam sudah berulangkali menjelaskan langkah apa saja yang harus kau perbuat dan tempat-tempat yang mana saja yang harus kau datangi, kau memutuskan untuk membuat catatan-catatan ringkas dengan pulpen:
1. Ambil kresek di tong sampah Apotek Mitra Sehat
2. Merokok 2 batang= +/-13 menit; klakson 3 kali di simpang Tugu Muda
3. Dorong motor, pura-pura mogok 15 meter dari kamera CCTV gapura Balai Kota
4. Berputar dulu dan pastikan aman pas mau masuk gang Indraprasta IV
5. Jika ada portal, jalan kaki dan cari rumah 37B
6. Taruh atau lempar kotak dari kresek
7. Pulang, ikuti jalur datang, berhenti dulu untuk beli Nasi Ayam di Jalan Thamrin
8. Buang telepon ke semak-semak sebelah tiang ke-4 sebelum rel sepur Karangayu
Angin dingin musim kemarau bulan Juli menyergapmu. Sepeda motormu melaju, memberi kesempatan roda-rodanya yang berputar ritmis menggilas aspal hitam. Di pertigaan setelah apotek dan sebelum kelokan bundaran Tugu Muda, kau begitu saja mengendurkan cengkeraman pada pegangan gas motor. Bayangan demi bayangan elok itu tiba-tiba saja berkelebatan: pertamanya kau bertemu dengan Nurhalimah di sebuah toko arloji. Tempik sorak para hadirin ketika ijab kabul kalian berdua mesti diulang sampai tiga kali karena kau tak hafal dan gagap mengucapkan lafadz akadnya. Ciumanmu yang spontan begitu kau berhasil mengangkat tubuh lembab Wanda dari ranjang bayi di sebuah bangsal rumah sakit tentara. Pertengkaran-pertengkaran kecil ketika kalian berebut remot TV sebab Nurhalimah ingin menonton sinetron sementara kau tak sudi ketinggalan siaran langsung pertandingan sepak bola. Kenangan-kenangan yang datang berebut pijakan itu saling tindih, berpilin, merambat, dan berubah menjadi ketegangan di mana mereka berhasil mencengkeram lehermu, sampai kau merasa tercekik dan mesti menangis sesenggukan. Bertahanlah, Wanda. Aku tak akan membiarkanmu kenapa-napa.
***
“Sudah kau kontak lagi tukang pos kita?”
“Ini dua kalinya saya telepon, tidak diangkat.”
“Tolol. Sebaiknya kau segeralah ke sana, buat memastikan, apakah semuanya beres.”
“Bocah ini, bagaimana?”
Wanda yang masih dalam kondisi meringkuk dengan tangan terikat lakban di pinggang, mendengar teramat jelas apa yang mereka bicarakan. Ia yakin bahwa ayahnya akan menyelamatkannya dengan cara apa pun. Apa pun adalah semuanya, termasuk jika para bajingan ini meminta ayahnya untuk terjun dari lantai sebelas sebuah plaza atau menabrakkan motor ke trotoar atau membakar habis semua rumah ibadah yang ada di kota ini.
“Kamu haus tentunya,” kata pria tegap pertama setelah bunyi krek pintu dibuka lebih lebar, disusul suara ketukan sepatu milik pria tegap kedua yang masuk membawakan sebotol air mineral. Wanda sekuat tenaga menggeliat-geliatkan badan berupaya menolak ketika pria pertama menjulurkan tangan untuk melepaskan mulut Wanda dari sumpalan cawat.
Jumlah mereka semuanya ada empat. Sisa dua orang lagi yang tak dilihat Wanda kemungkinan besarnya sedang ditugasi untuk memantau hal-hal teknis di lapangan. Meski harus melewati kejadian dihantam kepalanya dari belakang sampai semaput dan diseret dengan cara paling tidak senonoh lebih dulu, paling tidak kini Wanda jadi tahu bahwa mereka sudah merencanakan semua ini bahkan sejak dua bulan lalu. Ia mengorek semua itu, selain dari perbincangan mereka, juga dari banyak sekali kertas-kertas, peta, guntingan-guntingan berita koran, foto-foto dan banyak hal lagi berupa barang-barang yang tertempel memenuhi dinding kamar tempat ia kini disekap.
Betapa rapi komplotan ini merancang segala sesuatunya, batin Wanda. Bagaimana tidak, salah seorang dari mereka membuntuti ayahnya tiap hari guna memotret dan mencatat rute perjalanan ayah Wanda sejak dari rumah ke kantor, dan sebaliknya, dari kantor ke rumah. Itu sebabnya mereka tahu siapa saja yang ayahnya temui saban hari, makanan apa saja yang ayahnya beli, sampai telepon merek apa yang ayahnya gunakan. Bukan itu saja, mereka juga memberikan tanda berupa bundaran-bundaran spidol merah pada tulisan-tulisan di papan putih berisi detail temuan-temuan mereka di lapangan, seperti kebiasaan ibunya Wanda mengantarkan baju-baju kotor ke binatu tiap hari Jumat, jam berapa ibunya akan menyelonjorkan kaki di sofa untuk menonton televisi, atau, ini yang membuat Wanda tercengang; bisa-bisanya mereka sampai tahu jika dirinya dua hari lalu menginap di sebuah hotel di Bandungan. Campuran perasaan antara takut, benci, dan muak yang tadinya tercerai-berai itu begitu saja terkumpul jadi satu ketika Wanda tahu bahwa sosok yang akan mereka “bersihkan” adalah Yunantyo Permadi. Foto orang ini dicetak paling besar di antara foto-foto lain dan guntingan-guntingan koran yang ditempel di papan.
Wanda ingat, sekitaran empat bulan lalu, ia sempat bertatap muka dengan Yunantyo Permadi dalam serangkaian acara Misa Arwah 1000 Hari meninggalnya Aloysius Iwan Barodi.
Memang sebuah kebetulan, sebab jika bukan lantaran diajak oleh Ambar, rekan sekampusnya, barangkali pertemuan itu tak pernah ada. Setelah beberapa kali Ambar mengiriminya pesan lewat Instagram yang intinya adalah upaya menghasut dirinya ikut serta dalam gerakan solidaritas menuntut keadilan agar aparat kepolisian mengusut sampai tuntas kematian Aloysius Iwan Barodi, Wanda pada akhirnya luluh hati dan bergabung dalam aksi turun ke jalan malam itu.
Awalnya ia enggan betul ikut dalam aksi-aksi yang menuntut dirinya mencebur dalam kerumunan massa, beryel-yel sembari mengepal dan mengangkat tangan tinggi-tinggi ke langit, serta memegangi toa dan berbusa-busa meneriakkan aneka jenis tuntutan. Dua kali ia pernah begitu bersemangatnya turut serta mengambrukkan pagar teralis Kantor Gubernuran ketika demo berlangsung. Bukan bermaksud melebih-lebihkan, tapi menyaksikan sendiri bagaimana kedua aksi yang pernah ia ikuti cuma menghasilkan rasa pedih di ulu hati, menggiring Wanda untuk menciptakan sebuah pandangan pribadi bahwa mengharap mereka yang berkuasa, atau katakanlah pemerintah, meluluskan apa yang dimaui warganya sama saja seperti mengharapkan seseorang dapat mengambil kotoran telinga dengan jempol kaki.
Malam itu, keengganan Wanda yang kadung membatu pelan-pelan rompal dan tergerus juga demi melihat bagaimana Yunantyo Permadi berada pada barisan paling depan di antara ratusan orang yang berjalan berarak sembari menyalakan lilin.
Mengenakan busana serba hitam sebagai tanda berkabung, Yunantyo Permadi berorasi tanpa menggunakan mikrofon. Ia sesekali memberikan hormat pada tiga orang polisi yang berjaga-jaga di samping patung Pangeran Diponegoro Berkuda. Wanda mau tak mau terkesima dengan tekad laki-laki satu ini, sekaligus merasa begitu malu seolah tiap orang yang hadir pada acara tersebut sedang mengantre jongkok untuk memberaki mukanya. Begitu malunya ia, sebab tanpa sadar ia sudah turut serta dalam rombongan orang-orang yang justru abai, kehilangan empati, dan alhasil sikap itu secara tidak langsung menurunkan derajat kasus kematian Aloysius Iwan Barodi yang tadinya adalah kasus pembunuhan terencana menjadi semacam cerita takhayul.
Tiga tahun yang lalu, Aloysius Iwan Barodi—salah seorang staf badan pendapatan daerah, jasadnya ditemukan di Pantai Marina dalam kondisi gosong akibat terbakar. Bentuk kekejian atas pembunuhan itu berlipat ganda ketika polisi yang datang ke tempat kejadian perkara tak kunjung berhasil menemukan anggota tubuh Iwan Barodi yang lain berupa kepala, kaki kanan, dan lengan sebelah kirinya. Mereka hanya menemukan kerangka sepeda motor, sisa perangkat yang diduga laptop, dan beberapa benda renik seperti patahan papan nama dan rosario yang bentuknya sudah mengerak.
Upaya pencarian memang dilakukan, tapi kondisi ini bahkan bertahan sampai pihak keluarga korban melakukan upacara pemakaman, membuat setiap orang dengan mudahnya menduga bahwa apa yang menimpa Aloysius Iwan Barodi ini cuma bisa dilakukan oleh mereka yang benar-benar sudah punya jam terbang tinggi dalam urusan bunuh-membunuh. Tiga bulan berselang, dari keterangan dan bukti-bukti yang diperoleh polisi, diketahui Iwan Barodi dibunuh tepat ketika besoknya ia dijadwalkan untuk memberi keterangan di mapolda atas dugaan tindak pidana korupsi hibah tanah di daerah Semarang atas, yang belakangan diketahui menyeret juga beberapa nama mantan wali kota. Koran-koran lokal pernah memberitakan, bahwa dalam kasus yang masih dalam penyelidikan ini, taksiran nilai kerugian yang mesti ditanggung negara adalah sebesar sembilan miliar rupiah.
Dalam bahasa yang sudah dipermak agar terdengar lebih sopan, Yunantyo Permadi yang beberapa bulan setelah kasus ini berjalan mengajukan diri menjadi kuasa hukum bagi keluarga korban terus saja menuntut pada aparat agar kasus ini tidak mengulang-ulang lagu lama yang melulu mengeluarkan bunyi fals: keadilan yang tajam ke bawah tapi tumpul ketika mendongak ke atas. Sebab baginya, atau bagi Wanda, atau Ambar dan orang-orang yang sering menyimak kasus-kasus penggelapan uang, angka sembilan miliar itu terlampau kecil untuk dijadikan latar belakang sampai seseorang punya niatan harus mengabisi nyawa orang lain.
Tiga tahun berlalu dengan membawa kasus ini dalam keterombang-ambingan tidak membuat Yunantyo Permadi ciut dan mundur untuk meminta penjelasan kenapa sampai saat ini tersangka pembunuhan Aloysius Iwan Barodi belum juga dicokok. Tiap-tiap misa arwah digelar, Yunantyo Permadi akan terlihat di antara istri dan ketiga anak Iwan Barodi yang beriringan berjalan sembari mendekap foto laki-laki yang mereka cintai.
Malam itu, sebelum acara misa arwah selesai dan orang-orang bubar, Wanda memberanikan diri untuk menyalami Yunantyo Permadi dan begitu saja mengajukan pertanyaan, yang mungkin terdengar klise; kenapa ada seseorang masih saja menunggu sesuatu yang kita sudah tahu hasilnya akan sia-sia?
Alih-alih menjawab langsung pertanyaannya, pria di sampingnya itu justru mengangkat foto almarhum Aloysius Iwan Barodi, memutar balik pigura, dan memperlihatkan poster Baharudin Lopa yang sengaja ia tempel di balik foto tersebut. Butuh waktu beberapa saat bagi Wanda untuk mencerna sebetulnya apa maksud Yunantyo Permadi. Di poster tersebut ada grafiti bertuliskan; beranilah menjadi benar, meskipun sendirian. Wanda baru bisa memahami pesan yang hendak disampaikan oleh Yunantyo Permadi sepekan kemudian, itupun setelah dirinya mengkliping dari mesin peramban, segala cerita yang merujuk pada sosok Baharudin Lopa, termasuk sepak terjang tokoh satu ini, yang konon mampu membuat para perusuh harus kencing di celana lantaran gentar.
Wanda sekali lagi menatap foto Yunantyo Permadi. Ia sungguh tidak menyangka, jika orang yang gigih memperjuangkan hak orang lain itu, orang yang ia anggap telah ikut serta membagikan pelajaran berharga dalam kehidupannya itu, tengah malam nanti akan dihabisi oleh ayahnya.
Editor: Farras Pradana
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








